Save Page

HARI MINGGU III SESUDAH PENTAKOSTA
Rabu, 28 Juni 2017

Kisah Para Rasul 6:8-15
Tuduhan terhadap Stefanus
6:8 Dan Stefanus, yang penuh dengan karunia dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak. 6:9 Tetapi tampillah beberapa orang dari jemaat Yahudi yang disebut jemaat orang Libertini -- anggota-anggota jemaat itu adalah orang-orang dari Kirene dan dari Aleksandria -- bersama dengan beberapa orang Yahudi dari Kilikia dan dari Asia. Orang-orang itu bersoal jawab dengan Stefanus, 6:10 tetapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara. 6:11 Lalu mereka menghasut beberapa orang untuk mengatakan: "Kami telah mendengar dia mengucapkan kata-kata hujat terhadap Musa dan Allah." 6:12 Dengan jalan demikian mereka mengadakan suatu gerakan di antara orang banyak serta tua-tua dan ahli-ahli Taurat; mereka menyergap Stefanus, menyeretnya dan membawanya ke hadapan Mahkamah Agama. 6:13 Lalu mereka memajukan saksi-saksi palsu yang berkata: "Orang ini terus-menerus mengucapkan perkataan yang menghina tempat kudus ini dan hukum Taurat, 6:14 sebab kami telah mendengar dia mengatakan, bahwa Yesus, orang Nazaret itu, akan merubuhkan tempat ini dan mengubah adat istiadat yang diwariskan oleh Musa kepada kita." 6:15 Semua orang yang duduk dalam sidang Mahkamah Agama itu menatap Stefanus, lalu mereka melihat muka Stefanus sama seperti muka seorang malaikat.


Penjelasan:


* Seruan Stefanus ( Kis 6:8-15)

