Save Page
Minggu, 27 Mei 2018
MEMBAWA INJIL PERDAMAIAN
Titus 1:1-4 (SGDK)
HARI MINGGU TRINITAS

Titus 1:1-4
Salam
1:1 Dari Paulus, hamba Allah dan rasul Yesus Kristus untuk memelihara iman orang-orang pilihan Allah dan pengetahuan akan kebenaran seperti yang nampak dalam ibadah kita, 1:2 dan berdasarkan pengharapan akan hidup yang kekal yang sebelum permulaan zaman sudah dijanjikan oleh Allah yang tidak berdusta, 1:3 dan yang pada waktu yang dikehendaki-Nya telah menyatakan firman-Nya dalam pemberitaan Injil yang telah dipercayakan kepadaku sesuai dengan perintah Allah, Juruselamat kita. 1:4 Kepada Titus, anakku yang sah menurut iman kita bersama: kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Juruselamat kita, menyertai engkau.


Penjelasan:


*  I. Salam (1:1-4)
Ucapan pertama Paulus di dalam surat-suratnya menunjukkan pokok pandangan dan sikapnya. 1. Hamba Allah dikemukakan di sini, tetapi dirangkaikan dengan otoritas sebagai rasul. Dalam surat Roma. 2. Timotius dan di sini, sang rasul mengemukakan dua aspek dari jabatannya secara bersamaan (Rm. 1:1, 5; II Tim. 1:1-3). Di surat lain dia hanya menyebutkan salah satu saja. Kepada jemaat di Filipi dia adalah seorang hamba; kepada jemaat di Galatia dan Korintus, yang memerlukan teguran dan pengajaran yang bijaksana, dia adalah seorang rasul. Kepada Titus, yang perlu dibekali secara khusus dengan kewenangan Paulus di hadapan orang Kreta, dia adalah hamba Allah dan rasul Yesus Kristus. Iman orang-orang pilihan Allah ialah ujud kebenaran dan janji yang nyata yang dijunjung tinggi oleh umat Allah selama berabad-abad. Pengetahuan. Pengertiannya serupa dengan iman yang baru saja dikemukakan; keduanya dipengaruhi oleh ungkapan untuk memelihara. Baik iman maupun pengetahuan dilandasi oleh pemberitaan berdasarkan fakta. Yang dapat dikenal dan dipercayai. Kebenaran mengandung arti "penyataan kesetiaan Allah sehingga Yesus Kristus dapat mengatakan, "Akulah ... kebenaran." Ibadah (kesalehan), sebuah kata yang sering kali dipakai di dalam

Surat-surat Penggembalaan (tafsiran atas I Tim. 3:16).
*  Tit 1:2 - Pengharapan // sebelum permulaan zaman sudah dijanjikan oleh Allah
Pengharapan dikaitkan dengan pelayanan dan kerasulan Paulus: dia merupakan seorang rasul pengharapan, pengharapan akan hidup kekal yang sebelum permulaan zaman sudah dijanjikan oleh Allah kepada Yesus Kristus Juruselamat kita (II Tim. 1:9) untuk disampaikan kepada kita.

*  Tit 1:3 - Pada waktu yang dikehendaki-Nya // pemberitaan Injil // Perintah // Firman // sudah dijanjikan //

Juruselamat
Pada waktu yang dikehendaki-Nya. Bandingkan I Timotius 2:6. Rencana abadi tersebut terwujud di dalam sejarah dunia ini melalui pemberitaan Injil (bdg. I Tim. 1:1). Perintah. Paulus menjadi rasul melalui perintah: melalui perintah pula dia menerima amanat yang harus diberitakan olehnya. Firman merupakan padanan dari yang sudah dijanjikan dari ayat sebelumnya. Idenya ialah bahwa Allah menggenapi janji-Nya di dalam Injil. Juruselamat merupakan istilah komprehensif bagi Pelepas; Allah dan juga Kristus disebut demikian.

