Save Page
Matius 16:24-28
16:24 Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. 16:25 Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. 16:26 Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai
ganti nyawanya? 16:27 Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya. 16:28 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja
dalam Kerajaan-Nya."


Penjelasan:

* Harga Nyawa (16:24-28)
    Setelah Kristus memberitahukan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus menderita, dan bahwa Ia telah siap dan bersedia untuk menderita, Ia memberi tahu murid-murid-Nya sekarang bahwa mereka juga harus ikut menderita, dan harus siap dan bersedia untuk itu. Perkataan dalam ayat-ayat ini sungguh sangat bernilai maknanya.
    I. Di sinilah asas-asas pemuridan diletakkan dan persyaratannya ditetapkan, dan berdasarkan asas-asas inilah kita memperoleh kehormatan dan manfaat sebagai murid (ay. 24). Hal ini dikatakan-Nya kepada murid-murid-Nya, supaya bukan saja mereka harus mengajarkannya kepada orang lain, tetapi juga supaya mereka menggunakan asas-asas ini
untuk menguji keamanan diri mereka sendiri.

    Perhatikanlah:
        . Apa artinya menjadi murid Kristus itu. Artinya, mengikuti Dia.
       Ketika Kristus memanggil para murid-Nya, Ia mengucapkan kata-kata perintah, "Ikutlah Aku." Murid Kristus yang sejati adalah seorang yang mengikut Dia di dalam menjalankan tugas, dan akan terus mengikut Dia sampai mencapai kemuliaan-Nya. Orang itu harus mengikut Dia, bukan mengatur-ngatur Dia melakukan ini dan itu, seperti yang barusan
diperbuat Petrus yang lupa daratan. Seorang murid Kristus akan mengikut Dia, seperti domba mengikut gembalanya, seperti pelayan yang mengikut tuannya, prajurit yang mengikut komandannya. Ia adalah orang yang menuju kepada tujuan akhir yang sama dengan yang dituju Kristus, yaitu kemuliaan Allah dan kemuliaan sorga. Ia seorang yang berjalan di jalan yang sama yang dilalui Kristus, dipimpin oleh Roh-Nya, mengikuti jejak langkah-Nya, tunduk kepada perintah-perintah-Nya, dan mengikuti Anak Domba itu ke mana saja Ia pergi (Why. 14:4).

        . Hal-hal besar apa yang disyaratkan Kristus bagi orang-orang yang ingin menjadi murid-Nya. Setiap orang yang mau mengikut Aku, ei tis thelei -- Jikalau ada yang bersedia datang. Hal ini menunjukkan adanya pilihan yang disengaja. Ada sukacita, dan ketetapan hati di dalam pilihan itu. Banyak orang menjadi murid lebih karena kebetulan atau karena
keinginan orang lain, daripada karena kehendak sendiri. Namun Kristus menghendaki para pengikut-Nya datang dengan sukarela (Mzm. 110:3). Seolah-olah Kristus berkata, "Jika di antara orang-orang ini ada yang bukan murid-Ku, tetapkanlah hatimu terlebih dahulu untuk mengikut-Ku, dan jika kamu memang murid-Ku, maka tetapkanlah hatimu juga untuk taat kepada-Ku, sesuai dengan persyaratan ini, yang ini, dan bukan yang lain. Engkau harus mengikut Aku dalam penderitaan dan dalam berbagai hal lain. Karena itu, ketika engkau duduk untuk menghitung harganya, hitunglah berdasarkan persyaratan itu." Sekarang, apakah persyaratan-persyaratan itu?
            (1) Ia harus menyangkal dirinya. Sebelumnya Petrus menasihati Kristus untuk menyayangkan diri-Nya sendiri, dan dia mungkin akan memberi nasihat yang sama untuk kasus yang serupa. Namun, Kristus memberi tahu mereka semua, bahwa mereka harus sangat jauh dari menyayangkan diri mereka sendiri, dan malah sebaliknya, harus
menyangkal diri sendiri. Dalam hal ini mereka harus mengikut Kristus, karena kelahiran-Nya, kehidupan-Nya, dan kematian-Nya, semua merupakan tindakan penyangkalan diri yang tiada henti-hentinya, sebuah pengosongan diri sendiri (Flp.2:7-8). Penyangkalan diri memang merupakan pelajaran yang sulit dan keras, dan bertentangan dengan watak daging dan darah. Namun, tindakan ini tidak lebih dari apa yang telah dipelajari dan dikerjakan oleh Guru kita di
hadapan kita dan untuk kita, keduanya untuk penebusan kita dan sebagai petunjuk bagi kita. Lagi pula seorang hamba tidak lebih dari tuannya. Perhatikanlah, semua murid dan pengikut Yesus Kristus harus menyangkal diri mereka sendiri.

