Save Page
Mazmur 42:7-12
#42-#7) Jiwaku tertekan dalam diriku, sebab itu aku teringat kepada-Mu dari tanah sungai Yordan dan pegunungan Hermon, dari gunung Mizar.
(#42-#8) Samudera raya berpanggil-panggilan dengan deru air terjun-Mu; segala gelora dan gelombang-Mu bergulung melingkupi aku.
(#42-#9) TUHAN memerintahkan kasih setia-Nya pada siang hari, dan pada malam hari aku menyanyikan nyanyian, suatu doa kepada Allah kehidupanku.
(#42-#10) Aku berkata kepada Allah, gunung batuku: "Mengapa Engkau melupakan aku? Mengapa aku harus hidup berkabung di bawah impitan musuh?"
(#42-#11) Seperti tikaman maut ke dalam tulangku lawanku mencela aku, sambil berkata kepadaku sepanjang hari: "Di mana Allahmu?"
(#42-#12) Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!


Penjelasan:


* Mazmur 42, 43. Kerinduan kepada Allah
Di sini ada dua syair yang isi dan gayanya sangat berkaitan sehingga tidak mudah dipisahkan. Kemunculan refrein yang sama dalam 42:6; 42:12; dan 43:5, fakta bahwa pasal 43 tidak memiliki judul, dan bentuk internal dua mazmur tersebut, menunjukkan bahwa mula-mula mereka merupakan komposisi tunggal. Pembagian mungkin dilakukan sesudah koleksi Elohistis, 42-83 mulai beredar. Hati pemazmur remuk karena tidak dapat melakukan ziarahnya yang lazim ke Bait Suci. Tampaknya dia hidup di Palestina bagian utara, di mana dia selalu diejek musuh-musuh yang tidak memiliki kerinduan kepada Allah, seperti yang dimilikinya. Seluruh syair itu merupakan satu keindahan puisi luar biasa, yang selalu menampilkan kerinduan dan harapan menjadi satu.

*  Mzm 42:1-5 - Jiwaku haus kepada Allah // Allah yang hidup
Sifat Kerinduannya. Jiwaku haus kepada Allah. Sebagaimana anak rusa betina (bukan anak rusa jantan) tidak dapat menyembunyikan rasa hausnya, demikian juga pemazmur tidak dapat menyembunyikan hasratnya kepada Allah yang hidup. Musuh-musuhnya, yaitu orang kafir, mengejek dia dengan ucapan tentang sikap acuh tak acuh dari Allahnya. Yang paling tidak dapat dia tahan ialah kenangan tentang hari-hari ketika dia bisa memimpin jemaah menuju perayaan-perayaan penting. Refrein dalam ayat 6 adalah rumusan indah berisi keyakinan dengan mana dia menghilangkan kesedihan hatinya.

* Mzm 42:6-11 - Samudera raya berpanggil-panggilan
Hebatnya Rasa Putus Asanya. Samudera raya berpanggil-panggilan. Lagi-lagi pemazmur tertekan hatinya, kemudian mengungkapkan keputusasaannya yang lebih menyedihkan daripada sebelumnya. Walaupun dia berusaha berdoa dan mengingat kembali betapa kasih setia Allah itu tak terukur, tetapi dia masih merasa ditinggalkan. Ingatan pada ejekan-ejekan para musuhnya bercampur dengan kerinduannya pada Bait Suci. Dia mendapat kekuatan baru dengan mengulangi rumusnya untuk memperoleh ketenangan batin.