*  Tit 1:4 - Anakku // Iman kita bersama // Dari
Anakku. Istilah yang mengungkapkan kasih sayang Paulus bagi Timotius, Titus dan Onesimus. Iman kita bersama merupakan iman yang dimiliki oleh Paulus, Titus dan semua orang Kristen. Sang rasul mungkin menggunakan analogi dari warisan: Iman adalah harta yang menjadi milik semua orang; Titus dipercayakan untuk menatanya. Dari berlaku untuk Allah dan bersama-sama mereka merupakan satu sumber ilahi dari semua berkat.

*  Tit 1:1-4 - Pendahuluan; Petunjuk Rasul Paulus kepada Titus
    Dalam pasal ini kita temukan,
        I. Prakata atau pendahuluan surat ini, yang menunjukkan dari dan kepada siapa surat ini ditulis, beserta salam dan doa Rasul Paulus untuk Titus, memohonkan segala berkat baginya (ay. 1-4).
        II. Pengantar kepada pokok persoalan, dengan menjelaskan tujuan mengapa Titus ditinggalkan di Kreta (ay. 5).
        III. Dan bagaimana tujuan itu juga harus dilaksanakan dengan mengacu pada para hamba Tuhan yang baik maupun yang buruk (ay. 6, sampai selesai).

Pendahuluan; Petunjuk Rasul Paulus kepada Titus (1:1-4)
Di sini terdapat pendahuluan surat ini, yang menunjukkan,
        I. Siapa penulisnya. Paulus, nama yang berasal dari bangsa bukan Yahudi, yang dipakai oleh Rasul Paulus yang diutus kepada bangsa-bangsa lain yang bukan Yahudi (Kis. 13:9, 46-47). Para hamba Tuhan harus memperhatikan hal-hal yang lebih kecil sekalipun, supaya dengan begitu mereka dapat semakin diterima di dalam pekerjaan mereka. Ketika orang-orang Yahudi menolak Injil dan orang-orang bukan Yahudi menerimanya, maka kita tidak lagi membaca di mana rasul ini disebut dengan nama Yahudinya, yaitu Saulus, tetapi dengan nama Romawinya, yaitu Paulus. Hamba Allah dan rasul Yesus Kristus. Di sini Paulus digambarkan berdasarkan hubungannya dengan Allah dan jabatannya, yaitu

hamba Allah, tidak hanya dalam artian umum, sebagai seorang manusia dan seorang Kristen, tetapi khususnya sebagai seorang hamba Allah, yang melayani Allah dalam pemberitaan Injil Anak-Nya (Rm. 1:9). Ini merupakan suatu kehormatan yang tinggi. Merupakan kemuliaan bagi para malaikat bahwa mereka semua adalah roh-roh yang melayani, yang diutus untuk melayani mereka yang harus memperoleh keselamatan (Ibr. 1:14). Secara lebih khusus lagi Paulus digambarkan sebagai seorang hamba Allah yang utama, rasul Yesus Kristus, yaitu seorang yang telah melihat Tuhan, dan langsung dipanggil dan diutus oleh-Nya, dan memperoleh ajaran-Nya dari Tuhan. Perhatikan, para pemangku jabatan tertinggi dalam jemaat semata-mata hanyalah hamba. (Banyak pengajaran agama dan ibadah tercakup di dalam penulisan surat-surat Paulus.) Para rasul Yesus Kristus, yang dipekerjakan untuk memberitakan dan menyebarluaskan agama-Nya, dalam hal itu juga adalah hamba-hamba Allah. Mereka tidak mengajarkan apa pun yang tidak sejalan dengan kebenaran-kebenaran dan semua kewajiban dari agama alami (yang berdasarkan pada akal budi).