Inilah aturan dasar untuk bergabung di dalam sekolah Kristus. Pelajaran pertama dan besar yang akan dipelajari di sekolah ini adalah menyangkal diri sendiri. Aturan dan pelajaran ini merupakan pintu yang sesak dan jalan yang sempit. Keduanya perlu bagi kita sebagai dasar untuk mempelajari pelajaran-pelajaran baik lainnya yang akan diajarkan kemudian. Kita harus menyangkal diri kita sendiri sepenuh-penuhnya, kita tidak boleh mengagumi bayangan kita sendiri atau melampiaskan suasana hati kita sendiri yang uring-uringan. Kita tidak boleh bersandar pada pengertian kita sendiri atau mencari kepentingan diri sendiri, juga tidak boleh hidup untuk tujuan kita sendiri. Kita harus menyangkal diri untuk suatu tujuan, harus menyangkal diri bagi Kristus, bagi kehendak-Nya dan kemuliaan-Nya, dan melayani kepentingan-Nya di dunia ini. Kita harus menyangkal diri demi saudara-saudara kita dan demi kebaikan mereka. Dan kita harus menyangkal diri demi kebaikan diri kita sendiri, menyangkal nafsu tubuh jasmani demi kebaikan jiwa kita.
            (2) Ia harus memikul salibnya. Yang dimaksudkan dengan salib di sini adalah seluruh penderitaan kita, baik yang kita derita sebagai manusia maupun sebagai orang Kristen, meliputi segala kemalangan karena ketentuan ilahi, penganiayaan oleh karena kebenaran, setiap masalah yang menimpa kita, baik karena berbuat baik ataupun karena tidak melakukan sesuatu yang jahat. Segala kesukaran yang kita derita sebagai orang Kristen sangat cocok disebut salib-salib, karena mengingatkan kita akan kematian di atas kayu salib, yang dialami Kristus karena ketaatan-Nya.

Salib-Nya itu seharusnya membuat kita bersedia menerima segala kesukaran kita dan tidak usah takut kepadanya. Salib-Nya itu seharusnya membuat kita sadar bahwa sama dengan Dia, kita juga harus menanggung kesukaran, karena Dia juga telah menanggungnya sebelumnya bagi kita.

            Perhatikanlah:
                [1] Setiap murid Kristus memiliki salibnya masing-masing, dan setiap orang harus sadar akan ini dan bersiap-siap. Karena setiap orang memiliki tugas khusus yang harus dilaksanakannya, maka setiap orang juga memiliki masalah khusus yang harus ditanggung masing-masing. Setiap orang merasakan paling banyak dari bebannya sendiri.