    Tidak diragukan lagi bahwa Stefanus sangat tekun dan setia dalam menjalankan tugasnya sebagai penyalur dana santunan jemaat. Ia mempersiapkan diri untuk mengurus hal itu dengan cara yang baik, demi memuaskan semua orang. Meskipun di sini tampaknya ia orang yang sangat berbakat dan pantas menduduki jabatan yang lebih tinggi, ia ternyata tidak merasa tugas panggilan ini terlampau rendah baginya. Karena setia dengan yang kecil, kepadanya dipercayakan tugas yang lebih besar lagi. Meskipun kita tidak membaca bahwa ia menyebarkan Injil dengan berkhotbah dan membaptis, namun kita mendapati bahwa di sini ia ditunjuk melaksanakan tugas yang sangat terhormat dan diakui kemampuannya.
        I. Ia membuktikan kebenaran Injil dengan mengerjakan mujizat-mujizat dalam nama Kristus (ay. Kis 6:8).
            1. Ia penuh dengan karunia dan kuasa. Artinya, iman yang kuat, yang memampukan dia untuk melakukan hal-hal besar. Orang-orang yang penuh dengan iman juga akan penuh dengan kuasa, sebab melalui iman, kuasa Allah dijalankan bagi kita. Iman Stefanus begitu memenuhi hatinya hingga tidak ada tempat lagi bagi ketidakpercayaan. Yang ada hanyalah tempat bagi pengaruh kasih karunia ilahi seperti yang dikatakan sang nabi, penuh dengan kekuatan, dengan ROH TUHAN (Mi. 3:8). Melalui iman, kita dikosongkan dari keakuan dan terisi dengan Kristus, yang adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.
            2. Dengan ada dalam keadaan demikianlah ia mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak dengan terbuka dan di hadapan semua orang, karena mujizat Kristus tidak takut kepada penyelidikan yang paling ketat sekalipun. Bukanlah hal aneh apabila Stefanus, walaupun jabatannya bukan sebagai seorang pengkhotbah, melakukan mujizat-mujizat ini, sebab kita mendapati bahwa ini termasuk karunia Roh yang dibagi-bagikan. Sebab kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat (1Kor. 12:10-11). Dan tanda-tanda ini akan menyertai bukan saja orang-orang yang memberitakan firman, tetapi juga mereka yang percaya (Mrk. 16:17).
        II. Stefanus membela perkara Kekristenan melawan orang-orang yang menentangnya dan bersoal jawab dengan mereka (ay. Kis 6:9-10). Ia melayani kepentingan agama sebagai seorang pembantah di tempat-tempat tinggi dalam bidang itu, sementara yang lain hanya ibarat melayani sebagai pengusaha kebun anggur dan petani.
            1. Di sini diceritakan kepada kita siapa saja yang menjadi lawannya (ay. Kis 6:9). Mereka adalah orang-orang Yahudi, tetapi dari kaum Helenis, orang-orang Yahudi yang tersebar dan yang sepertinya lebih giat menjalankan agama daripada orang Yahudi asli itu sendiri. Sungguh sulit bagi mereka untuk menjalankan ibadah mereka di negeri tempat mereka tinggal, tempat mereka hidup bagaikan burung kurik. Dengan susah payah dan mengeluarkan biaya besar mereka datang beribadah di Yerusalem, dan hal ini membuat mereka lebih melekat pada Yudaisme dibanding mereka yang dapat menjalankan agama mereka dengan murah dan mudah. Mereka dari jemaat Yahudi yang disebut jemaat orang Libertini. Orang Romawi menyebut mereka orang Liberti, atau Libertini, yang karena berkebangsaan asing harus memperoleh kewarganegaraan, atau apabila terlahir sebagai budak, harus dibebaskan dari perbudakan atau dijadikan orang merdeka. Ada yang berpendapat bahwa orang-orang Libertini ini adalah orang-orang Yahudi yang memperoleh kemerdekaan dari pemerintah Romawi, seperti halnya Paulus (22:27-28). Ada kemungkinan bahwa Paulus termasuk yang paling gencar dari antara orang-orang Libertini yang berdebat dengan Stefanus di jemaat ini, dan menarik orang-orang lain ikut dalam perdebatan itu, sebab kita mendapati dia ikut mengambil bagian dan memberi izin saat Stefanus dirajam sampai mati. Kemudian masih ada beberapa orang lain yang termasuk jemaat Kirene dan Aleksandria yang sering disebutkan oleh para penulis Yahudi. Selain itu, ada juga anggota jemaat Kilikia dan Asia. Kalaupun Paulus yang adalah orang Romawi merdeka, tidak termasuk jemaat orang Libertini, sebagai orang asli Tarsus ia tentunya termasuk jemaat Kilikia. Ada kemungkinan ia merupakan anggota kedua jemaat itu. Orang-OrangYahudi yang lahir di negeri lain dan mempunyai kepentingan di dalamnya, sering kali bukan sekadar singgah, tetapi juga bermukim di Yerusalem. Tiap bangsa memiliki jemaatnya sendiri, seperti misalnya di London terdapat jemaat-jemaat Prancis, Belanda, dan Denmark. Jemaat-jemaat itu merupakan sekolah ke mana orang Yahudi dari bangsa-bangsa itu mengirimkan kaum muda mereka untuk dididik menurut pengajaran Yahudi. Sekarang, para pengajar di jemaat-jemaat ini, yang bersama para pemimpin melihat Injil berkembang, berkomplot hendak menentang perkembangannya karena mengkhawatirkan akibatnya terhadap agama Yahudi. Mereka yang merasa iri sekaligus yakin akan kebenaran perkara mereka dan kemampuan untuk mengurusnya, menjamin bahwa mereka mampu menumpas Kekristenan melalui kekuatan debat. Ini sebenarnya cara yang wajar serta masuk akal untuk menangani hal itu, dan yang selalu siap diakui agama. Ajukanlah perkaramu, firman TUHAN, kemukakanlah alasan-alasanmu (Yes. 41:21). Tetapi mengapa mereka berdebat dengan Stefanus? Mengapa tidak dengan rasul-rasul itu sendiri?
                (1) Ada yang berpendapat, karena mereka memandang rendah para rasul sebagai orang biasa yang tidak terpelajar, yang mereka anggap terlampau hina untuk berurusan. Sebaliknya, Stefanus seorang terpelajar, dan mereka merasa mendapat kehormatan apabila berurusan dengan orang yang seimbang.
                (2) Ada lagi yang berpendapat, karena mereka takjub melihat rasul-rasul itu. Mereka tidak merasa bebas dan nyaman dengan rasul-rasul itu, tidak seperti dengan Stefanus yang ketika itu menduduki jabatan yang rendah.
                (3) Boleh jadi juga, karena ditantang di depan umum, Stefanus lalu ditunjuk oleh para rasul untuk menjadi jagoan mereka, karena dianggap tidak pantas apabila rasul-rasul itu harus melalaikan pemberitaan firman demi melibatkan diri dalam perbantahan. Stefanus yang hanyalah seorang diaken jemaat, seorang muda yang sangat cerdas, pintar, dan lebih memenuhi syarat daripada para rasul untuk berurusan dengan orang-orang yang gemar bertengkar, ditunjuk untuk melayani tantangan mereka. Beberapa ahli sejarah mengatakan bahwa Stefanus pernah dididik oleh Gamaliel, bahwa Saulus dan yang lain menganggap dia sebagai pembelot, dan karena itu menjadikannya sebagai bulan-bulanan dengan penuh kedengkian.
                (4) Ada kemungkinan mereka berdebat dengan Stefanus karena ia gigih berdebat dengan mereka untuk meyakinkan mereka, dan untuk pelayanan inilah ia dipanggil oleh Allah.