Kekristenan, yang mereka beritakan, bertujuan memperjelas dan menguatkan ajaran-ajaran alami itu, sekaligus untuk memajukannya, serta menambahkan apa yang pantas dan perlu ke dalam keadaan manusia yang sudah merosot dan memberontak itu. Karena itulah para rasul Yesus Kristus merupakan hamba-hamba Allah, untuk memelihara iman orang-orang pilihan Allah. Ajaran mereka sejalan dengan iman semua orang pilihan sejak dunia dijadikan, dan berguna untuk menyebarluaskan dan memberitakan iman tersebut. Perhatikan, ada orang-orang yang dipilih Allah (1Ptr. 1:2), dan di dalam diri mereka ini Roh Kudus mengerjakan iman ilahi yang mulia, yang pantas bagi orang-orang yang telah ditentukan untuk menerima hidup kekal (2Tes. 2:13-14). Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai. Untuk itulah Ia telah memanggil kamu oleh Injil yang kami beritakan. Iman adalah dasar mula-mula dari pengudusan. Dan pengetahuan akan kebenaran seperti yang nampak dalam ibadah kita. Injil adalah kebenaran, kebenaran yang agung, pasti, dan menyelamatkan (Kol. 1:5). Firman kebenaran, yaitu Injil. Iman yang berasal dari Allah tidak mengandalkan akal budi dan berbagai kemungkinan pendapat yang masih bisa keliru, tetapi bersandar pada firman yang tidak mungkin keliru, yaitu kebenaran itu sendiri, seperti yang nampak dalam ibadah kita (KJV: yang sesuai dengan kesalehan pen.). Iman dari Allah memiliki sifat dan kecenderungan yang saleh, murni, serta memurnikan hati orang percaya. Berdasarkan ciri-ciri ini, kita dapat menguji berbagai ajaran dan roh, apakah mereka berasal dari Allah atau bukan. Apa yang tidak murni serta merugikan kesalehan sejati dan pengamalan iman sehari-hari tidak mungkin berasal dari sumber yang ilahi. Seluruh kebenaran Injil sesuai dengan kesalehan, mengajarkan serta memelihara sikap hormat dan takut akan Allah, serta ketaatan kepada-Nya. Injil adalah kebenaran yang tidak hanya perlu diketahui, tetapi juga harus diakui. Injil harus dinyatakan melalui perkataan dan perbuatan (Fil. 2:15-16). Dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan (Rm. 10:10). Orang yang memiliki kebenaran tetapi hidupnya tidak benar, berarti tidak mengetahui atau mempercayai kebenaran itu sebagaimana mestinya. Membawa orang kepada pengetahuan dan iman ini, serta membuat mereka mengakui dan memeluk kebenaran yang sesuai dengan kesalehan, merupakan tujuan agung dari

pelayanan Injil. Bahkan, ini memiliki kedudukan dan derajat tertinggi dalam pelayanan Injil. Apa yang diajarkan oleh para pelayan Injil harus memiliki tujuan utama ini, yaitu melahirkan iman dan menjadikan kuat di dalamnya. Berdasarkan (atau demi) pengharapan akan hidup yang kekal (ay. 2). Inilah maksud yang lebih jauh dari Injil, yaitu selain melahirkan iman, juga melahirkan pengharapan. Selain itu, menanggalkan hati dan pikiran dari dunia, dan mengarahkan mereka ke sorga dan perkara-perkara yang di atas. Iman dan kesalehan orang Kristen menuntun kepada hidup kekal, serta memberikan asa dan pengharapan yang memiliki dasar yang teguh akan hidup kekal itu. Sebab, hal itu sudah dijanjikan oleh Allah yang tidak berdusta. Merupakan kemuliaan Allah bahwa Ia tidak dapat berdusta atau menipu, dan ini merupakan penghiburan bagi oang-orang percaya, yang hartanya tersimpan di dalam janj-janji-Nya yang setia. Namun, bagaimana dapat dikatakan bahwa Ia telah berjanji sebelum permulaan zaman? Jawabannya, mengenai janji, beberapa orang menafsirkannya sebagai ketetapan-Nya. Allah telah merencanakannya di dalam rancangan-Nya yang