* Berbagai Keluhan dan Penghiburan (42:7-12)
Keluhan-keluhan dan penghiburan-penghiburan di sini, sama seperti sebelumnya, silih berganti, bagaikan siang dan malam dalam peredaran alam.
    I. Ia mengeluhkan jiwanya yang tertekan, tetapi menghibur dirinya dengan pemikiran-pemikiran akan Allah (ay. 7).
        1. Dalam permasalahan-permasalahannya. Jiwanya murung, dan ia datang kepada Allah, lalu memberitahukan Dia demikian: "Ya Tuhan, jiwaku tertekan dalam diriku." Sungguh merupakan suatu dukungan yang besar bagi kita, bahwa kita bebas untuk datang kepada Allah kapan saja ketika kita sedang tertekan. Kita mempunyai kebebasan untuk berbicara di hadapan-Nya dan mencurahkan kepada-Nya penyebab-penyebab kemurungan kita. Daud sudah berbincang-bincang dengan hatinya tentang kepahitannya sendiri, namun hingga saat itu ia masih belum mendapatkan kelegaan. Oleh sebab itu, ia berbalik kepada Allah, dan mengungkapkan permasalahan itu di hadapan-Nya. Perhatikanlah, bila kita sudah berbantah dengan diri sendiri dan belum juga mendapat kelegaan bagi jiwa kita, maka kita harus mengusahakan apa yang bisa kita lakukan dengan berdoa kepada Allah dan menyerahkan permasalahan kita kepada-Nya. Kita tidak bisa menenangkan angin dan gelombang ini, namun kita tahu siapa yang bisa.
        2. Dalam ibadah-ibadahnya. Jiwanya terangkat, dan, karena sadar bahwa penyakitnya sangat nyeri, ia mengambil jalan untuk datang kepada Dia sebagai Penyembuh yang berdaulat. "Jiwaku terjerumus jauh ke dalam, oleh sebab itu, untuk mencegahnya supaya tidak tenggelam, aku akan mengingat-ingat-Mu, merenungkan-Mu, dan berseru-seru kepada-Mu, dan mencoba apa saja yang membuat jiwaku tetap terangkat." Perhatikanlah, cara untuk melupakan rasa sengsara kita adalah dengan mengingat Allah sumber belas kasihan kita. Adalah suatu keadaan yang tidak biasa terjadi ketika sang pemazmur teringat akan Allah, lalu ia kesusahan ( 77:3). Seringnya, setelah teringat akan Allah, ia terhibur, dan oleh sebab itu ia mengambil jalan yang berguna itu sekarang. Ia kini sudah terpojok sampai ke ujung perbatasan tanah Kanaan, berlindung di sana dari kegeraman para penganiayanya. Kadang-kadang ia lari ke daerah sekitar Yordan, dan apabila ditemukan di sana, ia lari lagi ke pegunungan Hermon, atau ke sebuah gunung yang bernama Mizar, yang berarti bukit (gunung) kecil. Namun,
            (1) Ke mana pun ia pergi, ia membawa serta agamanya bersama dia. Di semua tempat ini, ia mengingat Allah, dan mengangkat hatinya kepada-Nya, serta menjaga persekutuan rahasianya dengan-Nya. Inilah penghiburan bagi orang-orang yang terbuang, para pengelana, pelancong, dan mereka yang merupakan pendatang di negeri asing, bahwa undique ad c�los tantundem est vi� � di mana pun mereka berada, ada jalan yang terbuka ke arah sorga.
            (2) Di mana pun ia berada, ia tetap menyimpan rasa sayangnya akan pelataran rumah Allah. Dari tanah Yordan, atau dari puncak pegunungan, ia biasanya memandang dengan penuh kerinduan, ke arah tempat kudus, dan rindu untuk berada di sana. Jarak dan waktu tidak bisa membuatnya lupa akan apa yang begitu lekat di hatinya, sangat dekat di sana.
    II. Ia mengeluhkan tanda-tanda ketidakberkenanan Allah melawan dia, namun menghibur dirinya sendiri dengan harapan-harapan bahwa kebaikan-Nya akan kembali pada waktunya.
