Save Page
Minggu 17 Desember 2017
Mazmur 126:1-6
1 Tesalonika 5: 16-24

Mazmur 126:1-6
Pengharapan di tengah-tengah penderitaan
126:1 Nyanyian ziarah. Ketika TUHAN memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi. 126:2 Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: "TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!" 126:3 TUHAN telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita. 126:4 Pulihkanlah keadaan kami, ya TUHAN, seperti memulihkan batang air kering di Tanah Negeb! 126:5 Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. 126:6 Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.


Penjelasan:

* Mzm 126:1-3 - Pembebasan dari Tawanan
Ditulisnya mazmur ini merujuk pada suatu peristiwa pembebasan umat Allah secara besar-besaran dan mengejutkan dari perbudakan dan kesusahan, kemungkinan besar pada waktu mereka kembali dari Babel pada masa Ezra. Walaupun Babel tidak disebutkan di sini (tidak seperti dalam pasal 137), namun penawanan mereka di sana merupakan penawanan yang paling luar biasa baik dalam dirinya sendiri maupun karena kembalinya mereka dari penawanan itu merupakan pelambang dari penebusan kita oleh Kristus. Ada kemungkinan mazmur ini ditulis oleh Ezra, atau oleh beberapa dari antara nabi-nabi yang muncul bersamaan dengan Ezra. Kita membaca tentang para penyanyi dari anak-anak Asaf, sang pemazmur yang terkenal itu, yang kembali pada saat itu (Ezr. 2:41). Karena mazmur ini merupakan nyanyian ziarah (Inggris: ”songs of ascents" atau nyanyian peninggian atau pendakian), yang di dalamnya hal-hal yang sama diulang sebanyak dua kali dengan peningkatan (ay. 2-3, dan ay. 4-5), maka mazmur ini ditempatkan di sini di antara mazmur-mazmur lain yang mengandung judul yang sama.

