Save Page

Matius 7:24-27
Dua macam dasar
7:24 "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. 7:25 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. 7:26 Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. 7:27 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya."


Penjelasan:


* Mat 7:24-27 - Batu karang // Perkataan-Ku ini // Melakukannya // batu karang
Sangat penting untuk membangun di atas landasan yang benar. Orang yang rumahnya roboh, bersalah bukan karena kurang giat bekerja, tetapi karena tidak memanfaatkan batu karang. Batu karang. Yesus Kristus (I Kor. 3:11) dan ajaran-Nya. Perkataan-Ku ini. Pasal 5-7. Melakukannya. Menaati pengajaran. Khotbah ini dialamatkan kepada orang-orang percaya dan orang-orang yang diperkirakan percaya kepada Yesus selaku Mesias. Ini bukan legalisme. Tidak ada perbuatan yang dilandaskan pada usaha manusia dapat memiliki nilai rohani, tetapi iman kepada Kristus sang batu karang itu akan menghasilkan kelahiran baru yang nyata dalam kehidupan yang saleh.

*      Ia menunjukkan melalui perumpamaan bahwa sekadar mendengarkan perkataan-Nya ini tidak akan membuat kita berbahagia jika kita tidak melakukannya dengan sepenuh hati. Namun, jika kita mendengar perkataan-Nya dan melakukannya, kita akan berbahagia oleh perbuatan kita (ay. 24-27).
        . Di sini, mereka yang mendengarkan perkataan Kristus dibagi menjadi dua golongan. Mereka yang mendengar dan melakukan apa yang mereka dengar, dan mereka yang mendengar tetapi tidak melakukannya. Sekarang Kristus berkhotbah kepada banyak orang dari berbagai latar belakang, tetapi kemudian Ia memisahkan mereka seorang dari yang lainnya, sebagaimana yang akan dilakukan-Nya pada hari yang agung itu, ketika semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya. Kristus masih berbicara dari sorga melalui firman dan Roh-Nya, melalui para hamba-Nya maupun pemeliharaan-Nya. Orang-orang yang mendengar perkataan-Nya dibagi dalam dua golongan.
            (1) Orang-orang yang mendengar perkataan-Nya dan melakukannya. Terpujilah Allah karena masih ada orang-orang seperti ini, walaupun tidak begitu banyak. Mendengar perkataan Kristus bukanlah berarti untuk sekadar mendengar semata, melainkan juga untuk menaati-Nya. Perhatikanlah, sangatlah penting bagi kita untuk melakukan apa yang kita dengar dari perkataan Kristus. Sungguh merupakan rahmat bila kita boleh mendengar perkataan-Nya. Berbahagialah telinga-telinga yang mendengar seperti ini (13:16-17). Namun, jika kita tidak melakukan apa yang kita dengar, maka sia-sialah kasih karunia Allah yang telah kita terima itu (2Kor. 6:1). Melakukan perkataan Kristus berarti sungguh-sungguh menjauhi dosa-dosa yang dilarang oleh-Nya, dan melakukan tugas yang diwajibkan-Nya. Pikiran dan perasaan kita, perkataan dan perbuatan