kekal, sehingga seakan-akan itu merupakan benih janji dari Allah. Atau, seperti kata beberapa orang, pro chronōn aiōniōn, maksudnya sebelum zaman dahulu kala, atau bertahun-tahun yang lalu, mengacu pada janji yang disampaikan secara tersirat (Kej. 3:15). Di sini tampak betapa janji akan hidup kekal yang diberikan kepada orang-orang kudus itu tetap dan telah ada sejak dahulu kala. Allah, yang tidak dapat berdusta, telah berjanji sebelum permulaan zaman, yaitu, sejak berabad-abad yang lalu. Dengan begitu, betapa luar biasa agungnya Injil itu, yang telah menjadi pokok janji ilahi sejak permulaan waktu! Betapa kita harus menghargainya sedemikian rupa, dan betapa kita harus bersyukur karena

hak istimewa yang kita miliki lebih daripada yang dimiliki orang-orang sebelum kita! Berbahagialah matamu karena melihat, dst. Tidak mengherankan apabila sikap meremehkan Injil akan diganjar dengan hukuman yang berat, karena Allah tidak hanya sudah menjanjikannya sejak dahulu kala, tetapi juga (ay. 3) pada waktu yang dikehendaki-Nya telah menyatakan firman-Nya dalam pemberitaan Injil. Sehingga, itu membuat janji-Nya yang disampaikan secara tersirat pada zaman dahulu, pada waktu yang dikehendaki-Nya (yaitu saat yang tepat sebelum waktu yang ditentukan) menjadi lebih jelas melalui pemberitaan Injil. Dengan begitu, apa yang oleh beberapa orang disebut sebagai kebodohan

pemberitaan Injil telah dihargai sejak itu. Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus, oleh firman yang diberitakan. Yang telah dipercayakan kepadaku. Pelayanan Injil itu adalah sebuah kepercayaan. Tidak ada orang yang memperoleh kehormatan ini, selain ia yang ditetapkan di dalam pelayanan itu. Dan barangsiapa telah ditetapkan dan dipanggil untuk itu, harus memberitakan firman. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil (1Kor. 9:16). Para pelayan yang tidak memberitakan Injil bukanlah penerus Rasul Paulus. Sesuai dengan perintah Allah,

Juruselamat kita. Pemberitaan Injil adalah sebuah pekerjaan yang ditetapkan oleh Allah sebagai Juruselamat. Lihatlah di sini suatu bukti mengenai ketuhanan Kristus, karena oleh Dialah Injil dipercayakan kepada Paulus ketika Paulus dipertobatkan (Kis. 9:15, 17, dan 22:10, 14-15), dan sekali lagi ketika Kristus menampakkan diri kepadanya (ay. 17-21). Oleh sebab itu, Yesuslah Juruselamat ini. Bukan saja ini yang menjadi isi dari seluruh surat Timotius: Bapa menyelamatkan oleh Anak melalui Roh Kudus, dan Ketiganya bersepakat untuk mengutus para pelayan. Karena itu,

janganlah kiranya ada yang mengandalkan panggilan manusia, tanpa panggilan Allah. Allah memperlengkapi, menggerakkan, menguasakan, dan memberikan kesempatan untuk bekerja.

        II. Kepada siapa surat ini ditulis, yang dijelaskan,
            1. Melalui namanya, yaitu Titus, seorang bukan Yahudi berkebangsaan Yunani, tetapi yang terpanggil untuk percaya sekaligus untuk melayani. Perhatikan, anugerah Allah diberikan secara cuma-cuma dan penuh dengan kuasa. Kesiapan atau kelayakan seperti apa, yang ada di dalam diri orang yang memiliki garis keturunan dan dibesarkan secara