Salib adalah nasib yang dimiliki secara umum oleh anak-anak Allah. Tetapi walaupun umum sifatnya, setiap orang memiliki bagian tertentu. Itulah salib yang telah ditetapkan bagi kita oleh Sang Hikmat yang Tak Terbatas, yang diletakkan di atas pundak kita oleh Sang Pemelihara Yang Mahakuasa, dan salib itu sangatlah sesuai bagi kita masing-masing. Sangat baik bagi kita, bila kita menyebut salib yang kita pikul sebagai milik kita sendiri, dan menyambutnya dengan semestinya. Kita cenderung berpikir bahwa kita sanggup memikul salib orang lain dengan lebih baik daripada salib kita sendiri. Namun, yang terbaik adalah, kita harus memikul salib kita masing-masing sebaik-baiknya.
                [2] Setiap murid Kristus harus memikul salibnya yang telah ditetapkan oleh Allah dengan bijaksana. Hal ini mengingatkan kita akan kebiasaan Romawi yang memaksa orang yang dihukum mati dengan cara disalibkan untuk memikul salibnya sendiri. Ungkapan ini digambarkan ketika Simon harus memikul salib Kristus di belakang Dia.
                    Pertama, ini artinya bahwa salib itu ada di tengah jalan kita, dan tersedia bagi kita. Kita tidak boleh membuat salib bagi diri kita sendiri, tetapi harus menerima bagi diri sendiri salib yang telah dibuat Allah bagi kita. Aturan yang kita anut adalah, jangan pernah meninggalkan kewajiban; kita harus memikul salib kita itu, dan jangan sampai
kehilangan. Kita tidak boleh, karena tergesa-gesa dan ceroboh, menghancurkan salib itu sesuai pemikiran kita sendiri, tetapi kita harus memikulnya ketika salib itu diletakkan di jalan kita. Kita harus mengelola dengan baik penderitaan kita supaya tidak menjadi batu sandungan atau hambatan bagi kita dalam melayani Allah. Kita harus memikulnya dan membawanya keluar dari jalan kita, dengan segera membereskan salib sebagai batu sandungan. Aku tidak
menghiraukan nyawaku sedikit pun, dan kita harus berjalan terus sambil memikul salib di jalan kita, meskipun salib itu menindih berat.
                    Kedua, yang harus kita lakukan bukan hanya memikul salib itu (yang dapat saja berupa sebalok kayu, sebuah batu, atau sepotong tongkat), tidak hanya berdiam diri di bawahnya, tetapi kita harus mengangkatnya ke atas, harus mengembangkannya agar dapat memberi keuntungan yang baik. Kita tidak boleh berkata, "Ini suatu kemalangan,
saya harus memikulnya, karena saya tidak dapat menghindarinya," tetapi, "Ini suatu kemalangan, saya akan memikulnya, karena hal ini akan mendatangkan kebaikan bagi saya." Hanya dengan bersukacita dalam penderitaan kita, dan bermegah di dalamnya, barulah kita bisa mengangkat salib itu. Hal ini sesuai dengan ajaran penyangkalan diri, karena orang yang tidak mau menyangkal diri terhadap kesenangan dosa dan keuntungan-keuntungan dunia ini bagi Kristus, maka orang itu tidak akan mau memikul salibnya ketika timbul kesesakan. "Orang yang tidak dapat menetapkan hati untuk hidup sebagai orang kudus, ia menunjukkan di dalam hatinya, bahwa ia tidak akan pernah bersedia mati sebagai seorang martir," demikian kata Uskup Agung Tillotson [1630-1694 -- pen.].
            (3) Ia harus mengikut Aku, khususnya dalam hal memikul salib. Orang-orang kudus yang menderita haruslah memandang Yesus, dan menerima petunjuk serta dorongan semangat dari-Nya ketika menderita. Apakah kita sedang memikul salib itu? Kalau ya, itu berarti, kita mengikut Dia, yang telah memikul salib itu di depan kita, menanggungnya
bagi kita, dan dengan demikian mengambil dan memikulnya dari kita. Ia telah memikul bagian berat dari ujung salib itu, bagian yang mengandung kutuk, bagian yang berat itu. Dengan demikian Ia membuat bagian lain dari salib itu terasa ringan dan mudah bagi kita. Atau, secara umum ini berarti bahwa kita harus mengikut Kristus dalam segala kekudusan
dan ketaatan. Perhatikanlah, murid-murid Kristus harus belajar meneladani Guru mereka, dan bertingkah laku sesuai contoh yang Ia berikan, dan terus melaksanakannya dengan baik, apa pun salib yang menghalangi jalan mereka. Bekerja dengan benar dan menderita karenanya, itulah mengikut Kristus. Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menuruti Aku. Tampaknya hal itu adalah idem per idem -- hal yang sama berulang lagi. Apakah perbedaannya?

Pasti yang dimaksudkan adalah seperti ini, "Setiap orang yang mau mengikut Aku, yaitu dengan mengakui Aku, sehingga mendapat nama dan penghargaan sebagai seorang murid, ia harus menuruti atau mengikuti Aku dalam kebenaran, dan karena itu, ia harus melakukan pekerjaan dan kewajiban sebagai seorang murid." Atau dengan perkataan lain, "Kalau sedari awalnya seseorang sudah mengikut Aku dengan baik, maka hendaknya ia terus mengikut
Aku dengan segala ketekunan." Itulah yang dimaksud dengan mengikut Tuhan dengan segenap hati, seperti yang dilakukan Kaleb. Orang-orang yang ingin mengikut Kristus harus menuruti Dia.
    II. Inilah alasan yang dapat meyakinkan kita untuk menundukkan diri pada peraturan-peraturan itu dan memperhatikan persyaratannya. Menyangkal diri dan sabar dalam penderitaan adalah pelajaran yang berat, yang tidak dapat dipelajari jika kita berpikir secara kedagingan. Karena itu kita harus menggunakan pikiran seperti yang ada pada Tuhan Yesus kita, dan memperhatikan nasihat yang Ia berikan. Dan inilah yang Ia berikan kepada kita:
        . Beberapa pertimbangan baik untuk mendorong kita bersedia menyangkal diri dan menderita bagi Kristus.

