Save Page
Matius 25:1-13
Gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh
25:1 "Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. 25:2 Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. 25:3 Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, 25:4 sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka. 25:5 Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur. 25:6 Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia! 25:7 Gadis-gadis itupun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. 25:8 Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. 25:9 Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ. 25:10 Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup. 25:11 Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu! 25:12 Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu. 25:13 Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya."

Penjelasan:


* Perumpamaan Sepuluh Gadis (25:1-13)

    Di sini dijelaskan:

    I. Bahwa yang digambarkan secara umum adalah Kerajaan Sorga, keadaan segala sesuatu di bawah pengaruh Injil, bagian lahiriah dari Kerajaan Kristus, serta pemerintahan dan keberhasilannya. Beberapa perumpamaan Kristus telah menunjukkan kepada kita bagaimana Kerajaan-Nya itu diterima pada saat kini, sebagaimana yang digambarkan dalam pasal 13. Sedangkan dalam pasal ini ditunjukkan bagaimana jadinya tatkala rahasia Allah diakhiri dan Kerajaan itu diserahkan kepada Bapa. Pelaksanaan pemerintahan Kristus terhadap mereka yang siap dan tidak siap pada hari yang mulia itu bisa digambarkan melalui perumpamaan ini; atau Kerajaan itu dijadikan bagi para warga Kerajaan itu. Orang-orang yang mengaku percaya kepada Kekristenan diibaratkan seperti sepuluh gadis ini, dan kelak mereka akan dibedakan dengan cara demikian pula.
    II. Bahwa yang digunakan sebagai penggambaran adalah kekhidmatan sebuah perkawinan. Zaman dulu, ada suatu kebiasaan yang kadang-kadang dilakukan di antara orang-orang Yahudi pada peristiwa perkawinan itu, yaitu mempelai laki-laki datang, dengan ditemani sahabat-sahabatnya, pada jauh malam ke rumah pengantin perempuan, yang menantikannya. Sang pengantin perempuan ini juga ditemani oleh sejumlah pengiring perempuan. Ketika ada pemberitahuan bahwa mempelai laki-laki sudah hampir tiba, para pengiring perempuan ini harus pergi menyongsong kedatangan mempelai laki-laki dengan membawa pelita untuk menerangi jalan mempelai laki-laki menuju rumah pengantin perempuan dengan disertai berbagai upacara dan acara resmi, untuk merayakan perkawinan ini dengan penuh sukacita. Beberapa orang menduga bahwa untuk peristiwa ini biasanya ditugaskan sepuluh orang gadis. Orang-orang Yahudi tidak pernah menyelenggarakan acara penyunatan, Paskah, atau peresmian perkawinan di tempat ibadah mereka tanpa kehadiran sekurang-kurangnya sepuluh orang. Ketika Boas menikahi Rut, ia memilih sepuluh saksi (Rut 4:2).

    Sekarang, dalam perumpamaan ini:

        . Mempelai laki-laki itu adalah Tuhan kita Yesus Kristus. Ia digambarkan seperti itu dalam Mazmur pasal 45, dalam Kidung Agung Salomo, dan sering juga dalam Perjanjian Baru. Semuanya ini berbicara mengenai kasih-Nya yang sedalam-dalamnya dan tiada bandingannya serta kovenan atau perjanjian-Nya yang setia dan tak tergoyahkan kepada tunangan-Nya, yaitu jemaat-Nya. Sekarang, orang-orang percaya dipertunangkan dengan Kristus (Hos. 2:18). Tetapi kekhidmatan perkawinan itu sendiri disimpan untuk disediakan nanti pada hari yang mulia itu, tatkala pengantin perempuan, istri Anak Domba itu, telah benar-benar siap sedia (Why. 19:7, 9).
        . Gadis-gadis ini adalah orang-orang percaya, anggota jemaat.

        Tetapi, di sini mereka diumpamakan sebagai teman-temannya (Mzm. 45:15), di tempat lain dikatakan sebagai anak-anaknya (Yes. 54:1), sebagai perhiasannya (Yes. 49:18). Mereka yang mengikuti Anak Domba itu, dikatakan sama seperti perawan (Why. 14:4). Hal ini menunjukkan kecantikan dan kemurnian mereka, karena mereka akan dibawa sebagai perawan suci kepada Kristus (2Kor. 11:2). Mempelai laki-laki itu adalah seorang raja, sehingga para gadis ini menjadi hamba perempuan yang terhormat, dara-dara yang tak terbilang banyaknya (Kid. 6:8). Namun, di sini jumlah mereka dikatakan sepuluh orang.

        . Tugas gadis-gadis ini adalah menyongsong kedatangan mempelai laki-laki, sebuah tugas yang sangat membahagiakan. Mereka datang untuk bersiap siaga melayani mempelai laki-laki itu ketika ia muncul, dan sementara itu mereka menunggu kedatangannya. Perhatikan sifat Kekristenan di sini.

        Sebagai umat Kristen, kita mengaku bahwa kita adalah:

            (1) Pelayan-pelayan yang siap melayani Kristus, menghormati-Nya sebagai mempelai laki-laki yang mulia, memuliakan nama-Nya dan mendatangkan puji-pujian bagi Dia, khususnya ketika Ia akan datang untuk dimuliakan dalam orang-orang kudus-Nya. Kita harus mengikuti-Nya sebagai pelayan-pelayan terhormat yang melayani tuan-tuan mereka (Yoh. 12:26). Meninggikan nama-Nya dan menyerukan pujian bagi Kristus yang mahamulia, inilah tugas kita.
            (2) Orang-orang yang menanti-nantikan Kristus dan kedatangan-Nya yang kedua kali. Sebagai umat Kristen, kita bukan hanya mengaku dan mencari Kristus, tetapi juga mengasihi dan merindukan kedatangan-Nya, serta bertingkah laku sepenuhnya sesuai dengan pengakuan kita itu. Kedatangan Kristus yang kedua kali merupakan pusat, tempat semua arah kehidupan beragama kita bertemu, dan padanya seluruh kehidupan ibadah kita selalu merujuk dan mengarah.
        . Perhatian utama mereka adalah memiliki terang di tangan mereka ketika sedang melayani mempelai laki-laki itu. Dengan demikian mereka dapat menghormati dan melayani Dia. Perhatikanlah, orang-orang Kristen adalah anak-anak terang. Injil adalah terang, dan mereka yang menerimanya tidak boleh hanya diterangi saja, tetapi ia juga harus bercahaya seperti bintang-bintang, harus berpegang padanya (Flp. 2:15-16). Inilah keadaan pada umumnya.

