Save Page

Selasa, 13 September 2016
MINGGU XVII SESUDAH PENTAKOSTA
Matius 19:1-12
Perceraian
19:1 Setelah Yesus selesai dengan pengajaran-Nya itu, berangkatlah Ia dari Galilea dan tiba di daerah Yudea yang di seberang sungai Yordan. 19:2 Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan Iapun menyembuhkan mereka di sana. 19:3 Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: "Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?" 19:4 Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? 19:5 Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. 19:6 Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." 19:7 Kata mereka kepada-Nya: "Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan
untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?" 19:8 Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. 19:9 Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah." 19:10 Murid-murid itu berkata kepada-Nya: "Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin." 19:11 Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja. 19:12 Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti."

Penjelasan:

* Pengajaran Tentang Perceraian (19:1-12).
Di seberang Sungai Yordan. Dari istilah Yunani peran (di seberang) wilayah di bagian Timur Sungai Yordan dinamakan "Perea." 3. Apakah diperbolehkan orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja? Aliran Syami yang ketat beranggapan bahwa perceraian itu sah hanya apabila seorang istri bertindak memalukan. Sekalipun demikian, Rabi Hillel menafsirkan Ulangan 24:1 secara seluas mungkin sehingga perceraian diizinkan untuk alasan apa pun yang mungkin. Karena itu Yesus ditanyai, "Setujukah Anda dengan tafsiran yang paling lazim (tafsiran Hillel) itu?" 4-6. Tanpa menganut salah satu tafsiran tersebut, Yesus mengutip maksud Allah di dalam penciptaan manusia (Kej. 1:27; 2:24). Ketika menciptakan manusia Allah bermaksud agar laki-laki dan istrinya menjadi satu daging, sehingga setiap gangguan yang memecahkan pernikahan melanggar kehendak Allah. 7, 8. Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan? Dengan mengutip Musa (Ul. 24:1) dan surat cerai sebagai keberatan mereka terhadap pendapat Yesus menunjukkan salah pengertian mereka tentang peraturan tersebut. Peraturan tersebut merupakan suatu sarana untuk melindungi istri dari perubahan pikiran suaminya dan bukan hak bagi suami untuk menceraikan istrinya dengan seenaknya. 9, 10. Kecuali karena zinah (bdg. tafsiran atas 5:31). Apabila zinah di sini dianggap sebagai istilah umum termasuk percabulan (penyebutan yang paling tidak jelas dalam Perjanjian Baru), maka Tuhan kita hanya mengizinkan perceraian apabila pihak istri tidak setia. (Di kalangan orang Yahudi, hanya suami yang dapat menceraikan. Markus, waktu menulis untuk orang bukan Yahudi, juga menyatakan sebaliknya, Mrk. 10:12.) Tetapi apabila zinah dipandang sesuai dengan artinya yang umum, dan di sini mengacu kepada kesucian pihak wanita sepanjang masa pertunangan (bdg. kecurigaan Yusuf, Mat. 1:18, 19), maka Kristus sama sekali tidak memberikan peluang untuk bercerai bagi pasangan yang sudah menikah. Dengan demikian Dia tidak sependapat dengan Syamai maupun dengan Hillel. Pandangan mengenai pernikahan yang demikian tinggi dan ketat dapat menjelaskan keluhan para murid. Lebih baik jangan kawin. Rasanya tidak mungkin bahwa para murid itu, setelah menghayati cita-cita Yesus, merasa pembatasan perceraian hanya pada kasus-kasus percabulan sebagai suatu beban berat. 11. Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, maksudnya, pernyataan para murid. Walaupun kadang-kadang pernikahan bukan merupakan sesuatu yang menguntungkan, tidak semua orang dapat hidup tanpa menikah. 12. Ada orang yang tidak bisa menikah karena masalah cacat sejak lahir; yang lain karena cedera atau larangan yang dibuat manusia. Yang lain lagi mungkin melepaskan hak untuk menikah ini agar dapat mengabdikan diri secara lebih menyeluruh kepada pekerjaan Allah (mis., Paulus, I Kor. 7:7, 8, 26, 32-35).

Pernyataan ini tentu saja tidak mengurangi arti pernikahan: pernyataan ini menutup suatu pembahasan di mana pernikahan diangkat kembali kepada tujuannya yang semula.

* Mat 19:1-2 - Kristus Meninggalkan Galilea dan Menyusuri Daerah Yudea

    Dalam pasal ini kita melihat:
    I. Kristus mengubah markas pelayanan-Nya, dengan meninggalkan Galilea dan memasuki daerah-daerah pesisir Yudea (ay. 1-2).
    II. Kristus berdebat dengan kaum Farisi mengenai hal perceraian, dan berbicara dengan murid-murid-Nya mengenai hal tersebut (ay. 3-12).
    III. Kristus menyambut baik anak-anak kecil yang dibawa kepada-Nya (ay. 13-15).
    IV. Kristus bertemu dengan seorang pemuda yang sungguh-sungguh berharap untuk dapat mengikuti-Nya (ay. 16-22).
    V. Kristus berbicara dengan murid-murid-Nya mengenai pertemuan-Nya dengan pemuda itu, yaitu mengenai sulitnya orang kaya untuk memperoleh keselamatan, dan mengenai imbalan khusus yang akan diberikan bagi mereka yang meninggalkan segala miliknya demi mengikuti Kristus (ay. 23-30).

Kristus Meninggalkan Galilea dan Menyusuri Daerah Yudea (19:1-2)
    Di sini diceritakan mengenai kepindahan Kristus. Perhatikanlah:
        . Dia meninggalkan Galilea. Di sana Ia dibesarkan dan menghabiskan sebagian besar hidup-Nya, di daerah yang letaknya terpencil dan paling dianggap hina di negeri itu. Hanya pada hari-hari perayaan saja Ia pergi ke Yerusalem dan menyatakan diri-Nya di sana. Dan bisa saja kita menduga, ajaran dan mujizat-mujizat-Nya akan lebih menarik perhatian dan dapat diterima di Yerusalem karena Ia tidak tinggal tetap di daerah itu. Akan tetapi, karena kerendahan hati-Nya, Ia memilih, seperti dalam hal-hal lainnya, untuk muncul dalam kesederhanaan. Ia lebih suka tampil sebagai seorang Galilea, orang kampung dari wilayah utara, yang orang-orangnya dikenal paling tidak kenal sopan-santun dan kasar di seluruh bangsa itu. Sebagian besar ajaran-Nya disampaikan di Galilea, sebagian besar mujizat-Nya juga dilakukan di sana. Namun sekarang, setelah selesai dengan pengajaran-Nya itu, berangkatlah Ia dari Galilea, dan itu merupakan perpisahan-Nya yang terakhir, karena setelah ini Ia hanya menyusur perbatasan Samaria dan
Galilea (Luk. 17:11) tetapi tidak pernah lagi masuk di daerah Galilea sendiri sampai setelah kebangkitan-Nya. Karena itu, kepindahan-Nya ini sangatlah luar biasa. Kristus tidak pernah meninggalkan Galilea sebelum pekerjaan-Nya di daerah itu selesai. Kemudian Dia berangkat dari tempat itu.