    I. Orang-orang yang kembali dari penawanan di sini dipanggil untuk bersyukur (ay. 1-3).
    II. Orang-orang yang masih tinggal di penawanan di sini didoakan (ay. 4) dan disemangati (ay. 5-6).
    Dalam menyanyikan mazmur ini, akan menjadi mudah jika kita menerapkannya entah pada suatu peristiwa pembebasan tertentu yang dikerjakan bagi jemaat atau bagi negeri kita sendiri, atau pada pekerjaan agung yakni keselamatan kita oleh Kristus.
    Pembebasan dari Tawanan (126:1-3)
    Sewaktu umat Israel menjadi tawanan di Babel, kecapi-kecapi mereka tergantung di atas pohon-pohon gandarusa, sebab pada waktu itu Allah memanggil mereka untuk menangis dan berkabung, dan pada saat itu Ia berduka bagi mereka dan mereka pun meratap. Tetapi karena sekarang mereka sudah tidak ditawan lagi, mereka mulai kembali bermain kecapi. Pemeliharaan ilahi meniup seruling bagi mereka, dan mereka pun menari. Demikianlah kita harus menyesuaikan diri dengan segala pengaturan Pemeliharaan ilahi, dan tergerak sesuai dengan pengaturan-pengaturan itu. Dan kecapi tidak dapat terdengar lebih merdu lagi selain ketika dipetik kembali setelah sekian lamanya dibiarkan tergeletak dalam kesedihan. Belas-belas kasihan yang sudah lama didambakan akan sangat mempermanis kembalinya belas-belas kasihan itu. Inilah,
        1. Pembebasan-pembebasan yang telah dikerjakan Allah bagi mereka: Ia memulihkan keadaan Sion. Ada kemungkinan bahwa Sion ditawan sebagai penghukuman atas kemerosotannya, tetapi mereka akan dipulihkan kembali dari penawanan apabila tujuannya sudah tercapai dan pekerjaan yang dirancang melalui penawanan itu sudah terlaksana. Koresh, karena alasan-alasan kenegaraan, menyatakan pembebasan bagi umat Allah yang ditawan, namun hal itu terjadi dari pihak TUHAN, sesuai dengan firman-Nya bertahun-tahun sebelumnya. Allah membuang mereka untuk menjadi tawanan, bukan seperti sampah yang dibuang ke dalam api untuk dihanguskan, melainkan seperti emas yang harus dibakar untuk dimurnikan. Amatilah, pembebasan Israel disebut sebagai dipulangkannya tawanan Sion (kjv; tb: memulihkan keadaan Sion -pen.), bukit yang kudus itu, tempat di mana Allah berkemah dan berdiam. Ini terjadi demi memulihkan kepentingan-kepentingan suci mereka, dan membangkitkan kembali pelaksanaan ibadah mereka oleh jemaat. Inilah keuntungan-keuntungan yang paling berharga dari kepulangan mereka keluar dari penawanan.
        2. Betapa kepulangan mereka merupakan suatu kejutan yang menyenangkan bagi mereka. Mereka takjub akan peristiwa itu. Terjadinya begitu tiba-tiba sehingga pada awalnya mereka dilanda kebingungan, tidak tahu harus berbuat apa, atau ke mana semua ini menuju: ”Kami pikir kami seperti orang-orang yang bermimpi. Kami pikir ini kabar yang sungguh terlalu muluk untuk menjadi kenyataan, sehingga kami mulai bertanya-tanya apakah kami ini benar-benar sudah terbangun atau tidak, dan apakah ini bukan sesuatu yang (sebagaimana yang kadang-kadang dialami oleh para nabi) masih merupakan bayangan dalam penglihatan." Rasul Petrus juga seperti ini, untuk beberapa saat ia terpaku dengan pembebasannya (Kis. 12:9). Ada kalanya sebelum umat Allah memikirkannya, Allah sudah mengaruniakan berkat-berkat kebaikan-Nya kepada mereka sebelum mereka menyadarinya. Kami seperti orang-orang yang kembali sehat (demikian Dr. Hammond membaca ayat ini). ”Betapa ini merupakan perubahan yang menghibur dan membahagiakan bagi kami, seperti hidup dari antara orang mati atau kelegaan yang tiba-tiba dari penderitaan yang begitu nyeri. Kami menyangka kami berada di suatu dunia yang baru." Dan betapa mengejutkannya pembebasan itu membuat mereka melayang-layang dan hanyut dalam sukacita sehingga mereka tidak dapat menahan diri dalam batas-batas kewajaran untuk mengungkapkan sukacita mereka: mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Demikianlah mereka melampiaskan sukacita mereka, memberikan kemuliaan kepada Allah mereka, dan memberi tahu semua orang di sekitar mereka akan keajaiban-keajaiban yang telah dikerjakan Allah bagi mereka. Orang-orang yang dulu ditertawakan kini tertawa, dan nyanyian baru diberikan dalam mulut mereka. Tertawa mereka itu adalah tertawa sukacita di dalam Allah, bukan untuk mengejek musuh-musuh mereka.
        3. Perhatian tetangga-tetangga mereka terhadap pembebasan mereka: berkatalah orang di antara bangsa-bangsa, Yahweh, Allah Israel, telah melakukan perkara besar bagi umat itu, dan yang demikian tidak dapat dilakukan oleh ilah-ilah kita. Bangsa-bangsa kafir sudah melihat malapetaka yang menimpa bangsa Israel dan bersorak-sorai atas kejadian tersebut ( 137:7; Yer. 22:8-9). Tetapi sekarang mereka tidak bisa tidak melihat pembebasan bangsa Israel dan mengaguminya. Pembebasan itu memberikan nama baik kepada mereka yang sudah diejek dan direndahkan, dan membuat mereka tampak besar. Di samping itu, pembebasan mereka teramat sangat membawa kehormatan bagi Allah, dan mengundang pengakuan dari orang-orang yang menyembah ilah-ilah lain untuk membandingkan hikmat, kuasa, dan pemeliharaan-Nya dengan ilah-ilah itu.
        4. Pengakuan-pengakuan yang dibuat oleh mereka sendiri tentang pembebasan itu (ay. 3). Bangsa-bangsa kafir hanyalah penonton, dan berbicara tentang pembebasan itu sekadar sebagai bahan berita. Mereka tidak mempunyai bagian atau hak dalam perkara itu. Namun kebalikannya, umat Allah berbicara tentang pembebasan itu sebagai orang-orang yang turut ambil bagian di dalamnya.
        (1) Dengan menerapkannya pada diri mereka sendiri: ”Ia telah melakukan perkara besar kepada kita, perkara-perkara yang di dalamnya kita mempunyai kepentingan dan yang olehnya kita diuntungkan." Demikian pula halnya, berbicara tentang penebusan yang telah dikerjakan Kristus itu menghibur hati, sebab penebusan itu dikerjakan bagi kita. Yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.
        (2) Dengan penuh perasaan: ”Maka kita bersukacita. Bangsa-bangsa kafir takjub akan pembebasan itu, dan sebagian dari mereka marah, tetapi kita bersukacita." Ketika Israel berzinah dengan meninggalkan Allah mereka, sukacita dijauhkan dari mereka (Hos. 9:1). Tetapi karena kini pelanggaran Yakub telah dibersihkan melalui penawanan itu, dan dosa mereka dihapuskan, maka sekarang Allah membuat mereka bersukacita. Umat yang bertobat dan yang memperbarui dirilah yang sekarang, dan nanti, menjadi umat yang bersukacita.
            Amatilah di sini:
            [1] Penampakan-penampakan Allah bagi umat-Nya haruslah dipandang sebagai perkara-perkara besar.
            [2] Allah haruslah dipandang sebagai Pencipta dari segala perkara besar yang dilakukan bagi jemaat.
            [3] Sungguh baik untuk mengamati bagaimana pembebasan-pembebasan jemaat dikerjakan bagi kita, agar kita dapat turut bersukacita di dalamnya.