            2. Di sini diceritakan kepada kita bagaimana ia menyampaikan pokok pembicaraan dalam perdebatan itu (ay. Kis 6:10): Mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara. Mereka tidak mampu mendukung pendirian mereka sendiri ataupun membantah pendapatnya. Melalui pendapat yang tidak dapat dilawan, ia membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias. Ia berkata-kata dengan begitu jelas dan sempurna hingga mereka tidak dapat membantah apa pun yang diucapkannya. Walaupun tidak dapat diyakinkan, mereka dikalahkan dalam debat. Tidak dikatakan bahwa mereka tidak mampu melawan dia, tetapi, mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara, Roh hikmat yang berbicara melalui dia. Sekaranglah janji itu digenapi, Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu (Luk. 21:15). Mereka menyangka hanya akan berdebat dengan Stefanus dan pasti mampu mengalahkan dia, tetapi ternyata mereka berdebat dengan Roh Allah di dalam dia, yang sama sekali tidak seimbang dengan mereka.
        III. Akhirnya, Stefanus memeteraikan perdebatan itu dengan darahnya. Kita akan membaca tentang hal ini di pasal berikutnya. Di sini kita melihat beberapa langkah yang diambil lawan-lawannya ke arah itu. Ketika tidak mampu membantah pendapatnya, mereka mendakwanya sebagai penjahat dan diam-diam menghasut saksi-saksi palsu untuk bersumpah bahwa ia telah menghujat. "Berdasarkan ketentuan-ketentuan seperti itulah (menurut Tuan Baxter) kita berdebat dengan orang-orang jahat. Sungguh merupakan mujizat campur tangan-Nya apabila tidak lebih banyak lagi orang-orang saleh yang terbunuh di dunia ini melalui sumpah palsu dan kepura-puraan hukum, ketika terdapat ribuan orang yang membenci mereka dan tidak segan-segan mengucapkan sumpah palsu." Dengan diam-diam mereka menghasut orang-orang dan mengajarkan apa yang harus dikatakan, lalu membayar mereka supaya mau bersumpah. Mereka semakin murka terhadap Stefanus karena ia berhasil membuktikan bahwa merekalah yang salah, dan sekaligus menunjukkan jalan yang benar kepada mereka. Untuk itu mereka seharusnya berterima kasih kepadanya. Apakah dengan mengatakan kebenaran kepada mereka dan membuktikannya, ia telah menjadi musuh mereka? Sekarang mari kita amati di sini,
            1. Bagaimana mereka dengan segala daya upaya memicu amarah pemerintah dan orang banyak untuk melawan Stefanus, supaya apabila tidak berhasil dengan pemerintah, mereka masih bisa mencoba dengan orang banyak itu (ay. Kis 6:12): Mereka mengadakan suatu gerakan di antara orang banyak untuk melawan dia, supaya apabila Mahkamah Agama masih berpendapat untuk (menurut saran Gamaliel) tidak mengganggu dia, mereka masih mungkin menghajarnya melalui amarah dan huru-hara orang banyak. Mereka juga berusaha menghasut para tua-tua dan ahli Taurat agar melawan Stefanus, supaya apabila orang banyak berpihak kepadanya dan melindungi dia, mereka masih bisa berhasil melalui pihak yang berwenang. Demikianlah mereka merasa yakin bisa mencapai tujuan, ketika mereka ibarat memiliki dua tali busur.
            2. Bagaimana mereka membawanya ke sidang: Mereka menyergap Stefanus, saat ia tidak menduganya, menyeretnya, dan membawanya ke hadapan Mahkamah Agama. Mereka menyergap dia beramai-ramai dan menyeretnya bagaikan singa menyeret mangsanya. Begitulah arti kata yang dipakai. Dengan penanganan yang kasar dan keji terhadap dirinya itu, mereka hendak memperlihatkan dia kepada orang banyak dan pemerintah sebagai orang yang berbahaya, yang akan melarikan diri dari keadilan apabila tidak diawasi, atau melawan apabila tidak diringkus dengan paksa. Setelah menangkap dia, mereka membawanya dengan penuh kemenangan ke hadapan Mahkamah Agama, dan sepertinya dengan begitu tergesa-gesa hingga tidak ada seorang pun teman yang menyertainya. Mereka mendapati bahwa dengan beramai-ramai, mereka dapat saling menyemangati dan menguatkan. Oleh sebab itu mereka hendak mencoba menanganinya sendiri.
            3. Bagaimana mereka menyiapkan bukti yang siap diajukan untuk menentang dia. Mereka bertekad untuk menang, sama seperti ketika mereka mengadili Juru Selamat kita, kemudian mencari saksi-saksi. Sekarang saksi-saksi ini sudah dipersiapkan sebelumnya, dan mereka diberi tahu untuk bersumpah bahwa mereka telah mendengar dia mengucapkan kata-kata hujat terhadap Musa dan Allah (ay. Kis 6:11), terhadap tempat kudus dan hukum Taurat (ay. Kis 6:13), sebab mereka mendengar dia mengatakan apa yang akan dilakukan Yesus atas tempat dan adat istiadat mereka (ay. Kis 6:14). Ada kemungkinan Stefanus memang telah mengatakan sesuatu yang intinya seperti itu. Bagaimanapun, orang-orang yang bersumpah menentang dia disebut saksi-saksi palsu, sebab meskipun terdapat kebenaran juga di dalam kesaksian mereka, mereka telah memberikan tafsiran yang salah dan jahat atas apa yang telah dikatakannya, kemudian membelokkannya. Amatilah,
                (1) Tuduhan umum apa yang dikenakan ke atasnya. Yakni bahwa ia mengucapkan kata-kata hujat, dan untuk memperparah hal itu mereka berkata, "Ia terus-menerus mengucapkan perkataan yang menghina. Dia biasa berbicara seperti itu, percakapannya dengan semua orang selalu begitu. Ke mana pun ia pergi, ia selalu giat menanamkan gagasan-gagasannya itu di benak semua orang yang diajaknya berbicara." Hal ini seperti menyiratkan pembangkangan dan sifat tidak mau dinasihati. "Ia telah diperingatkan, tetapi tetap saja berbicara tanpa henti." Tidaklah salah apabila penghujatan dianggap kejahatan yang sangat keji (karena berbicara dengan keji penuh celaan perihal Allah Pencipta kita), dan oleh karena itu para penuntut Stefanus dapat dianggap sangat memperhatikan kehormatan nama Allah, dan melakukan hal itu karena hendak membela Dia. Sama seperti yang dialami orang-orang percaya dan para martir dari Perjanjian Lama, demikian jugalah yang dialami mereka dari Perjanjian Baru. Saudara-saudara yang membenci dan mengusir mereka berkata, Baiklah TUHAN menyatakan kemuliaan-Nya, dan mereka berpura-pura telah melayani Dia dengan perbuatan mereka itu. Stefanus dikatakan telah mengucapkan kata-kata hujat terhadap Musa dan Allah. Sejauh ini kata-kata mereka memang benar, yakni bahwa orang-orang yang menghujat Musa (jika yang mereka maksudkan adalah tulisan-tulisan Musa yang diberikan melalui ilham dari Allah) sama saja dengan menghujat Allah. Orang-orang yang mencela Kitab Suci dan menghinanya, sama dengan berbicara buruk tentang Allah sendiri dan berbuat jahat kepada-Nya. Tujuan-Nya yang agung adalah untuk memberi pengajaran-Nya yang besar dan mulia. Oleh sebab itu, orang-orang yang mencemarkan pengajaran-Nya dan merendahkannya, telah menghujat nama-Nya, sebab Ia telah membuat nama-Nya dan janji-Nya melebihi segala sesuatu. Tetapi, benarkah Stefanus telah menghujat Musa? Sama sekali tidak. Sedikit pun ia tidak melakukannya. Kristus dan para pemberita Injil-Nya tidak pernah mengatakan sesuatu yang tampak seperti menghujat Musa. Mereka selalu mengutip tulisan-tulisannya dengan rasa hormat, melaksanakannya, dan tidak mengatakan apa pun selain yang dikatakan Musa akan terjadi. Oleh sebab itu, sungguh sangat tidak benar apabila Stefanus dituduh menghujat Musa. Namun,
                (2) Mari kita lihat bagaimana tuduhan ini didukung dan dilaksanakan. Ternyata, ketika hal itu harus dibuktikan, tuduhan yang bisa mereka kenakan ke atasnya hanyalah bahwa dia mengucapkan perkataan yang menghina tempat kudus ini dan hukum Taurat, dan ini harus dianggap dan diterima sebagai penghujatan terhadap Musa dan Allah sendiri. Demikianlah tuduhan itu melemah ketika akan dibuktikan.