Perhatikanlah, seperti halnya hamba-hamba Kristus yang setia tidak akan diangkat dari dunia ini sebelum mereka selesai memberikan kesaksian mereka, maka demikian pula, mereka juga tidak dipindahkan dari suatu tempat sebelum kesaksian mereka selesai (Why. 11:7). Hal ini sangat menghiburkan orang yang tidak mau mengikuti keinginan sendiri tetapi hanya mengikuti pemeliharaan Allah untuk menyelesaikan pengabaran mereka di suatu tempat terlebih dahulu sebelum pindah ke tempat lain. Siapa yang mau tinggal berlama-lama di suatu tempat jika ia telah selesai melakukan pekerjaan Allah di sana?
        . Ia tiba di daerah Yudea yang di seberang sungai Yordan, supaya orang-orang di daerah tersebut juga mengalami hari lawatan-Nya seperti halnya orang-orang Galilea, karena mereka juga termasuk domba-domba yang hilang dari umat Israel. Ia bahkan melanjutkan perjalanan-Nya hingga ke bagian-bagian Kanaan yang terletak di negeri bangsa-bangsa lain, yakni di Galilea yang disebut Galilea wilayah bangsa-bangsa lain, dan orang-orang Siria di seberang Yordan. Dengan demikian, Kristus menyiratkan bahwa walaupun Ia terikat pada bangsa Yahudi, mata-Nya juga tertuju kepada orang-orang bukan-Yahudi, dan kabar baik-Nya sedang mengarah dan menuju mereka.
        . Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Di mana ada Silo, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa. Orang-orang tebusan Tuhan akan mengikuti Anak Domba itu ke mana saja Ia pergi (Why. 14:4). Kita hendaknya juga mengikuti Kristus ke mana pun Ia pergi. Ke mana pun Ia pergi, Ia selalu dikerumuni orang. Walaupun mendatangkan masalah terus bagi Dia, hal ini juga menunjukkan bahwa Dia sangat dihormati. Namun, Ia tidak mencari kesenangan ataupun kehormatan dari dunia ini bagi diri-Nya, mengingat kumpulan orang-orang banyak ini pun hanyalah manusia-manusia hina dan rendah (begitulah sebagian orang menyebut mereka). Ia berkeliling sambil berbuat baik, dan seperti yang terjadi, Ia menyembuhkan mereka di sana. Alasan orang banyak itu mengikuti Dia adalah agar penyakit mereka disembuhkan, dan mereka memang melihat Dia mempunyai kuasa untuk itu dan bahkan bersedia
menolong mereka, seperti yang dilakukan-Nya selama berada di Galilea. Di mana pun Surya kebenaran ini terbit, kesembuhan selalu ada di bawah kepak sayap-Nya. Dia menyembuhkan mereka di sana, karena Dia tidak ingin mereka terus mengikuti-Nya sampai ke Yerusalem, karena hal tersebut dapat mendatangkan masalah. Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak.

* Hukum mengenai Perceraian (19:3-12)
    Dalam perikop ini kita menemukan hukum Kristus mengenai masalah perceraian. Perbincangan mengenai hukum ini muncul, seperti halnya dengan beberapa pernyataan kehendak-Nya yang lain, karena perdebatan-Nya dengan kaum Farisi. Betapa sabarnya Dia berurusan dengan perlawanan orang-orang
fasik, sampai-sampai kesempatan tersebut pun dijadikan-Nya sebagai bahan pengajaran bagi murid-murid-Nya!

    Perhatikanlah di sini:
    I. Pokok masalah yang dipertanyakan oleh kaum Farisi (ay. 3) adalah, Apakah diperbolehkan orang menceraikan istrinya? Hal ini mereka kemukakan untuk mencobai Dia, bukan untuk mendapatkan pengajaran dari-Nya. Sebelumnya di Galilea, Dia telah mengemukakan pandangan-Nya mengenai masalah
tersebut, bahwa Ia sangat menentang kebiasaan umum pada masa tersebut (5:31-32). Kaum Farisi ingin menjebak Dia dengan membuat-Nya mengemukakan pandangan-Nya mengenai masalah perceraian, sehingga mereka dapat menggunakan perkataan-Nya untuk menyerang-Nya dan menghasut orang-orang untuk menentang-Nya. Hal ini mereka lakukan karena menganggap Dia telah mengekang kebebasan mereka dalam hal-hal yang sudah menjadi kesukaan mereka. Mereka berharap Dia bisa bersikap lunak mengenai hukum-hukum-Nya terhadap cita rasa orang-orang itu, misalnya dalam hal perceraian. Dalam akal bulus mereka: jika Kristus berkata bahwa perceraian bertentangan dengan hukum Taurat, maka mereka akan menyebut-Nya sebagai penentang hukum Musa, karena dalam hukum Musa hal tersebut diperbolehkan. Sebaliknya, jika Dia berkata perceraian itu diperbolehkan, maka mereka dapat menyerang ajaran-Nya sebagai hal yang cacat, karena ajaran semacam ini bukan berasal dari Mesias, karena walaupun perceraian diperbolehkan, bagi sebagian orang yang lebih ketat dalam hal hukum, tindakan tersebut dianggap tercela. Sebagian orang berpikir bahwa, walaupun hukum Musa memperbolehkan perceraian, masih ada beda pendapat di antara kaum Farisi sendiri mengenai pembenaran atas perbuatan tersebut, sehingga mereka ingin mendengar bagaimana pandangan Kristus sendiri mengenai hal tersebut. Ada banyak masalah yang berkaitan dengan perkawinan, dan terkadang sifatnya rumit dan membingungkan. Tetapi ini semua tidak
disebabkan oleh hukum Allah, melainkan oleh karena nafsu dan kebodohan manusia itu sendiri, dan sering kali dalam menyelesaikan masalah-masalah ini, orang tidak mau bertanya lebih dulu apa yang sebaiknya mereka lakukan.
    Pertanyaan yang diajukan kaum Farisi adalah, Apakah diperbolehkan orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja? Untuk alasan tertentu perceraian itu bisa saja diperbolehkan, terutama yang disebabkan oleh karena terjadinya hubungan badan di luar nikah. Tetapi masalahnya, apakah perceraian itu bisa diperbolehkan untuk alasan apa saja, seperti yang dewasa ini dilakukan oleh orang-orang yang hidupnya bebas? Apakah diperbolehkan dengan alasan apa saja yang sesuai dengan kehendak hati seorang laki-laki walaupun sifatnya hanya sepele saja? Oleh karena laki-laki itu sudah tidak suka atau tidak senang lagi? Mengenai hal ini, hukum memperbolehkan adanya perceraian: jika kemudian ia tidak menyukai lagi perempuan itu, sebab didapatinya yang tidak senonoh padanya (Ul. 24:1). Ayat inilah yang ditafsirkan secara luas sekali oleh kaum Farisi itu dengan memakai alasan-alasan yang tidak berdasar untuk mengadakan perceraian.

    II. Jawaban Kristus terhadap pertanyaan ini. Walaupun pertanyaan tersebut diajukan untuk mencobai Dia, Ia tetap memberikan jawaban kepada mereka, karena ini menyangkut masalah hati nurani dan penting sifatnya. Jawaban-Nya tidak langsung, tetapi sangat mengena, karena mengemukakan prinsip-prinsip yang tidak dapat disangkal bahwa perceraian yang dilakukan dengan sesuka hati, sehingga membuat ikatan perkawinan menjadi tidak keruan pada masa itu, sama sekali tidak dapat dibenarkan menurut hukum Taurat. Kristus tidak pernah memberikan peraturan tanpa alasan yang masuk akal atau menjatuhkan suatu penilaian tanpa landasan Kitab Suci untuk mendukungnya. Nah, pokok pikiran yang dikemukakan Kristus di sini adalah: "Jika suami dan istri telah dipersatukan menurut kehendak dan penentuan Allah, maka mereka tidak boleh dipisahkan begitu saja dengan alasan apa pun. Jika mereka tahu bahwa ikatan itu suci adanya, ikatan itu tidak mudah dilepaskan begitu saja. Nah, untuk membuktikan bahwa ikatan demikian antara laki-laki dan perempuan memang ada, Kristus mengemukakan tiga bukti untuk menopang pernyataan-Nya.