kafir?
            2. Melalui hubungan rohaninya dengan Rasul Paulus. Anakku yang sah (atau asli), bukan diturunkan secara alami, melainkan diperbarui kembali secara supranatural. Akulah yang ... telah menjadi bapamu oleh Injil, kata Paulus kepada orang-orang Korintus (1Kor. 4:15). Para pelayan Tuhan adalah bapa-bapa rohani bagi orang-orang yang dipertobatkan melalui pelayanan mereka. Para pelayan Tuhan dengan penuh kasih akan menyayangi dan memelihara mereka, dan karena itu mereka harus dihormati oleh orang-orang itu sebagaimana mestinya. "Anakku yang sah

menurut iman kita bersama, yaitu iman yang sama-sama dimiliki oleh semua orang yang telah dilahirkan kembali, dan yang engkau miliki sungguh-sungguh di dalam hatimu, dan engkau tunjukkan di dalam hidupmu." Barangkali ini dikatakan untuk membedakan Titus dengan orang-orang munafik dan guru-guru palsu, dan supaya ia dihormati oleh orang-orang Kreta, sebagai gambaran yang hidup tengah-tengah mereka akan Rasul Paulus sendiri, di dalam hal iman, kehidupan, dan ajaran sorgawi. Kepada Titus ini, yang memang sudah selayaknya begitu dikasihi oleh Rasul Paulus, disampaikan,
        III. Salam dan doa, memohonkan segala berkat bagi Titus. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Juruselamat kita, menyertai engkau. Di sini diceritakan,
            1. Permohonan berkat: Kasih karunia dan damai sejahtera (KJV: Kasih karunia, rahmat, dan damai sejahtera pen.) Kasih karunia, yaitu pemberian dari Allah secara cuma-cuma, dan perkenanan oleh-Nya. Rahmat, buah dari pemberian itu, dalam rupa pengampunan dosa, dan kebebasan dari segala kemalangan yang disebabkan oleh dosa, baik sekarang maupun nanti. Dan damai sejahtera, yaitu akibat baik dan buah dari rahmat. Damai sejahtera dengan Allah melalui Kristus, yang adalah damai sejahtera kita, dan dengan semua makhluk dan dengan diri kita sendiri. Rasa damai secara lahiriah ataupun batiniah, yang mencakup segala macam kebaikan, yang membuahkan kebahagiaan kita saat ini dan sampai pada kekekalan. Perhatikan, kasih karunia merupakan sumber segala berkat. Rahmat, damai sejahtera, dan segala yang baik memancar keluar dari situ. Masuklah ke dalam perkenan Allah, dan segala sesuatu akan menjadi baik, karena,
            2. Dari Pribadi-Pribadi Allah inilah segala berkat diminta: Dari Allah Bapa, sumber segala yang baik. Setiap berkat, setiap penghiburan, datang kepada kita dari Allah sebagai Bapa. Dia adalah Bapa atas segala sesuatu melalui penciptaan, namun Ia menjadi Bapa atas segala yang baik melalui pengangkatan sebagai anak dan kelahiran kembali. Dan Kristus Yesus Juruselamat kita, sebagai jalan dan sarana yang mendapatkan dan menyampaikan segala yang baik itu. Segala sesuatu berasal dari Bapa dan diberikan melalui Anak, yang adalah Tuhan menurut kodrat, pewaris atas segala sesuatu, dan merupakan Tuhan, Penebus, serta Kepala kita, yang memerintah dan berkuasa atas anggota-anggota tubuh-Nya. Segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah kaki-Nya. Kita berpegang kepada-Nya, sebagai in capite, atau Kepala, dan wajib tunduk dan taat kepada-Nya. Dia juga adalah Yesus dan Kristus, Juruselamat yang diurapi, dan khususnya Juruselamat bagi kita, yang harus dipercayai, yang membebaskan kita dari dosa dan neraka, dan membawa kita ke sorga, menuju kebahagiaan. Sampai di sinilah pendahuluan surat ini. Kemudian mengikuti pokok persoalan, dengan menunjukkan tujuan mengapa Titus ditinggalkan di Kreta.