                    [1] Ia dituduh menghujat tempat kudus ini. Beberapa orang memahaminya sebagai kota Yerusalem yang adalah kota suci yang sangat mereka jaga dan banggakan. Namun, lebih tepat apabila yang dimaksudkan adalah Bait Allah, rumah yang kudus itu. Kristus dihukum sebagai seorang penghujat karena kata-kata yang dianggap menyinggung Bait Allah, yang kehomatannya sepertinya sangat mereka perhatikan, bahkan ketika mereka telah mencemarkannya dengan kejahatan mereka.
                    [2] Stefanus juga dituduh menghujat hukum Taurat, yang mereka megah-megahkan dan andalkan, padahal mereka sendiri menghina Allah dengan melanggar hukum Taurat itu (Rm. 2:23). Nah, kalau begitu bagaimana mereka bisa menjelaskan hal ini? Di sini tuduhan itu melemah kembali. Sebab satu-satunya hal yang bisa mereka tuduhkan ke atasnya adalah bahwa mereka sendiri mendengar dia mengucapkan kata-kata (tetapi bagaimana hal itu terjadi atau penjelasan apa yang diberikannya, mereka tidak merasa perlu menceritakannya) bahwa Yesus, orang Nazaret itu, yang begitu ramai dibicarakan orang, akan merubuhkan tempat ini dan mengubah adat istiadat yang diwariskan oleh Musa kepada kita. Stefanus tidak dapat dikenai tuduhan telah mengatakan sesuatu yang mencemarkan Bait Allah ataupun hukum Taurat. Para imam sendiri telah mencemarkan Bait Allah dengan menjadikannya bukan saja tempat berdagang, melainkan juga sarang penyamun. Walaupun demikian, mereka ingin dianggap giat membela kehormatan tempat itu dari serangan seseorang yang sebenarnya tidak pernah mengatakan apa pun yang salah. Sebaliknya, ia lebih menganggapnya sebagai rumah doa, sesuai tujuan sesungguhnya, dibanding mereka. Selain itu, ia juga tidak pernah mencela hukum Taurat seperti yang mereka lakukan. Sebaliknya, yang benar adalah,
                        Pertama, ia telah berkata bahwa Yesus, orang Nazaret itu, akan merubuhkan tempat ini, menghancurkan Bait Allah, menghancurkan Yerusalem. Ada kemungkinan ia berkata seperti itu. Tetapi, seandainya pun itu benar, lalu apakah itu bisa disebut penghujatan bila orang berkata bahwa tempat kudus itu tidak akan tegak selamanya melebihi Silo, dan bahwa Allah yang adil dan suci tidak akan terus memberikan hak istimewa tempat kudus ini kepada orang-orang yang melecehkannya? Bukankah para nabi telah memberikan peringatan yang sama kepada bapa leluhur mereka perihal penghancuran tempat kudus itu oleh orang Kasdim? Bahkan lebih dari itu, ketika Bait Allah pertama kali dibangun, bukankah Allah sendiri telah memberikan peringatan yang sama: Rumah yang amat ditinggikan ini, akan membuat orang tertegun (2Taw. 7:21). Karena itu, patutkah Stefanus dikatakan seorang penghujat karena mengatakan kepada mereka bahwa pantaslah bagi Yesus orang Nazaret itu untuk menghancurkan tempat kudus dan bangsa mereka bila mereka terus menentang Dia, dan itu semua akibat ulah mereka sendiri? Orang-Orangyang dengan keji menyalahgunakan pengakuan agama akan berlindung di balik pengakuan agama mereka itu dengan menyebut teguran atas perilaku mereka yang buruk sebagai penghujatan atas agama mereka.
                        Kedua, Stefanus telah berkata bahwa Yesus itu akan mengubah adat istiadat yang diwariskan oleh Musa kepada kita. Telah dinanti-nantikan bahwa di hari-hari kedatangan Sang Mesias, adat istiadat itu akan diubah, dan bahwa bayang-bayangnya akan disingkirkan apabila hakikat yang sebenarnya telah datang. Namun, hal ini sebenarnya bukan berarti mengubah hakikat hukum Taurat, melainkan menyempurnakannya. Kristus datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapi hukum Taurat. Dan, kalaupun Ia mengubah beberapa adat istiadat yang diwariskan Musa, itu adalah untuk memperkenalkan dan mengukuhkan yang lebih baik. Seandainya jemaat Yahudi tidak keras kepala menolak masuk ke dalam zaman pengukuhan yang baru ini dan tidak tetap berpaut pada hukum adat istiadat, maka sejauh yang saya ketahui, tempat mereka tidak akan dihancurkan. Dengan demikian, karena menunjukkan suatu jalan yang pasti untuk mencegah kehancuran mereka, dan karena memberi mereka peringatan yang pasti mengenai penghancuran itu apabila mereka tidak mengikuti jalan itu, Stefanus malah dituduh sebagai penghujat.
        IV. Di sini diceritakan bagaimana Allah mengakui Stefanus ketika ia dibawa ke hadapan Mahkamah Agama. Allah menunjukkan bahwa Ia berdiri di sampingnya (ay. Kis 6:15): Semua orang yang duduk dalam sidang Mahkamah Agama, yakni para imam, ahli Taurat, dan tua-tua, menatap Stefanus yang masih asing bagi mereka dan yang belum pernah dibawa ke hadapan mereka sebelumnya. Kemudian mereka melihat muka Stefanus sama seperti muka seorang malaikat. Sudah menjadi kebiasaan para hakim untuk mengamati paras seorang tahanan, yang adakalanya menunjukkan rasa bersalah atau sebaliknya. Sekarang Stefanus tampil di depan persidangan dengan paras seperti muka seorang malaikat.
            1. Mungkin saja ini sekadar menyiratkan bahwa ia memiliki paras yang sangat menyenangkan dan cerah, dan bahwa tidak tampak sedikit pun tanda bahwa ia mengkhawatirkan dirinya atau marah terhadap para penyiksanya. Ia tampak seakan-akan belum pernah merasa sebahagia ini dalam hidupnya, ketika ia dipanggil untuk memberikan kesaksian tentang Injil Kristus di depan umum, dan pantas menerima mahkota kesyahidan. Ketenangan hati yang begitu tidak tergoyahkan, keberanian yang begitu tidak kenal takut, dan perpaduan kelemahlembutan dan keagungan yang sulit dipahami, tampak di wajahnya, hingga setiap orang mengatakan bahwa ia tampak bagaikan malaikat. Yang jelas, cukup untuk meyakinkan orang Saduki bahwa malaikat memang ada, ketika mereka melihat seorang malaikat yang menjelma di depan mata mereka.
            2. Namun, sepertinya lebih tepat dikatakan bahwa terdapat kemegahan ajaib dan kecemerlangan di wajahnya, seperti yang tampak pada Juru Selamat kita ketika Ia dipermuliakan. Atau paling tidak seperti wajah Musa saat ia turun dari gunung. Dengan cara itu Allah merancang untuk memberikan kehormatan kepada hamba-Nya yang setia, dan kebingungan kepada para penganiaya dan hakim-hakimnya. Dosa mereka akan semakin berat dan bahkan akan menjadi pemberontakan terhadap terang itu, apabila setelah melihat paras itu, mereka tetap melanjutkan perlawanan mereka terhadap dirinya. Apakah Stefanus sendiri tahu bahwa kulit wajahnya bersinar atau tidak, kita tidak diberi tahu. Namun, semua orang yang duduk dalam sidang Mahkamah Agama itu melihatnya, dan boleh jadi saling memberi tahu. Rasa malu yang teramat sangat melingkupi mereka saat melihat, dan mau tidak mau menyadari bahwa Stefanus diakui oleh Allah, hingga mereka tidak menyuruh dia yang saat itu sedang berdiri untuk diadili, untuk pindah dan duduk di bangku penghakiman. Hikmat dan kekudusan membuat wajah orang bersinar, namun hal ini tidaklah memberi jaminan bahwa orang tersebut bisa bebas dari penghinaan yang tiada taranya. Jadi tidak mengherankan apabila cahaya wajah Stefanus tidak mampu melindungi dia, meskipun cukup mudah untuk membuktikan bahwa seandainya ia bersalah karena mencemarkan Musa, Allah tentunya tidak akan memberikan kehormatan Musa kepadanya.