        1. Ia melihat bahwa permasalahannya datang karena murka Allah, dan ini menciutkan hatinya (ay. 8): "Samudera raya berpanggil-panggilan, satu penderitaan datang menimpa penderitaan yang lain, seolah-olah mereka dipanggil untuk berkejar-kejaran. Dan air terjun-Mu memberikan petunjuk serta meniupkan sangkakala peperangan." Yang dimaksudkan di sini mungkin kengerian dan kegelisahan batinnya saat merasakan murka Allah. Satu pikiran yang menakutkan mengundang pikiran takut yang lain, dan membuka jalan baginya, seperti yang biasa terjadi pada orang-orang yang sedang bersusah hati. Air bah kesedihan melandanya, dan ia kewalahan menghadapinya, seperti air bah pada zaman dulu, ketika tingkap-tingkap langit terbuka dan segala mata air samudra raya terbelah. Atau ini merupakan rujukan pada kapal di laut di tengah-tengah badai besar, yang diombang-ambingkan oleh amukan gelombang, yang naik melingkupinya ( 107:25). Apa pun gelombang dan gelora penderitaan yang melingkupi kita pada setiap waktu, kita harus menyebut itu adalah gelombang dan gelora Allah, agar kita dapat merendahkan diri kita di bawah tangan-Nya yang perkasa, dan dapat mendorong diri kita sendiri untuk berharap bahwa meskipun kita terancam, kita tidak akan binasa. Gelombang dan gelora bergulung di bawah kendali ilahi. Dari pada suara air yang besar ini, lebih hebat TUHAN di tempat tinggi. Janganlah orang baik menganggapnya aneh jika mereka diuji dengan banyak dan beragam pencobaan, dan jika pencobaan-pencobaan itu menimpa mereka dengan begitu berat. Allah tahu apa yang diperbuat-Nya, dan mereka pun akan mengetahuinya sebentar lagi. Yunus, di dalam perut ikan, mengucapkan kata-kata Daud ini (Yun. 2:3) (kata-kata itu persis sama dalam bahasa aslinya), dan perkataan itu benar-benar terjadi pada diri Yunus secara nyata, segala gelora dan gelombang-Mu melingkupi aku. Memang, Kitab Mazmur dirancang sedemikian rupa supaya dapat menjangkau permasalahan setiap orang.
        2. Ia mengharapkan pembebasannya datang dari kebaikan Allah (ay. 9): TUHAN memerintahkan kasih setia-Nya. Banyak hal memang buruk, tetapi tidak semua selalu demikian. Non si male nunc et olim sic erit � Meskipun perkara-perkara yang sekarang dihadapi sangat jahat, tidak akan selalu demikian. Seusai badai, akan datang ketenangan, dan pengharapan akan hal ini menguatkan Daud ketika samudra raya berpanggil-panggilan.
            Perhatikanlah:
            (1) Apa yang dijanjikannya bagi dirinya sendiri mengenai Allah: TUHAN akan memerintahkan kasih setia-Nya. Ia memandang kebaikan Allah sebagai sumber dari segala kebaikan yang dicarinya. Kebaikan-Nya itu adalah hidup, kebaikan-Nya lebih baik daripada hidup, dan dengan kebaikan itu Allah akan mengumpulkan orang-orang yang dari mereka Dia telah, dalam murka sesaat, menyembunyikan wajah-Nya (Yes. 54:7-8). Penganugerahan kebaikan oleh Allah ini disebut dengan Ia memerintahkankebaikan-Nya itu. Ini menunjukkan bahwa kebaikan itu diberikan secara cuma-cuma. Kita tidak bisa mengaku-ngaku berjasa untuk menerimanya. Sebaliknya, kebaikan itu dikaruniakan tanpa ada paksaan dari penguasa, yakni Dia memberi seperti seorang raja. Ini juga menunjukkan bahwa kebaikan itu sungguh punya kemampuan untuk membuahkan hasil. Ia mengucapkan kasih setia-Nya, dan membuat kita mendengarnya. Ia berkata, lalu itu jadi. Ia memerintahkan kemenangan ( 44:5), memerintahkan berkat ( 133:3), sebagai yang empunya hak dan kuasa untuk itu. Dengan memerintahkan kasih setia-Nya, Ia memerintahkan gelombang dan gelora untuk reda, dan mereka akan mematuhi-Nya. Ini akan dilakukan-Nya pada siang hari, sebab kasih setia Allah akan membawa hari yang cerah pada jiwa kapan saja. Meskipun tangisan terdengar sepanjang malam, malam yang panjang, menjelang pagi terdengar sorak-sorai.