        . Penciptaan Adam dan Hawa. Dengan ini Kristus mengajak mereka untuk berpikir berdasarkan pengetahuan mereka akan Kitab Suci. Ia bertanya, "Tidakkah kamu baca?" Ada suatu keuntungan tertentu dalam beradu pendapat dengan mereka yang memiliki dan telah membaca Kitab Suci. Kamu sudah membaca (tetapi tidak mempertimbangkannya) bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan (Kej. 1:27, 5:2).

Perhatikanlah, banyak kali, penting bagi kita untuk memikirkan mengenai penciptaan kita sebagai manusia, bagaimana dan oleh siapa, apa dan mengapa kita diciptakan. Tuhan menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, satu wanita untuk satu laki-laki, supaya Adam tidak dapat menceraikan Hawa dan mengawini wanita lain, karena memang tidak ada wanita lain. Hal ini juga menyiratkan adanya ikatan yang tidak terpisahkan di antara mereka. Hawa diambil dari sepotong tulang rusuk Adam sendiri. Jadi, kalau ia menceraikan Hawa, itu berarti dia membuang bagian tubuhnya sendiri dan menentang maksud penciptaan Hawa. Walaupun Kristus hanya menyinggung hal ini sekilas saja, Ia berusaha menghubungkan pengetahuan kaum Farisi itu dengan kutipan langsung dari Kitab Suci mengenai hal tersebut, dengan menekankan bahwa, walaupun semua makluk hidup diciptakan secara berpasang-pasangan, hanya pada manusialah ditemukan adanya ikatan perkawinan antara laki-laki dan perempuan yang didasarkan atas akal budi, yang dimaksudkan untuk tujuan yang jauh lebih mulia daripada hanya sekadar memuaskan hawa nafsu dan mempertahankan keturunan. Oleh karena itu, ikatan di antara laki-laki dan perempuan, seperti halnya ikatan di antara Adam dan Hawa, lebih dalam dan kuat dibandingkan dengan hewan yang tidak berakal budi. Karena itu, dalam Kitab Suci ikatan ini diungkapkan secara agak khusus (Kej. 1:27): Menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Di sini kata dia dan mereka tidak digunakan untuk hanya satu jenis kelamin saja, tetapi kedua-duanya. Mereka diciptakan satu, sebelum menjadi dua, dan menjadi satu kembali lewat janji perkawinan. Kesatuan itu selalu sangat dekat dan tidak mungkin dapat terceraikan.

        . Hukum perkawinan yang paling mendasar adalah bahwa laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya (ay. 5).

Hubungan di antara suami dan istri lebih dekat dibandingkan dengan hubungan di antara orangtua dan anak-anaknya. Karena itu, jika hubungan antara orangtua dan anak-anak saja tidak mudah dipisahkan, lebih-lebih lagi ikatan perkawinan itu sendiri. Dapatkah seorang anak meninggalkan orangtuanya atau dapatkah orangtua mencampakkan anaknya begitu saja sesuka hati tanpa alasan yang jelas? Tentu saja tidak! Jadi, lebih-lebih lagi, seorang suami tidak boleh meninggalkan istrinya, karena hubungan di antara mereka didasarkan atas kehendak ilahi, bukan oleh alam. Hubungan itu lebih dekat dan ikatan perkawinan lebih kuat sifatnya dibandingkan dengan hubungan di antara orangtua dan anak karena seorang laki-laki harus meninggalkan orangtuanya untuk bersatu dengan istrinya. Lihatlah di sini betapa kuatnya suatu ketetapan ilahi itu sehingga penyatuan yang dihasilkannya jauh lebih kuat daripada ketentuan-ketentuan alam yang paling tinggi sekalipun.

        . Sifat dari ikatan perkawinan adalah persatuan antara dua manusia, keduanya itu menjadi satu daging, sehingga mereka bukan lagi dua, melainkan satu (ay. 6). Anak adalah bagian dari seorang laki-laki, tetapi istri adalah dirinya sendiri. Ikatan dalam perkawinan lebih dekat daripada ikatan antara orangtua dan anak-anaknya, dan kedekatan hubungan dari ikatan perkawinan ini dalam cara tertentu sepadan dengan hubungan antara anggota tubuh yang satu dan anggota tubuh yang lainnya. Selain menjadi landasan cinta kasih di antara suami dan istri, hal ini juga menjadi landasan mengapa seseorang tidak boleh menceraikan istrinya, karena tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri atau menyingkirkan bagian tubuhnya sendiri.

Sebaliknya, ia akan mengasuhnya dan merawatinya serta melakukan apa pun untuk menjaganya. Suami dan istri akan menjadi satu, karena itu harus hanya ada satu istri saja, sebab Allah hanya menciptakan satu Hawa untuk satu Adam (Mal. 2:15).

        Dari penjelasan di atas, Kristus menyimpulkan, "Apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia."

        Perhatikanlah:
            (1) Suami dan istri dipersatukan oleh Allah sendiri; synezeuxen -- Ia telah menyatukan mereka dengan tali kekang, demikianlah kata yang dipakai untuk itu, dan ini luar biasa penting. Allah sendiri yang menetapkan hubungan suami dan istri dalam ikatan perkawinan sebagai sesuatu yang suci. Perkawinan dan Hari Sabat adalah dua hukum Allah yang paling tua. Walaupun perkawinan itu bukan khusus milik gereja saja, tetapi merupakan hal yang umum bagi dunia, namun, hal ini disahkan melalui suatu ketetapan ilahi, dan diteguhkan di sini oleh Yesus, Tuhan kita. Oleh karena itu,

perkawinan itu hendaknya diatur menurut cara-cara yang sesuai dengan kehendak Allah dan dikuduskan oleh firman Allah dan doa. Kalau kita menjalankan hukum perkawinan ini dengan hati nurani yang tertuju kepada Allah, maka ini akan mendatangkan pengaruh yang baik bagi kita dalam melaksanakan kewajiban kita satu sama lain dalam hubungan perkawinan ini, dan kita akan memperoleh penghiburan dalam hubungan ini.
            (2) Suami dan istri, yang dipersatukan oleh hukum Allah, tidak boleh diceraikan oleh hukum manusia mana pun. Hendaklah manusia tidak menceraikan, suami sendiri pun tidak, atau siapa pun yang mewakilinya; hakim juga tidak, karena Allah tidak pernah memberikannya wewenang atas hal tersebut. Allah bangsa Israel telah berkata, "Aku membenci perceraian" (Mal. 2:16). Sudah merupakan suatu aturan umum bahwa manusia tidak boleh menceraikan apa yang telah dipersatukan Allah.