SBU

Renungan Minggu Trinitas
Minggu, 27 Mei 2018
DUTA PEMBAWA DAMAI
Titus 1 : 1 - 3

Sering kita mendengar seseorang yang diangkat atau ditunjuk sebagai "duta" dari kegiatan atau organisasi; misalnya duta perdamaian, duta kebudayaan Indonesia, duta baca, dsb. Fungsi atau tugasnya menyampaikan visi dan misi atas terpilihnya sebagai duta tersebut. Namun yang paling penting atas tugas tersebut adalah keteladanan diri atas tanggungjawab selaku "duta" yang disandangnya. Selaku duta perdamaian dirinya harus selalu membawa damai bagi setiap orang bukan sumber kekacauan. Duta kebudayaan harus mengenal keanekaragaman budaya Indonesia.

Keteladanan inilah yang menjadi catatan penting Paulus di awal suratnya kepada Titus. Titus sebagai rekan kerja Paulus ditugaskan untuk melayani jemaat di Kreta. Untuk itu Titus harus mempunyai keteladanan yang baik dalam melayani. Titus harus memelihara iman orang percaya dengan menjaga, merawat dan mengayomi umat dengan pengajaran yang benar. Dengan demikian umat setia kepada Allah dan kesalehan hanya di dalam Tuhan sehingga pengharapan kepada-Nya sungguh nyata dalam kehidupan umat. Penghapan akan hidup kekal yang sebelum permulaan zaman dijanjikan oleh Allah yang tidak berdusta (ay.2).

Kita selaku pribadi-pribadi, menjadi "Duta Allah". Yang berkewajiban menyampaikan dan meneruskan kehendak Allah kepada seluruh umat. Salah satu yang harus dinyatakan adalah sebagai pembawa damai. Kita harus memberikan rasa nyaman dan tidak menjadi sumber masalah. Kita harus mampu menunjukkan keteduhan hati dan mendorong orang lain untuk saling menerima dan mengasihi. Pada akhirnya kita mewujudkan rasa aman dan tentram karena kita "menularkan" rasa damai bagi semua pihak. Damai yang tercipta tidak memandang latar belakang, suku, status pendidikan, ekonomi dan agama. Kita menyadari semua adalah teman yang saling mengasihi dan dikasihi. Jadilah "Duta Allah" dalam hidup kita.


Minggu, 27 Mei 2018
Renungan Malam
GB: 256: 1 - Berdoa
MENJALIN HUBUNGAN UNTUK MEMAMPUKAN

Titus 1 : 4
"Kepada Titus, anakku yang sah menurut iman kita bersama: kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Juruselamat kita, menyertai engkau." (ayat 4)

Ketika hendak menghadapi ujian akhir SD, kedua orangtuanya sepakat menyerahkan kepada anaknya, apakah ia mau mengikuti bimbel (bimbingan belajar) atau tidak. Mereka hanya meyakinkan anaknya bahwa belajar sendiri butuh kemauan keras dan mengatasi godaan merasa sudah bisa padahal perlu diulang lagi apa yang ia rasa sudah bisa agar lebih mantap.

Pendampingan selalu tidak memaksa tetapi meyakinkan bahwa yang didampingi akan mendapatkan hasil yang baik. Dengan prisip kesetaraan, maka yang didampingi tidak tertekan, merasa bahwa dirinya dihargai dan akan berusaha "membuktikan" bahwa dirinya akan berhasil.

Contoh hubungan Paulus dan Titus yang membawa Injil Pendamaian menjadi inspirasi yang kuat di tengah dunia yang sangat politis. Lihatlah bagaimana orang dengan mudahnya menggunakan simbol-simbol agama untuk kepentingan politiknya. Apakah yang terjadi dengan mempolitisasi agama seperti itu? Jelas sekali, politik kepentingan (sektarian) yang menang, yang tentu saja memecah belah kehidupan yang selama ini rukun dan damai.