        Pikirkanlah:
            (1) Nilai kekekalan yang bergantung pada pilihan yang kita ambil sekarang ini (ay. 25), barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, dengan menyangkal Kristus, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa yang rela kehilangan nyawanya karena mengakui Kristus, ia akan memperolehnya. Ini adalah pilihan antara kehidupan dan kematian, keberuntungan dan kecelakaan, berkat dan kutuk, yang diperhadapkan kepada kita.

            Amatilah:
                [1] Kesengsaraan menyertai kemurtadan. Barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya di dunia ini, dan berbuat dosa karenanya, ia akan kehilangan nyawanya di dunia lain. Orang yang meninggalkan Kristus untuk mempertahankan hidup yang sementara ini dan menghindari kematian yang sementara, pastilah tidak akan memperoleh hidup yang kekal, dan akan menderita dalam kematian kedua, yang akan mencengkeramnya sampai
selama-lamanya. Tidak ada dalih yang lebih baik untuk melakukan kemurtadan dan kejahatan selain dengan menyelamatkan nyawa melaluinya. Begitulah, hukum untuk mempertahankan nyawa sendiri itu memang sangat kuat. Namun, betapa bodohnya hukum itu, karena pada akhirnya akan terbukti bahwa perbuatan itu mengakibatkan kehancuran bagi diri sendiri. Demikianlah, kehidupan yang diselamatkan itu hanya berlangsung untuk sementara, dan

kematian yang mau dihindari itu sebenarnya hanya seperti tidur saja. Namun, kehilangan nyawa kekal sifatnya, dan kematian yang terjadi sesudahnya membawa orang pada kesengsaraan yang paling dalam dan mengakibatkan pemisahan dari segala yang baik sampai pada waktu yang tidak berkesudahan. Sekarang, hendaknya semua orang yang berakal budi mempertimbangkan hal ini. Terimalah nasihat dan cermatilah dalam-dalam, ujung-ujungnya, apakah yang akan diperoleh kalau orang berbuat murtad, sekalipun ia memperoleh segala harta benda, kesenangan, atau kehidupan dengan kemurtadan itu?
                [2] Keuntungan yang menyertai kesetiaan yang sangat berbahaya dan mahal harganya ini. Barangsiapa kehilangan nyawanya karena Kristus di dunia ini, ia akan memperolehnya dalam keadaan yang luar biasa baik dan menguntungkan.