    III. Keberatan yang dikemukakan oleh kaum Farisi terhadap hal ini.

    Keberatan mereka ini tampaknya beralasan (ay. 7), Apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai, jika seseorang menceraikan istrinya? Kristus menekankan alasan alkitabiah yang menentang perceraian, namun mereka juga menggunakan wewenang Alkitab yang menyetujui perceraian
itu. Perhatikanlah, pertentangan-pertentangan yang tampaknya ada dalam firman Allah merupakan batu sandungan yang besar bagi orang-orang yang akal budinya rusak. Tidak dipungkiri lagi bahwa Musa setia kepada Dia yang telah menetapkannya, dan tidak memberikan perintah lain selain apa yang diterimanya dari Tuhan. Namun dalam hal ini, apa yang mereka anggap perintah sesungguhnya hanyalah sebuah kelonggaran (Ul. 24:1), yang lebih dimaksudkan untuk menahan supaya tindakan perceraian itu tidak dilakukan secara berlebihan, dan bukannya untuk membenarkan tindakan tersebut. Para ahli Taurat Yahudi sendiri menyadari adanya batasan-batasan dalam hukum tersebut, yaitu bahwa perceraian tidak dapat dilakukan tanpa pertimbangan yang matang. Harus ada alasan tertentu yang dikemukakan, surat cerai harus ditulis dan, sebagai suatu tindakan hukum, surat cerai itu harus ditetapkan dan didaftarkan dengan segala tata cara resmi. Surat itu harus diserahkan langsung ke dalam tangan sang istri itu sendiri, dan mereka secara terbuka dilarang untuk berkumpul bersama lagi selamanya (karena itu laki-laki diwajibkan untuk mempertimbangkan dulu keputusan mereka itu).

    IV. Jawaban Kristus terhadap keberatan mereka ini, di mana.
        . Ia mengoreksi kesalahan mereka berkenaan dengan hukum Musa. Mereka menyebutnya perintah, namun Kristus menyebutnya suatu izin atau kelonggaran saja. Hati yang penuh kedagingan akan mengambil sehasta jika diberikan seinci. Hukum Musa, dalam hal ini, adalah hukum politis yang diberikan oleh Allah kepadanya sebagai pemimpin bangsa Yahudi, dan alasan perceraian diperbolehkan adalah demi bangsa tersebut. Eratnya ikatan perkawinan adalah hasil dari hukum positif, bukan hukum alam. Hikmat Allah memberikan kelonggaran untuk perceraian dalam beberapa hal, tanpa meniadakan kesucian-Nya.

        Akan tetapi, Yesus memberi tahu mereka bahwa ada alasan mengapa kelonggaran ini diberikan. Hal ini sama sekali bukan untuk menghormati mereka, melainkan karena ketegaran hatimu, kamu diperbolehkan untuk menceraikan istrimu. Musa pernah berkeluh kesah mengenai bangsa Israel pada zamannya, bahwa mereka degil dan tegar tengkuk (Ul. 9:6, 31:27), suka menentang Allah, mengeraskan hati dalam hubungan mereka dengan Dia; mereka umumnya kejam dan liar, baik dalam nafsu maupun kesenangan mereka. Oleh karena itu, jika mereka tidak diperbolehkan untuk menceraikan istri mereka ketika mereka sudah tidak menyukai istri mereka lagi, maka mereka mungkin memperlakukan istri mereka dengan kejam. Mereka akan memukul dan menganiaya, bahkan mungkin akan membunuh istri mereka. Perhatikanlah, tidak ada kekerasan hati yang lebih buruk di dunia ini selain daripada orang yang memperlakukan istrinya dengan kasar dan kejam. Orang-orang Yahudi ketika itu tampaknya terkenal buruk dalam hal ini, sehingga mereka
diperbolehkan menceraikan istri mereka. Lebih baik mereka menceraikan istri mereka daripada mereka melakukan perbuatan yang lebih buruk. Lebih baik begitu, daripada mezbah Tuhan tertutup oleh air mata (Mal. 2:13). Sedikit kelonggaran untuk menyenangkan hati orang yang kurang waras, atau orang yang kehilangan akal, dapat mencegah celaka yang lebih besar. Hukum positif dapat diberikan kelonggaran demi menjaga hukum alam, karena Allah menghendaki belas kasihan dan bukan persembahan. Akan tetapi, dalam hal ini kelonggaran perlu diberikan, karena kita berurusan dengan orang-orang yang berhati keras dan keji. Tidak ada orang yang menginginkan kebebasan untuk bercerai, kecuali mereka yang hatinya benar-benar keras.

Perhatikanlah, Kristus berkata, "Karena ketegaran hatimu," bukan hanya hati mereka yang hidup pada masa tersebut, naun semua keturunan mereka. Perhatikanlah, Allah tidak hanya melihat kekerasan hati manusia pada saat tertentu, namun melihat jauh ke depan. Ia menyesuaikan hukum-hukum dan pemeliharaan-Nya dalam masa Perjanjian Lama dengan perangai orang-orang pada saat itu, dengan menggunakan hal-hal yang mengancam dan menakutkan mereka. Perhatikanlah lebih jauh, hukum Musa mempertimbangkan kekerasan hati manusia, tetapi Injil Kristus menyembuhkannya, dan anugerah-Nya menjauhkan hati yang keras dan memberikan hati yang taat. Melalui hukum, ada pengetahuan tentang dosa, tetapi melalui Injil ada penaklukan terhadap dosa.

        . Yesus mengarahkan perhatian mereka kepada hukum yang mula-mula, bahwa sejak semula tidaklah demikian. Perhatikanlah, kecemaran-kecemaran yang menjalar ke dalam setiap hukum Allah harus disingkirkan dengan mengacu kepada hukum yang ditetapkan mula-mula. Jika ada salinan yang menyesatkan, hal tersebut harus diteliti dan diperbaiki melalui salinan yang asli. Oleh karena itu, saat Rasul Paulus meredakan perselisihan jemaat

Korintus mengenai perjamuan Tuhan, ia merujuk kepada penetapan perjamuan itu (1Kor. 11:23), Beginilah yang telah aku terima dari Tuhan. Kebenaran telah ada sejak mula-mula, sehingga kita harus mencari jawaban dari jalan-jalan yang dahulu kala (Yer. 6:16). Kita harus benar-benar berubah seluruhnya, bukan dengan mengikuti pola-pola yang ada kemudian, tetapi melalui aturan-aturan yang mula-mula.
        . Kristus menyelesaikan masalah tersebut dengan memberikan hukum yang langsung keluar dari mulut-Nya, "Aku berkata kepadamu" (ay. 9). Hal ini sesuai dengan apa yang telah dikatakan-Nya sebelumnya (5:32). Sebelumnya hukum ini disampaikan-Nya ketika Ia berkhotbah, tetapi di sini, ketika Ia
sedang berselisih pendapat dengan mereka. Akan tetapi, apa yang disampaikan-Nya itu tetap sama, karena Kristus sendiri tidak pernah berubah.

        Nah, apa yang disampaikan dalam khotbah itu maupun dalam perselisihan ini:
            (1) Ia memperbolehkan perceraian jika terjadi perzinahan.
            Dasar hukum yang melarang perceraian adalah karena keduanya itu menjadi satu daging. Jika sang istri melakukan persundalan dan menjadi satu daging dengan seorang pezinah, maka dasar hukum tersebut tidak berlaku lagi. Menurut hukum Musa, hukuman untuk perzinahan adalah hukuman mati (Ul. 22:22). Akan tetapi, Juruselamat kita sekarang meringankan hukuman yang berat tersebut, dan menjadikan perceraian sebagai hukumannya. Menurut Dr. Whitby, yang dimaksudkan di sini bukanlah perzinahan (karena Juruselamat kita menggunakan kata porneia -- persundalan), melainkan hubungan badan
di luar nikah yang baru diketahui setelah perkawinan. Alasannya adalah bahwa jika hubungan badan itu dilakukan setelah kawin, maka ini sudah merupakan tindak kejahatan dengan hukuman mati, dan perceraian tidak diperlukan lagi.

