Save Page
Kepercayaan Abraham diuji
22:1 Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: "Abraham," lalu sahutnya: "Ya, Tuhan." 22:2 Firman-Nya: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu." 22:3 Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. 22:4 Ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangnya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh. 22:5 Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: "Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu." 22:6 Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. 22:7 Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: "Bapa." Sahut Abraham: "Ya, anakku." Bertanyalah ia: "Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?" 22:8 Sahut Abraham: "Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku." Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. 22:9 Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api. 22:10 Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya. 22:11 Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: "Abraham, Abraham." Sahutnya: "Ya, Tuhan." 22:12 Lalu Ia berfirman: "Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku." 22:13 Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya. 22:14 Dan Abraham menamai tempat itu: "TUHAN menyediakan"; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: "Di atas gunung TUHAN, akan disediakan." 22:15 Untuk kedua kalinya berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepada Abraham, 22:16 kata-Nya: "Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri -- demikianlah firman TUHAN --: Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku, 22:17 maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya. 22:18 Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku." 22:19 Kemudian kembalilah Abraham kepada kedua bujangnya, dan mereka bersama-sama berangkat ke Bersyeba; dan Abraham tinggal di Bersyeba.


Penjelasan:

* Kej 22:1-2 - Abraham Diperintahkan untuk Mengorbankan Ishak
    Di sini kita mendapati cerita yang terkenal tentang Abraham yang mempersembahkan anaknya Ishak, yakni, persembahan Abraham untuk mempersembahkan Ishak, yang sudah sewajarnya dipandang sebagai salah satu keajaiban jemaat. Inilah,
        I. Perintah yang mengherankan yang diberikan Allah kepada Abraham berkenaan dengan persembahan itu (ay. 1-2).
        II. Ketaatan Abraham yang mengherankan terhadap perintah ini (ay. 3-10).
        III. Akhir yang mengherankan dari ujian ini.
            1. Pengorbanan Ishak digantikan (ay. 11-12).
            2. Korban lain disediakan (ay. 13-14).
            3. Perjanjian dengan Abraham diperbaharui dalam kesempatan ini (ay. 15-19). Dan yang terakhir, gambaran tentang saudara-saudara Abraham (ay. 20, dst.).

Abraham Diperintahkan untuk Mengorbankan Ishak (Kejadian 22:1-2)

    Inilah ujian bagi iman Abraham, apakah imannya tetap begitu kuat, begitu gigih, begitu gemilang, setelah lama berdiam dalam persekutuan dengan Allah, seperti pada awal-awalnya, ketika dengan iman itu ia meninggalkan negerinya: pada waktu itu tampak bahwa ia lebih mengasihi Allah daripada mengasihi bapaknya. Sekarang tampak bahwa ia lebih mengasihi Dia daripada mengasihi anaknya. Amatilah di sini,
        I. Waktu ketika Abraham diuji seperti itu (ay. 1): Setelah semuanya itu, setelah semua ujian lain yang sudah dilaluinya, semua kesusahan dan kesulitan yang sudah dilewatinya. Sekarang, mungkin, ia mulai merenungkan semua badai yang telah mengempaskannya. Tetapi, setelah semuanya itu, pencobaan ini datang, lebih dahsyat daripada sebelum-sebelumnya. Perhatikanlah, ujian-ujian yang sudah banyak datang sebelumnya tidak akan menggantikan atau mengamankan kita dari ujian-ujian yang akan datang selanjutnya. Kita belum menanggalkan baju perang kita (1Raj. 20:11). Lihat Mazmur 30:7-8.
        II. Yang mendatangkan ujian itu: Allah mencoba dia, bukan untuk menariknya kepada dosa, seperti yang dilakukan Iblis dalam mencobai (seandainya Abraham benar-benar mengorbankan Ishak, ia tidak akan berbuat dosa, sebab perintah-perintah dari Allah akan membenarkan dia, dan membelanya), tetapi untuk mengungkapkan kemurnian imannya, seberapa kuat imannya, agar ia memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan (1Ptr. 1:7). Seperti itu jugalah Allah mencoba Ayub, agar ia bisa tampil bukan hanya sebagai orang baik, melainkan juga orang besar. Allah benar-benar mencoba Abraham. Ia benar-benar mengangkat Abraham, begitu sebagian orang membacanya. Seperti diangkatnya seorang cendekiawan yang maju pesat, ketika ia ditempatkan dalam kedudukan yang lebih tinggi. Perhatikanlah, iman yang kuat sering kali diuji dengan cobaan-cobaan yang keras dan ditempatkan untuk menjalankan pelayanan-pelayanan yang sulit.
        III. Ujian itu sendiri. Allah menampakkan diri kepada-Nya seperti yang sudah dilakukan-Nya sebelumnya, dengan memanggil namanya, Abraham, nama yang sudah diberikan kepadanya untuk mengesahkan janji itu. Abraham, seperti seorang hamba yang baik, segera menjawab, "Ya Tuhan. Apa yang hendak Tuhanku sampaikan kepada hamba?" Mungkin ia mengharapkan suatu pembaruan janji seperti pada janji-janji sebelumnya ( Kejadian 15:1) dan ( Kejadian 17:1). Tetapi, yang sangat mengejutkannya, apa yang ingin disampaikan Allah kepadanya, singkatnya adalah, Abraham, bunuhlah anakmu. Dan perintah ini diberikan kepadanya dalam bahasa yang begitu memancing emosi sehingga membuat cobaan itu teramat sangat menyedihkan. Ketika Allah berfirman, Abraham, tidak diragukan lagi, memperhatikan setiap kata yang diucapkan, dan mendengarkannya dengan penuh perhatian. Dan setiap kata yang terucap di sini adalah pedang yang menusuk tulangnya: ujian itu diperparah dengan ucapan-ucapan yang menguji. Senangkah Yang Mahakuasa membuat umat-Nya menderita? Tidak. Tetapi, ketika iman Abraham hendak diuji, Allah tampak senang memperberat ujian itu (ay. 2). Amatilah,
            1. Orang yang harus dikorbankan.
                (1) "Ambillah anakmu, bukan lembu-lembu dan domba-dombamu." Betapa relanya Abraham menyerahkan beribu-ribu lembu dan dombanya untuk menggantikan Ishak! "Tidak, tidak usah Aku mengambil lembu dari rumahmu (Mzm. 50:9). Aku harus mengambil anakmu. Bukan hambamu, bahkan bukan pula pengurus rumahmu. Semuanya itu tidak akan memenuhi syarat. Aku harus mengambil anakmu." Yefta, untuk memenuhi nazarnya, mengorbankan anak perempuannya. Tetapi Abraham harus mengorbankan anak laki-lakinya, yang di dalam dia keluarganya akan dibangun. "Tuhan, biarlah yang harus dikorbankan itu anak angkat." "Tidak,
                (2) Anakmu yang tunggal itu. Anakmu yang tunggal dari Sara." Ismael baru saja diusir, yang membuat Abraham bersedih. Sekarang hanya Ishak yang tinggal, dan apakah dia harus pergi juga? Ya,
                (3) "Ambillah Ishak, dia, yang namanya berarti tertawamu, anakmu yang sesungguhnya itu" ( Kejadian 17:19). Yang diperintahkan bukan "Bawa kembali Ismael, dan korbankan dia," melainkan harus Ishak. "Tetapi, Tuhan, aku mengasihi Ishak, bagiku dia seperti belahan jiwaku. Ismael sudah tidak ada, dan apakah Engkau akan mengambil Ishak juga? Semua ini melawan aku:" Ya,
                (4) Anak yang engkau kasihi itu. Ini merupakan ujian bagi kasih Abraham terhadap Allah, dan oleh sebab itu, yang harus dikorbankan adalah anak yang dikasihi. Ungkapan itu pastilah teramat sangat menyentuh hati. Dalam bahasa Ibrani ucapan itu diungkapkan dengan lebih tegas, dan, menurut saya, bisa dibaca seperti ini: Ambillah sekarang anak kepunyaanmu itu, anak tunggalmu itu, yang engkau kasihi, si Ishak itu. Perintah Allah harus mengesampingkan segala pertimbangan ini.
            2. Tempat dipersembahkannya korban: Di tanah Moria, yang membutuhkan tiga hari perjalanan. Dengan begitu, Abraham masih mempunyai waktu untuk mempertimbangkannya. Jika ia sungguh mengorbankan Ishak, ia harus melakukannya dengan sadar, agar itu menjadi pelayanan yang lebih bisa dipertanggungjawabkan dan lebih terhormat.
            3. Cara persembahan korban: Persembahkanlah dia sebagai korban bakaran. Ia tidak hanya harus membunuh anaknya, tetapi juga membunuhnya sebagai korban, membunuhnya untuk ibadah, membunuhnya atas dasar perintah, membunuhnya dengan segala semarak dan upacara, dengan segala ketenangan dan kejernihan pikiran, yang biasa dilakukannya saat mempersembahkan korban-korban bakarannya.