kita, serta tabiat dan tujuan hidup kita haruslah sesuai dengan Injil Kristus. Itulah perbuatan yang diminta-Nya. Semua perkataan Kristus, bukan saja hukum yang telah ditetapkan-Nya, melainkan juga semua kebenaran yang diungkapkan-Nya, haruslah kita lakukan. Semua ini merupakan terang, bukan saja untuk mata kita, melainkan juga untuk kaki kita, dan dirancang bukan sekadar untuk memberitahukan hukum bagi kita, melainkan juga untuk mengubah hati dan kehidupan kita. Jika kita tidak melaksanakannya, kita sebenarnya tidak memercayainya. Perhatikanlah, belumlah cukup untuk sekadar mendengar perkataan Kristus dan memahami, mengingat, membicarakan, mengulang, dan memperdebatkannya. Kita harus mendengar dan melakukannya. Perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup. Hanya mereka yang mendengarkan Firman Allah dan memeliharanya sajalah yang disebut berbahagia (Luk. 11:28; Yoh. 13:17), dan disebut saudara Kristus (Mat. 12:50).
            (2) Orang-orang yang mendengar perkataan Kristus dan tidak melakukannya. Agama mereka bersandar semata-mata pada pendengaran saja. Seperti anak-anak yang menderita kelainan tulang, kepala mereka membesar, terisi dengan pikiran kosong dan gagasan yang belum dicerna, tetapi persendian mereka lemah sehingga merasa berat dan tidak bersemangat. Mereka tidak dapat dan tidak peduli untuk melakukan kewajiban baik apa pun. Mereka mendengar perkataan Allah, seakan-akan ingin mengenal segala jalan-Nya, bagaikan orang yang melakukan yang benar, tetapi tidak melakukannya (Yeh. 33:30-31; Yes. 58:2). Demikianlah mereka menipu diri sendiri, seperti Mikha yang menganggap dirinya bahagia karena ada orang Lewi yang menjadi imamnya, padahal ia tidak menjadikan Tuhan sebagai Allah-nya. Benih telah ditaburkan, tetapi tidak bertumbuh. Mereka mengamati wajah mereka di cermin firman Tuhan, tetapi melupakannya lagi (Yak. 1:22-24). Demikianlah mereka menipu jiwa mereka sendiri, sebab sudah pasti bahwa bila kita tidak menjadikan pendengaran itu sebagai sarana untuk menjadi taat, maka akan bertambah parahlah ketidaktaatan kita itu. Orang-orang yang hanya mendengar perkataan Kristus tetapi tidak melakukannya, diam di tengah perjalanan menuju sorga, dan ini tidak akan pernah membawa mereka ke akhir perjalanan mereka. Mereka hanya menjadi saudara tiri Kristus, dan karena itu, menurut hukum pun, orang-orang semacam ini tidak bisa menerima warisan.
        . Di sini, kedua macam pendengar ini digambarkan menurut tabiat mereka yang sesungguhnya, sedangkan permasalahan mereka diumpamakan seperti dua orang yang membangun rumah. Yang seorang bijaksana, ia mendirikan rumahnya di atas batu, dan rumahnya tetap berdiri meskipun angin badai menerpanya. Yang seorang lagi adalah orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir, dan rumahnya pun roboh.