            (2) Ia melarang perceraian untuk semua alasan yang lain: Barangsiapa menceraikan istrinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah. Ini adalah jawaban yang tegas terhadap pertanyaan mereka, yaitu bahwa perceraian itu melanggar hukum. Dalam hal ini, seperti halnya dalam hal-hal lainnya, masa Injil adalah masa pembaruan (Ibr. 9:10). Hukum Kristus cenderung mengembalikan manusia ke dalam keutuhan atau integritasnya yang mula-mula. Hukum cinta kasih, cinta kasih dalam perkawinan, bukanlah perintah yang baru, tetapi sudah ada sejak mula-mula. Jika kita mempertimbangkan akibat-akibat buruk yang ditimbulkan oleh perceraian yang dilakukan secara semena-sema terhadap keluarga dan bangsa, serta kebingungan dan kekacauan yang diakibatkannya, maka kita akan melihat betapa bermanfaatnya hukum Kristus ini bagi kita, dan betapa bersahabatnya Kekristenan itu bagi kepentingan-kepentingan duniawi kita.

            Hukum Musa memperbolehkan perceraian karena kekerasan hati manusia, sedangkan hukum Kristus melarangnya. Hal ini menyiratkan bahwa karena orang-orang Kristen hidup di bawah hukum kasih dan kemerdekaan, maka dari mereka diharapkan ada kelembutan hati, dan jangan menjadi keras hati, seperti orang-orang Yahudi, karena Allah memanggil kamu untuk hidup dalam damai sejahtera. Perceraian tidak akan terjadi jika kita berlaku sabar terhadap satu dengan yang lain dan mengampuni satu dengan yang lain dalam kasih, sebagaimana yang dirasakan oleh orang-orang yang telah diampuni dan berharap untuk diampuni, dan yang menyadari bahwa Allah tidak akan mengusir kita (Yes. 50:1). Perceraian tidak diperlukan jika suami mengasihi istrinya dan istri taat kepada suaminya dan mereka hidup bersama sebagai pewaris anugerah kehidupan. Inilah hukum-hukum Kristus yang tidak kita temukan dalam semua hukum Musa.

    V. Inilah pendapat murid-murid Kristus yang tidak setuju dengan hukum-Nya ini (ay. 10), Jika demikian halnya hubungan antara suami dan istri, lebih baik jangan kawin. Kelihatannya murid-murid Kristus sendiri sangat tidak rela melepaskan kebebasan dalam bercerai. Mereka menganggap bahwa perceraian diperlukan untuk mempertahankan kenyamanan dalam kehidupan perkawinan, sehingga mereka, layaknya anak-anak kecil yang merajuk, akan membuang apa yang mereka miliki, jika mereka tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan. Jika mereka tidak diperbolehkan untuk menceraikan istri mereka sesuai dengan kehendak hati mereka, maka mereka memilih untuk tidak beristri sama sekali; padahal pada mulanya, ketika perceraian tidak diizinkan, Allah berfirman, "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja," dan Ia memberkati mereka. Ia menyebut mereka yang dipersatukan dengan kukuh sebagai orang-orang yang diberkati. Meskipun begitu, murid-murid Kristus menganggap bahwa lebih baik bagi mereka untuk tidak kawin jika mereka tidak diberikan kebebasan untuk bercerai.

    Perhatikanlah:
        . Sifat yang cemar tidak rela untuk dikekang, dan dengan senang hati akan memutuskan ikatan yang dipersatukan oleh Kristus, supaya memiliki kebebasan dalam memuaskan nafsu-nafsunya.
        . Bagi manusia, bodohlah kalau mau meninggalkan kenikmatan-kenikmatan hidup ini. Bagi mereka, beban-beban salib hanyalah menghambat berbagai kenikmatan itu, membuat mereka seakan seperti telah keluar dari dunia ini karena tidak bisa mendapatkan lagi semua keinginan mereka di dunia ini.
Mereka merasa harus masuk ke dalam suatu panggilan atau keadaan yang tidak ada gunanya, dan harus taat di dalamnya.
        Tidak! Apa pun keadaan kita, kita harus peduli untuk memikirkannya, kita harus bersyukur atas berbagai kenikmatannya, tunduk terhadap salibnya, dan seperti yang telah Allah lakukan, hari malang ini pun dijadikan Allah seperti juga hari mujur; jadikanlah yang terbaik dari apa yang ada (Pkh. 7:14). Jika kuk perkawinan tidak dapat disingkirkan sesuka hati kita, ini tidaklah berarti bahwa oleh karena itu kita harus menghindarinya.

Sebaliknya, oleh karena itu, bila kita memang berada di bawah kuk itu, kita harus berusaha untuk hidup selaras dengan kuk itu, dengan cinta kasih, kelembutan hati, dan kesabaran, supaya dengan demikian perceraian itu akan menjadi hal yang paling tidak diperlukan dan paling tidak diinginkan lagi.

    VI. Tanggapan Kristus terhadap pendapat murid-murid itu (ay. 11-12):
        . Ia mengizinkan dan menganggap baik adanya bagi beberapa orang untuk tidak kawin, Siapa yang dapat mengerti, hendaklah ia mengerti. Kristus memperbolehkan apa yang dikatakan oleh para murid, lebih baik jangan kawin, bukan sebagai keberatan terhadap larangan perceraian, seperti yang dimaksudkan oleh murid-murid-Nya, melainkan untuk memberikan mereka aturan (yang mungkin masih saja membuat mereka kesal), bahwa mereka yang dikaruniai kemampuan untuk mengekang nafsu berahi dan merasa tidak perlu kawin, baiklah jika mereka tetap lajang (1Kor. 7:1). Alasannya adalah bahwa mereka yang tidak kawin mempunyai kesempatan, jika hatinya memang demikian, untuk lebih peduli terhadap perkara Tuhan, bagaimana Tuhan berkenan kepadanya (1Kor. 7:32-34). Mereka lebih tidak dipusingkan oleh kekhawatiran-kekhawatiran hidup, dan lebih dapat memusatkan perhatian dan waktu pada hal-hal yang lebih penting. Bertambahnya anugerah lebih baik daripada bertambahnya jumlah anggota keluarga, dan persaudaraan dengan Bapa dan Anak-Nya Yesus Kristus harus lebih diutamakan dibandingkan ikatan-ikatan persaudaraan lain.
        . Ia tidak membenarkan larangan untuk kawin dan memandangnya sebagai hal yang benar-benar membawa celaka, karena tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu. Hanya sedikit orang yang benar-benar mampu untuk tidak terlibat di dalamnya. Oleh karena itu, beban salib dari kehidupan
perkawinan harus dipikul, karena lebih baik begini daripada manusia jatuh ke dalam percobaan. Lebih baik kawin dari pada hangus karena hawa nafsu.