                Perhatikanlah:
                    Pertama, banyak orang kehilangan nyawa karena Kristus ketika mereka melakukan pekerjaan-Nya, dan dengan bekerja keras untuk nama-Nya, dalam pekerjaan yang sarat dengan penderitaan, dengan memilih lebih baik mati daripada menyangkal Dia atau kebenaran dan jalan-Nya. Agama kudus yang datang dari Kristus dan diturunkan kepada kita ini dimeteraikan dengan darah ribuan nyawa orang percaya, yang tidak memedulikan diri mereka sendiri, tetapi malah tidak menghiraukan hidup mereka (seperti yang dikatakan Ayub dalam keadaan yang berbeda), meskipun nyawa mereka sangat berharga, mereka berlomba untuk melaksanakan kewajiban mereka dan bersaksi bagi Yesus (Why. 20:4).
                    Kedua, meskipun banyak orang telah menderita kehilangan demi Kristus, bahkan nyawa mereka sendiri, namun, tidak ada satu pun yang telah atau akan menderita kehilangan oleh karena Dia pada akhirnya. Kehilangan berbagai penghiburan lain, untuk Kristus, mungkin dapat terjadi di dalam kehidupan sekarang ini (Mrk. 10:30), tetapi kehilangan nyawa tidak dapat terjadi di dalam kehidupan sekarang ini. Kehilangan itu akan terjadi pada kehidupan yang akan datang, dalam kehidupan kekal. Kepercayaan akan pengharapan ini telah menjadi penopang besar bagi orang-orang kudus yang menderita di segala zaman. Keyakinan bahwa kehidupan yang akan datang ini akan menjadi pengganti bagi kehidupan yang mereka pertaruhkan sekarang ini, memampukan mereka untuk menang atas maut dengan segala kengeriannya. Dengan tersenyum mereka berjalan menuju tiang gantungan, berdiri sambil bernyanyi di depan kayu api unggun yang akan membakar mereka, dan menyebut kegusaran musuh-musuh mereka yang sangat kejam itu sebagai sebuah penderitaan yang ringan saja.
                [3] Harga nyawa yang dipertaruhkan dan tidak berharganya dunia ini diperbandingkan (ay. 26). Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? tēn psychēn autou, kata yang sama diterjemahkan sebagai hidupnya dalam ayat 25 [dalam versi terjemahan Inggris -- ed.], karena nyawa adalah hidup (Kej. 2:7). Hal ini
mengingatkan akan asas umum yang mengatakan bahwa apa pun yang diperoleh oleh seseorang, semua tidak akan ada gunanya baginya, jika ia kehilangan nyawanya, karena ia tidak dapat menikmati hasil yang diperolehnya. Tetapi perkataan Tuhan ini maknanya lebih tinggi, dan berbicara tentang nyawa sebagai sesuatu yang kekal, yang tidak hanya sebatas kematian saja, dan tidak dapat ditukar dengan keberhasilan seluruh dunia ini. Perhatikanlah:
                    Pertama, setiap manusia memiliki nyawanya sendiri. Nyawa itu bagian dari manusia yang bersifat rohani dan abadi, yang mempunyai fungsi untuk berpikir dan memberi alasan, memiliki kemampuan untuk merenung dan berharap, yang sekarang menggerakkan tubuh ini, dan tidak lama lagi akan bertindak dalam keadaan terpisah dari tubuh. Nyawa kita adalah milik kita bukan dalam arti bahwa kita menguasai dan memilikinya (karena kita bukan milik kita sendiri, Semua jiwa Aku punya, firman Allah), sebaliknya, nyawa kita adalah milik kita karena ia dekat dengan kita dan karena itu kita harus memedulikannya. Nyawa kita adalah milik kita, karena nyawa itu adalah diri kita sendiri.
                    Kedua, nyawa itu bisa hilang, dan karena itu ada bahayanya. Nyawa itu hilang bila ia terpisah selamanya dari segala yang baik, dan beralih kepada semua yang jahat yang dapat diperbuatnya. Nyawa itu hilang bila ia mati, sejauh yang dapat terjadi padanya. Nyawa itu hilang, bila ia terpisah dari anugerah Allah dan tenggelam dalam murka dan kutuk-Nya. Manusia itu tidak akan binasa sampai ia berada di dalam neraka.
                    Ketiga, jika nyawa itu hilang, itu adalah kehilangan bagi orang berdosa itu sendiri. Manusia kehilangan nyawanya sendiri, karena ia melakukan hal-hal yang pasti menghancurkan nyawanya itu sendiri, dan melalaikan apa yang dapat menyelamatkan nyawanya itu (Hos. 13:9). Orang berdosa mati karena ia memang ingin mati, darahnya
tertumpah ke atas kepalanya sendiri.