* Ketaatan Abraham (Kejadian 22:3-10)

    Di sini kita mendapati ketaatan Abraham terhadap perintah yang keras ini. Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak (Ibr. 11:17). Amatilah,
        I. Kesulitan-kesulitan yang dilaluinya dalam tindakan yang taat ini. Banyak sekali keberatan yang bisa diajukan terhadap perintah ini, karena,
            1. Perintah itu tampak langsung bertentangan dengan hukum Allah sebelumnya, yang melarang pembunuhan, dengan ancaman hukuman yang keras (9:5-6). Sekarang, dapatkah Allah yang tidak berubah itu menentang diri-Nya sendiri? Dia yang membenci hasil rampasan dan kecurangan untuk korban bakaran (Yes. 61:8) pasti tidak akan senang dengan hasil pembunuhan untuk korban itu.
            2. Bagaimana hal itu diselaraskan dengan perasaan kasih sayang alami seorang bapak kepada anaknya sendiri? Itu bukan hanya pembunuhan, melainkan juga yang paling jahat dari semua pembunuhan. Tidak bisakah Abraham taat tanpa menentang hukum alam? Jika Allah bersikeras ingin mengorbankan manusia, tidak adakah orang lain selain Ishak yang harus dikorbankan, dan tidak adakah orang lain selain Abraham yang harus mengorbankannya? Haruskah bapa orang beriman menjadi monster dari semua bapa?
            3. Allah tidak memberinya alasan untuk mengorbankan Ishak.Ketika Ismael hendak diusir, alasan yang baik diberikan untuk itu, yang membuat Abraham puas. Tetapi di sini Ishak harus mati, dan Abraham harus membunuhnya, dan baik Ishak maupun Abraham tidak boleh tahu mengapa atau untuk apa. Seandainya Ishak harus mati syahid demi kebenaran, atau hidupnya dijadikan tebusan bagi nyawa orang lain yang lebih berharga, itu lain perkara. Atau seandainya ia mati sebagai penjahat, pemberontak melawan Allah atau orangtuanya, seperti yang terjadi pada seorang penyembah berhala (Ul. 13:8, 9), atau seorang anak laki-laki yang degil (Ul. 21:18-19), mungkin itu bisa dipandang sebagai pengorbanan demi keadilan. Tetapi persoalannya tidak demikian: ia seorang anak yang penurut, patuh, dan menjanjikan banyak harapan. "Tuhan, apa keuntungan yang bisa diperoleh dari darahnya?"
            4. Bagaimana ini dapat diselaraskan dengan janji Allah? Bukankah dikatakan bahwa yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak? Tetapi apa jadinya dengan keturunan itu, apabila pucuk yang tengah mekar ini diremukkan begitu cepat?
            5. Bagaimana ia bisa menatap wajah Sara lagi? Dengan muka seperti apa ia bisa kembali kepada Sara dan keluarganya dengan darah Ishak yang terpercik pada bajunya dan menodai semua pakaiannya? "Sesungguhnya engkau pengantin darah bagiku" begitulah Sara akan berkata (seperti dalam Keluaran 4:25-26), dan ada kemungkinan hal itu akan menjauhkan kasih sayangnya untuk selama-lamanya baik dari dia maupun dari Allahnya.
            6. Apa yang akan dikatakan orang-orang Mesir, dan orang-orang Kanaan serta orang-orang Feris yang berdiam di negeri itu pada waktu itu? Hal ini akan menjadi cela untuk selama-lamanya bagi Abraham, dan bagi mezbah-mezbahnya. "Sambutlah alam, apabila ini yang dinamakan anugerah." Keberatan-keberatan ini dan masih banyak keberatan yang serupa bisa saja diajukan. Tetapi ia yakin dengan tidak keliru bahwa itu benar-benar perintah Allah dan bukan khayalannya belaka, dan ini sudah cukup untuk menjawab semua keberatan itu. Perhatikanlah, perintah-perintah Allah tidak boleh diperbantahkan, tetapi harus dituruti. Kita tidak boleh minta pertimbangan kepada manusia tentang itu (Gal. 1:15-16), tetapi dengan kekerasan hati yang penuh rahmat harus tetap patuh terhadap perintah-perintah itu.
        II. Beberapa langkah yang taat, yang kesemuanya membantu menguatkan ketaatan itu, dan menunjukkan bahwa ia dituntun oleh kebijaksanaan, dan dipimpin oleh iman, dalam seluruh urusan itu.
            1. Ia bangun pagi-pagi (ay. 3). Mungkin perintah itu diberikan dalam penglihatan-penglihatan di malam hari, dan keesokan harinya pagi-pagi benar ia sudah bersiap-siap melaksanakannya. Ia tidak menunda-nunda, tidak merasa enggan, tidak mengambil waktu untuk menimbang-nimbang. Sebab, perintah itu tidak bisa ditawar-tawar, dan tidak bisa dibantah. Perhatikanlah, orang-orang yang melakukan kehendak Allah dengan sepenuh hati pasti akan melakukannya dengan segera. Apabila kita menunda-nunda, waktu akan terhilang dan hati mengeras.
            2. Ia menyiapkan segala sesuatu untuk mempersembahkan korban, dan, seolah-olah seperti seorang Gibeon sendiri, dengan tangannya sendiri ia membelah kayu untuk korban bakaran, supaya ia tidak repot-repot lagi mencarinya ketika korban itu harus dipersembahkan. Korban-korban rohani pun harus dipersiapkan seperti itu.