SGDK
MINGGU III SESUDAH PENTAKOSTA
RABU, 28 JUNI 2017
TANTANGAN PELAYANAN
Kisah Para Rasul 6:8-15

PENGANTAR
Melanjutkan seputar "Kitab Kisah Para Rasul" (lih. Minggu,
25 Juni 2017), dapat disebutkan bahwa Kisah Para Rasulini
merupakan kitab yang berkisah-tentang kehidupan dan karya
Yesus hingga pada kematian dan kebangkitan-Nya. Kitab Kisah
inilah satu-satunya Kitab yang meneruskan kabar tentang Yesus
dalam gereja perdana. Lebih jauh kitab ini berisikan catatan
tentang permulaan gereja dan memberi gambaran bagaimana
kehidupan umat kristen generasi pertama dalam mengikuti Yesus
termasuk peristiwa yang terjadi ada di dalamnya.

Pengajaran penting yang terkandung dalam Kitab Para Rasul,
yakni:
1. Pengajaran tentang awal mulanya gereja Tuhan pertama
kali;
2. Pengajaran tentang perkembangannya gereja mula-
mula dengan tantangan dan pergumulan yang dihadapi;
3. Pengajaran tentang bagaimana gereja mampu mene-
ruskan pengajaran tentang Yesus;
4. Pengajaran tentang perkembangan bagi pemberitaan
kabar Kristus ke seluruh negeri.

PENJELASAN NATS
Ayat 8 :
Gambaran Stefanus yang penuh karunia dan kuasa mengadakan
tanda-tanda dan mujizat-mujizat. Banyak orang yang percaya
karena pelayanan yang dilakukan Stefanus. Stefanus adalah
sosok yang dipakai Tuhan dalam menyampaikan kabar baik
tentang Kristus.
Ayat 9-10 :
Ada ketidaksenangan atas perbuatan Stefanus khususnya dan
jemaat Yahudi yang dikatakan sebagai orang Libertini. Namun
dalam perdebatan dengan Stefanus, mereka tidak sanggup
melawan hikmat dan Roh yang menguasai Stefanus dalam
berbicara. Hal ini membuktikan bahwa Allah turut bekerja dalam
pelayanan Stefanus dan tidak bisa ada yang mampu menandingi-
nya.

Ayat 10-14:
Tuduhan, hasutan dan pemutarbalikan fakta dilakukan untuk
mencari cela menghukum Stefanus. Stefanus yang pada akhirnya
disergap, diseret dan diperhadapkan kepada Mahkamah Agama,
membuktikan adanya ketldaksenangan atas perbuatan dan
pengajaran Stefanus. Dihadapan mereka, Stefanus menghadapi
para penguasa, hakim dan tua-tua dan ahli-ahli Taurat yang
memang tidak suka kepada para murid Yesus. Dengan tuduhan
yang tidak benar oleh saksl palsu membuat Stefanus semakin
terpojok. Tidak ada yang mau dan berani membela dirinya.

Ayat 15:
Ada yang Iuar biasa berkenaan dengan wajah Stefanus pada
saat itu. Semua orang yang duduk dalam sidang Mahkamah
Agama tersebut menatap Stefanus dan melihat bahwa mukanya
"seperti muka malaikat". lni bermakna bahwa Allah melalul
malaikat-Nyabersama dan menjaga Stefanus dalam pen/vujudan
ketenangan dan adanya damai dalam diri Stefanus.

PENDALAMAN DAN REFLEKSI
Salah satu ciri hadirnya Roh Kudus dalam diri orang percaya
adalah keberanian untuk mengikuti kehendak Allah walaupun
harus menentang pendapat umum dan harus menanggung risiko.
Stefanus, memperlihatkan sosok hadirnya kuasa Roh Kudus
dalam menghadapi tantangan pelayanannya. Tidak hanya berani
bersoal jawab terhadap orang Yahudi yang mempertanyakan
ajaran Kristen (6:9-10), tetapiStefanus juga tidak merasa takut
ketika harus berhadapan dengan Mahkamah Agama. Walaupun
kemudian dia dlbunuh dengan cara di rajam (dilempari batu),
Stefanus sama sekali tidak pernah merasa ketakutan (lih.6:11-
7:60).

Rasa takut tidak membuat orang menjadi gentar. Apalagi jika
yang dilakukan adalah seturut kehendak Tuhan. Yang terjadi
sebaliknya, adanya keberanian dalam menghadapi setiap tan-
tangan tersebut apapun risiko yang akan terjadi. Dalam hal ini
kuasa-Nya melalui Roh kudus bekerja bagi setiap orang yang
benar. Lakukan yang benar maka Allah menguatkan dan me-
nolong. Jadi selaku gereja, apakah kita berani untuk melakukan
perubahan menuju hal baik dan benar dalam mewujudkan ke-
taatan kepada kehendak Allah?

PERTANYAAN UNTUK DIDISKUSIKAN
1. Bayangkan kita adalah Stefanus yang diperhadapkan
pada tuduhan tidak benar. Bagaimana sikap dan tindakan
kita atas tuduhan tersebut? Bisa hal ini dikaitkan dalam
proses pemilihan Diaken-Penatua jika terdapat "tuduhan"
kepada beberapa calon untuk dapat dipertimbangkan
kelayakannya.
2. Bagaimana kita memahami akan tantangan dan per-
gumulan yang terjadi dalam hidup kita?
3. Jelaskan "tantangan yang menjadi kekuatan" sehingga
pertumbuhan iman kita menjadi dewasa dalam tantangan
dan pergumulan berat!