        Sekarang, mengenai sepuluh gadis ini, dapat kita amati:

            (1) Sifat mereka yang berbeda, dengan disertai bukti dan petunjuk mengenai hal itu.
                [1] Sifat mereka adalah bahwa lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana (ay. 2). Dan, hikmat melebihi kebodohan, seperti terang melebihi kegelapan, begitulah kata Salomo, seorang hakim yang cakap (Pkh. 2:13). Perhatikanlah, di antara orang-orang yang memiliki pengakuan iman dan golongan kepercayaan yang sama pun sifat-sifat mereka bisa sangat berbeda dalam pandangan Allah. Orang-orang Kristen yang tulus adalah gadis-gadis yang bijaksana, sedangkan orang-orang munafik adalah gadis-gadis yang bodoh. Dalam perumpamaan lain, orang-orang ini diibaratkan seperti orang-orang bijaksana dan bodoh yang mendirikan rumah. Perhatikanlah, mereka memang benar-benar bijaksana atau bodoh dalam hal mengurus jiwa mereka. Agama yang sejati adalah kebijaksanaan yang sejati. Dosa merupakan kebodohan, khususnya dosa kemunafikan, karena orang-orang yang sungguh bodoh adalah mereka yang menganggap diri sendiri bijak, dan mereka ini sungguh para pendosa besar, karena berlaku seolah-olah orang jujur. Karena jumlah gadis yang bijaksana sama dengan gadis yang bodoh, beberapa orang mengamati betapa Kristus sangat tulus mengingini adanya keserasian (dikutip dari Uskup Agung Tillotson), seolah-olah Ia berharap bahwa jumlah orang percaya yang sejati mendekati jumlah orang munafik, atau setidaknya Ia mau mengajar kita untuk mengharapkan yang terbaik bagi orang-orang percaya sejati, bermurah hati dan penuh kasih memikirkan hal-hal yang baik bagi mereka. Dalam menilai diri sendiri, kita harus ingat bahwa sesaklah pintu dan sedikit orang yang mendapatinya, tetapi dalam menilai orang lain, kita harus ingat bahwa Pemimpin keselamatan kita membawa banyak orang kepada kemuliaan.
                [2] Bukti dari sifat ini bisa dilihat dalam hal yang sama yang dimintai dari mereka, dan dari hal inilah mereka dihakimi.
                    Pertama, kebodohan yang dilakukan gadis-gadis bodoh itu adalah, mereka membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak (ay. 3). Mereka hanya memiliki cukup minyak untuk membuat pelita mereka menyala sesaat, untuk berpura-pura menunjukkan bahwa seolah-olah mereka ingin menyongsong mempelai laki-laki, tetapi tidak memiliki minyak dalam buli-buli mereka sebagai cadangan untuk ditambahkan ke dalam pelita seandainya mempelai laki-laki itu tertunda kedatangannya. Seperti itulah orang-orang munafik itu.
                        . Mereka tidak mempunyai pegangan yang kokoh dalam hati mereka. Mereka memiliki pelita pengakuan di tangan mereka, tetapi mereka tidak memiliki pengetahuan yang sehat, sikap yang berakar dalam, dan ketetapan hati yang mantap di dalam hati mereka, yaitu hal-hal yang diperlukan untuk membawa mereka melewati pelayanan dan pencobaan zaman sekarang. Mereka bertindak di bawah pengaruh rangsangan dari luar yang tidak mengandung kehidupan rohani. Sama seperti seorang pedagang yang mulai berusaha tanpa memiliki persediaan barang dagang, atau seperti benih yang jatuh di tanah berbatu-batu, sehingga tidak berakar.
                        . Mereka tidak memiliki pertimbangan tentang apa yang akan terjadi dan juga tidak memikirkan masa depan. Mereka membawa pelita hanya untuk dipamerkan pada saat sekarang, tetapi tidak membawa minyak sebagai persediaan. Ketidakpedulian menjadi kehancuran banyak orang percaya. Semua perhatian mereka hanya tertuju untuk memuji diri sendiri di hadapan sesama yang sekarang berhubungan dengan mereka, dan bukan untuk membuat diri mereka berkenan di hadapan Kristus yang akan muncul di hadapan mereka dalam kekekalan. Seolah-olah segala sesuatu akan beres dan baik-baik saja nanti bila keadaan saat kini juga sudah beres. Katakan kepada mereka tentang hal-hal yang masih belum terlihat sekarang, maka Anda akan menjadi seperti Lot yang berbicara kepada bakal menantu laki-lakinya dan dipandang sebagai orang yang berolok-olok saja. Mereka tidak mengumpulkan untuk masa selanjutnya, seperti bangsa semut, juga tidak mengumpulkan untuk waktu yang akan datang (1Tim. 6:19).
                    Kedua, sifat bijak gadis-gadis yang bijaksana adalah bahwa mereka membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka (ay. 4). Mereka memiliki dasar pegangan yang baik di dalam hati mereka, yang akan memelihara dan menjaga pengakuan iman mereka.
                        . Hati adalah buli-buli, dan kita harus bijak untuk selalu memenuhinya, karena dari perbendaharaan hati yang baik akan keluar barang yang baik, tetapi jika akar-akar itu menjadi busuk, maka kuntumnya akan beterbangan seperti abu.
                        . Anugerah adalah minyak yang harus kita miliki di dalam buli-buli. Di dalam tabernakel selalu tersedia minyak yang dibuat untuk penerangan (Kel. 35:14). Terang kita harus bercahaya di depan orang dalam wujud perbuatan baik. Tetapi hal itu tidak akan terjadi atau tidak akan berlangsung lama, kecuali terdapat dasar kokoh yang giat dan tertanam di dalam hati, yaitu iman di dalam Kristus serta kasih kepada Allah dan sesama kita. Dari situlah kita harus bertindak dalam segala sesuatu yang kita kerjakan dalam kehidupan beragama kita, dengan pandangan yang tertuju pada apa yang ada di hadapan kita. Mereka yang membawa minyak dalam buli-buli mungkin memiliki anggapan bahwa mempelai laki-laki itu akan menunda kedatangannya. Perhatikanlah, dalam memandang ke depan, akan baik sekali bila kita mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan yang terburuk, menyimpan cukup persediaan untuk menghadapi masa yang panjang dan sulit. Tetapi ingatlah bahwa minyak yang membuat pelita itu tetap menyala haruslah diambil dari kandil Yesus Kristus, Sang Pohon Zaitun yang besar dan baik, melalui pipa-pipa emas peraturan, seperti yang digambarkan dalam penglihatan Zakharia itu (Za. 4:2, 3,12), dan yang dijelaskan dalam Yohanes 1:16, dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia.
            (2) Kesalahan semua gadis itu selama mempelai laki-laki terlambat datang: maka mengantuklah mereka semua lalu tertidur (ay. 5).