        Sekarang:
            (1) Maksud umum perumpamaan ini adalah untuk mengajar kita bahwa satu-satunya cara untuk memastikan keselamatan jiwa kita dalam kekekalan adalah dengan mendengar dan melakukan perkataan Tuhan Yesus, yakni perkataan-Nya dalam Khotbah di Bukit yang sepenuhnya dapat dilakukan. Beberapa dari antaranya terasa keras bagi sifat kedagingan, namun tetap harus dilakukan. Dengan demikian kita telah mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi waktu yang akan datang (1Tim. 6:19). Beberapa orang menyebutnya sebuah jaminan yang baik, suatu perjanjian yang Allah buat yang menjamin keselamatan berdasarkan persyaratan Injil. Ini suatu jaminan yang baik yang bukan rancangan kita sendiri, bukan keselamatan didasarkan angan-angan kita sendiri. Dengan jaminan ini kita menjadi yakin akan bagian kita yang terbaik, seperti Maria, ketika kita mendengar perkataan Kristus, duduk dekat kaki Tuhan dengan patuh: Berbicaralah, TUHAN, sebab hamba-Mu ini mendengar.
            (2) Bagian-bagian perumpamaan ini memberi kita berbagai pelajaran yang baik.
                [1] Bahwa kita masing-masing mempunyai sebuah rumah untuk dibangun, dan rumah itu adalah pengharapan kita untuk ke sorga. Kita harus terutama dan selalu memperhatikan agar panggilan dan pilihan kita makin teguh, sehingga dengan demikian kita memastikan keselamatan kita. Kita harus memastikan untuk beroleh hak atas kebahagiaan sorgawi, dan kita harus punya bukti untuk itu. Kita harus meyakinkan diri bahwa ketika kita tidak dapat ditolong lagi, kita akan diterima di dalam kemah abadi. Banyak orang tidak pernah memedulikan hal ini. Mereka nyaris tidak memikirkannya. Mereka membangun rumah di dunia ini seolah-olah akan tinggal di sini selamanya, tetapi tidak mau membangun bagi dunia lain. Semua orang yang memeluk agama seharusnya bertanya-tanya, apa yang harus mereka perbuat supaya selamat, bagaimana mereka akhirnya bisa masuk sorga dan bagaimana mereka bisa punya pengharapan dengan dasar yang pasti mengenai hal itu sementara mereka masih di dunia ini.
                [2] Bahwa disediakan batu bagi kita untuk membangun rumah di atasnya, dan batu karang itu ialah Kristus. Dia diletakkan sebagai dasar, dan tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain (Yes. 28:16; 1Kor. 3:11). Dia adalah dasar pengharapan kita (1Tim. 1:1). Seperti itulah Kristus ada di dalam kita. Kita harus meletakkan dasar pengharapan kita tentang sorga sepenuhnya pada kebaikan Kristus, pada pengampunan dosa, kuasa Roh-Nya, pengudusan tabiat kita, dan perantaraan-Nya yang penuh kuasa, supaya dengan demikian semua apa yang telah ditebus-Nya untuk kita dapat kita terima. Di dalam diri-Nya, yang telah dinyatakan dan dijadikan demikian untuk kita melalui pemberitaan Injil, terdapat segala sesuatu yang cukup untuk menghapus semua dukacita kita dan memenuhi semua keperluan kita, sehingga dengan demikian Dia sanggup menyelamatkan dengan sempurna. Jemaat didirikan di atas batu karang ini, demikian pula setiap orang percaya. Kristus sama kuat dan teguhnya seperti batu karang. Kita dapat mempercayakan diri kita kepada-Nya, dan kita tidak akan dibuat malu dengan pengharapan kita ini.
                [3] Bahwa masih tersisa sekelompok kecil orang yang, dengan mendengar dan melakukan perkataan Kristus, membangun pengharapan mereka di atas batu karang ini. Dan inilah yang menjadi hikmat mereka. Kristus adalah satu-satunya jalan kita menuju Bapa, sedangkan ketaatan iman adalah satu-satunya jalan kita menuju Kristus. Sebab bagi semua yang taat kepada-Nya, dan hanya bagi mereka sajalah, Dia menjadi pokok keselamatan (Ibr. 5:9). Orang-orang yang membangun di atas Kristus, dan sungguh-sungguh menerima Dia sebagai Raja dan Juruselamat mereka, akan senantiasa berusaha menjalankan semua aturan ajaran-Nya yang kudus itu. Mereka sepenuhnya bergantung pada Dia untuk mendapatkan pertolongan dari Allah dan supaya diterima oleh-Nya, dan bagi mereka segala sesuatu dianggap rugi dan sampah, hanya supaya memperoleh Kristus dan berada bersama-Nya. Membangun di atas batu karang membutuhkan jerih payah. Mereka yang membuat panggilan dan pilihan mereka teguh, harus melakukannya dengan tekun. Orang-orang yang membangun dengan bijak adalah mereka yang mulai mendirikan sedemikian rupa hingga sanggup menyelesaikannya (Luk. 14:30); dengan demikian, mereka meletakkan suatu dasar yang kuat.