Buku Acuan:
1) A/kitab Edisi Studi
2) Bergant, Dianne CSA dan Robert J Karris, OFM. Tafsir
A/kitab Perjanjian Baru, Jakarta: Lembaga Bib/ika
Indonesia, 1987.
3) Brink, H.v.d., Tafsiran A/kitab: Kisah Para
Rasul.Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000.
4) Groenen, C,. Pengantar Ke Da/am Perjanjian Lama,
Yogyakarta: Kanisius, 1984.


SBU



MINGGU III SES. PENTAKOSTA
RABU 28 JUNI 2017
Renungan Pagi
KJ.320:1 -Berdoa
APAKAH AKU LAYAK?

Kisah Para Rasul 6:1-7
Mereka itu dihadapkan kepada rasul-rasul, lalu rasul-rasul itu pun berdoa dan meletakkan tangan di alas mereka (ay.6)

Saat ini kita masih dalam proses pemilihan Diaken dan Penatua. Adakah diantara kita yang tercalon dan terpilih untuk menjadi bagian dalam pelayanan di jemaat kita. Bagaimana reaksi awal ketika nama tercantum sebagai tercalon dan terpilih? Mungkin ada yang penuh syukur, ragu bahkan menolak dengan
berbagai alasan yang rasional dan tak dapat diganggu-gugat.

Bacaan hari ini mengisahkan soal kebutuhan akan pelayanan yang semakin luas dan banyak. Ada pelayanan yang tidak tersentuh, terabaikan bahkan dilupakan. Untuk itu disepakati untuk menetapkan tujuh orang yang akan menopang pelayanan yang terabaikan tersebut. Mereka dipilih dan diangkat karena terkenal baik, penuh Roh dan hikmat (ay.3). Artinya mereka sudah menunjukkan jati diri dan pengabdiannya melalui perilaku dan sikap hidup selama ini. Jadi, dipilih bukan karena memiliki kuasa, kekayaan, pengaruh atau ambisi pribadi.

Bagaimana dengan kita yang saat ini mungkin dalam proses menjadi calon Diaken atau Penatua? Apakah kita siap menerimanya sebagai panggilan pelayanan dari Tuhan? Ataukah karena ambisi pribadi yang mau diraih? Belajar dari bacaan hari ini, yang paling utama adalah apakah kita sungguh-sungguh menghayati panggilan tugas pelayanan yang akan kita kerjakan nanti.

Bagaimana perilaku dan sikap hidup saya apakah sudah sejalan dengan makna tugas pelayanan? Jangan menjadi batu sandungan dan tidak menjadi teladan bagi setiap pelayanan yang dikerjakan. Jujur kita akui bahwa panggilan pelayanan ini tidaklah mudah dan ringan. Ada janji "ya dengan segenap hatiku" dihadapan
Tuhan dalam mengemban dan menjalankannya. Kalau Tuhan pakai diri saya, saatnya saya buang ambisi dan ego pribadi. Mintalah Tuhan yang memampukan kita dengan segala kelebihan dan kekurangan kita, sebab Tuhan memilih dan memakai kita bukan karena kita mau dan mampu tetapi karena Tuhan mau dan
mampukan kita untuk kemuliaan-Nya. .

KJ. 320 : 2
Doa : (Kristus, pakailah diri kami sebagai alat dan tangan-Mu bagi sesama)





MINGGU III SES. PENTAKOSTA
RABU 28 JUNI 2017
Renungan Malam
KJ.319 : 1-Berdoa
TANTANGAN PELAYANAN

Kisah Para Rasul 6:8-15
Dengan jalan demikian mereka mengadakan suatu gerakan... mereka menyergap Stefanus, menyertenya dan membawanya ke hadapan Mahkamah Agama.
(ay.12)

Jika kita berpikir bahwa pelayanan ini "lancar dan tanpa masa|ah", sesungguhnya itulah persoalannya. Kita tidak bisa menilai bahwa pelayanan itu berhasil atau baik karena lancar dan tidak memiliki permasalahan didalamnya. Artinya sekecil apapun masalah yang dihadapi dalam pelayanan itu bagian dari persoalan pelayanan.

Persoalan yang timbul bisa dari dalam diri atau dari luar. Persoalan
yang muncul inilah yang menjadi tantangan dari pelayanan. Berbicara soal tantangan pelayanan, Stafanus yang penuh dengan karunia dan kuasa melakukan mujizat-mujizat dan tanda-tanda (ay.9) diperhadapkan pada ketidaksenangan banyak orang atas pelayanan yang dilakukannya. Mereka menghasut dan menyampaikan berita bohong tentang Stefanus (ay.11-12). Tujuannya, Stefanus di sidang dan di hukum. Mereka mengirim saksi-saksi palsu yang berkata tentang Stefanus (ay.13-14). Sangat mengerikan cara-cara yang dilakukan orang yang dikuasi roh kebencian. Mereka melakukan apa saja guna meraih tujuan pribadi meski harus mengorbankan kebenaran dan orang lain. Persekongkolan jahat dapat menyebabkan hidup orang lain terancam dan kehilangan masa depan untuk bersaksi bagi Yesus.

Tantangan pelayanan yang dialami Stefanus, mungkin pernah kita alami meski dalam bentuk dan cara yang berbeda. Ada celaan, cerita palsu, kejelekan dan pemutarbalikan fakta sudah kita alami. Kita menjadi "tertuduh" melalui masukan dan informasi yang tidak benar. Akibatnya pelayanan menjadi terganggu baik dari dalam diri maupun hubungan dengan oranglain. Oleh karena itu, bagi yang mengalaminya, kita percaya bahwa suatu saat kebenaran akan terbukti. Dan bagi yang senang "menganggu" hendaklah menyadari tidak ada manfaatnya bahkan justru semuanya akan berbalik kepada diri kita.

Jangan kita menguras tenaga untuk hal-ha! yang tidak perlu. Bersatu hati dan bergandengan tangan adalah hal yang baik dalam panggilan tugas pelayanan bersama. Yang kita cari adalah kemuliaan Tuhan bukan kemuliaan diri sendiri.