            Perhatikan baik-baik di sini:

                [1] Mempelai laki-laki menunda kedatangannya. Dengan perkataan lain, ia tidak segera datang seperti yang mereka harapkan. Apa yang kita cari sebagai kepastian, cenderung kita sangka sebagai sesuatu yang sudah sangat dekat. Pada zaman para rasul, banyak orang membayangkan bahwa hari Tuhan sudah dekat, tetapi tidak demikian halnya. Bagi kita, Kristus tampaknya berlambat-lambat, tetapi sebenarnya Ia tidak akan bertangguh (Hab. 2:3). Terdapat sejumlah alasan yang baik bagi penundaan mempelai laki-laki itu, antara lain, ada banyak rencana dan tujuan yang masih perlu diselesaikan, semua orang pilihan harus dipanggil, kesabaran Allah harus dinyatakan, kesabaran orang-orang kudus harus diuji, penuaian di bumi harus dimatangkan, dan begitu juga penuaian di sorga. Tetapi, walaupun Kristus menunda sampai melampaui waktu kita, Ia tidak akan menunda melampaui waktu yang sudah ditetapkan.
                [2] Ketika Kristus lama tidak datang-datang juga, mereka yang menanti-nantikan Dia mulai menjadi ceroboh dan melupakan apa yang mereka nanti-nantikan. Mengantuklah mereka semua lalu tertidur, seolah-olah mereka menghentikan upaya mencari Dia, seperti yang dikatakan, "Jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?" (Luk. 18:8). Mereka yang merasa pasti bahwa kedatangan-Nya itu bersifat tiba-tiba dan menemukan bahwa hal ini tidak terjadi, cenderung merasa tidak pasti lagi mengenai kedatangan-Nya. Gadis-gadis bijaksana itu mengantuk dan gadis-gadis yang bodoh tertidur, begitulah kata beberapa orang yang membedakan keadaan mereka. Namun, bagaimanapun, mereka semuanya bersalah. Gadis-gadis bijaksana itu tetap membiarkan lampu mereka menyala, tetapi mereka tidak berusaha membuat diri sendiri tetap terjaga. Perhatikanlah, ada terlampau banyak orang Kristen yang baik, ketika sudah lama menjalani pengakuan iman mereka, menjadi lengah dalam persiapan mereka menyongsong kedatangan Kristus yang kedua kali. Mereka menghentikan sementara kepedulian mereka, mengurangi kerajinan mereka, karunia-karunia mereka tidak hidup seperti dahulu lagi, dan pekerjaan mereka juga tidak sempurna di hadapan Allah. Meskipun tidak semua kasih mereka hilang, tetapi kasih yang mula-mula telah ditinggalkan. Kalau untuk berjaga selama satu jam saja bersama Kristus sudah terasa berat bagi para murid, apalagi kalau berjaga untuk selama hidup kita. Aku tidur, kata mempelai perempuan, tetapi hatiku bangun. Perhatikan baik-baik:
                    Pertama, mereka mengantuk, kemudian mereka tertidur. Lihatlah, sedikit kecerobohan dan kelalaian bisa membuka jalan bagi kecerobohan dan kelalaian berikutnya. Mereka yang membiarkan diri mereka mengantuk, akan sangat sulit mencegah diri dari tertidur. Oleh karena itu, waspadailah awal kebusukan rohaniah; Venienti occurrite morbo -- Perhatikanlah gejala-gejala awal penyakit. Orang-orang zaman dahulu pada umumnya mengartikan keadaan mengantuk dan tertidurnya gadis-gadis ini sebagai kematian mereka. Semua orang akan mati, baik yang mempunyai hikmat maupun yang bodoh dan dungu (Mzm. 49:11), sebelum hari penghakiman. Demikianlah yang dikatakan Ferus, Antequam veniat sponsus omnibus obdormiscendum est, hoc est, moriendum -- Sebelum Mempelai Laki-laki datang, semua harus tidur, artinya, meninggal. Calvin juga berpendapat demikian. Tetapi saya berpendapat lebih baik jika hal ini kita pahami apa adanya seperti yang sudah dijelaskan di atas.
            (3) Seruan yang mengejutkan mereka untuk melayani mempelai laki-laki (ay. 6), Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Perhatikanlah:
                [1] Meskipun Kristus lama tidak datang-datang, akhirnya Ia akan datang juga. Meskipun Ia tampak lamban, Ia pasti datang. Kedatangan-Nya yang pertama juga terasa lama bagi mereka yang menantikan penghiburan bagi Israel, tetapi ketika waktunya telah genap, Ia datang juga. Begitu juga kedatangan-Nya yang kedua kali, meskipun lama ditunda, hari itu tidak akan dilupakan. Musuh-musuh-Nya akan menderita kerugian karena mereka tidak mengenal arti kesabaran, sedangkan sahabat-sahabat-Nya akan menemukan penghiburan, sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu. Tahun penuntutan bela telah ditetapkan, dan akan tiba.
                [2] Kedatangan Kristus akan terjadi pada tengah malam, ketika kita kurang mencari Dia, dan lebih suka beristirahat. Kedatangan-Nya untuk menolong dan menghibur umat-Nya sering terjadi tatkala tampaknya kebaikan sudah sangat jauh, sedangkan kedatangan-Nya untuk membuat perhitungan dengan musuh-musuh-Nya akan terjadi ketika mereka menganggap jauh hari malapetaka dari mereka. Pembunuhan anak-anak sulung di tanah Mesir dan penyelamatan bangsa Israel terjadi pada tengah malam (Kel. 12:29). Kematian sering datang pada saat yang tidak disangka-sangka, jiwa orang bodoh itu diambil pada malam hari (Luk. 12:20). Kristus akan datang pada saat Ia berkenan, untuk menunjukkan kekuasaan-Nya. Ia tidak akan memberi tahu kita waktunya, untuk mengajar kita agar tetap setia pada tugas-tugas kita.
                [3] Ketika Kristus datang, kita harus menyongsong Dia.

                Sebagai umat-Nya kita harus mengikuti semua gerakan Tuhan Yesus, dan menjumpai Dia kapan pun dan di mana pun. Ketika Ia datang kepada kita pada saat kematian, kita harus keluar dari tubuh kita, keluar dari dunia ini, untuk menyongsong Dia dengan penuh kasih sayang dan jiwa yang siap sesuai dengan harapan kita untuk berkenan bagi Dia. Songsonglah Dia merupakan seruan bagi mereka yang suka mempersiapkan diri dan benar-benar siap.

                [4] Pemberitahuan kedatangan Kristus dan seruan untuk menyongsong-Nya akan membuat orang terjaga, terdengarlah suara orang berseru. Kedatangan-Nya yang pertama tidak diketahui orang sama sekali, juga tidak ada yang berseru, Lihat, Mesias ada di sini, atau, Mesias ada di sana. Ia telah ada di dalam dunia ini, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Tetapi kedatangan-Nya yang kedua akan diketahui oleh seluruh dunia, Setiap mata akan melihat Dia. Akan ada seruan dari sorga, karena Tuhan sendiri akan turun dengan seruan "Bangkitlah kamu yang mati, dan datanglah pada hari penghakiman. Juga akan ada seruan dari bumi, seruan kepada gunung-gunung dan batu-batu karang" (Why. 6:16)
            (4) Tanggapan mereka terhadap seruan itu (ay. 7), Gadis-gadis itu pun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka, memadamkan pelita masing-masing dan mengisinya dengan minyak dan cepat-cepat pergi untuk menyambut sang mempelai laki-laki.