            3. Besar kemungkinan bahwa ia tidak mengatakan apa-apa tentang hal ini kepada Sara. Ini adalah perjalanan yang tidak boleh diketahui Sara, supaya jangan ia mencegahnya. Sudah ada begitu banyak hal dalam hati kita yang dapat menghalangi pertumbuhan kita dalam menjalankan kewajiban, sehingga kita perlu, sedapat mungkin, menjauhkan diri dari hambatan-hambatan yang lain.
            4. Dengan hati-hati ia melihat-lihat ke sekelilingnya, untuk menemukan tempat yang sudah ditentukan bagi korban ini, yang sudah dijanjikan Allah akan ditunjukkan-Nya dengan suatu tanda. Mungkin petunjuk itu diberikan melalui sebuah penampakan kemuliaan ilahi di tempat itu, semacam tiang api yang menjangkau dari langit ke bumi, tampak di kejauhan, yang ditunjukkan-Nya ketika berkata (ay. 5), "Kita akan pergi ke sana, di mana engkau melihat terang itu, dan beribadah di sana."
            5. Ia meninggalkan hamba-hambanya di kejauhan (ay. 5), supaya jangan mereka menengahi, dan mengganggu persembahan korbannya yang mengherankan itu. Sebab Ishak, tidak diragukan lagi, adalah anak kesayangan seluruh keluarga. Demikianlah, ketika Kristus mulai merasakan ketakutan yang luar biasa di taman Getsemani, Ia hanya mengajak tiga murid-Nya bersama-sama dengan Dia, dan meninggalkan yang lain di pintu taman. Perhatikanlah, adalah hikmat dan kewajiban kita, apabila kita hendak beribadah kepada Allah, untuk mengesampingkan segala macam pikiran dan kekhawatiran yang dapat mengalihkan kita dari ibadah kita. Kita harus meninggalkan semuanya itu di bawah bukit, agar kita dapat melayani Tuhan tanpa gangguan.
            6. Ia menyuruh Ishak untuk membawa kayu itu (baik untuk menguji ketaatannya dalam perkara kecil terlebih dahulu, maupun dengan tujuan supaya ia bisa menjadi pelambang Kristus, yang memikul salib-Nya sendiri, Yoh. 19:17), sementara ia sendiri, meskipun tahu apa yang diperbuatnya, dengan tekad bulat dan mantap membawa pisau dan api yang mematikan itu (ay. 6). Perhatikanlah, orang-orang yang dengan anugerah bertekad menjalani pelayanan dan penderitaan apa saja bagi Allah, haruslah mengabaikan perkara-perkara kecil yang justru akan lebih mempersulit darah dan daging.
            7. Tanpa kegaduhan atau kekacauan, ia membicarakannya dengan Ishak, seolah-olah hanya korban biasa yang hendak dipersembahkannya (ay. 7-8).
                (1) Sangatlah menyentuh hati pertanyaan yang diajukan Ishak kepadanya, selagi mereka berjalan bersama-sama: Bapa, kata Ishak. Kata itu meluluhkan perasaan, dan, bisa dibayangkan, akan menembus dada Abraham lebih dalam daripada yang bisa dilakukan pisaunya untuk menembus dada Ishak. Abraham bisa saja berkata, atau berpikir, setidak-tidaknya, "Jangan panggil aku bapamu, yang sekarang akan menjadi pembunuhmu. Dapatkah seorang bapa berlaku begitu biadab, begitu benar-benar hilang segala kelembutannya sebagai seorang bapa?" Namun, ia tetap menjaga perasaannya, dan menjaga raut wajahnya secara mengagumkan. Dengan tenang ia menunggu pertanyaan anaknya, dan inilah pertanyaan itu: Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak dombanya? Lihatlah betapa Ishak ahli dalam masalah hukum dan tata cara mempersembahkan korban. Ini harus diajarkan dengan baik: pertanyaan ini adalah,
                    [1] Pertanyaan yang menguji Abraham. Bagaimana ia bisa tahan untuk berpikir bahwa Ishak sendirilah anak dombanya? Itulah yang sebenarnya, tetapi Abraham, sampai saat ini, tidak berani memberitahukan itu kepadanya. Karena Allah tahu bahwa iman adalah senjata bagi bukti, Ia akan menertawakan ujian pada orang yang tidak bersalah (Ayb. 19:23, KJV; TB: keputusasaan orang yang tidak bersalah - pen.).
                    [2] Itu adalah pertanyaan yang mengajar kita semua, bahwa, apabila kita hendak beribadah kepada Allah, kita harus sungguh-sungguh mempertimbangkan apakah kita sudah menyiapkan segala sesuatunya, terutama anak domba untuk korban bakaran. Lihatlah, api sudah siap, yaitu pertolongan Roh dan perkenanan Allah. Kayu sudah siap, yaitu ketetapan-ketetapan upacara untuk menyalakan perasaan kita (yang memang, tanpa Roh, hanyalah seperti kayu tanpa api, tetapi Roh bekerja melaluinya). Segala sesuatu sudah siap, tetapi di manakah anak dombanya? Di manakah hatinya? Siapkah hati dipersembahkan kepada Allah, untuk naik kepada-Nya sebagai korban bakaran?
                (2) Sangatlah bijak jawaban yang diberikan Abraham kepadanya: Allah yang akan menyediakan anak domba bagi-Nya, anakku. Ini merupakan bahasa yang menggambarkan,
                    [1] Ketaatannya. "Kita harus mempersembahkan anak domba yang sekarang sudah ditentukan Allah untuk dipersembahkan," dan dengan demikian ia memberi Ishak pedoman umum untuk berserah kepada kehendak ilahi, untuk mempersiapkan dia agar menerapkannya langsung kepada dirinya sendiri. Atau,