            (2) Apa yang dijanjikannya kepada Allah bagi dirinya sendiri. Jika Allah memerintahkan kasih setia-Nya baginya, maka ia akan menerimanya dan menyambutnya, dengan segala perasaan dan ibadahnya yang terbaik.
                [1] Ia akan bersukacita di dalam Allah: Pada malam hari aku menyanyikan nyanyian. Belas kasihan yang kita terima pada siang hari harus kita syukuri pada malam hari. Ketika orang lain tertidur, kita harus memuji Allah ( 119:62), tengah malam aku bangun untuk bersyukur kepada-Mu. Dalam keheningan dan kesendirian, ketika kita mengundurkan diri dari hiruk-pikuk dunia ini, kita harus menyenangkan diri kita dengan pemikiran-pemikiran akan kebaikan Allah. Atau pada malam penderitaan: "Sebelum fajar merekah, ketika Allah memerintahkan kasih setia-Nya, aku akan menyanyikan nyanyian puji-pujian dalam pengharapanku akan datangnya kasih setia-Nya." Bahkan dalam kesengsaraan, orang-orang kudus dapat bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah, bernyanyi dalam pengharapan, dan memuji dalam pengharapan (Rm. 5:2-3). Adalah hak istimewa Allah untuk memberi nyanyian pujian di waktu malam (Ayb. 35:10).
                [2] Ia akan mencari Allah dengan terus bergantung kepada-Nya: Doaku akan kupanjatkan kepada Allah kehidupanku. Pengharapan dan kepercayaan kita akan belas kasihan Allah �tidak boleh menggantikan, tetapi justru mendorong, doa-doa kita untuk menerimanya. Allah adalah Allah kehidupan kita, di dalam Dia kita hidup dan bergerak, Sang Pencipta dan Pemberi semua penghiburan bagi kita. Oleh sebab itu, kepada siapa lagi kita harus datang dengan doa selain kepada-Nya? Dan dari Dia, kebaikan apakah yang tidak boleh kita harapkan? Doa-doa kita akan hidup jika kita memandang Allah sebagai Allah kehidupan kita. Untuk kehidupan kitalah, dan kehidupan jiwa kita, kita berdiri untuk mengajukan permohonan.
    III. Ia mengeluhkan penghinaan musuh-musuhnya, namun menghibur dirinya sendiri di dalam Allah sebagai sahabatnya (ay. 10-12).
        1. Keluhannya adalah bahwa musuh-musuhnya menekan dan mencela dia, dan ini membuatnya sangat tertekan.
            (1) Mereka menekannya sedemikian rupa sehingga ia berkabung dari hari ke hari, dari tempat ke tempat (ay. 10). Ia tidak melampiaskan perasaannya dengan cara yang tidak pantas, meskipun sudah dilecehkan seperti yang belum pernah dialami oleh siapa pun, tetapi menangisi kesedihannya secara diam-diam, dan pergi berkabung. Dan kita tidak bisa menyalahkannya untuk ini: orang yang benar-benar mencintai negerinya, dan mengusahakan kebaikan untuknya, pasti akan merasa sedih melihat dirinya sendiri dikejar-kejar dan hampir tidak pernah dimanfaatkan, seolah-olah ia musuh bagi negerinya sendiri. Namun, dari sini Daud tidak boleh menyimpulkan bahwa Allah telah melupakannya dan membuangnya. Ia juga tidak boleh berbantah dengan-Nya seperti itu, seolah-olah Allah telah berbuat salah kepadanya dengan membiarkannya diinjak-injak seperti orang-orang itu menginjak-injak dia: Mengapa aku harus hidup berkabung? Dan mengapa Engkau melupakan aku? Kita boleh berkeluh kesah kepada Allah, namun kita tidak boleh mengeluhkan Dia seperti itu.