                [4] Bahwa ada banyak orang yang mengaku berharap pergi ke sorga, namun memandang rendah batu karang ini dan membangun pengharapan mereka di atas pasir. Mereka melakukannya tanpa bersusah payah, dan ini adalah kebodohan mereka. Segala sesuatu selain Kristus adalah pasir. Beberapa orang membangun pengharapan mereka di atas kekayaan duniawi mereka, seakan-akan ini adalah bukti anugerah Allah (Hos. 12:9). Ada pula yang membangunnya di atas dasar pengakuan agama secara lahiriah belaka, atas dasar hak-hak istimewa yang mereka nikmati, dan tindak-tanduk mereka dalam menjalankan agama itu serta nama baik yang mereka peroleh dengan itu. Mereka disebut orang Kristen, dibaptis, ke gereja, mendengarkan perkataan Kristus, berdoa, dan tidak menyakiti siapa pun. Jika mereka binasa, kiranya Allah menolong banyak orang seperti mereka! Ini adalah terang yang berasal dari api yang mereka nyalakan sendiri dan ke dalam api itulah mereka melangkah. Di atasnyalah mereka mempercayakan diri dengan penuh keyakinan, namun semua itu sekadar pasir yang terlampau lemah untuk menanggung beban berat seperti pengharapan tentang sorga.
                [5] Bahwa ada angin badai, yang akan datang untuk menguji apa yang menjadi dasar pengharapan kita; pekerjaan masing-masing orang akan diuji (1Kor. 3:13); ia akan membuka dasarnya (Hab. 3:13). Hujan, banjir, lalu angin akan melanda rumah itu. Adakalanya ujian melanda kita di dunia ini. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, akan terlihat siapa yang hanya mendengar perkataan itu dan siapa yang mendengar serta melakukannya. Maka bila kita telah hidup dalam pengharapan kita, hal ini akan diuji apakah memang benar dan memiliki dasar yang kuat atau tidak. Bagaimanapun, saat maut dan penghukuman tiba, badai itu pun menerjang. Tidak diragukan lagi, badai ini pasti akan datang, tidak peduli seberapa teduhnya keadaan kita sekarang ini. Ketika itu, segala sesuatu kecuali pengharapan ini tidak akan mampu menolong kita, dan setelah itu, pengharapan itu akan diubahkan menjadi buah yang kekal.
                [6] Bahwa semua pengharapan yang didirikan di atas Kristus, Sang Batu Karang itu, akan tetap tegak dan melindungi orang yang mendirikannya saat badai datang. Pengharapan itu akan menjadi tempat perlindungannya, saat ia ditinggalkan dan merasa sangat gelisah. Pengakuan imannya tidak akan memudar dan penghiburan yang diterimanya tidak akan mengecewakan. Pengharapannya akan menjadi kekuatan dan nyanyiannya, seperti sauh yang kuat dan aman bagi jiwa. Saat akhir hidupnya tiba, pengharapan-pengharapan itu akan mengangkat ketakutan terhadap maut dan kubur; ia membawanya melintasi lembah kelam dengan penuh sukacita. Ia akan diterima oleh Sang Hakim, lulus dalam ujian pada hari yang agung itu, dan dimahkotai dengan kemuliaan abadi (2Kor. 1:12; 2Tim. 4:7-8). Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang.
                [7] Bahwa pengharapan yang dibangun orang bodoh di atas dasar selain Kristus pasti akan roboh diterjang badai. Pengharapan itu tidak akan memberi mereka penghiburan dan kepuasan sejati di tengah kesukaran, saat maut menjelang, dan pada hari penghukuman itu. Pengharapan semu itu tidak akan memagarinya dari godaan kemurtadan selama masa aniaya. Apakah harapan orang durhaka, kalau Allah menghabisinya, kalau Ia menuntut nyawanya? (Ayb. 27:8). Keadaannya seperti sarang laba-laba, dan seperti menghembuskan nafas. Ia akan bersandar pada rumahnya, tetapi rumahnya itu tidak tetap tegak (Ayb. 8:14-15). Rumah itu akan roboh dilanda badai pada saat orang yang membangunnya sangat membutuhkannya dan berharap bisa berteduh di dalamnya. Rumah itu roboh ketika sudah terlambat untuk membangun rumah lagi. Pengharapan orang fasik gagal pada kematiannya. Kemudian, ketika ia menyangka bahwa pengharapan itu akan membuahkan hasil, rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya. Hal ini sangatlah mengecewakan orang itu. Rasa malu dan kerugiannya sangatlah besar. Semakin tinggi manusia meletakkan harapannya, semakin dalam pulalah kejatuhannya. Ini adalah kehancuran yang paling menyakitkan bagi mereka semua yang hanya mengaku dengan bibir semata; lihatlah kehancuran Kapernaum.