                    [2] Imannya. Entah ia bermaksud seperti itu atau tidak, itulah arti yang sebenarnya. Sebuah korban disediakan sebagai ganti Ishak. Dengan demikian, pertama, Kristus, korban penebusan yang agung, disediakan oleh Allah. Ketika tidak seorang pun di sorga atau di bumi bisa mendapatkan anak domba untuk korban bakaran itu, Allah sendiri mendapatkan tebusannya (Mzm. 89:21). Kedua, semua korban pengakuan kita disediakan oleh Allah juga. Dialah yang mempersiapkan hati (Mzm. 10:17, KJV; TB: menguatkan hati - pen.). Hati yang patah dan remuk adalah korban kepada Allah (Mzm. 51:19), yang disediakan-Nya sendiri.
            8. Dengan keteguhan dan ketenangan pikiran yang sama, setelah banyak berpikir-pikir di dalam hati, ia segera bekerja untuk menyelesaikan korban ini (ay. 9-10). Ia terus maju dengan tekad yang kudus, setelah menempuh banyak langkah yang melelahkan, dan dengan berberat hati sampai juga akhirnya ia di tempat yang mematikan itu. Lalu ia membangun mezbah (mezbah dari tanah liat, bisa kita duga, mezbah yang paling menyedihkan dari yang pernah didirikannya, dan ia sudah mendirikan banyak mezbah), menaruh kayu sebagai bantal untuk kubur Ishak, lalu memberi tahu dia kabar yang menyentakkan ini: "Ishak, engkaulah anak domba yang sudah disediakan Allah." Ishak, sepanjang yang bisa disaksikan, sama relanya dengan Abraham. Kita tidak mendapati bahwa dia mengajukan keberatan. Ia tidak memohon untuk tidak dibunuh. Ia tidak berusaha melarikan diri, apalagi sampai bergulat dengan bapaknya yang sudah tua, atau mengadakan penolakan. Abraham melakukannya, Allah ingin agar itu dilakukan, dan Ishak sudah belajar untuk berserah baik kepada Allah maupun kepada Abraham. Abraham, tidak diragukan lagi, mengibur dia dengan harapan-harapan yang sama yang dengannya ia sendiri dengan iman dihiburkan. Tetapi korban itu harus diikat. Korban agung, yang dalam kegenapan waktu akan dipersembahkan, harus diikat, dan oleh sebab itu Ishak pun harus diikat. Tetapi sampai hatikah Abraham yang lembut mengikat tangan yang tidak bersalah itu, yang mungkin sudah sering kali terangkat untuk menerima berkatnya, dan terentang untuk memeluknya, namun sekarang harus diikat lebih erat dengan tali kasih dan kewajiban! Namun, bagaimanapun juga, itu harus dilakukan. Setelah mengikat Ishak, ia membaringkannya di atas mezbah, lalu tangannya diletakkan di kepala korbannya. Dan sekarang, bisa kita duga, dengan banjir air mata, ia memberikan, dan menerima, salam terakhir serta ciuman perpisahan: mungkin ia menerima satu salam dan ciuman lagi untuk Sara dari anaknya yang akan mati. Karena ini harus dilakukan, dengan tekad bulat ia melupakan kerahiman seorang bapak, dan menampakkan kegarangan yang menakutkan dari seorang penyembelih korban. Dengan hati yang mantap, dan mata yang terangkat ke sorga, ia mengambil pisau, dan merentangkan tangannya untuk memberikan potongan yang mematikan itu pada tenggorokan Ishak. Terkejutlah hai langit akan hal ini!. Dan takjublah, hai bumi! Inilah sebuah tindakan iman dan ketaatan, yang pantas ditonton oleh Allah, para malaikat, dan manusia. Anak kesayangan Abraham, gelak tawa Sara, harapan jemaat, ahli waris perjanjian, tergeletak siap berdarah dan mati di tangan bapaknya sendiri, yang tidak pernah berniat untuk mundur melakukannya. Nah, ketaatan Abraham dalam mempersembahkan Ishak ini merupakan gambaran yang hidup,
                (1) Akan kasih Allah terhadap kita, dalam menyerahkan Anak-Nya yang tunggal untuk menderita dan mati bagi kita, sebagai korban. TUHAN sendiri berkehendak meremukkan dia. Lihat Yesaya 53:10; Zakharia 13:7. Abraham, baik dalam kewajiban maupun rasa syukur, harus berpisah dengan Ishak, dan berpisah dengan dia sebagai teman. Tetapi Allah tidak mempunyai kewajiban apa-apa terhadap kita, sebab kita adalah musuh.
                (2) Akan kewajiban kita kepada Allah, sebagai balasan terhadap kasih itu. Kita harus menapaki jejak-jejak langkah iman Abraham ini. Allah, melalui firman-Nya, memanggil kita untuk berpisah dengan segalanya demi Kristus, semua dosa kita, meskipun sudah menjadi seperti tangan kanan, atau mata kanan, atau seorang Ishak. Semua hal yang bersaing dan memusuhi Kristus untuk merebutkan kedaulatan atas hati kita (Luk. 14:26). Dan kita harus dengan riang hati melepaskan mereka semua. Allah, melalui pemeliharaan-Nya, yang benar-benar merupakan suara-Nya, adakalanya memanggil kita untuk berpisah dengan seorang Ishak, dan kita harus melakukannya dengan berserah diri dan tunduk pada kehendak-Nya yang kudus, yang harus kita lakukan dengan riang hati (1Sam. 3:18).