Paulus menyadari kendala yang dihadapi Titus di tengah Jemaat yang diwarnai oleh kelompok kepentingan yang ingin menang sendiri. Jemaat haus akan suasana yang lebih damai. Dengan kebutuhan itulah, maka teladan menjalin hubungan yang setara dan penuh kasih dengan menyebut Titus sebagai "anaknya", menjadi berkat yang patut dihargai.

Apakah kita bisa menghadirkan kehidupan yang penuh damai sejahtera di tengah dunia yang makin individualis dan politis? Anda sudah tahu jawabannya, "bisa". Mari wujudkan dalam kehidupan keluarga, persekutuan dan masyarakat.

GB: 256: 3

Doa:  (Ya Tuhan kami bersyukur atas hadirnya hamba-hamba-Mu yang mengasihi kami, yang memberikan kepada kami kedewasaan iman dalam menghadapi berbagai tantangan)


Label:   Titus 1:1-4 



Khotbah Ibadah GPIB 2018

Khotbah Ibadah GPIB Minggu, 27 Mei 2018 - MEMBAWA INJIL PERDAMAIAN - Titus 1:1-4 (SGDK) - HARI MINGGU TRINITAS





[isi halaman tidak ditampilkan]

Halaman Khusus Member Pemberi Donasi.
Silakan Login Terlebih Dahulu!

Belum menjadi member? Silakan Register







Halaman Bebas Akses untuk Member Donasi:



NEXT:
Khotbah Ibadah GPIB Senin, 28 Mei 2018 - MENEGOR DENGAN TEGAS - Titus 1:13-16 - MINGGU TRINITAS

PREV:
Khotbah Ibadah GPIB Sabtu, 26 Mei 2018 - PENUGASAN KHUSUS - Nehemia 12:44-47 - MINGGU PENTAKOSTA
Sinergypro adalah Perusahaan yang bergerak di bidang Replikasi, Duplikasi Cd, Vcd, Dvd dan juga menangani desain Grafis, Percetakan Offset Printing seperti Cover, buku, Katalog, X-Banner, Spanduk, Umbul-umbul, Kaos dll.

Kami sudah puluhan tahun di bidang ini dan sangat berpengalaman sehingga dengan keahlian yang kami punya berharap dapat memuaskan para pelanggan di dalam kerjasama dengan kami. Kami terus meningkatkan kinerja yang lebih optimal melalui ketepatan waktu, ketelitian dan hasil yang memuaskan



rss lagu-gereja.com  Register   Login  

Lagu Kotbah


songbatak.com-karaoke



JUMAT, 30 NOVEMBER 2018
Khotbah Ibadah GPIB JUMAT, 30 NOVEMBER 2018 - BELAJAR BUAK DARI KEHIDUPAN - 2 Timotius 2:1-7 - MINGGU XXVI SES. PENTAKOSTA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)
Hari ketujuh, Demikianlah riwayat langit dan bumi // TUHAN Allah, Ada kabut naik ke atas ... dan membasahi // kabut, Tuhan Allah membentuk // manusia itu dari debu tanah // membentuk // manusia itu dari debu tanah ... menghembuskan // napas hidup ke
RABU, 28 NOVEMBER 2018
RABU, 28 NOVEMBER 2018 - MENDERITA DALAM KEBENARAN, BERBAHAGIALAH - 1 Petrus 2:18-25 (SGDK) - MlNGGU XXVI SESUDAH PENTAKOSTA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU) Sabda Guna Dharma Krida (SGDK)

SELASA, 27 NOVEMBER 2018
Khotbah Ibadah GPIB SELASA, 27 NOVEMBER 2018 - MEMBERLAKUKAN APA YANG DIBERLAKUKAN TUHAN - 1 Petrus 2:7-10 - MINGGU XXVI SES. PENTAKOSTA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)