SBU

MINGGU III SESUDAH PENTAKOSTA
SENIN, 11 JUNI 2018
RENUNGAN PAGI
GB.156 : 1 - Berdoa
YESUSLAH YANG LAYAK DITINGGIKAN

Yohanes 3 : 22-30
"Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil" (ay.30)

Belakangan ini, dunia televisi marak dengan tayangan-tayangan popular show. Sebut saja Indonesian Idol, KDI, Indonesian‘s Got Talent, the Voice Indonesia dan masih banyak lainnya. Konte-kontes seperti ini sepertinya sangat diminati, sehingga banyak orang berusaha menjadi kontestan di dalamnya, terlebih untuk menjadi pemenangnya. Apa sebenarnya tujuan dari mereka mengikutinya? Satu kata "popularitas". Mereka rela melakukan apapun untuk menjadi tenar dan popular, karena didalamnya ada kebesaran dan kehebatan. Mereka akan dikenal, dielukan dan ditinggikan oleh orang-orang disekitarnya. Sejak diciptakan, masnusia cenderung menjadi yang terbesar dari sesamanya, karena itu persaingan wajar terjadi dimana-mana. Namun, hal ini tidak berlaku bagi Yohanes Pembaptis. Di dalam perikop pembacaan kita, Yohanes Pembaptis menampakkan kerendahan hati yang luar biasa, meskipun ketenarannya tidak diragukan lagi. Terbukti saat ia membaptis bukan sedikit orang yang datang kepadanya, baik dari Yerusalem, seluruh Yudea, dan daerah sekitar Yordan. (bd. Mat.3: 5-6). Sebenarnya ketenarannya ini bisa menjadi dasar baginya untuk sombong dan meninggikan diri, namun justru menyatakan tentang kesaksian dirinya sangat berbeda. Di ayat 28, ia menyatakan bahwa dirinya hanyalah utusan , seorang pembuka jalan , hamba dan bukan Mesias yang selama ini dinantikan. Yohanes menyadari relasi dirinya dengan Yesus. Baginya, Yesuslah sang Mesias itu, Anak Allah yang harus menjadi isi berita tentang kabar baik. Bagi Yohanes, hanya Yesus yang layak ditinggikan dan dia harus semakin merendah di hadapan Yesus.

Kerendahan hati Yohanes ini kiranya menjadi refleksi kehidupan kita. Seringkali di dalam menjalani hidup ini kita selalu ingin menjadi yang terhebat dan ditinggikan orang lain, dalam pelayanan pun demikian. Pelayanan dilakukan bukan untuk kemuliaan nama Tuhan, melainkan agar orang lebih mengenal dan memuji kita., dibandingkan Sang Pemilik pelayanan itu sendiri. Ia harus semakin besar dan aku semakin kecil. Terpujilah nama Tuhan.

GB.156 : 2,3
Doa : (Ya Yesus Tuhan kami, ajarlah kami agar tidak menyombongkan diri dalam hidup ini, tetapi biarlah melalui karya hidup kami hanya nama-Mu yang dimuliakan)




MINGGU II SES. PENTAKOSTA
SELASA, 12 JUNI 2018
Renungan Malam
KJ.356 : 1 -Berdoa
MEMBANGUN IMAN DENGAN DASAR YANG KUAT

Matius 7:24-27
"Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang biiaksana, yang mendiirikan rumahnya di atas batu" (ay.24)

Banyak anggapan atau pandangan yang salah dari orang-orang terhadap kehidupan Kristen, baik dari kalangan non-Kristen ataupun dari orang-orang Kristen sendiri. Banyak yang berpikir menjadi Kristen itu rnudah, gampang dan enak, sehingga "menggampangkan" kehidupan kerohanian sehari-hari. Banyak orang Kristen beranggapan sudah menerima keselamatan, sehingga tidak perlu lagi bersusah payah beribadah agar masuk sorga.

Penulis injil Matius menampiikan pengajaran Yesus yang mengingatkan semua orang percaya agar menjadi manusia yang bijak daiam menjaiani kehidupan rohaninya. Orang yang menggampangkan kehidupan kerohaniannya bagaikan orang bocioh yang rnembangun rumahnya di atas pasir. Rum ah di sini menggambarkan bagaimana kehidupan kita.

Saat bicara tentang rumah, kita pasti manginginkan rumah yang baik, kokoh, aman dan nyaman untuk ditempati. Kita juga pasti mau kehidupan spiritual kita mengaiami kedamaian, kebahagiaan, sukacita, dan keselamatan. Karena itu, dasar yang digunakan haruslah kokoh clan teguh agar apapun masalah, pergumulan dan penderitaan yang menerpa kehiclupan ini, kita terus maju Karena iman yang dibangun di atas dasar yang teguh.