* Pengharapan bagi Orang yang Berduka (126:4-6)
Ayat-ayat ini melihat ke depan pada belas-belas kasihan yang masih dirindukan. Orang-orang yang sudah keluar dari penawanan masih berada dalam kesukaran, bahkan di negeri mereka sendiri (Neh. 1:3), dan banyak juga yang masih tinggal di Babel. Oleh sebab itu, mereka bersukacita dengan gemetar, dan menahan di dalam hati mereka duka-duka yang masih harus dipulihkan. Di sini kita mendapati,

    1. Sebuah doa untuk menyempurnakan pembebasan mereka (ay. 4): ”Pulihkanlah keadaan kami. Biarlah orang-orang yang sudah kembali ke negeri mereka sendiri diringankan dari beban-beban yang masih membuat mereka merintih. Biarlah orang-orang yang tinggal di Babel tergugah hati mereka, sebagaimana dengan kami, untuk mendapatkan keuntungan dari kebebasan yang dikaruniakan kepada kami itu." Permulaan-permulaan belas kasihan merupakan dorongan bagi kita untuk berdoa bagi penyempurnaannya. Dan selama kita berada di sini di dunia ini, kita akan tetap mempunyai sesuatu untuk didoakan, bahkan saat kita dipenuhi dengan hal-hal yang mendatangkan puji-pujian. Apabila kita sendiri tengah menikmati kebebasan dan kemakmuran, kita tidak boleh lupa akan saudara-saudara kita yang tengah mengalami permasalahan dan penderitaan. Dikumpulkannya orang-orang yang masih berada dalam penawanan bersama saudara-saudara mereka yang sudah kembali akan disambut dengan sama baiknya oleh kedua belah pihak seperti aliran-aliran air sungai bagi negeri-negeri itu, yang kering kerontang, karena terletak jauh di sebelah selatan. Seperti air sejuk bagi jiwa yang dahaga, demikianlah kabar baik ini dari negeri yang jauh itu (Ams. 25:25).
    2. Sebuah janji untuk mendorong mereka agar menantikan pembebasan itu, dengan meyakinkan mereka bahwa, meskipun sekarang mereka tengah berduka, semuanya akan berakhir dengan baik. Tetapi janji itu diungkapkan secara umum, agar semua orang kudus dapat menghibur diri mereka sendiri dengan keyakinan ini, bahwa benih air mata yang mereka tabur pasti akan berakhir dengan panen sukacita (ay. 5-6).