            Sekarang:

                [1] Melalui gadis-gadis bijaksana ini, kita melihat bagaimana persiapan yang seharusnya dibuat untuk menyongsong kedatangan mempelai laki-laki. Perhatikanlah, karena sifat kematian yang selalu datang dengan tiba-tiba, maka bahkan mereka yang telah mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin untuk menyongsong kematian itu pun harus tetap berusaha sebaik mungkin agar mereka benar-benar siap, supaya mereka kedapatan dalam perdamaian dengan Dia (2Ptr. 3:14), didapati melakukan tugas (Mat. 24:46), dan tidak kedapatan telanjang (2Kor. 5:3). Hari itu akan menjadi hari penyelidikan dan pemeriksaan, dan karena itu kita harus peduli memikirkan bagaimana keadaan kita nanti. Ketika kita melihat hari itu semakin mendekat, kita harus mengarahkan diri dengan sungguh-sungguh pada soal kematian kita, memperbarui pertobatan kita terhadap dosa, kesepakatan kita terhadap perjanjian, perpisahan kita dengan dunia ini, dan jiwa kita harus keluar menuju Allah dengan kerinduan yang pantas.
                [2] Melalui gadis-gadis yang bodoh ini, perumpamaan ini menunjukkan betapa sia-sianya keyakinan yang berlebihan itu, betapa sia-sianya mereka menyombongkan bahwa keadaan mereka baik dan bahwa mereka telah siap bagi dunia lain. Perhatikanlah, bahkan anugerah yang palsu pun akan dipakai orang untuk pamer diri ketika sedang menghadapi kematian, seperti yang telah biasa mereka lakukan sepanjang kehidupan mereka. Harapan orang munafik akan menyala terang menjelang kematian mereka, seperti kilat sebelum kematian.
            (5) Kesulitan yang dihadapi oleh gadis-gadis bodoh karena kekurangan minyak (ay. 8-9).

            Hal ini menunjukkan:

                [1] Kekalutan sebagian orang munafik ketika menghadapi keadaan mereka yang menyengsarakan, bahkan saat menjelang kematian, ketika Allah membuka mata mereka untuk melihat kebodohan mereka dan melihat mereka sendiri binasa dengan dusta yang menjadi pegangannya. Atau, bagaimanapun juga,
                [2] Hal ini menunjukkan keadaan sesungguhnya dari kesengsaraan yang akan mereka jumpai di seberang kematian sana ketika mereka dihakimi. Betapa palsunya pengakuan iman mereka itu sampai tidak dapat menolong mereka dari segala sesuatu pada hari yang mulia itu. Lihatlah apa yang terjadi.
                    Pertama, pelita mereka padam. Pelita orang-orang munafik sering kali padam dalam kehidupan ini. Ketika mereka yang telah memulai dalam Roh mengakhirinya di dalam daging, maka kemunafikan akan muncul dalam bentuk kemurtadan yang seterang-terangnya (2Ptr. 2:20). Iman pengakuan mereka memudar, nilainya hilang, harapan gagal, dan tidak ada penghiburan lagi. Betapa seringnya pelita orang fasik dipadamkan? (Ayb. 21:17). Meskipun banyak orang munafik menjaga nama baik dan kebahagiaan mereka sampai akhir hayat, tetapi apa arti semua itu kalau Allah menuntut nyawanya? (Ayb. 27:8). Jika terang orang fasik tidak dipadamkan di hadapannya, tentu akan dipadamkan di dalam dirinya (Ayb. 18:5-6). Sesungguhnya mereka akan berbaring di tempat siksaan (Yes. 50:11). Hasil pengakuan yang munafik tidak akan berguna pada hari penghakiman (Mat. 7:22-23). Pelita orang fasik dipadamkan ketika harapan mereka terbukti seperti benang laba-laba (Ayb. 8:11 dst.), dan yang masih diharapkan mereka hanyalah menghembuskan napas (Ayb. 11:20), seperti bagal Absalom yang terus berlari meninggalkan dia tersangkut di pohon tarbantin.
                    Kedua, mereka menginginkan minyak untuk digunakan ketika pelita mereka mulai padam. Perhatikanlah, mereka yang kekurangan anugerah sejati, pada suatu saat nanti pasti menyadari kekurangan mereka. Pengakuan yang hanya di kulit luar akan sangat menyenangkan hati dan mungkin mampu membawa orang berjalan cukup jauh, tetapi tidak akan membawa dia terus sampai akhir. Mungkin pelita itu akan menerangi perjalanan kehidupan di dunia ini, tetapi kabut lembah dari bayangan kematian akan memadamkannya.
                    Ketiga, dengan gembira mereka minta tolong kepada gadis-gadis bijaksana itu untuk berbagi minyak dari buli-buli mereka, Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu. Waktunya akan datang ketika orang-orang duniawi yang munafik akan melihat sendiri bagaimana tampaknya keadaan orang-orang Kristen sejati. Mereka yang sekarang membenci keketatan kehidupan beragama, pada saat kematian dan penghakiman nanti akan sungguh merindukan penghiburan penuh atas keadaan yang mereka hadapi saat itu. Mereka yang hidup ceroboh dalam menjalani kehidupan ini, sekarang ingin mati seperti kematian orang benar. Waktunya akan datang ketika orang-orang yang sekarang melecehkan kerendahan hati penyesalan dosa orang-orang kudus, dengan mudah akan tertarik untuk mengikuti dan menghargai orang-orang kudus itu sebagai sahabat karib dan penolong, yang sekarang ini mereka tempatkan bersama-sama dengan anjing penjaga kambing domba mereka. Menurut beberapa orang, ungkapan Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu berarti, "Tolong berbicaralah yang baik-baik demi kami." Tetapi tidak akan ada manusia yang bisa menjadi penjamin pada hari yang mulia itu, karena Sang Hakim mengetahui bagaimana watak setiap orang yang sebenarnya. Bukankah bagus ketika mereka terdorong untuk berkata, "Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu?"

                    Memang, itu baik, tetapi:

                        . Permintaan ini dilakukan karena mereka terpaksa merasa perlu pada saat itu. Perhatikanlah, kebutuhan akan anugerah itu baru mereka lihat tatkala mereka tahu bahwa anugerah itu akan menyelamatkan mereka. Namun, sebelum itu mereka tidak mau melihat kebutuhan akan anugerah ketika anugerah itu mau menguduskan dan memerintah atas mereka.
                        . Semua sudah terlambat. Allah hanya akan memberikan minyak jika mereka memintanya pada saat yang tepat. Mereka tidak dapat membeli lagi saat pasar telah usai, tidak ada jual beli lagi ketika keadaan menjadi gelap.
                    Keempat, teman-teman mereka tidak mau berbagi minyak dengan mereka. Penolakan orang-orang baik ini merupakan tanda penolakan Allah yang menyedihkan terhadap mereka. Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak. Penolakan yang langsung ini sebenarnya tidak ada dalam teks kitab Matius yang asli, tetapi ditambahkan oleh para penerjemah, karena (seperti yang dilakukan orang kebanyakan) gadis-gadis bijaksana ini pasti lebih memilih untuk memberikan sebuah alasan tanpa langsung menjawab tidak, daripada menjawab tidak dan tidak menyertakan alasannya. Mereka ingin menolong sesama mereka yang sedang dalam kesulitan, tetapi, mereka tidak boleh, mereka tidak dapat, mereka tidak berani melakukannya, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Kita memang harus bermurah hati terhadap orang lain, tetapi kita juga perlu ingat akan kebutuhan diri sendiri. Jadi, lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli sendiri.