            (2) Mereka mencelanya dengan begitu menusuk sehingga celaan itu terasa seperti tikaman maut ke dalam tulangnya (ay. 11). Ia sudah menyebutkan sebelumnya celaan apa yang menusuk sampai ke dalam jiwanya, dan di sini ia mengulanginya: Mereka berkata kepadaku sepanjang hari: "Di mana Allahmu?"Ini suatu celaan yang sangat menyakitkan baginya, karena celaan itu menghina kehormatan Allah dan diniatkan untuk mematahkan pengharapannya kepada Allah. Ia masih memiliki cukup pengharapan itu, tetapi harus dijaganya untuk tetap bertahan, dan itu pun cenderung mudah sirna.
        2. Penghiburannya adalah bahwa Allah adalah gunung batunya (ay. 10), yaitu gunung batu yang di atasnya ia dapat mendirikan bangunan, dan gunung batu yang dapat digunakannya sebagai tempat berlindung. Gunung batu yang abadi, yang di dalam-Nya terdapat kekuatan kekal, akan menjadi gunung batunya, kekuatan dalam dirinya, baik untuk melakukan sesuatu maupun untuk menanggung suatu penderitaan. Kepada-Nya ia bebas datang dengan penuh keyakinan. Kepada Allah gunung batunya ia bisa mengatakan apa yang harus dikatakannya, dan yakin bahwa ia akan didengarkan dengan penuh rahmat. Oleh sebab itu, ia mengulangi apa yang sudah dikatakannya sebelumnya (ay. 6), dan menutupnya dengan perkataan itu (ay. 12): "Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku?" Duka dan rasa takutnya berteriak-teriak dengan nyaring dan menyusahkan jiwanya. Semuanya itu tidak bisa dibungkam meskipun sudah ditanggapi berkali-kali. Namun di sini, pada akhirnya, imannya keluar sebagai pemenang dan mendesak mundur musuh-musuhnya dari medan pertempuran. Dan ia pun meraih kemenangan ini,
            (1) Dengan mengulangi apa yang sudah dikatakannya sebelumnya, yaitu menegur dirinya sendiri, sama seperti sebelumnya, atas segala kemurungan dan kegelisahannya, dan mendorong dirinya sendiri untuk percaya pada nama Tuhan, dan untuk tetap berpegang pada Allahnya. Perhatikanlah, sangatlah berguna juga bagi kita untuk memikirkan kembali hal-hal yang baik berulang-ulang, dan jika kita tidak berhasil pada kali pertama, mungkin kita akan berhasil pada kali kedua. Namun bagaimanapun juga, jika hati kita turut sejalan dengan perkataan kita, maka ini bukan pengulangan yang sia-sia. Kita perlu menekankan hal yang sama secara berulang kali dalam hati kita, dan semua itu harus kita lakukan sedikit demi sedikit.
            (2) Dengan menambahkan satu kata ke dalamnya, pada ayat 6 ia berharap untuk memuji Allah atas keselamatan yang ada pada wajah-Nya (kjv), sementara pada ayat 12ini, "Aku akan memuji-Nya," (kjv) ujarnya, "sebagai Allah yang menyelamatkan wajahku dari awan kelabu yang menyelimutiku pada saat ini. Jika Allah tersenyum kepadaku, maka itu akan membuatku tampak menyenangkan, akan membuatku menengadah, menatap ke depan, dan menengok ke sekelilingku dengan hati senang." Ia menambahkan, dan Allahku, "yang berhubungan denganku, yang mengikat kovenan denganku. Segala sesuatu tentang Dia, segala sesuatu yang dimiliki-Nya, adalah milik-Ku, sesuai dengan niat dan maksud yang sebenarnya dari janji itu." Pemikiran ini memampukan dia untuk menang atas segala duka dan ketakutannya. Keberadaan Allah bersama orang-orang kudus di sorga, dan kedudukan-Nya sebagai Allah mereka, adalah sesuatu yang akan menghapus segala air mata dari mata mereka (Why. 21:3-4).