    (1) Orang-orang kudus yang menderita menyimpan benih air mata. Sering kali mereka bersimbah air mata. Mereka turut berbagi dalam malapetaka-malapetaka yang menimpa kehidupan manusia, dan biasanya mendapat bagian yang lebih banyak daripada orang lain. Tetapi mereka menabur dengan mencucurkan air mata. Mereka melakukan kewajiban yang dituntut dalam keadaan menderita, dan dengan demikian memenuhi maksud-maksud dari pemeliharaan-pemeliharaan ilahi yang tengah mereka jalani. Janganlah tangisan menghalang-halangi kita untuk menabur. Apabila kita menderita karena suatu kejahatan, kita harus melakukan kebaikan. Bahkan, seperti tanah dipersiapkan oleh hujan bagi tumbuhnya benih, dan petani kadang-kadang memilih menabur di tanah yang basah, demikian pula kita harus memanfaatkan saat-saat penderitaan, sebagai saat yang mencondongkan kita untuk bertobat, berdoa, dan merendahkan diri. Bahkan, ada air mata yang memang merupakan benih yang harus kita tabur, air mata kesedihan atas dosa, atas dosa kita sendiri dan dosa orang lain, air mata bela rasa terhadap jemaat yang menderita, dan air mata kelembutan di dalam doa dan dalam mendengarkan firman Allah. Semua ini merupakan benih-benih yang berharga, seperti benih yang ditabur oleh petani ketika gandum mahal dan ia hanya mempunyai sedikit saja bagi keluarganya, dan oleh sebab itu ia menangis karena harus melepaskannya, namun ia menguburnya juga di dalam tanah, dengan berharap akan menerimanya lagi dengan keuntungan. Seperti itulah orang baik yang menabur dengan mencucurkan air mata.
    (2) Mereka akan menuai panen sukacita. Permasalahan-permasalahan yang menimpa orang-orang kudus tidak akan selamanya berlangsung, tetapi, setelah mereka melakukan bagian mereka, semua itu akan berakhir dengan bahagia. Para tawanan di Babel sudah lama menabur dengan mencucurkan air mata, tetapi pada akhirnya dibawa keluar dengan sukacita, dan kemudian menuai keuntungan dari kesabaran mereka, dan membawa serta berkas-berkas gandum mereka ke negeri mereka sendiri, dalam pengalaman-pengalaman akan kebaikan Allah terhadap mereka. Ayub, Yusuf, dan Daud, serta banyak yang lain menuai panen sukacita setelah menabur benih kesedihan. Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata dukacita yang saleh akan menuai dengan sukacita pengampunan yang pasti dan kedamaian yang teguh. Barangsiapa menabur dalam Roh, dalam lembah air mata ini, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu, dan hal itu akan menjadi panen sukacita yang sebenar-benarnya. Berbahagialah orang yang berdukacita, karenaselamanya mereka akan dihibur.


Label:   Mazmur 126:1-6 




Sinergypro adalah Perusahaan yang bergerak di bidang Replikasi, Duplikasi Cd, Vcd, Dvd dan juga menangani desain Grafis, Percetakan Offset Printing seperti Cover, buku, Katalog, X-Banner, Spanduk, Umbul-umbul, Kaos dll.

Kami sudah puluhan tahun di bidang ini dan sangat berpengalaman sehingga dengan keahlian yang kami punya berharap dapat memuaskan para pelanggan di dalam kerjasama dengan kami. Kami terus meningkatkan kinerja yang lebih optimal melalui ketepatan waktu, ketelitian dan hasil yang memuaskan



rss lagu-gereja.com  Register   Login  

Lagu Kotbah


songbatak.com-karaoke



JUMAT, 30 NOVEMBER 2018
Khotbah Ibadah GPIB JUMAT, 30 NOVEMBER 2018 - BELAJAR BUAK DARI KEHIDUPAN - 2 Timotius 2:1-7 - MINGGU XXVI SES. PENTAKOSTA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)
Hari ketujuh, Demikianlah riwayat langit dan bumi // TUHAN Allah, Ada kabut naik ke atas ... dan membasahi // kabut, Tuhan Allah membentuk // manusia itu dari debu tanah // membentuk // manusia itu dari debu tanah ... menghembuskan // napas hidup ke
RABU, 28 NOVEMBER 2018
RABU, 28 NOVEMBER 2018 - MENDERITA DALAM KEBENARAN, BERBAHAGIALAH - 1 Petrus 2:18-25 (SGDK) - MlNGGU XXVI SESUDAH PENTAKOSTA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU) Sabda Guna Dharma Krida (SGDK)