KJ.319 : 2
Doa : (Ya Bapa, mampukan kami untuk tetap melayani dalam situasi dan kondisi apapun dan mendukung setiap pelayanan bagi kemuliaan nama-Mu)

Label:   Kisah Para Rasul 6:8-15 




German Christian Songs
Latest Christian Song

NEXT:
Khotbah Ibadah GPIB Rabu, 29 Juni 2017 SEMUA MILIK-NYA - Kisah Para Rasul 7:30-50 - HARI MINGGU III SESUDAH PENTAKOSTA

PREV:
Khotbah Ibadah GPIB Selasa, 27 Juni 2017 - MENDENGAR NASIHAT Kisah Para Rasul 5:26-42 - HARI MINGGU III SESUDAH PENTAKOSTA

Garis Besar Kisah Rasul





BACAAN ALKITAB SETAHUN:


Hari ini, 23 Oktober - Matius 23-25


23 Oktober - Yohanes 7:1-13, 1 Petrus 4:12-19, Kidung 7, Ratapan 2

Arsip Khotbah Ibadah GPIB 2017..

Register   Login  

contoh kj 392 bukan kj.392
Daftar Resmi Susunan Kabinet Jokowi Jilid II
Klik Disini



Latest Christian Song






Nyanyian Ibadah Gereja
English Hymns, CFC SONGS *, AG (Aradhana Geethamulu), YSMS (Тебе пою оМй Спаситель), YJ (Юность-Иисусу), ADV (Himnario Adventista), HC (Держись Христа), SS (ДУХовни Песни), SR, SP, SPSS (Spiewajmy Panu wyd. dziesiate), RRZ (Runyankole Rukiga, Zaburi),
Lagu Koor - Paduan Suara Gereja, JB (Jiwaku Bersukacita: Pujian Sekolah Minggu), KMM, KJ, PKJ, GB, Nyanyian Rohani, Nafiri Rohani, NKB, KC, MNR1, MNR2, MAZMUR MP3 GKI, NP (Nyanyian Pujian), Lagu Tiberias, Nafiri Kemenangan, Lagu GMS, PPK, PPPR, KPPK, NKI, NRM, Buku Ende, BN (Buku Nyanyian HKBP), Buku Lagu Perkantas, KPKL, KPKA, KPJ, KRI, KPRI, KLIK, NNBT, DSL, LS, PKJ TORAJA, NJNE, Doding Haleluya, LKEE, Suara Gembira, , LIRIK LAGU ROHANI SUNDA, Kidung Kabungahan GKP, Puji Syukur, Madah Bakti,
Tagalog Worship Song
Kenya Worship Songs
Ghana Worship Songs
Urgandan Christian Song
Russian Worship Songs
Chinese Praise and Worship Song
Lagu Rohani Bahasa Iban di Malaysia
Thai Christian Song
Hebrew Christian Song
Arab Christian Song
Christian Songs In Dutch
German Christian Songs
Hindi Worship Song
Japanese Christian Song
Italian Christian Song
Lagu Rohani Batak
Lagu Rohani Ambon
Greek Worship Songs
French Worship Songs
Spanish Worship Songs

Jacqlien Celosse, Franky Sihombing, Sari Simorangkir, Maria Shandi, Nikita, Jonathan Prawira, Sidney Mohede, Edward Chen,
TATA IBADAH HARI DOA SEDUNIA 2019 - hari Reformasi, Kamis, 31 Oktober 2019
MARILAH SEGALA SESUATU TELAH TERSEDIA - Lukas 14:15-24
Link VIDEO Pesan Majelis Sinode dalam rangka HUT ke-9 PELKAT PKLU GPIB Minggu, 13 Oktober 2019

Tata Ibadah Syukur HUT ke-9 PKLU GPIB - Minggu, 13 Oktober 2019
1-JUKLAK HUT KE-9 PKLU GPIB, 2-PESAN MS GPIB HUT ke-9 PKLU, 3-SURAT PENGANTAR TATA IBADAH HUT PKLU KE-9, 4-TAIB HUT 9 PKLU




New Submit
Sabtu, 07 April 2018
He Who Would Valiant Be Hymn

Selasa, 16 Februari 2016
26 Old Timeless Gospel Hymns Classics

Rabu, 20 Maret 2019
Sing - Ellie Holcomb

Minggu, 20 Oktober 2019
Joy To The World - David Crowder

Minggu, 20 Oktober 2019
The First Noel - Third Day

Minggu, 20 Oktober 2019
Away in a Manger - Casting Crowns

Minggu, 20 Oktober 2019
Come and Worship - Bebo Norman

Minggu, 20 Oktober 2019
O Come O Come Emmanuel - Casting Crowns

Minggu, 20 Oktober 2019
Hallelujah (Light Has Come) - BarlowGirl

Minggu, 20 Oktober 2019
Hark The Herald Angels Sing - Matt Maher

Minggu, 20 Oktober 2019
O Come All Ye Faithful - Casting Crowns

Minggu, 20 Oktober 2019
Let Us Adore - Hillsong Worship

Jumat, 18 Oktober 2019
Wanted - Danny Gokey

Rabu, 16 Oktober 2019
Oh The Glory of His Presence - Terry MacAlmon

Rabu, 16 Oktober 2019
No Longer Slaves - Jonathan David & Melissa Helser

Rabu, 16 Oktober 2019
In Jesus' Name - Darlene Zschech

Rabu, 16 Oktober 2019
Breakthrough - Red Rocks Worship

Rabu, 16 Oktober 2019
Breathe - Hillsong Worship

Rabu, 16 Oktober 2019
Love Won't Give Up - Elevation Worship

Rabu, 16 Oktober 2019
Here in the Presence - Elevation Worship

video lagu rohani kristen, lagu gereja 2019, lagu rohani kristen 2019, lagu lagu rohani kristen terbaru, top 10 christian songs, download lagu kristen mp3, lagu terbaru rohani kristen, mp3 rohani kristen, lagu2 rohani terbaru, lagu rohani yang enak, mp3 lagu rohani kristen terbaru,