                    Perhatikanlah:

                        . Orang-orang yang ingin diselamatkan harus memiliki anugerah sendiri. Meskipun kita memperoleh manfaat dari persekutuan dengan orang-orang kudus, serta dari iman dan doa mereka yang sekarang bisa membantu kita, namun pengudusan kita sendiri sangat diperlukan untuk keselamatan kita sendiri. Orang benar akan hidup oleh iman. Setiap orang akan memberi pertanggungjawaban tentang dirinya sendiri, dan karena itu baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri, karena ia tidak dapat mengerahkan orang lain pada waktu itu.
                        . Orang-orang yang memiliki anugerah terbanyak tidak memiliki apa-apa untuk disisihkan. Semua yang kita miliki tidak cukup bagi diri kita sendiri untuk berdiri di hadapan Allah. Orang-orang yang terbaik perlu meminjam dari Kristus, tetapi mereka tidak memiliki apa-apa untuk dipinjamkan kepada sesama mereka. Kita tidak bisa mengharapkan kebenaran atau kekudusan orang-orang kudus akan menyelamatkan kita, sebaliknya kita harus belajar dari hikmat gadis-gadis bijaksana, bahwa mereka memiliki minyak tetapi hanya cukup bagi diri mereka sendiri dan tidak bagi orang lain. Juga, perhatikan baik-baik, gadis-gadis bijaksana ini tidak mencela kebodohan gadis-gadis yang lalai ini, juga tidak menyombongkan kemampuan mereka untuk memprakirakan apa yang akan terjadi, atau menyusahkan mereka dengan saran yang dapat membuat mereka putus asa, tetapi memberikan saran terbaik untuk menyelesaikan masalah, Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak. Perhatikanlah, orang-orang yang melakukan kebodohan bagi jiwa mereka harus dikasihani dan bukannya dilecehkan, sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Ketika mendampingi orang yang sedang sekarat, yang telah menyia-nyiakan Allah dan jiwa mereka sepanjang hidupnya, para pelayan Tuhan harus mengarahkan orang itu untuk bertobat dan berpaling kepada Allah, supaya dia bisa berpulang bersama Kristus, karena tidak ada kata terlambat untuk pertobatan sejati. Namun demikian, pertobatan sejati itu sering datang terlambat, dan orang yang demikian akan mendapat apa yang dilakukan oleh gadis-gadis bijaksana itu kepada yang bodoh, yaitu melakukan apa yang terbaik sebisa mungkin dari yang buruk. Mereka hanya dapat mengatakan apa yang harus dilakukan, kalau belum terlambat. Tetapi, bahayanya sungguh tak terkatakan, karena tidak pasti apakah pintu masih terbuka atau tidak ketika mereka sampai. Sebenarnya nasihat itu baik, bila dilakukan pada saat yang tepat, Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ. Mereka yang menginginkan anugerah harus mencari sumbernya dan meminta sarana-sarana anugerah itu (Yes. 55:1).
            (6) Kedatangan mempelai laki-laki dan masalah perbedaan watak gadis-gadis bijaksana dan bodoh. Lihatlah apa yang terjadi.
                [1] Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu. Perhatikanlah, mereka yang menunda-nunda pekerjaan besar dalam kehidupan mereka sampai saat terakhir, besar kemungkinan tidak akan memiliki waktu untuk melakukannya. Memperoleh anugerah adalah pekerjaan yang membutuhkan waktu dan tidak dapat dilakukan dengan tergesa-gesa. Sementara jiwa malang yang tergeletak di atas ranjang sakit itu dibangunkan untuk bertobat dan berdoa, kebingungan yang mengerikan melanda dia, karena tidak tahu harus mulai dari mana atau apa yang harus dilakukan terlebih dulu, dan tiba-tiba datanglah kematian itu, datanglah penghakiman, maka tidak tuntaslah apa yang sedang dikerjakan dan binasalah jiwa yang malang itu selama-lamanya. Inilah yang akan terjadi ketika kita harus pergi membeli minyak sementara kita sudah harus menyalakan pelitanya sekarang; kita pergi mencari anugerah, sementara kita harus menggunakannya sekarang. Datanglah mempelai itu. Perhatikanlah, Tuhan Yesus kita akan datang kepada umat-Nya pada hari yang mulia itu seperti seorang Mempelai Laki-laki. Ia akan datang dalam kemegahan dan pakaian yang mewah, diiringi oleh sahabat-sahabat-Nya. Sekarang Mempelai itu diambil dari kita, dan kita berpuasa (Mat. 9:15), tetapi nanti akan ada sebuah perayaan abadi. Kemudian Mempelai itu akan menjemput pengantin perempuan-Nya, untuk berada di mana pun Ia berada (Yoh. 17:24), dan akan Ia bergirang hati melihat mempelai perempuan-Nya (Yes. 62:5).
                [2] Mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan Dia ke ruang perjamuan kawin.

                Perhatikanlah:

                    Pertama, dipermuliakan selama-lamanya berarti pergi bersama Kristus ke ruang perjamuan kawin, berada dalam kehadiran-Nya yang tiba-tiba, serta berada dalam persekutuan dan hubungan yang paling akrab dalam keadaan perhentian, sukacita, dan kelimpahan kekal.
                    Kedua, mereka, dan hanya mereka saja yang kemudian akan pergi ke sorga, yaitu mereka yang telah mempersiapkan diri untuk sorga selama berada di dunia ini, yang dipersiapkan untuk hal itu (2Kor. 5:5).
                    Ketiga, kematian yang datang tiba-tiba, dan dengan demikian kedatangan Kristus kepada kita, tidak akan menjadi halangan bagi kebahagiaan kita, kalau kita sudah terbiasa mempersiapkan diri.
                [3] Lalu pintu ditutup, seperti yang biasa dilakukan ketika semua tamu telah hadir, yaitu mereka yang akan diakui. Lalu pintu ditutup.
                    Pertama, untuk mengamankan mereka yang berada di dalam, yang sekarang dijadikan sokoguru di dalam Bait Suci Allah kita, dan mereka tidak akan keluar lagi (Why. 3:12). Adam ditempatkan di dalam taman Eden, tetapi pintunya dibiarkan tetap terbuka dan ia pergi keluar lagi. Tetapi, ketika orang-orang kudus yang dipermuliakan ditempatkan di Taman Firdaus sorgawi, pintunya ditutup.
                    Kedua, untuk memisahkan mereka yang berada di luar. Keadaan orang-orang kudus dan orang-orang berdosa akan tidak dapat diubah lagi, dan mereka yang berada di luar tetap akan berada di luar selama-lamanya. Sekarang pintu itu sempit, namun tetap terbuka, tetapi nanti akan ditutup dan dikunci, dan akan terbentang jurang yang tak terseberangi. Hal ini sama seperti tertutupnya pintu bahtera ketika Nuh telah berada di dalamnya, sehingga ia diselamatkan dan semua orang lainnya ditinggalkan.
                [4] Gadis-gadis bodoh itu datang ketika semuanya telah terlambat (ay. 11), Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu.