Lalu, bagaimana cara memiliki dasar yang teguh? Yesus mengajarkan di ayat 24, bahwa siapapun yang mendengar perkataan-Nya dan mau rnelakukan-Nya, ia bagaikan mendirikan rumah diatas batu yang akan selalu kokoh dan tidak akan rubuh sekalipun diserang hujan dan banjir. Karena itu, setialah pada Kristus dan lakukaniah setiap ajaran-Nya, maka kita akan memiliki iman yang kokoh dan teguhdan akan membawa kita kepada kedamaian serta sukacita, sekalipun daiam pergumulan. Setia itu tidak sekedar datang beribadah sekali seminggu, tidak sekadar berdoa kalau perlu saja. Setia berarti mau terus bersekutu dengan Tuhan, menemukan kehendak-Nya di daiam firman-Nya serta mau terus bertumbuh  dan berbuah, menjadi berkat.

KJ.356 : 2
Doa : (Ajar kami Tuhan agar mau terua setia hingga kami beroieh iman yang teguh, sehingga pergumulan apapun yang menghampiri, kami dapat kuat melaluinya)

Label:   Matius 7:24-27 



Khotbah Ibadah GPIB 2018

Khotbah Ibadah GPIB SELASA, 12 JUNI 2018 - MEMBANGUN IMAN DENGAN DASAR YANG KUAT - Matius 7:24-27 - MINGGU II SES. PENTAKOSTA





[isi halaman tidak ditampilkan]

Halaman Khusus Member Pemberi Donasi.
Silakan Login Terlebih Dahulu!

Belum menjadi member? Silakan Register







Halaman Bebas Akses untuk Member Donasi:



NEXT:
Khotbah Ibadah GPIB - RABU, 13 JUNI 2018 - BIJAKSANA ATAU BODOH? PILIHLAH! - Matius 25:1-13 - MINGGU II SES. PENTAKOSTA

PREV:
Khotbah Ibadah GPIB Senin, 11 Juni 2018 YESUSLAH YANG LAYAK DITINGGIKAN - Yohanes 3:31-36 - MINGGU II SES. PENTAKOSTA
Sinergypro adalah Perusahaan yang bergerak di bidang Replikasi, Duplikasi Cd, Vcd, Dvd dan juga menangani desain Grafis, Percetakan Offset Printing seperti Cover, buku, Katalog, X-Banner, Spanduk, Umbul-umbul, Kaos dll.

Kami sudah puluhan tahun di bidang ini dan sangat berpengalaman sehingga dengan keahlian yang kami punya berharap dapat memuaskan para pelanggan di dalam kerjasama dengan kami. Kami terus meningkatkan kinerja yang lebih optimal melalui ketepatan waktu, ketelitian dan hasil yang memuaskan



rss lagu-gereja.com  Register   Login  

Lagu Kotbah


songbatak.com-karaoke



JUMAT, 30 NOVEMBER 2018
Khotbah Ibadah GPIB JUMAT, 30 NOVEMBER 2018 - BELAJAR BUAK DARI KEHIDUPAN - 2 Timotius 2:1-7 - MINGGU XXVI SES. PENTAKOSTA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)
Hari ketujuh, Demikianlah riwayat langit dan bumi // TUHAN Allah, Ada kabut naik ke atas ... dan membasahi // kabut, Tuhan Allah membentuk // manusia itu dari debu tanah // membentuk // manusia itu dari debu tanah ... menghembuskan // napas hidup ke
RABU, 28 NOVEMBER 2018
RABU, 28 NOVEMBER 2018 - MENDERITA DALAM KEBENARAN, BERBAHAGIALAH - 1 Petrus 2:18-25 (SGDK) - MlNGGU XXVI SESUDAH PENTAKOSTA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU) Sabda Guna Dharma Krida (SGDK)

SELASA, 27 NOVEMBER 2018
Khotbah Ibadah GPIB SELASA, 27 NOVEMBER 2018 - MEMBERLAKUKAN APA YANG DIBERLAKUKAN TUHAN - 1 Petrus 2:7-10 - MINGGU XXVI SES. PENTAKOSTA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)