Sumber SGDK:
MINGGU V SES. PENTAKOSTA
RABU, 22 JUNI 2016
TINDAKAN KEHIDUPAN
Kejadian 22:1-19

I. PENGANTAR
Kisah di Kejadian 22 : 1 - 19 adalah muatan kisah yang berasal
dari tradisi Elohist dan di dalamnya termuat tradisi Yahwis, Kej.
22:11 ,14,15-18. Corak Elohis begitu kuat selaku pengarang kisah
Kej. 22: Allah menyatakan diri-Nya, Malaikat berbicara dari langit
(ay.11) dan perkataan 'menc0ba" adalah kata-kata dan per-
bendaharaan dari Elohist.

Kisah Kejadian 22 disusun berdasarkan sebuah cerita mengenai
didirikannya sebuah tempat suci bangsa Israel. Suatu tempat
dan upacara ibadat yang berlainan dengan tempat suci bangsa
Kanaan. Di sana tidak dipersembahkan korban anak manusia
melainkan binatang. Kisah Kejadian 22 dapat dipandang sebagai
cerita yang bermaksud mengutuk pengorbanan anak-anak
(lmamat 18:21) dan kisah ini mengandung arti rohani yang indah
yaitu tindakan kehidupan yang dilakukan Abraham dalam me-
nunjukkan imannya. Allah mengetahui hati Abraham yang berisi
kehendak untuk mematuhi Allah. Abraham menjadi teladan
kepercayaan sejati.

ll. PENJELASAN NAS
Kisah di Kejadian 22 berisi pesan rohani' yang kuat bagi
perjalanan kehidupan orang beriman dengan meneladani Abra-
ham sebagai contoh hidup beriman. Langkah, keputusan dan
tindakan Abraham mencerminkan bukti dari tindakan iman. Allah
melakukan proses menguji sejauh mana iman anak-anak-Nya
kepada-Nya. ltu juga berlaku bagi anda dan saya. Apakah Allah
berm aksud mem permainkan orang percaya ? Marllah kita pelajari
nas ini.

Perlama, pada ayat 1b, "Setelah semuanya itu Allah mencoba
Abraham". lstilah "mencoba" menurut Walter C.Kaiser, Jr. bukan
dalam pengertian manusia menguji atau mencobai Allah. Ujian
seperti itu datang dari pihak manusia, terpancar dari sikap ragu-
ragu dan hati yang berdosa di pihak manusia. Dalam situasi ini,
manusia ingin memastikan apakah kuasa Allah cukup besar, yang
akibatnya adalah mencobai Allah.

Namun takkala dipakai oleh Allah, tak ada hasrat untuk menipu
atau memperdaya orang yang ditempatkan di bawah ujian
tersebut. Pengujian-Nya hanya berkenaan dengan takut akan
Allah, suatu sikap yang menyatakan semangat yang sama dengan
ketaatan kepada Allah. Ulangan 8:2, "lngatlah kepada seluruh
perjalanan yang kau lakukan atas kehendak TUHAN, Allah-Mu,
di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud:
merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui
apa yang ada di dalam hatimu." Dan Allah berhak untuk me-
ngetahui sesuatu yaitu jati diri terdalam dari manusia ciptaan-
Nya. Dan sejauh mana manusia bertanggung jawab atas-Nya.
Pada ayai 3, diceritakan tentang tindakan yang segera. "keesokan
harinya, pagi-pagi, bangunlah Abraham. .  ini dilakukan Abraham
setelah ia mendengar apa yang Allah perintahkan kepada-Nya.
Kemudian ia berkata dengan jujur tentang kebenaran dari apa
yang ditanyakan anak yang ia kasihi yakni lshak tentang tidak
adanya anak domba untuk persembahan korban. Abraham men-
jawabnya dengan keterangan bahwa Allah akan menyediakan
anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya.

Tindakan puncak dari apa yang diperintahkan Tuhan kepada
Abraham adalah Abraham mendirikan mezbah,, disusunnya kayu,
diikatnya lshak, dan dlletakkannya lshak di situ di atas kayu api
dan diambilnya pisau untuk menyembelih anaknya. Allah secara
khusus menguji Abraham sendiri dengan maksud untuk me-
ngetahui apakah Abraham akan mengasihi, takut, taat menyem-
bah dan tetap melayani Dia (ay.12).

Akhir kisah ini di ayat 11-19 kita temukan maksud penyelamatan
Allah. la melahirkan tujuan-tujuan dari penyelamatan-Nya serta
berkat-berkat yang mengikuti kita dan itu diterima Abraham. lnilah
puncak iman Abraham. Terkadang ujian, baru dapat kita maknai
setelah kita melewatinya. Yakobus katakan iman tanpa perbuatan
hakikatnya adalah mati.