                Perhatikanlah:

                    Pertama, ada banyak orang yang akan berusaha masuk ke sorga ketika semuanya sudah terlambat. Sama seperti Esau yang duniawi ditolak, ketika ia hendak menerima berkat itu. Allah dan agama akan dipermuliakan oleh permohonan-permohonan yang terlambat itu, meskipun demikian orang-orang berdosa tidak akan diselamatkan karena itu. Permohonan doa yang sungguh-sungguh dan mendesak untuk menghormati Tuan, Tuan, yang sekarang diremehkan orang-orang, akan segera digunakannya dan doa itu tidak akan disebut sebagai doa orang yang berbicara dengan merengek-rengek.
                    Kedua, keyakinan orang-orang munafik yang sebenarnya sia-sia itu akan membawa mereka sangat jauh dari harapan kebahagiaan mereka. Mereka berharap dapat pergi ke gerbang sorga, meminta agar diperbolehkan masuk, dan ternyata pintu itu tertutup bagi mereka. Mereka menuju sorga dengan membawa kesombongan mereka bahwa keadaan mereka baik-baik saja, tetapi ini justru menghempaskan mereka ke neraka.
                [5] Mereka ditolak, seperti halnya Esau (ay. 12), aku tidak mengenal kamu. Perhatikanlah, kita semua harus peduli mencari Tuhan selama Ia berkenan ditemui, karena akan tiba saatnya Ia tidak berkenan ditemui. Saatnya ialah ketika mereka berseru, "Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu," dengan mengingat janji, ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Tetapi sekarang semua sudah terlambat. Hukuman itu dinyatakan dengan sungguh-sungguh, Aku berkata kepadamu, sesungguhnya, yang sama saja dengan bersumpah dalam murka-Nya, bahwa mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Nya. Hal itu menunjukkan bahwa Tuhanlah yang memutuskan dan membungkam mereka dengan perkataan itu.
    Terakhir, inilah pelajaran yang ditarik dari perumpamaan ini (ay. 13), karena itu, berjaga-jagalah. Perkataan ini telah kita baca sebelumnya (Mat. 24:42), dan di sini diulangi sebagai peringatan yang perlu mendapat perhatian kita.

    Perhatikanlah:

        . Tugas kita yang utama adalah berjaga-jaga, menjaga baik-baik jiwa kita dengan rajin dan berhati-hati. Bangunlah dan berjaga-jagalah.
        . Alasan yang baik untuk berjaga-jaga adalah karena kedatangan Tuhan kita sangat tidak menentu, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya. Oleh karena itu, setiap hari dan setiap saat kita harus siap sedia dan tidak menghentikan kesiagaan kita pada hari apa pun dalam setahun, atau jam apa pun dalam sehari. Tetapi takutlah engkau akan Tuhan setiap hari dan senantiasa.




SBU

MINGGU II SES. PENTAKOSTA
RABU, 13 JUNI 2018
Renungan Pagi
KJ.300:1 -Berdoa
SIKAP HATI YANG BENAR

Matius 8:5-13
... jawab perwira itu kepada-Nya : "Tuan, aku tidak layak... katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh" (ay.8)

Di setiap kehidupan manusia, pergumulan dan permasalahan pasti selalu hadir dan dirasakan, terkadang mengganggu dan membuat hidup ini terasa berat dijalani. Masalah hidup itu nadir tanpa memandang siapa kita, dengan masalahnya masing-masing. Pertanyaannya kemudian apa upaya kita menyeiesaikan masalah kehidupan ini? Apakah kiia menyerahkannya kepada Tuhan, atau lebih mencari pertolongan dari kekuatan dan kehebatan manusia?

Dikisahkan dalam Matius 8:5-13, seorang hamba dari perwira di Kapernaum mengalami sakit yang mangakibatkannya lumpuh, dan sangat menderita (ay.6). Lalu yang dilakukan perwira ini untuk rnenyembuhkan hambanya adalah datang kepada Yesus memohon kesembuhan hambanya. la percaya Yesus adalah sosok yang tepat untuk didatangi dan dimintai pertolongan. Akhirnya Yesus tergerak menolong perwira ini dan menyembuhkan hambanya. Padahai Yesus belum pernah mengenal siapa perwira ini. Lalu, apa yang membuat hati Yesus tergerak? Ada tiga faktor penting.

Pertama, perwira ini memiliki kasih dan tanggung jawab penuh kepada hambanya yang sedang sakit.

Kedua, ia rendah hati. Terbukti saat Yesus hendak datang kerumahnya untuk menyembuhkan hambanya, dia berkata "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku... (ay.8). Tuhan sangat mengasihi orang yang rendah hati, tetapi membenci orang yang congkak (bd.1 Ptr.5:5).

Ketiga, ia memiliki iman yang besar, bahkan Yes-us sendiri mengakuinya dan menyatakan bahwa imannya bukan saja telah membuat hambanya sembuh, tetapi juga telah rnenyelamatkannya.

Sikap hati yang benar telah membuat sang perwira keluar dari permasalahannya, menjadi berkat bag] orang lain. Sikap hati yang benar adalah sikap hati yang mau berserah kepada Yesus, mau percaya dengan sungguh kepada-Nya, dan mau mengasihi orang fain. Lalu bagaimana dengan kita? Sikap hati manakah yang kita pilih dalam menjalani hidup ini?

KJ.300:2,3
Doa : (Ya Tuhan ingatkan kami untuk memiliki sikap hati yang benar, yang mau selalu berserah kepadağMu di dalam kehidupan ini)


MINGGU II SES. PENTAKOSTA
RABU, 13 JUNI 2018
Renungan Malam
BIJAKSANA ATAU BODOH? PILIHLAH!
Matius 25:1-13

Label:   Matius 25:1-13 



Khotbah Ibadah GPIB 2018

Khotbah Ibadah GPIB - RABU, 13 JUNI 2018 - BIJAKSANA ATAU BODOH? PILIHLAH! - Matius 25:1-13 - MINGGU II SES. PENTAKOSTA





[isi halaman tidak ditampilkan]

Halaman Khusus Member Pemberi Donasi.
Silakan Login Terlebih Dahulu!