        Kristus di sini berbicara mengenai dua keadaan yang menyebabkan orang tidak pantas untuk kawin.
            (1) Mereka yang, di bawah pemeliharaan Tuhan, menderita, karena dilahirkan dengan keadaan tidak mampu kawin, atau dijadikan demikian oleh orang lain. Mereka yang terpaksa tidak kawin karena tidak mampu memenuhi tujuan yang agung dari perkawinan. Meskipun demikian, dalam kemalangan ini,
biarlah mereka melihat kesempatan bahwa dengan hidup melajang pun orang dapat melayani Allah dengan lebih baik, supaya dengan begitu mereka dapat mengimbangi keadaan mereka.
            (2) Mereka yang melakukannya oleh karena anugerah dari Tuhan, yaitu mereka yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Yang dimaksudkan di sini adalah ketidaklayakan untuk kawin bukan karena faktor jasmaniah (seperti kebodohan dan kejahatan yang
dilakukan oleh beberapa orang terhadap dirinya sendiri karena kesalahan penafsiran Alkitab), melainkan karena masalah batiniah. Mereka yang dalam kekudusan mampu menampik segala kenikmatan kehidupan perkawinan, mereka yang telah membulatkan keputusan mereka dengan kuasa anugerah Tuhan untuk
benar-benar menjauhinya, dan yang melalui puasa dan bentuk-bentuk mematikan keinginan daging lainnya telah menekan segala hawa nafsu berkenaan dengan hal tersebut, mereka inilah yang dapat mengerti perkataan itu. Meskipun demikian, semua ini tidak mengikat diri mereka sendiri seperti sumpah bahwa
mereka tidak akan pernah kawin. Hanya saja, dalam pemikiran mereka sekarang, mereka berniat untuk tidak kawin.

            Oleh karena itu:
                [1] Keinginan untuk hidup melajang pastilah dikaruniakan dari Allah, karena tidak ada orang yang mampu menerimanya, hanya mereka yang dikaruniai saja. Perhatikanlah, kemampuan untuk menahan diri dari keinginan-keinginan badaniah merupakan karunia khusus dari Allah untuk sebagian
orang saja, dan tidak kepada yang lain. Ketika seseorang yang dalam hidup melajangnya menyadari sendiri bahwa ia memiliki karunia ini, maka (seperti yang dikatakan Rasul Paulus dalam 1Kor. 7:37), baiklah ia berteguh hati untuk tidak kawin, dan tetap menguasai keinginan hatinya untuk tetap hidup
demikian. Dalam masalah ini, baiklah kita berhati-hati, jangan sampai kita menyombongkan karunia yang tidak ada dalam diri kita (Ams. 25:14).
                [2] Keadaan hidup melajang hendaknya dipilih demi kepentingan Kerajaan Sorga. Mereka yang memutuskan untuk tidak kawin, hanya agar mereka dapat menghindari tuduhan-tuduhan, atau demi memuaskan kehendak mereka sendiri yang mementingkan diri sendiri, atau supaya mereka mendapat
kebebasan lebih besar untuk memuaskan nafsu-nafsu dan kenikmatan-kenikmatan lain, jauh dari bertindak bijaksana. Mereka telah melakukan kekejian.

Akan tetapi, jika hal tersebut dilakukan demi agama, bukan sekadar upaya mencari pujian (seperti yang dilakukan oleh sebagian pemimpin gereja), melainkan hanya sebagai cara untuk lebih memusatkan pikiran dan niat kita dalam melaksanakan pelayanan-pelayanan keagamaan, dan karena kita tidak
memiliki keluarga yang harus dinafkahi, sehingga kita dapat melakukan lebih banyak perbuatan kasih, maka hal ini akan dibenarkan dan diterima oleh Allah. Perhatikanlah, ambillah pilihan yang terbaik bagi jiwa kita, yang menyiapkan kita dan mengarahkan kita untuk mencapai Kerajaan Sorga.


SBU

MINGGU XVII SES. PENTAKQSTA
SELASA, 13 SEPTEMBER 2016
RENUNGAN PAGI
KJ.291:1,2 -Berdoa
MENGAMPUNI KARENA SUDAH DIKASIHI

Matius 18:21-35
Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihi engkau? (ay.33)

Saya tidak terima," begitulah reaksi seorang teman ketika mengetahui bahwa pimpinan lembaganya yang tertinggi telah menghargai dan memaafkan rekan-rekannya dahulu yang telah menimbulkan kesengsaraan besar dalam hidupnya akibat ulah mereka menimbulkan kekacauan dan krisis dalam kehidupan lembaganya. Dapat dipahami kekesalan dan kemarahan teman tersebut karena ketika terjadi kekacauan dan krisis itu, ia sedang bekerja di kantornya dan kaca jendela kantor tiba-tiba dipecahkan
oleh teman-temannya itu dan dia merasa terancam oleh tindakan tersebut.

Ketika Tuhan Yesus mengutarakan perumpamaan ini, kesediaan untuk mengampuni adalah yang ditekankan. Hamba yang diampuni salahnya melalui penghapusan hutang-hutangnya oleh tuannya tidak
bersyukur atas pengampunan yang sudah diterimanya, akan tetapi malah menuntut teman-temannya yang masih berhutang padanya untuk melunasi hutang-hutang mereka. la tidak menyadari bahwa ia
masih bisa bertemu teman-temannya saja sudah merupakan kemurahan tuannya, karena kalau bukan karena kemurahan itu, ia sudah mendekam di penjara. Kebebasannya hanya bisa terjadi karena pengampunan tuannya akan tetapi itu tidak disadarinya, seolah kebebasan itu adalah prestasi dirinya, akibat dari kehebatan dirinya. Teman tadi bisa menyelesaikan kariernya di lembaga itu sampai
pensiun, mendampingi keluarganya sampai anak-anaknya mandiri dengan karier mereka masing-masing dipikirnya sebagai hasil dari kerja keras dan prestasi dirinya. Ia tidak menyadari bahwa dalam
proses itu, bisa saja dia sudah cedera ketika penghancuran kaca jendela kantornya terjadi. ltu bukan prestasinya. Kalau itu bisa dilihatnya sebagai anugerah Tuhan kepadanya, maka ia akan dapat menerima tindakan atasan lembaganya. Tak seorang manusia pun yang merasa berkuasa atas hidupnya sehingga kuasanya itu bisa menghalangi orang untuk mengampuni sesamanya.

KJ.291 : 3,4
Doa : (Tuhan ampuni kalau kami masih tidak dapat menerima sesama dalam kelemahannya, karena kami merasa kekuatan diri telah membuat . kami tidak seperti dia)



MINGGU XVII SES. PENTAKQSTA
SELASA, 13 SEPTEMBER 2016
RENUNGAN MALAM
KARUNIA YANG MEMBAHARUI
KJ 332:1 -Berdoa

Matius 19:1-12
Akan tetapi la berkata kepada mereka : "Tidak semua orang dapat mengerti perkataan
itu, hanya mereka yang dikarunia saja. (ay.11)
 
Awal tahun 2016 secara resmi dan terang-terangan bangsa ini digegerkan dengan persoalan LGBT (Lesbi, Gay, Bisexual, Transsexual). Masalah yang berkaitan dengan adanya kenyataan
bahwa dalam kehidupan bersama, manusia selalu akan menjumpai individu-individu yang orientasi seksualnya tidak sejalan dengan pemahaman umum masyarakat. Ketika orang menemukan dalam kehidupannya bahwa ada juga individu-individu yang orientasi seksualnya adalah antara individu yang sejenis seksnya, maka hubungan antar individu tersebut dinilai sebagai kelainan, kenyataan yang tidak bisa diterima dan karenanya harus ditolak.