SELASA, 27 NOVEMBER 2018
Khotbah Ibadah GPIB SELASA, 27 NOVEMBER 2018 - MEMBERLAKUKAN APA YANG DIBERLAKUKAN TUHAN - 1 Petrus 2:7-10 - MINGGU XXVI SES. PENTAKOSTA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)

SENIN, 26 NOVEMBER 2018
Khotbah Ibadah GPIB SENIN, 26 NOVEMBER 2018 - HIDUP ADALAH UCAPAN SYUKUR - 1 Petrus 1:17-25 - MINGGU XXVI SES. PENTAKOSTA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)
Jika kamu menyebut-Nya Bapa // Hidup dalam ketakutan, Kamu telah ditebus ... bukan dengan barang yang fana // Dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus // yang mahal, Rasul Petrus menasihati mereka supaya menjalin kasih persaudaraan, Sia-sianya Ma
MINGGU, 25 NOVEMBER 2018
Khotbah Ibadah GPIB MINGGU, 25 NOVEMBER 2018 - BERHIKMAT DALAM HIDUP - 1 Korintus 10:12-13 - HARI MINGGU XXVI SES. PENTAKOSTA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)



Minggu, 04 November 2018
Tata Ibadah Hari Minggu Syukur HUT ke-8 PKLU GPIB - Minggu, 04 November 2018

JUKLAK HUT KE-8 PKLU GPIB, PESAN MS GPIB HUT ke-8 PKLU, surat pengantar hut 8 pklu, TATA IBADAH PKLU GPIB HUT Ke-8 PKLU
7 OKTOBER 2018
KOREKSI LAGU DALAM TATA IBADAH 7 OKTOBER 2018 DAN PETUNJUK PELAKSANAAN IBADAH MINGGU SELAMA BULAN OKTOBER 2018


Minggu, 07 Oktober 2018
Tata Ibadah HARI PERJAMUAN KUDUS se-DUNIA dan HARI PEKABARAN INJIL INDONESIA (HPKD/HPII) Minggu, 07 Oktober 2018

Menggunakan Tata Ibadah GEREJA KRISTEN JAWA (GKJ)



Gereja GPIB di Jakarta (Map)
Gereja GPIB di Surabaya (Map)
Gereja GPIB di Makassar (Map)
Gereja GPIB di Medan (Map)
Gereja GPIB di Bandung (Map)
Gereja GPIB di Manado (Map)
Gereja GPIB di Bekasi (Map)
Gereja GPIB di Tangerang (Map)
Gereja GPIB di Denpasar (Map)
Gereja GPIB di Bogor (Map)

SABTU, 12 JANUARI 2019
Khotbah Ibadah GPIB SABTU, 12 JANUARI 2019 - PERGANTIAN NAMA - Yesaya 65:15-16 - MINGGU EPIFANIA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)
KESALEHAN DAN KESALAHAN, Dalam hal kehormatan dan nama baik
JUMAT, 11 JANUARI 2019
Khotbah Ibadah GPIB JUMAT, 11 JANUARI 2019 - BERPALING DARI DOSA DAN KEMBALI KEPADANYA - Yesaya 65:1-7 - MINGGU EPIFANIA
Sabda Bina Umat (SBU)
Pertobatan Bangsa-bangsa Bukan Yahudi; Kefasikan Orang-orang Yahudi; Penolakan terhadap Orang-orang, BERKAT TUHAN UNTUK MEREKA YANG SETIA
KAMIS, 10 JANUARI 2019
Khotbah Ibadah GPIB KAMIS, 10 JANUARI 2019 - ANGKAT HATI PADA ALLAH - Yesaya 64:7-12 - HARI EPIFANIA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)
ALLAH TIDAK TURUN TANGAN ,
RABU, 9 JANUARI 2019
Khotbah Ibadah GPIB RABU, 9 JANUARI 2019 - KONEKSI DAN KOREKSI - Yesaya 63:15-19 (SGDK) - MINGGU EPIFANIA
Penjelasan Ayat Sabda Guna Dharma Krida (SGDK)
Permohonan Sepenuh Hati,
RABU, 9 JANUARI 2019
Khotbah Ibadah GPIB RABU, 9 JANUARI 2019 - KONEKSI DAN KOREKSI - Yesaya 63:15-19 - MINGGU EPIFANIA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)
Permohonan Sepenuh Hati, ALLAH PENYELAMAT TUNGGAL