Ill. PERCAKAPKAN
1. Membaca kembali kisah Abraham di Kejadian 22 ini, apa mak-
sud Allah mengizinkan kita menghadapi pilihan-pilihan yang
sulit dalam hidup ini. Apa makna rohani dari kisah ini bagi
kita?
2. Apakah ajaran mengasihi Allah dan takut akan Tuhan me-
ngizinkan kita untuk menyusahkan/mengorbankan dan mem-
bunuh sesama? Apa makna yang paling berarti dari kisah ini.
Tindakan kehidupan yang seperti apa yang Allah kehendaki
untuk kita lakukan?


SBU

MINGGU V SES. PENTAKOSTA
RABU, 22 JUNI 2016
RENUNGAN PAGI
KJ 247:1 -Berdoa
UJIAN IMAN

Kejadian 22:1-10
...persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran.... (ay.2b)

Mempersembahkan lshak di atas mezbah merupakan ujian iman yang terberat dalam kehidupan Abraham. Pertama karena Alkitab menjelaskan bahwa Abraham sangat mengasihi lshak (ay.2) dan yang kedua menyangkut pergulatan batin Abraham tentang janji 'Allah yang sangat bertolak-belakang dengan
permintaan Allah untuk mempersembahkan anaknya sebagai korban persembahan. Pertanyaannya adalah bagaimana mungkin ini terjadi? Bukankah lshak adalah penerus keturunan seperti yang dijanjikan Allah kepadanya.

Pergulakan batin seperti itu, antara percaya kepada Allah dan melakukan kehendak Allah pastinya menjadi sesuatu yang tidak mudah untuk dilalui Abraham di sepanjang perjalanan di gunung Moria. Namun demikian Abraham melaluinya dengan gemilang. la patuh dan mengasihi Allah lebih dari segala sesuatu bahkan hal_yang paling ia kasihi. Totalitas mengasihi Allah dan kepatuhan yang utuh dinyatakan Abraham sebagai bukti iman percayanya kepada Allah pengendali hidup dan masa depan.

Abraham begitu percaya kepada Allah mulai dari panggilan pengutusannya, sampai kepada ujian mempersembahkan anak yang ia kasihi. lman dan perbuatan Abraham bagai dua sisi dari satu mata uang, tidak dapat dipisahkan. Ujian kesungguhan iman dapat kitajumpai dalam kehidupan kita. Ujian iman menjadi salah satu sarana yang melaluinya Allah menghadirkan tujuan-tujuan penyelamatan-Nya. Dan seringkali kita tidak tahu mengapa kita diuji sampai ujian itu usai berlangsung. Ujian iman membuat kita kuat dan diteguhkan untuk menghadapi tugas-tugas yang leblh sulit di masa mendatang.

KJ.247 : 2,3
Doa : (Ya Tuhan, ujian terhadap iman kami memang tidak mudah kami lalui, hanya oleh kekuatan dan pertolongan dari-Mulah kami dimampukan melewati semua pencobaan dan akhirnya penuh syukur menyaksikan kebesaran kasih sayang Tuhan terjadi bagi keluarga kami)



MlNGGU V SES. PENTAKOSTA
RABU, 22 JUNI 2016
RENUNGAN MALAM
KJ.144a:1,3 -Berdoa
KEPATUHAN TOTAL

Kejadian 22:11-19
...engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku" (ay.12b)

Ujian iman berakhir saat kepatuhan total dinyatakan. Kisah di gunung Moria sangat mendebarkan dengan akhir kisah yang manakjubkan. Di tengah ketegangan melakukan sesuatu yang lak mungkin untuk dilakukan Abraham, Allah menyatakan kemurahan-Nya. Melalui kemurahan hati-Nya disediakanlah seekor anak domba untuk disembelih. Allah ingin bukti tentang sebuah kepatuhan dengan rasa hormat yang penuh pada-Nya.

Abraham hidup dalam panggilan Allah bukan bergantung pada npa yang ia miliki. Tuhan memberkati Abraham dengan kemurahan-Nya. Allah menyediakan yang Abraham butuhkan. la menciptakan kehidupan dan sukacita besar memandang masa depan bersama-Nya. lnilah yang diharapkan Allah dalam hidup kita saat menghadapi semua ketakutan, kecemasan dan ketidak-berdayaan di depan kita. Tetap taat dan setialah, lakukanlah Firman-Nya maka la akan tampil menolong kita.

Pada ayat 12 ada dua hal yang diakui Allah dalam diri Abraham yakni : Abraham hidup dalam takut akan Tuhan dan total dalam kepatuhannya. la bertindak seperti yang Allah perintahkan. lnilah integritas yang gemllang. Dua hal ini haruslah menjadi dasar seluruh pembinaan dalam keluarga, gereja dan sekolah-sekolah Kristen. Abraham telah bertindak sebagai kepala keluarga dan bapa darl bangsa yang percaya maka diberkatilah kita dan keturunan kita karena kita membawa diri kita, keluarga kita dan sesama kita pada tindakan takut akan Tuhan dan kepatuhan yang total.

KJ.71 : 1,3
Doa : (Ya Roh Kudus kami bersyukur kepada-Mu sebab Roh-Mu telah membimbing kami hingga saat ini termasuk semua yang akan kami hadapi ke depan kami pun tetap dalam tuntunan-Mu)

Label:   Kejadian 22:1-19 




German Christian Songs
HEALING WORSHIP SONGS
Latest Christian Song


NEXT:
Khotbah Ibadah GPIB KAMIS, 23 JUNI 2016 - HIDUP BARU Roma 6:1-11 - MINGGU V SES. PENTAKOSTA

PREV:
Khotbah Ibadah GPIB SELASA, 21 JUNI 2016 - TUHAN MEMPERHATIKAN KITA Kejadian 21:1-7 - MINGGU V SES. PENTAKOSTA

Garis Besar Kejadian





BACAAN ALKITAB SETAHUN:


Hari ini, 23 September - Mazmur 119

Hari ini, 23 September - Maz 107:6-12, Yes 32-33, 2 Kor 13, Ams 25:3-4


Arsip Khotbah Ibadah GPIB 2016..