khotbah matius 7 ayat 15 sampai 23,   renungan zefanya 3:9-20,   renungan zefanya 3:9-20,   renungan zefanya 3:9-20,   tata ibadah hkbp 13 oktober 2019,   lagu persembahan,   Lagu Rohani GitaBakti,   Lagu Rohani GitaBakti,   lagu kristen persembahan,   khotbah untuk pemuda dan remaja Ulangan 7 : 12-14,   lagu KJ penutup,   khotbah untuk pemuda dan remaja Ulangan 7 : 12-14,   kunci gitar yesus nampi nu dosa,   pujian Pkj 35 Suci.suci.suci,   kalender liturgi,   kalender liturgi,   khotbah untuk pemuda dan remaja Ulangan 7 : 12-14,   khotbah untuk pemuda dan remaja Ulangan 7 : 12-14,   kotbah gpib galilea minggu 20 oktober 2019 ,   ayat untuk persembahan,   Rngn 1 kor 4:6-21,   Rngn 1 kor 4:6-21,   kalender.katolik bln oktober .2019,   free mp3 pujiam kristen,   free mp3 pujiam kristen,   renungan yoel 2 28,   download sound of praise - janjiMu Ya dan Amin,   khotbah : Tdk Ada Yg Mustahil Bagi Orang Percaya,   eksposisi zefanya 3:9-20 stemi,   ayat persembahan,   tak usah ku takut renna,   bahan diskusi zefanya 3:9-20,   contoh renungan kejadian 2:21-24 dan ilustrasinya,   epistel minggu 27 oktober 2019,   tampilan nats Amsal 22:8-12,   renungan wahyu 7 13-17,   Renungan Wahyu 7:13-18,   lagu gms,   renungan yosua 2:1-7,   lirik lagu di tengah kesukaran,   partitur satb kidung jemaat,   kunci gitar bila ku ingat cinta Tuhanku,   khotbah dalam matius 10¦1-4,   download lagu rohani kristen mp3 gratis,   kj 384,   kj 384,   gita bakti 47 note,   CONTOH BPJ GKII JEMAAT INDUK DI INDONESIA,   teks lagu puji syukur no 320,   ilustrasi khotbah amsal 22:8-12,   rancangan khotbah amsal 22:8-12,   kalender liturgi oktober 2019,   kalender liturgi oktober 2019,   lagu rohani untuk persembahan ,   lagu penu5up ibadah ,   khotbah amsal 22 : 8-12,   doa persembahan di partangiangan,   chord gitar bri padanya segnap hatimu,   lagu doa gereja singkat,   lagu doa gereja singkat,   lagu dan gerakan anak sekolah minggu umur 3-6 tahun,   gke tata ibadah,   Lagu rohani kuduslah tuhan yg terbaru,   Renungan Wahyu 7:13-18,   lyrics lagu yesus mulia,   lyrics lagu yesus mulia,   kotbah gpib galilea minggu 20 oktober 2019 ,   khotbah Ulangan 7 : 12-14,   khotbah zefanya 3 9 - 20,   renungan ibadah pemuda zefanya 3:9-20,   renungan ibadah pemuda zefanya 3:9-20,   ny rohani 94,   lagu natal ceria,   lagu kidung ceria,   Lagu kur gereja tiberias,   Sabda bina umat 17 Oktober 2019 ,   khotbah amsal 22:8-12,   khotbah amsal 22:8-12,   kalender liturgi katolik 2019,   lagu persembahan,   renungan hagai 1; 12-14,   kalender liturgi katolik 2019,   hagai 1:12-14,   hagai 1:12-14,   kunci lagu senja mulai terbenam lagu rohani,   lagu penutup ibadah,   lagu penutup ibadah,   jamita 1 korintus 6 1-8,   khotbah kristiani kitab 2 timotius 3 : 10 -17,   renungan Melayani Tuhan seumur hidup,   Ambilan minggu bapa gkps 3september 2019 gkps,   khotbah Ulangan 7 : 12-14,   pelita hidup lukas 17:11-19 khotbah,   pelita hidup khotbah lukas 17:11-19,   pelita hidup khotbah lukas 17:11-19,   tafsiran amsal 22 8 12,   renungan zefanya 3:1-20,   renungan umat tuhan menjadi kenamaan dan pujian menurut zefanya 3:9-20,   patitur mazmur 150,   makna lagu burung pipit yang kecil,   Sabda bina pemuda gpib bulan oktober,   sabda bina umat gpib 21 oktober 2019,   khotbah yosua 23:1-28,   khotbah yosua 23:1-28,   rancangan khotbah poda 22:8-12,   rancangan khotbah poda 22:8-12,   lirik tabur tabur mari menabur,   Oneway terbang. Mp3,   renungan matius 12:33,   contoh ilustrasi dari pembacaan kitab Yoel 1:13-20,   chord gitar kidung ceria 265,   chord gitar kidung ceria 265,   chord gitar kidung ceria 265,   yesus nampi nu dosa loril,   Kidung kabungahan no 45 yesus nampi nu dosa lirik,   Kidung kabungahan no 45 yesus nampi nu dosa,   kotbah gpib galilea minggu 20 oktober 2019 ,   lagu yang cocok untik persembahn,   renungan amsal 22:8-12,   kalender liturgi 2019,   Amsal 22; 8-22,   lagu-gereja.com,   renungan dari amsal 22 ,8;12,   khotbah dari amsal 22;8-12,   Penafsiran 1 yoh 4 ; 1 - 6,   dia girangkanku mp3,   download lagu kumasuki gerbangnya mp3 frankie,   download lagu kumasuki gerbangnya,   Sabda bina umat 17 Oktober 2019 ,   LAGU ROHANI PERSEMBAHAN,   lagu gereja baru,   lagu pernikahan dari kj atau nkb,   kotbah amsal 22:8-12,   katekisasi 22,   pembacaan Alkitab GMIM 20 oktober 2019,   slide ezra 4:1-16,   lirik lagu rohani hanya dekat allahku,   almanak HKI,   hari hari besar dalam kalender gerejawi gki,   alkitab johanes 4:21-26,   alkitab johanes 4:21-26,   isi nats johanes 4:21-26,   johanes 4:21-26,   lagu memberi persembahan,   jamita Johannes 4:21-26,   khotbah ibadah GMIT minggu 29 september 2019,   lagu rohani sebelum doa syafaat,   khotbah bilangan 22,   rohani 16,   lagu mazmur 121,   Jamita johanes 4:21-26,   download 40 lagu rohani kristen paling menyentuh hati saat teduh,   warna liturgii 20 oktober 2019,   khotbah tentang 2 timotius 3:14-4:5,   penilik jemaat dan kewajibannya,   doa berkat,   menjadi kenamaan di bumi,   menjadi kenamaan di bumi,   khotbah minggu,20 oktober 2019,   lirik lagu rohani badai prahara,   khotbah johannes 4,21_26,   lirik lagu rohani badai prahara,   lirik lagu rohani badai prahara,   renungan yohanes 4 : 21 - 26,   khotbah bilangan 22,   khotbah bilangan 22,   lagu rohani gita bakti bila ku seorang diri,   Ilustrasi khotbah yohanes 4:21-26,   kumpulan lagu pujian penutup ibadah,   Renungan Wahyu 7:13-17,   you tube karaoke lagu rohani ikut dikau saja tuhan,