Dalam bacaan malam ini, Tuhan Yesus tidak membahas LGBT ini. Yang dibahasnya adalah kenyataan bahwa memang ada individu-individu yang tidak bisa menikah, dalam pengertian pernikahan antara dua individu yang berbeda seksnya (hetero sexual). Orang-orang Farisi yang merasa dirinya tahu benar ten-
tang Taurat, bahkan menjalankan Taurat itu dengan setia sehingga merasa diri mereka kudus, hendak mencobai Tuhan Yesus dengan isu perceraian. Tuhan Yesus menolak perceraian, sementara praktik perceraian terjadi dalam kehidupan bangsa Yahudi. Mereka berkesimpulan lebih baik tidak menikah saja. Tuhan Yesus melangkah lebih jauh lagi dengan mengatakan bahwa hanya mereka yang dikaruniai saja yang dapat mengerti perkataan-Nya.

Kalau ayat 12 dari bacaan ini tertulis, 'apakah yang akan kamu lakukan apabila orang-orang yang tidak menikah itu adalah anakmu sendiri entah karena lahirnya sudah demikian, dijadikan demikian oleh orang Iain, atau dirinya membuatnya sendiri?'

Dalam masyarakatYahudi, individu-individu yang demikian tidak diperbolehkan menikah, dan mereka harus taat karena menikah seperti itu adalah dosa besar. Karena itu memahami keberadaan individu seperti itu hanya bisa dipahami kalau seseorang memiliki karunia dari Tuhan.

KJ.332 : 2
Doa : (Berikan karunia-Mu agar dapat hidup antar sesama)

Label:   Matius 19:1-12 




German Christian Songs
HEALING WORSHIP SONGS
Latest Christian Song


NEXT:
Rabu, 14 September 2016 - KETIKA HATI TERPAUT HARTA Matius 19:16-22 - MINGGU XVII SESUDAH PENTAKOSTA

PREV:
Khotbah Ibadah GPIB Senin, 12 September 2016 - TUHAN HADIR DALAM PERSEKUTUAN Matius 18:15-20 - MINGGU XVII SESUDAH PENTAKOSTA

Garis Besar Matius





BACAAN ALKITAB SETAHUN:


Hari ini, 24 September - Ezra 3:1-7; Mazmur 107,111

Hari ini, 24 September - Maz 107:13-19, Yes 34-35, Gal 1, Ams 25:5-6


Arsip Khotbah Ibadah GPIB 2016..

Register   Login  

contoh kj 392 bukan kj.392



Latest Christian Song





Nyanyian Ibadah Gereja
English Hymns, CFC SONGS *, AG (Aradhana Geethamulu), YSMS (Тебе пою оМй Спаситель), YJ (Юность-Иисусу), ADV (Himnario Adventista), HC (Держись Христа), SS (ДУХовни Песни), SR, SP, SPSS (Spiewajmy Panu wyd. dziesiate), RRZ (Runyankole Rukiga, Zaburi),
Lagu Koor - Paduan Suara Gereja, JB (Jiwaku Bersukacita: Pujian Sekolah Minggu), KMM, KJ, PKJ, GB, Nyanyian Rohani, Nafiri Rohani, NKB, KC, MNR1, MNR2, MAZMUR MP3 GKI, NP (Nyanyian Pujian), Lagu Tiberias, Nafiri Kemenangan, Lagu GMS, PPK, PPPR, KPPK, NKI, NRM, Buku Ende, BN (Buku Nyanyian HKBP), Buku Lagu Perkantas, KPKL, KPKA, KPJ, KRI, KPRI, KLIK, NNBT, DSL, LS, PKJ TORAJA, NJNE, Doding Haleluya, LKEE, Suara Gembira, , Kidung Kabungahan GKP, Puji Syukur, Madah Bakti,
Tagalog Worship Song
Kenya Worship Songs
Ghana Worship Songs
Urgandan Christian Song
Russian Worship Songs
Chinese Praise and Worship Song
Lagu Rohani Bahasa Iban di Malaysia
Thai Christian Song
Hebrew Christian Song
Arab Christian Song
Christian Songs In Dutch
German Christian Songs
Hindi Worship Song
Japanese Christian Song
Italian Christian Song
Lagu Rohani Batak
Lagu Rohani Ambon
Greek Worship Songs
French Worship Songs
Spanish Worship Songs

Jacqlien Celosse, Franky Sihombing, Sari Simorangkir, Maria Shandi, Nikita, Jonathan Prawira, Sidney Mohede, Edward Chen,



Gereja GPIB di Jakarta (Map)
Gereja GPIB di Surabaya (Map)
Gereja GPIB di Makassar (Map)
Gereja GPIB di Medan (Map)
Gereja GPIB di Bandung (Map)
Gereja GPIB di Manado (Map)
Gereja GPIB di Bekasi (Map)
Gereja GPIB di Tangerang (Map)
Gereja GPIB di Denpasar (Map)
Gereja GPIB di Bogor (Map)


New Submit
Sabtu, 07 April 2018
He Who Would Valiant Be Hymn

Selasa, 16 Februari 2016
26 Old Timeless Gospel Hymns Classics

Rabu, 20 Maret 2019
Sing - Ellie Holcomb

Minggu, 22 September 2019
Great Jehovah - Travis Greene

Minggu, 22 September 2019
On My Own - Ashes Remain

Minggu, 22 September 2019
God's Not Dead - Newsboys

Minggu, 22 September 2019
Gone - Elevation Worship

Sabtu, 21 September 2019
Burdens - Jamie Kimmett

Jumat, 20 September 2019
We're A Winner - Phillip Bailey

Jumat, 20 September 2019
Vaya (Go With Love) - Phillip Bailey

Jumat, 20 September 2019
Truimph - Phillip Bailey

Kamis, 19 September 2019
Oh Jesus! - Mercy Chinwo

Kamis, 19 September 2019
Quiet Time (2): 1 Hour Soaking Worship Songs (Kim Walker, Hillsong, Israel Houghton)

Kamis, 19 September 2019
Free - Hillsong

Kamis, 19 September 2019
Hear My Song, Lord - Gaither Vocal Band

Kamis, 19 September 2019
Give God the Glory - Marcus Jordan

Kamis, 19 September 2019
Beautiful - Jonas Rayme

Kamis, 19 September 2019
Yes, I Know - Gaither Vocal Band

Minggu, 15 September 2019
Forever Faithful (Love Song for Jesus) - Lifebreakthrough