SBU


MINGGU VII SES. PENTAKDSTA
KAMIS, 19 JULI 2018
Renungan Pagi
KJ.448:1,2 -Berdoa
MANUSIA YANG MANUSIAWI

Mazmur 42:1-6
"Bilakah aku boleh datang dan melihat Allah'? (ay.3)

Bani Korah adalah salah satu rumpun keluarga dari keiurunan Lewi. Mereka adalah pelayan Bait Suci sebagai penyanyi yang melantunkan puji-pujian mengiringi lbadah Israel di Bait Suci. Pada suatu hari raya, umat Israel berarak-arakan menuju Bait Suci. Di bagian depan, Bani Korah menyanyikan pujl-pujian. Mereka mengumandangkan Mazmur pengajaran. Dalarn Mazmur ini, Bani Korah mengungkapkan penderitaan batin mereka di tanah pembuangan di Babel.

Ayat 1-6 merupakan rumpun atau bait pertama Mazmurnya. Mengungkapkan penderitaan batin mereka sebagai orang buangan, Allah dianggap kalah lerhadap dewa orang Babel dan menjadi olokan "Dimana Allahmu?" (ay.4). Cibiran ini merupakan beban rnoril yang sangat berat. Perhatikan Mazmurnya "Bilakah aku boleh datang dan melihat Allah ?" (ayat-3). Mereka ingin cepat pulang, rnenyanyi, menari dan bersorak dihadapan Allah di Bait Suci. Mereka yakin, suatu hari kelak mereka kembali dan bersyukur lagi kepada Allah, pelindung dan penolong mereka (ayat-6). Mazmur ini suatu pengajaran agar Israel menjadi bangsa yang rnerdeka, bersikap adil, beradab dan menjunjung tinggi kasih, sesuai perintah Taurat Tuhan.

Mazmur ini, mengajak umat Tuhan masa kini agar mawas diri, jangan menyalahgunakan kemerdekaan dengan rnenjadi orang yang lebih kejam dari penjajah. Jangan menjadi pembunuh karakter dan merusak kemampuan seeama untuk turut membangun hidup bersarna dalam keluarga, gereja dan bangsa.

Milikilah kasih agar sesama menikmati keselamatan, hidupnya berarti dan memiliki andil dalam pembangun keluarga, gereja, bangsa clan negaranya.

KJ.448:3,4
Doa : (Tuhan, tolung saya mengasihi sesama)




MINGGU VII SES. PENTAKDSTA
KAMIS, 19 JULI 2018
Renungan Malam
KJ.434: 1,3 -Berdoa
ALLAH SUMBER PENGHARAPAN

Mazmur 42:7-12
Seperti tikaman maut ke dalam tulangku, iawanku mencela aku" (ay.11)

Malam ini kita membaca bagian ke-2 Mazmur pengajaran Bani Koran, yaitu ayat 7-12. Daiam bacaan diungkapkan penderitaan batin mereka yang sangat dalam dan menghancurkan jiwa atau perasaan mereka. Orang Babel sebagai penjajah, selalu mencibir mereka sebagai orang bodoh yang rnenyembah Allah yang lemah. yang tak berdaya menolong sehingga mereka dikalahkan. Di mana Allahmu? Ia lari bersembunyi, maninggalkan Israel dan membiarkan mereka sengsara. Itu cibiran yang menyakitkan.

Ucapan yang merendahkan harga diri, mengecilkan kebangsaan, dan menekan perasaan batin Israei sangat melukai dan menghancurkan. Semua celaan itu bagaikan lawan menikam tuiang, rasanya. Bukan saja sakit tetapi juga ngilu. Sangat perih sekali, biia tidak kuat hati bisa menyebabkan pingsan. Tetapi Roh Tuhan memberi kekuatan dan ingat kepada Tuhan sumber pengharapan. Dialah pelindung dan penolong dalam kesusahan dan penderitaan rnereka. Ia akan melepaskan mereka.