Register   Login  

contoh kj 392 bukan kj.392



Latest Christian Song





Nyanyian Ibadah Gereja
English Hymns, CFC SONGS *, AG (Aradhana Geethamulu), YSMS (Тебе пою оМй Спаситель), YJ (Юность-Иисусу), ADV (Himnario Adventista), HC (Держись Христа), SS (ДУХовни Песни), SR, SP, SPSS (Spiewajmy Panu wyd. dziesiate), RRZ (Runyankole Rukiga, Zaburi),
Lagu Koor - Paduan Suara Gereja, JB (Jiwaku Bersukacita: Pujian Sekolah Minggu), KMM, KJ, PKJ, GB, Nyanyian Rohani, Nafiri Rohani, NKB, KC, MNR1, MNR2, MAZMUR MP3 GKI, NP (Nyanyian Pujian), Lagu Tiberias, Nafiri Kemenangan, Lagu GMS, PPK, PPPR, KPPK, NKI, NRM, Buku Ende, BN (Buku Nyanyian HKBP), Buku Lagu Perkantas, KPKL, KPKA, KPJ, KRI, KPRI, KLIK, NNBT, DSL, LS, PKJ TORAJA, NJNE, Doding Haleluya, LKEE, Suara Gembira, , Kidung Kabungahan GKP, Puji Syukur, Madah Bakti,
Tagalog Worship Song
Kenya Worship Songs
Ghana Worship Songs
Urgandan Christian Song
Russian Worship Songs
Chinese Praise and Worship Song
Lagu Rohani Bahasa Iban di Malaysia
Thai Christian Song
Hebrew Christian Song
Arab Christian Song
Christian Songs In Dutch
German Christian Songs
Hindi Worship Song
Japanese Christian Song
Italian Christian Song
Lagu Rohani Batak
Lagu Rohani Ambon
Greek Worship Songs
French Worship Songs
Spanish Worship Songs

Jacqlien Celosse, Franky Sihombing, Sari Simorangkir, Maria Shandi, Nikita, Jonathan Prawira, Sidney Mohede, Edward Chen,



Gereja GPIB di Jakarta (Map)
Gereja GPIB di Surabaya (Map)
Gereja GPIB di Makassar (Map)
Gereja GPIB di Medan (Map)
Gereja GPIB di Bandung (Map)
Gereja GPIB di Manado (Map)
Gereja GPIB di Bekasi (Map)
Gereja GPIB di Tangerang (Map)
Gereja GPIB di Denpasar (Map)
Gereja GPIB di Bogor (Map)


New Submit
Sabtu, 07 April 2018
He Who Would Valiant Be Hymn

Selasa, 16 Februari 2016
26 Old Timeless Gospel Hymns Classics

Rabu, 20 Maret 2019
Sing - Ellie Holcomb

Minggu, 22 September 2019
Great Jehovah - Travis Greene

Minggu, 22 September 2019
On My Own - Ashes Remain

Minggu, 22 September 2019
God's Not Dead - Newsboys

Minggu, 22 September 2019
Gone - Elevation Worship

Sabtu, 21 September 2019
Burdens - Jamie Kimmett

Jumat, 20 September 2019
We're A Winner - Phillip Bailey

Jumat, 20 September 2019
Vaya (Go With Love) - Phillip Bailey

Jumat, 20 September 2019
Truimph - Phillip Bailey

Kamis, 19 September 2019
Oh Jesus! - Mercy Chinwo

Kamis, 19 September 2019
Quiet Time (2): 1 Hour Soaking Worship Songs (Kim Walker, Hillsong, Israel Houghton)

Kamis, 19 September 2019
Free - Hillsong

Kamis, 19 September 2019
Hear My Song, Lord - Gaither Vocal Band

Kamis, 19 September 2019
Give God the Glory - Marcus Jordan

Kamis, 19 September 2019
Beautiful - Jonas Rayme

Kamis, 19 September 2019
Yes, I Know - Gaither Vocal Band

Minggu, 15 September 2019
Forever Faithful (Love Song for Jesus) - Lifebreakthrough

Minggu, 15 September 2019
Glory To The King - Hillsong

christian music charts, new contemporary christian songs, top christian radio songs, top 20 christian songs this week, top 10 christian songs, download lagu kristen mp3, lagu terbaru rohani kristen, mp3 rohani kristen, lagu2 rohani terbaru, lagu rohani yang enak, mp3 lagu rohani kristen terbaru,