Belum menjadi member? Silakan Register







Halaman Bebas Akses untuk Member Donasi:



NEXT:
Khotbah Ibadah GPIB KAMlS, 14 JUNI 2018 - BRI PADANYA SEGENAP HIDUPMU - Matius 25:19-30 - MINGGU II SES. PENTAKOSTA

PREV:
Khotbah Ibadah GPIB SELASA, 12 JUNI 2018 - MEMBANGUN IMAN DENGAN DASAR YANG KUAT - Matius 7:24-27 - MINGGU II SES. PENTAKOSTA

Baca Garis Besar Matius

Sinergypro adalah Perusahaan yang bergerak di bidang Replikasi, Duplikasi Cd, Vcd, Dvd dan juga menangani desain Grafis, Percetakan Offset Printing seperti Cover, buku, Katalog, X-Banner, Spanduk, Umbul-umbul, Kaos dll.

Kami sudah puluhan tahun di bidang ini dan sangat berpengalaman sehingga dengan keahlian yang kami punya berharap dapat memuaskan para pelanggan di dalam kerjasama dengan kami. Kami terus meningkatkan kinerja yang lebih optimal melalui ketepatan waktu, ketelitian dan hasil yang memuaskan


Nyanyian Ibadah Gereja
English Hymns*, COUPLES FOR CHRIST SONGS (CFC SONGS)*, AG (Aradhana Geethamulu), YSMS, YJ, ADV (Himnario Adventista)*,
JB (Jiwaku Bersukacita: Pujian Sekolah Minggu), KMM, KJ, PKJ, GB, NKB, KC, Nafiri Kemenangan, Lagu GMS, PPK, PPPR, KPPK, NKI, NRM, KPRI, Buku Ende, BN (Buku Nyanyian HKBP), Buku Lagu Perkantas, KPKL, KPKA, KPJ, KLIK, DSL, LS, PKJ TORAJA, NJNE, Doding Haleluya, LKEE, Suara Gembira, Puji Syukur, Madah Bakti,
Thai Christian Song
Hebrew Christian Song
Arab Christian Song
Christian Songs In Dutch
German Christian Songs
Hindi Worship Song
Japanese Christian Song
Italian Christian Song
Lagu Rohani Batak
Lagu Rohani Ambon
Lagu Gereja Tiberias Indonesia GTI


1 Korintus 15:10-11 (1)
1 Petrus 3:18-22 (1)
1 Petrus 3:8-12 (1)
1 Petrus 4:12-19 (1)
1 Petrus 5:5-11 (1)
1 Raja-Raja 19:9-12 (1)
1 Raja-Raja 21:1-7 (1)
1 Raja-Raja 21:23-29 (1)
1 Raja-Raja 21:8-16 (1)
1 Samuel 13:1-12 (1)
1 Samuel 18:17-29 (1)
1 Samuel 1:19-28 (1)
1 Samuel 20:18-23 (1)
1 Samuel 20:35-42 (1)
1 Samuel 24:17-23 (1)
1 Tawarikh 22:1-13 (1)
1 Timotius 1:18-20 (1)
1 Yohanes 1:8-10 (1)
1 Yohanes 2:3-6 (1)
1 Yohanes 3:16-18 (1)
1 Yohanes 4:7-21 (1)
1 Yohanes 5:3-5 (1)
2 Korintus 10:12-18 (1)
2 Korintus 12:9-10 (1)
2 Korintus 3:7-11 (1)
2 Korintus 4:1-6 (1)
2 Korintus 4:13-15 (1)
2 Raja-Raja 19:4-7 (1)
2 Raja-Raja 22:12-20 (1)
2 Raja-Raja 23:15-23 (1)
2 Raja-Raja 4:25-37 (1)
2 Raja-Raja 4:44 (1)
2 Raja-Raja 4:8-24 (1)
2 Raja-Raja 5:8-14 (1)
2 Samuel 12:18-23 (1)
2 Tawarikh 30:10-27 (1)
2 Tesalonika 3:6-15 (1)
2 Timotius 3:1-9 (1)
Amos 1:11-12 (1)
Amsal 11:1-2 (1)
Amsal 15:17-18 (1)
Amsal 17:8 (1)
Amsal 23:17-18 (1)
Amsal 3:5-8 (1)
Ayub 21:1-15 (1)
Ayub 21:27-34 (1)
Ayub 22:27-30 (1)
Ayub 2:9-13 (1)
Ayub 40:1-9 (1)
Ayub 5:1-7 (1)
Ayub 7:11-21 (1)
Bilangan 14:11-19 (1)
Bilangan 6:24-26 (1)
Daniel 3:28-30 (1)
Efesus 1:19-23 (1)
Efesus 4:25-32 (1)
Efesus 5:15-21 (1)
Efesus 5:32-33 (1)
Efesus 5:6-20 (1)
Ester 5:1-8 (1)
Ester 6:12-13 (1)
Ezra 9:10-15 (1)
Filipi 1:12-26 (1)
Filipi 3:12-16 (1)
Filipi 4:2-9 (1)
Galatia 6:1-10 (1)
Habakuk 1:1-4 (1)
Habakuk 1:16-17 (1)
Habakuk 2:12-20 (1)
Habakuk 2:6-8 (1)
Habakuk 3:12-14 (1)
Habakuk 3:6-8 (1)
Hakim-Hakim 4:11-24 (1)
Hakim-Hakim 5:24-31 (1)
Ibrani 10:23-25 (1)
Imamat 23:9-14 (1)
Kejadian 11:1-9 (1)
Kejadian 12:7-9 (1)
Kejadian 16:7-16 (1)
Kejadian 1:14-19 (1)
Kejadian 1:26-31 (1)
Kejadian 1:29-31 (1)
Kejadian 21:14-21 (1)
Kejadian 21:4-7 (1)
Kejadian 28:20-22 (1)
Kejadian 2:15-17 (1)
Kejadian 2:21-25 (1)
Kejadian 2:4b-7 (1)
Kejadian 37:23-30 (1)
Kejadian 4:1-9 (1)
Keluaran 13:11-16 (1)
Keluaran 13:17-22 (1)
Keluaran 14: 15 - 25 (1)
Keluaran 20:18-21 (1)
Keluaran 32:15-24 (1)
Keluaran 32:30-35 (1)
Keluaran 34:10-17 (1)
Keluaran 3:15-22 (1)
Kisah Para Rasul 13:26-31 (1)
Kisah Para Rasul 17:16-21 (1)
Kisah Para Rasul 17:29-34 (1)
Kisah Para Rasul 18:9-17 (1)
Kisah Para Rasul 1:12-14 (1)
Kisah Para Rasul 7:54-60 (1)
Kisah Para Rasul 8:8-12 (1)
Kisah Para Rasul 9:25-31 (1)
Kolose 1:15-23 (1)
Kolose 2:1-5 (1)
Kolose 2:15-17 (1)
Kolose 3:5-11 (1)
Lukas 23:44-49 (1)
Lukas 23:55-56a (1)
Lukas 7:41-50 (1)
Lukas 9:51-56 (1)
Markaus 1:9-11 (1)
Markus 10:35-45 (1)
Markus 14:10-11 (1)
Markus 14:47-51 (1)
Markus 2:13-17 (1)
Markus 5: 25-34 (1)
Markus 6:51-52 (1)
Matius 10:37-42 (1)
Matius 14:22-26 (1)
Matius 14:30-31 (1)
Matius 15:25-28 (1)
Matius 16:24-28 (1)
Matius 19:23-26 (1)
Matius 23:13-16 (1)
Matius 25:1-13 (1)
Matius 25:19-30 (1)
Matius 4:1-4 (1)
Matius 7:24-27 (1)
Mazmur 107:25-27 (1)
Mazmur 11 (1)
Mazmur 122:6-9 (1)
Mazmur 136:23-26 (1)
Mazmur 136:7-13 (1)
Mazmur 37:7-8 (1)
Mazmur 40:12-18 (1)
Mazmur 42:7-12 (1)
Mazmur 51:1-15 (1)
Mazmur 63:7-12 (2)
Mazmur 65:10-14 (1)
Mazmur 66:1-7 (1)
Mazmur 66:13-15 (1)
Mazmur 69:14-19 (1)
Mazmur 69:31-37 (2)
Mazmur 74:18-23 (1)
Mazmur 77:17-21 (1)
Mazmur 78:17-31 (1)
Mazmur 78:39-43 (1)
Mazmur 85:5-8 (1)
Mikha 6:6-8 (1)
Nehemia 12:44-47 (1)
Nehemia 1:1-11 (1)
Nehemia 2:6-10 (1)
Nehemia 3:1-15 (1)
Nehemia 4:1-14 (1)
Nehemia 5:1-13 (1)
Nehemia 6:1-10 (1)
Nehemia 9:26-31 (1)
Obaja 1:8-16 (1)
Pengkhotbah 10:4 (1)
Pengkhotbah 7:8-12 (1)
Pengkhotbah 9:7-12 (1)
Ratapan 1:10-14 (1)
Ratapan 1:18-22 (1)
Roma 12:19-21 (1)
Roma 14:13-23 (1)
Roma 15: 22-29 (1)
Roma 15:14-21 (1)
Roma 15:30-33 (1)
Roma 16:3-16 (1)
Roma 1:18-32 (1)
Roma 2:12-16 (1)
Roma 5:1-5 (1)
Roma 8:26-35 (1)
Rut 2:1-7 (1)
Rut 4:1-6 (1)
Rut 4:13-17 (1)
Ruth 1:15-22 (1)
Titus 1:1-4 (1)
Titus 1:13-16 (1)
Titus 2:9-10 (1)
Titus 3:12-14 (1)
Titus 3:4-7 (1)
Wahyu 20:7-15 (1)
Wahyu 2:12-17 (1)
Wahyu 2:26-29 (1)
Wahyu 3:14-22 (1)
Yakobus 1:26-27 (1)
Yakobus 1:7-8 (1)
Yakobus 2:21-26 (1)
Yakobus 4:7-10 (1)
Yakobus 5:9-11 (1)
Yeremia 17:9-10 (1)
Yeremia 31:31-34 (1)
Yeremia 49:14-16 (1)
Yesaya 10:12-14 (1)
Yesaya 29:1-8 (1)
Yesaya 2:1-5 (1)
Yesaya 45:18-19 (1)
Yesaya 45:22-25 (1)
Yesaya 45:9-13 (1)
Yesaya 48:14-19 (1)
Yesaya 50:10-11 (1)
Yesaya 51:9-16 (1)
Yesaya 52:13-15 (1)
Yesaya 53:8-12 (1)
Yesaya 55:6-13 (1)
Yesaya 58:6-12 (1)
Yohanes 10:1-21 (1)
Yohanes 12:29-36 (1)
Yohanes 13:36-38 (1)
Yohanes 14:15-31 (1)
Yohanes 15:15-17 (1)
Yohanes 1:1-13 (1)
Yohanes 20:26-29 (1)
Yohanes 21:20-23 (1)
Yohanes 21:9-14 (1)
Yohanes 2:9-11 (1)
Yohanes 3:31-36 (1)
Yohanes 4:19-30 (1)
Yohanes 5:9b-18 (1)
Yohanes 8:33-36 (1)
Yohanes 9:8-11 (1)
Yosua 14:6-15 (1)
Yosua 18:8-10 (1)
Yosua 24:16-28 (1)
Yosua 4:14-24 (1)
Yosua 4:8-10 (1)
Yosua 5:7-12 (1)
Yudas 1:21-23 (1)
Yunus 4:1-11 (1)