Saudara, ingatlah Tuhan ketika saudara dalam penderitaan yang luar biasa berat dan sakitnya. Tuhan itu mendengar teriakan mereka yang lemah dan minta tolong. Dia akan datang dengan jawaban pertolongan, yakni membebaskan dari semua penderitaan yang
dialami.

Sepedih, sesulit dan seberat apapun pengalaman hidup yang sedang kita jalani, tak acla yang mustahil bagi Tuhan untuk melakukan pembebasan. Ia Maha kuasa, tidak pernah teriambat dan gagal dalam menolong mereka yang percaya dan berharap pada-Nya. Teruslah mengandalkan-Nya.

KJ.434:4
Doa : (Aku percaya, Tuhan itu Juruselamatku)

Label:   Mazmur 42:7-12 



Khotbah Ibadah GPIB 2018

Khotbah Ibadah GPIB KAMIS, 19 JULI 2018 - ALLAH SUMBER PENGHARAPAN - Mazmur 42:7-12 - MINGGU VII SES. PENTAKDSTA





[isi halaman tidak ditampilkan]

Halaman Khusus Member Pemberi Donasi.
Silakan Login Terlebih Dahulu!

Belum menjadi member? Silakan Register







Halaman Bebas Akses untuk Member Donasi:



NEXT:
Khotbah Ibadah GPIB JUMAT, 20 JULI 2018 - TUHAN PENOLONGKU Mazmur 63 :7-12 - MINGGU VII SES. PENTAKOSTA

PREV:
Bacaan Alkitab GPIB RABU, 18 JULI 2018 - KEJATUHAN DAN CIBIRAN - Mazmur 40:12-18 - MINGGU VII SES. PENTAKOSTA
Sinergypro adalah Perusahaan yang bergerak di bidang Replikasi, Duplikasi Cd, Vcd, Dvd dan juga menangani desain Grafis, Percetakan Offset Printing seperti Cover, buku, Katalog, X-Banner, Spanduk, Umbul-umbul, Kaos dll.

Kami sudah puluhan tahun di bidang ini dan sangat berpengalaman sehingga dengan keahlian yang kami punya berharap dapat memuaskan para pelanggan di dalam kerjasama dengan kami. Kami terus meningkatkan kinerja yang lebih optimal melalui ketepatan waktu, ketelitian dan hasil yang memuaskan



rss lagu-gereja.com  Register   Login  

Lagu Kotbah


songbatak.com-karaoke



JUMAT, 30 NOVEMBER 2018
Khotbah Ibadah GPIB JUMAT, 30 NOVEMBER 2018 - BELAJAR BUAK DARI KEHIDUPAN - 2 Timotius 2:1-7 - MINGGU XXVI SES. PENTAKOSTA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)
Hari ketujuh, Demikianlah riwayat langit dan bumi // TUHAN Allah, Ada kabut naik ke atas ... dan membasahi // kabut, Tuhan Allah membentuk // manusia itu dari debu tanah // membentuk // manusia itu dari debu tanah ... menghembuskan // napas hidup ke
RABU, 28 NOVEMBER 2018
RABU, 28 NOVEMBER 2018 - MENDERITA DALAM KEBENARAN, BERBAHAGIALAH - 1 Petrus 2:18-25 (SGDK) - MlNGGU XXVI SESUDAH PENTAKOSTA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU) Sabda Guna Dharma Krida (SGDK)

SELASA, 27 NOVEMBER 2018
Khotbah Ibadah GPIB SELASA, 27 NOVEMBER 2018 - MEMBERLAKUKAN APA YANG DIBERLAKUKAN TUHAN - 1 Petrus 2:7-10 - MINGGU XXVI SES. PENTAKOSTA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)