SENIN, 26 NOVEMBER 2018
Khotbah Ibadah GPIB SENIN, 26 NOVEMBER 2018 - HIDUP ADALAH UCAPAN SYUKUR - 1 Petrus 1:17-25 - MINGGU XXVI SES. PENTAKOSTA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)
Jika kamu menyebut-Nya Bapa // Hidup dalam ketakutan, Kamu telah ditebus ... bukan dengan barang yang fana // Dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus // yang mahal, Rasul Petrus menasihati mereka supaya menjalin kasih persaudaraan, Sia-sianya Ma
MINGGU, 25 NOVEMBER 2018
Khotbah Ibadah GPIB MINGGU, 25 NOVEMBER 2018 - BERHIKMAT DALAM HIDUP - 1 Korintus 10:12-13 - HARI MINGGU XXVI SES. PENTAKOSTA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)



Minggu, 04 November 2018
Tata Ibadah Hari Minggu Syukur HUT ke-8 PKLU GPIB - Minggu, 04 November 2018

JUKLAK HUT KE-8 PKLU GPIB, PESAN MS GPIB HUT ke-8 PKLU, surat pengantar hut 8 pklu, TATA IBADAH PKLU GPIB HUT Ke-8 PKLU
7 OKTOBER 2018
KOREKSI LAGU DALAM TATA IBADAH 7 OKTOBER 2018 DAN PETUNJUK PELAKSANAAN IBADAH MINGGU SELAMA BULAN OKTOBER 2018


Minggu, 07 Oktober 2018
Tata Ibadah HARI PERJAMUAN KUDUS se-DUNIA dan HARI PEKABARAN INJIL INDONESIA (HPKD/HPII) Minggu, 07 Oktober 2018

Menggunakan Tata Ibadah GEREJA KRISTEN JAWA (GKJ)



Gereja GPIB di Jakarta (Map)
Gereja GPIB di Surabaya (Map)
Gereja GPIB di Makassar (Map)
Gereja GPIB di Medan (Map)
Gereja GPIB di Bandung (Map)
Gereja GPIB di Manado (Map)
Gereja GPIB di Bekasi (Map)
Gereja GPIB di Tangerang (Map)
Gereja GPIB di Denpasar (Map)
Gereja GPIB di Bogor (Map)

SABTU, 12 JANUARI 2019
Khotbah Ibadah GPIB SABTU, 12 JANUARI 2019 - PERGANTIAN NAMA - Yesaya 65:15-16 - MINGGU EPIFANIA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)
KESALEHAN DAN KESALAHAN, Dalam hal kehormatan dan nama baik
JUMAT, 11 JANUARI 2019
Khotbah Ibadah GPIB JUMAT, 11 JANUARI 2019 - BERPALING DARI DOSA DAN KEMBALI KEPADANYA - Yesaya 65:1-7 - MINGGU EPIFANIA
Sabda Bina Umat (SBU)
Pertobatan Bangsa-bangsa Bukan Yahudi; Kefasikan Orang-orang Yahudi; Penolakan terhadap Orang-orang, BERKAT TUHAN UNTUK MEREKA YANG SETIA
KAMIS, 10 JANUARI 2019
Khotbah Ibadah GPIB KAMIS, 10 JANUARI 2019 - ANGKAT HATI PADA ALLAH - Yesaya 64:7-12 - HARI EPIFANIA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)
ALLAH TIDAK TURUN TANGAN ,
RABU, 9 JANUARI 2019
Khotbah Ibadah GPIB RABU, 9 JANUARI 2019 - KONEKSI DAN KOREKSI - Yesaya 63:15-19 (SGDK) - MINGGU EPIFANIA
Penjelasan Ayat Sabda Guna Dharma Krida (SGDK)
Permohonan Sepenuh Hati,
RABU, 9 JANUARI 2019
Khotbah Ibadah GPIB RABU, 9 JANUARI 2019 - KONEKSI DAN KOREKSI - Yesaya 63:15-19 - MINGGU EPIFANIA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)
Permohonan Sepenuh Hati, ALLAH PENYELAMAT TUNGGAL