SENIN, 26 NOVEMBER 2018
Khotbah Ibadah GPIB SENIN, 26 NOVEMBER 2018 - HIDUP ADALAH UCAPAN SYUKUR - 1 Petrus 1:17-25 - MINGGU XXVI SES. PENTAKOSTA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)
Jika kamu menyebut-Nya Bapa // Hidup dalam ketakutan, Kamu telah ditebus ... bukan dengan barang yang fana // Dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus // yang mahal, Rasul Petrus menasihati mereka supaya menjalin kasih persaudaraan, Sia-sianya Ma
MINGGU, 25 NOVEMBER 2018
Khotbah Ibadah GPIB MINGGU, 25 NOVEMBER 2018 - BERHIKMAT DALAM HIDUP - 1 Korintus 10:12-13 - HARI MINGGU XXVI SES. PENTAKOSTA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)



Minggu, 04 November 2018
Tata Ibadah Hari Minggu Syukur HUT ke-8 PKLU GPIB - Minggu, 04 November 2018

JUKLAK HUT KE-8 PKLU GPIB, PESAN MS GPIB HUT ke-8 PKLU, surat pengantar hut 8 pklu, TATA IBADAH PKLU GPIB HUT Ke-8 PKLU
7 OKTOBER 2018
KOREKSI LAGU DALAM TATA IBADAH 7 OKTOBER 2018 DAN PETUNJUK PELAKSANAAN IBADAH MINGGU SELAMA BULAN OKTOBER 2018


Minggu, 07 Oktober 2018
Tata Ibadah HARI PERJAMUAN KUDUS se-DUNIA dan HARI PEKABARAN INJIL INDONESIA (HPKD/HPII) Minggu, 07 Oktober 2018

Menggunakan Tata Ibadah GEREJA KRISTEN JAWA (GKJ)



Gereja GPIB di Jakarta (Map)
Gereja GPIB di Surabaya (Map)
Gereja GPIB di Makassar (Map)
Gereja GPIB di Medan (Map)
Gereja GPIB di Bandung (Map)
Gereja GPIB di Manado (Map)
Gereja GPIB di Bekasi (Map)
Gereja GPIB di Tangerang (Map)
Gereja GPIB di Denpasar (Map)
Gereja GPIB di Bogor (Map)

SABTU, 12 JANUARI 2019
Khotbah Ibadah GPIB SABTU, 12 JANUARI 2019 - PERGANTIAN NAMA - Yesaya 65:15-16 - MINGGU EPIFANIA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)
KESALEHAN DAN KESALAHAN, Dalam hal kehormatan dan nama baik
JUMAT, 11 JANUARI 2019
Khotbah Ibadah GPIB JUMAT, 11 JANUARI 2019 - BERPALING DARI DOSA DAN KEMBALI KEPADANYA - Yesaya 65:1-7 - MINGGU EPIFANIA
Sabda Bina Umat (SBU)
Pertobatan Bangsa-bangsa Bukan Yahudi; Kefasikan Orang-orang Yahudi; Penolakan terhadap Orang-orang, BERKAT TUHAN UNTUK MEREKA YANG SETIA
KAMIS, 10 JANUARI 2019
Khotbah Ibadah GPIB KAMIS, 10 JANUARI 2019 - ANGKAT HATI PADA ALLAH - Yesaya 64:7-12 - HARI EPIFANIA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)
ALLAH TIDAK TURUN TANGAN ,
RABU, 9 JANUARI 2019
Khotbah Ibadah GPIB RABU, 9 JANUARI 2019 - KONEKSI DAN KOREKSI - Yesaya 63:15-19 (SGDK) - MINGGU EPIFANIA
Penjelasan Ayat Sabda Guna Dharma Krida (SGDK)
Permohonan Sepenuh Hati,
RABU, 9 JANUARI 2019
Khotbah Ibadah GPIB RABU, 9 JANUARI 2019 - KONEKSI DAN KOREKSI - Yesaya 63:15-19 - MINGGU EPIFANIA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)
Permohonan Sepenuh Hati, ALLAH PENYELAMAT TUNGGAL