lagu nyanyian rohani,   lagu nyanyian rohani,   khotbah bilangan 28 16 31,   chord dan lirik lagu pkj 14,   chord dan lirik lagu pkj 14,   chord dan lirik lagu pkj 14,   khotbah minggu 29 september 2019,   2 korintus 9:7-8,   Bacaan sbu oktober 2019,   Tata Ibadah HUT Organisasi Wanita (Kristen),   apa beda diaken dan penatua,   renungan amos 8 : 4-8,   jamita psalmen 40 7-11,   lagu rohani saat malam hari,   tafsiran Yesaya 65:17-25,   nama group gereja,   lagu gereja katolik penutup,   lirik lagu gereja mari bersyukur,   lirik lagu Tuhanku berkatmu limpah bagai hujan yang deras,   khotbah kristen jaminan hidup yang sesungguhnya lukas 16:19-31,   khotbah kristen jaminan hidup yang sesungguhnya lukas 16:19-31,   khotbah kristen jaminan hidup yang sesungguhnya lukas 16:19-31,   khotbah kristen jaminan hidup yang sesungguhnya lukas 16:19-31,   rohani barat,   gpib zebulon batam september 2019,   lagu rohani mp3 free download,   nyaniyan rohani 132,   kotbah hari minggu ke 25 september 22, 2019,   Misa hari minggu biasa ke 25, september 22, 2019,   nyanyian suara gembira 21,   Doa sebelum ngambil khobat,    maz 40:7-11 renungan harian menanggapi karya pnenyelamatan Allah,   kidung muda mudi 87,   khotbah pelita hidup,   Khotbah Mazmur 40:7-11,   Khotbah Psalm 40:7-11,   ringkasan khotbah mazmur 40 7 11,   ringkasan kotbah mazmur 40 7 11,   KHOTBAH MENGADAKAN PENDAMAIAN,   sgdk oktober 2019,   renungan amos 8 ayat 4 - 8,   nyanyian suara gembira 21,   not angka gita bakti no 45 Dan lyrik,   not angka gita bakti no 45,   mars gerakan pemuda,   nyaniyan rohani 132,   tema mazmur 40:7-11,   sabda bina umat 22 september 2019 ,   jamita partangiangan 29 september 2019 mazmur 40:7-11,   kmm 33,   bahan kotbah mazmur 40:7-11 sabda.com,   Jamita psalmen 40:7-11,   khotbah yosua 24 13-25,   khotbah mazmur 111:1-10,   lagu rohani Yesus berkata jadilah terang,   lagu rohani Yesus berkata jadilah terang,   khotbah mazmur 111:1-10,   lagu rohani Yesus berkata jadilah terang,   lagu rohani Yesus berkata jadilah terang,   renungan harian katolik tanggal 22 september 2019,   kotbah 1 tesalonoka 3:6-8,   tafsiran mazmur 40:7-11,   Renungan harian bacaan dan mazmur minggu 22 September 2019,   Lagu kidung jemaat kristen protestan,   jamita minggu efesus 4:7-16,   Lagu kidung jemaat kristen protestan,   ayat Alkitab persembahan untuk anak anak,   renungan harian katolik 22 september 2019,   renungan harian katolik 22 september 2019,   lagu rohani easy worship,   lagu penutup ibadah,   lagu rohani pdt erastus sabdono,   Kesimpulan dari dosa , anugerah , pertobatan , pengampunan dan hidup baru,   lagu rohani untuk persembahan,   kidung ceria bilasangkakala,   not lagu nyanyian kidung baru 201,   tafsiran Yosua 24:13-25,   Bahan khotbah Josua 24:13-25,   sabda bina teruna septembr 2019,   inti korbah JOSUA 24:13-25,   jamita josua 24:13-25,   download MP3 lagu lagu di lagu sion acapella,   yosua 23 13-25,   renungan yesaya 27:1-5,   Khotbah 1tesalonika3,   kotbah lukas 14:1 +7-14,   khotbah yosua 24:13-25,   kotbah lukas 14:1 +7-14,   chord dipintumu ku datang dan,   kotbah lukas 14:1 +7-14,   Ilustrasi kotbah josua,   renungan harian hkbp 2019 mazmur 40:7-11,   amos 8 ayat 4 penjelasan,   Ilustrasi kotbah josua,   kotbah lukas 14:1 +7-14,   renungan matius 5:21-26,   amos 8 ayat 4 penjelasan,   khotbah lukas 16:10-18,   nyanyian rohani 136,   kmm 1 notasi,   jamita na marhata batak Josua 24:13-25,   lagu persembahan pastekosta lama,   1 petrus 3 : 8-12,   Injil Renungan Minggu 22 September 2019,   khotbah yosua 24:13-25,   1 petrus 3 : 8-12,   bina anak gmim bln september,   renungan gpib hari ini september,   khotbah yosua 24:13-25,   bahan renungan alkitab 1 yohanes pasal 1 ayat 1 sampai 6,   khotbah yeremia 8:18-22 mendua hati,   khotbah yeremia 8:18-22 mendua hati,   ilustrasi untuk bacaan ulangan 30 : 15-20 untuk sekolah minggu,   khotbah dari gal 4:18÷20,   nyanyian masmur minggu 22 september 2019,   kidung muda mudi 87,   Khotbah amos 8:4-8,   Khotbah amos 8:4-8,   Khotbah amos 8:4-8,   tafsiran amos 8:4-6,   download kidung keesaan gratis,   bahan khotbah ester 4:1-17,   kidung kaesaan,   khotbah yosua 24:13-25,   khotbah yosua 24:13-25,   kidubg kaesaan 6,   khotbah minggu 22 september.2019,   khotbah minggu 22 september.2019,   khotbah minggu 22 september.2019,   khotbah ibadah syukur setahun kepergian ibu yang terkasih,   khotbah ibadah syukur setahun kepergian ibu yang terkasih,   lagu sesudah pembacaan alkitab,   download lg soraklah alleluya katolik,   khotbah lukas 16: 10-18,   renungan kis,   khotbah yosua 24:13-25,   instrumen lagu rohani mp3,   khotbah minggu 22 september 2019 Yosua 24:13-25,   khotbah yosua 24:13-25,   kmm 33,   Khotbah amos 8:4-8,   sabda bina umat online,   notasi nkb 122,   nkb 122 dengan not,   kotbah josua 24 13 25,   kotbah josua 24:13-25,   kotbah josua 24:13-25,   jangan mengusik orang2 yg Kuurapi, renungan,   Khotbah minggu tanggal 22 sep 2019 yosua 24:13-25,   lagu-lagu rohani katolik 2019,   khotbah mazmur 40:7-11,   khotbah mazmur 40:7-11,   lagu gms,   bina anak gmim bln september,   tema ibadah hki 22 september 2019,   mars pelkat pa,   mars pelkat pa,   lagu kidung jemaat awal pesta,   ku daki jalan mulia chord,   youtube kc 184 bermacam-macam anak,   youtube kc 184 bermacam-macam anak,   lagu bermacam-macam anak,   Kotbah:yosua 24:13-25,   khotbah bilangan 27,   lagu untuk persembahan,   Tertwa lgu rohni,   ilustrasi khotbah lukas 16:10-18,   renungan roma 12:1-8 menjalani kehidupan ibadah yang sejati,   khotbah amos 8: 4-8,   Album rohani john tanamal,   khotbah amos 8: 4-8,