Arsip Khotbah Ibadah GPIB 2018..


rss lagu-gereja.com  Register   Login  

Lagu Kotbah


songbatak.com-karaoke



MINGGU, 30 SEPTEMBER 2018
Khotbah Ibadah GPIB MINGGU, 30 SEPTEMBER 2018 - JANGAN MENGANDALKAN PIKIRAN KITA - 1 Samuel 13:1-12 (SGDK) - HARI MINGGU XVIII SESUDAH PENTAKOSTA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU) Sabda Guna Dharma Krida (SGDK)
TIDAK PATUH PADA PERINTAH TUHAN ADALAH PERBUATAN BODOH 1 Samuel 13:13-14
SABTU, 29 SEPTEMBER 2018
Khotbah Ibadah GPIB SABTU, 29 SEPTEMBER 2018 - SUAM-SUAM KUKU - Wahyu 3:14-22 - MINGGU XVII SES. PENTAKOSTA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)
TUHAN PEMEGANG KUNCI DAUD Wahyu 3:7-13 ||
JUMAT, 28 SEPTEMBER 2018
Khotbah Ibadah GPIB JUMAT, 28 SEPTEMBER 2018 - BINTANG TIMUR - Wahyu 2:26-29 - MINGGU XVII SES. PENTAKOSTA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)
TERUS BERTUMBUH DALAM KETEKUNAN Wahyu 2:18-25
KAMIS, 27 SEPTEMBER 2018
Khotbah Ibadah GPIB KAMIS, 27 SEPTEMBER 2018 - AJARAN BILEAM - Wahyu 2:12-17 - MINGGU XVII SES. PENTAKOSTA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)
HENDAKLAH ENGKAU SETIA SAMPAI MATI Wahyu 2:8-11 | AJARAN BILEAM Wahyu 2:12-17
RABU, 26 SEPTEMBER 2018
Khotbah Ibadah GPIB RABU, 26 SEPTEMBER 2018 - IMAN TANPA PERBUATAN ADALAH MATI - Yakobus 2:21-26 (SGDK) - MINGGU XVII SESUDAH PENTAKOSTA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU) Sabda Guna Dharma Krida (SGDK)
KESALEHAN SEMU Yakobus 2:14-20





Gereja GPIB di Jakarta (Map)
Gereja GPIB di Surabaya (Map)
Gereja GPIB di Makassar (Map)
Gereja GPIB di Medan (Map)
Gereja GPIB di Bandung (Map)
Gereja GPIB di Manado (Map)
Gereja GPIB di Bekasi (Map)
Gereja GPIB di Tangerang (Map)
Gereja GPIB di Denpasar (Map)
Gereja GPIB di Bogor (Map)