Minggu, 15 September 2019
Glory To The King - Hillsong

christian music charts, new contemporary christian songs, top christian radio songs, top 20 christian songs this week, top 10 christian songs, download lagu kristen mp3, lagu terbaru rohani kristen, mp3 rohani kristen, lagu2 rohani terbaru, lagu rohani yang enak, mp3 lagu rohani kristen terbaru,



khotbah pslmn 40:7-11,   TAFSIRAN 1 KORINTUS 3:18-23,   tata ibadah penutupan peti GBI,   kotbah 1petrus 3:17-22,   kotbah maleakhi 1: 6-14,   jamita Pesalmen 40; 7-11,   mazmur 40:7-11 memberitakan kasih tuhan,   nama komunitas rohani,   jaamita epistel pesalmen 40:7-11. topik paturetureon angka nabadia,   minggu 29 september 2019 epistel,   kumpulan lagu rohani mawar sharon mp3 download,   slide ibadah minggu gereja hkbp,   sgdk gpib september 2019,   epistel minggu 29-09-2019,   sermon evangelium epistel mazmur 40:7-11,   sermon evangelium epistel mazmur 40:7-11,   mazmur 146 ayat 5,   kothbah mazmur 40:7-11,   sgdk gpib september 2019,   lagu penutup ibadah kristen,   renungan 1 tesalonika 3 12,   Rngn maz 113:1-9,   Khotbah 1tesalonika3,   nats pembimbing persembahan,   Rngn maz 113:1-8,   Masmur 145:8,   Jamita efesus4;7-16,   khotbah minggu Efesus 4: 7-16,   khotbah minggu Efesus 4: 7-16,   yang idlkukan oleh sadrakh, mesakh dan abednego utnuk menjaga kesucian ibadah,   renungan roma 1 18-32,   tafsiran Roma pasal 1 ayat 18,   kotbah dari lukas 8:19-21,   renungan Filemon 1:15 Sebab mungkin karena itulah dia dipisahkan sejenak dari padamu, supaya engkau,   Maksud renungan di Mazmur 33:4,   lagu rohani anak sekolah minggu donload,   LAGU PENGAKUAN DOSA POP ROHANI KRISTEN,   lagu nyanyian rohani,   lagu nyanyian rohani,   khotbah bilangan 28 16 31,   chord dan lirik lagu pkj 14,   chord dan lirik lagu pkj 14,   chord dan lirik lagu pkj 14,   khotbah minggu 29 september 2019,   2 korintus 9:7-8,   Bacaan sbu oktober 2019,   Tata Ibadah HUT Organisasi Wanita (Kristen),   apa beda diaken dan penatua,   renungan amos 8 : 4-8,   jamita psalmen 40 7-11,   lagu rohani saat malam hari,   tafsiran Yesaya 65:17-25,   nama group gereja,   lagu gereja katolik penutup,   lirik lagu gereja mari bersyukur,   lirik lagu Tuhanku berkatmu limpah bagai hujan yang deras,   khotbah kristen jaminan hidup yang sesungguhnya lukas 16:19-31,   khotbah kristen jaminan hidup yang sesungguhnya lukas 16:19-31,   khotbah kristen jaminan hidup yang sesungguhnya lukas 16:19-31,   khotbah kristen jaminan hidup yang sesungguhnya lukas 16:19-31,   rohani barat,   gpib zebulon batam september 2019,   lagu rohani mp3 free download,   nyaniyan rohani 132,   kotbah hari minggu ke 25 september 22, 2019,   Misa hari minggu biasa ke 25, september 22, 2019,   nyanyian suara gembira 21,   Doa sebelum ngambil khobat,    maz 40:7-11 renungan harian menanggapi karya pnenyelamatan Allah,   kidung muda mudi 87,   khotbah pelita hidup,   Khotbah Mazmur 40:7-11,   Khotbah Psalm 40:7-11,   ringkasan khotbah mazmur 40 7 11,   ringkasan kotbah mazmur 40 7 11,   KHOTBAH MENGADAKAN PENDAMAIAN,   sgdk oktober 2019,   renungan amos 8 ayat 4 - 8,   nyanyian suara gembira 21,   not angka gita bakti no 45 Dan lyrik,   not angka gita bakti no 45,   mars gerakan pemuda,   nyaniyan rohani 132,   tema mazmur 40:7-11,   sabda bina umat 22 september 2019 ,   jamita partangiangan 29 september 2019 mazmur 40:7-11,   kmm 33,   bahan kotbah mazmur 40:7-11 sabda.com,   Jamita psalmen 40:7-11,   khotbah yosua 24 13-25,   khotbah mazmur 111:1-10,   lagu rohani Yesus berkata jadilah terang,   lagu rohani Yesus berkata jadilah terang,   khotbah mazmur 111:1-10,   lagu rohani Yesus berkata jadilah terang,   lagu rohani Yesus berkata jadilah terang,   renungan harian katolik tanggal 22 september 2019,   kotbah 1 tesalonoka 3:6-8,   tafsiran mazmur 40:7-11,   Renungan harian bacaan dan mazmur minggu 22 September 2019,   Lagu kidung jemaat kristen protestan,   jamita minggu efesus 4:7-16,   Lagu kidung jemaat kristen protestan,   ayat Alkitab persembahan untuk anak anak,   renungan harian katolik 22 september 2019,   renungan harian katolik 22 september 2019,   lagu rohani easy worship,   lagu penutup ibadah,   lagu rohani pdt erastus sabdono,   Kesimpulan dari dosa , anugerah , pertobatan , pengampunan dan hidup baru,   lagu rohani untuk persembahan,   kidung ceria bilasangkakala,   not lagu nyanyian kidung baru 201,   tafsiran Yosua 24:13-25,   Bahan khotbah Josua 24:13-25,   sabda bina teruna septembr 2019,   inti korbah JOSUA 24:13-25,   jamita josua 24:13-25,   download MP3 lagu lagu di lagu sion acapella,   yosua 23 13-25,   renungan yesaya 27:1-5,   Khotbah 1tesalonika3,   kotbah lukas 14:1 +7-14,   khotbah yosua 24:13-25,   kotbah lukas 14:1 +7-14,   chord dipintumu ku datang dan,   kotbah lukas 14:1 +7-14,   Ilustrasi kotbah josua,   renungan harian hkbp 2019 mazmur 40:7-11,   amos 8 ayat 4 penjelasan,   Ilustrasi kotbah josua,   kotbah lukas 14:1 +7-14,   renungan matius 5:21-26,   amos 8 ayat 4 penjelasan,   khotbah lukas 16:10-18,   nyanyian rohani 136,   kmm 1 notasi,   jamita na marhata batak Josua 24:13-25,   lagu persembahan pastekosta lama,   1 petrus 3 : 8-12,   Injil Renungan Minggu 22 September 2019,   khotbah yosua 24:13-25,   1 petrus 3 : 8-12,   bina anak gmim bln september,   renungan gpib hari ini september,   khotbah yosua 24:13-25,   bahan renungan alkitab 1 yohanes pasal 1 ayat 1 sampai 6,   khotbah yeremia 8:18-22 mendua hati,   khotbah yeremia 8:18-22 mendua hati,   ilustrasi untuk bacaan ulangan 30 : 15-20 untuk sekolah minggu,   khotbah dari gal 4:18÷20,   nyanyian masmur minggu 22 september 2019,   kidung muda mudi 87,   Khotbah amos 8:4-8,   Khotbah amos 8:4-8,   Khotbah amos 8:4-8,   tafsiran amos 8:4-6,   download kidung keesaan gratis,   bahan khotbah ester 4:1-17,   kidung kaesaan,   khotbah yosua 24:13-25,   khotbah yosua 24:13-25,   kidubg kaesaan 6,   khotbah minggu 22 september.2019,   khotbah minggu 22 september.2019,   khotbah minggu 22 september.2019,   khotbah ibadah syukur setahun kepergian ibu yang terkasih,   khotbah ibadah syukur setahun kepergian ibu yang terkasih,   lagu sesudah pembacaan alkitab,   download lg soraklah alleluya katolik,   khotbah lukas 16: 10-18,