SENIN, 26 NOVEMBER 2018
Khotbah Ibadah GPIB SENIN, 26 NOVEMBER 2018 - HIDUP ADALAH UCAPAN SYUKUR - 1 Petrus 1:17-25 - MINGGU XXVI SES. PENTAKOSTA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)
Jika kamu menyebut-Nya Bapa // Hidup dalam ketakutan, Kamu telah ditebus ... bukan dengan barang yang fana // Dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus // yang mahal, Rasul Petrus menasihati mereka supaya menjalin kasih persaudaraan, Sia-sianya Ma
MINGGU, 25 NOVEMBER 2018
Khotbah Ibadah GPIB MINGGU, 25 NOVEMBER 2018 - BERHIKMAT DALAM HIDUP - 1 Korintus 10:12-13 - HARI MINGGU XXVI SES. PENTAKOSTA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)



Minggu, 04 November 2018
Tata Ibadah Hari Minggu Syukur HUT ke-8 PKLU GPIB - Minggu, 04 November 2018

JUKLAK HUT KE-8 PKLU GPIB, PESAN MS GPIB HUT ke-8 PKLU, surat pengantar hut 8 pklu, TATA IBADAH PKLU GPIB HUT Ke-8 PKLU
7 OKTOBER 2018
KOREKSI LAGU DALAM TATA IBADAH 7 OKTOBER 2018 DAN PETUNJUK PELAKSANAAN IBADAH MINGGU SELAMA BULAN OKTOBER 2018


Minggu, 07 Oktober 2018
Tata Ibadah HARI PERJAMUAN KUDUS se-DUNIA dan HARI PEKABARAN INJIL INDONESIA (HPKD/HPII) Minggu, 07 Oktober 2018

Menggunakan Tata Ibadah GEREJA KRISTEN JAWA (GKJ)



Gereja GPIB di Jakarta (Map)
Gereja GPIB di Surabaya (Map)
Gereja GPIB di Makassar (Map)
Gereja GPIB di Medan (Map)
Gereja GPIB di Bandung (Map)
Gereja GPIB di Manado (Map)
Gereja GPIB di Bekasi (Map)
Gereja GPIB di Tangerang (Map)
Gereja GPIB di Denpasar (Map)
Gereja GPIB di Bogor (Map)

SABTU, 12 JANUARI 2019
Khotbah Ibadah GPIB SABTU, 12 JANUARI 2019 - PERGANTIAN NAMA - Yesaya 65:15-16 - MINGGU EPIFANIA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)
KESALEHAN DAN KESALAHAN, Dalam hal kehormatan dan nama baik
JUMAT, 11 JANUARI 2019
Khotbah Ibadah GPIB JUMAT, 11 JANUARI 2019 - BERPALING DARI DOSA DAN KEMBALI KEPADANYA - Yesaya 65:1-7 - MINGGU EPIFANIA
Sabda Bina Umat (SBU)
Pertobatan Bangsa-bangsa Bukan Yahudi; Kefasikan Orang-orang Yahudi; Penolakan terhadap Orang-orang, BERKAT TUHAN UNTUK MEREKA YANG SETIA
KAMIS, 10 JANUARI 2019
Khotbah Ibadah GPIB KAMIS, 10 JANUARI 2019 - ANGKAT HATI PADA ALLAH - Yesaya 64:7-12 - HARI EPIFANIA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)
ALLAH TIDAK TURUN TANGAN ,
RABU, 9 JANUARI 2019
Khotbah Ibadah GPIB RABU, 9 JANUARI 2019 - KONEKSI DAN KOREKSI - Yesaya 63:15-19 (SGDK) - MINGGU EPIFANIA
Penjelasan Ayat Sabda Guna Dharma Krida (SGDK)
Permohonan Sepenuh Hati,
RABU, 9 JANUARI 2019
Khotbah Ibadah GPIB RABU, 9 JANUARI 2019 - KONEKSI DAN KOREKSI - Yesaya 63:15-19 - MINGGU EPIFANIA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)
Permohonan Sepenuh Hati, ALLAH PENYELAMAT TUNGGAL