                    Keempat, satu nyawa lebih berharga daripada seluruh isi dunia ini. Nyawa kita lebih besar nilainya bagi kita daripada semua kekayaan, kehormatan, dan kesenangan yang ada pada kita di saat sekarang ini. Di sini, seluruh dunia diperbandingkan bobotnya dengan bobot satu nyawa, dan tekel telah ditulis mengenai hal itu [lih. Dan. 5:27], nyawa telah ditimbang dengan neraca dan didapati terlalu ringan. Ini adalah penghakiman Kristus atas hal itu, dan Ia adalah Hakim yang adil. Ia mempunyai alasan untuk mengetahui harga nyawa, karena Ialah yang menebus mereka. Ia juga tidak akan merendahkan harga dunia, karena Ia-lah yang menciptakannya.
                    Kelima, kemenangan atas dunia ini sering kali berarti kehilangan nyawa. Banyak kali orang menghancurkan kepentingan kekekalannya dengan terlalu peduli pada upaya untuk melindungi dan meningkatkan kehidupan sementara ini secara berlebihan dan dalam jumlah yang bukan main banyaknya. Adalah kasih akan dunia ini dan hasrat yang kuat untuk mengejar perkara dunia ini yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.
                    Keenam, kehilangan nyawa adalah kehilangan yang sangat besar, sehingga hasil yang diperoleh dari seluruh dunia ini tidak akan sepadan atau dapat menggantikannya. Orang yang mendapatkan dunia ini, namun harus kehilangan nyawanya, telah melakukan kesepakatan yang sangat buruk bagi dirinya, dan pada akhirnya akan duduk terpuruk sebagai seorang pecundang yang tidak mampu berbicara lagi. Ketika tiba saatnya untuk memberi
pertanggungjawaban dan membandingkan keuntungan yang diperoleh dan kerugian yang terjadi, ia akan mendapati bahwa, bukannya keuntungan yang ia janjikan bagi diri sendiri yang ia peroleh, tetapi semua maksud dan tujuan hidupnya telah dihancurkan, dan kehancuran itu tidak dapat dipulihkan lagi. Apa yang dapat diberikan orang sebagai ganti nyawanya? Perhatikanlah, sekali nyawa itu hilang, kehilangan itu adalah untuk selama-lamanya. Tidak ada antallagma -- harga tebusan, yang dapat dibayarkan atau dapat diterima. Ini adalah kehilangan yang tidak dapat dipulihkan lagi, tidak dapat diperoleh kembali. Jika harga luar biasa mahal yang diberikan Kristus untuk menebus jiwa kita dan memulihkan kita menjadi pemilik atas nyawa itu telah begitu diabaikan demi dunia ini, dan mengakibatkan nyawa itu hilang, maka tidak akan ada jaminan baru lagi bagi kita, tidak akan ada pengorbanan lagi untuk menghapus dosa, tidak akan ada harga tebusan lagi bagi jiwa-jiwa. Keadilan penebusan sudah tertutup untuk selama-lamanya. Karena itu, adalah baik untuk menjadi bijak pada saat ini, dan melakukan yang baik demi kita sendiri.
        . Berikut ini adalah beberapa pertimbangan yang baik untuk mendorong kita menyangkal diri dan menderita bagi Kristus.
            (1) Keyakinan bahwa kita akan memiliki kemuliaan Kristus, ketika Dia datang kedua kalinya untuk menghakimi dunia (ay. 27). Jika kita melihat jauh ke depan mengenai akhir dari semua hal yang ada, akhir dari dunia ini, dan keadaan jiwa-jiwa pada saat itu, kita akan memiliki pandangan yang berbeda tentang semua hal yang bersifat sementara ini. Jika sekarang ini kita memandang semua hal itu seperti apa yang akan terjadi kemudian, kita akan
memandang mereka seperti apa yang seharusnya tampak sekarang ini.
            Kedatangan Kristus untuk kedua kalinya itu sangat mendorong kita untuk berdiri teguh dalam hidup keagamaan kita, karena:
                [1] Kehormatan-Nya, Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya. Memandang Kristus di dalam keadaan-Nya yang terhina, begitu direndahkan, begitu dilecehkan, menjadi cela bagi manusia, dihina oleh orang banyak, akan mengecilkan hati para pengikut-Nya untuk ikut menderita dan mempertaruhkan nyawa bagi Dia. Namun, kalau dengan mata iman kita melihat Juruselamat kita akan datang dalam
kemuliaan-Nya, dengan semua kebesaran dan kuasa dari sorga, maka ini akan menghidupkan semangat kita dan membuat kita berpikir bahwa tidak ada pekerjaan yang rasanya terlalu banyak atau terlalu berat untuk diderita bagi Dia.

Anak Manusia akan datang. Di sini Ia menyebut diri-Nya sesuai keadaan-Nya yang rendah (Ia menyebut diri-Nya sebagai Anak Manusia), untuk menunjukkan bahwa Ia tidak malu untuk mengakui keadaan itu. Pada kedatangan-Nya yang pertama, Ia berada di tengah-tengah kebobrokan anak-anak-Nya, yang mengikuti kedagingan mereka, dan Ia turut merasakan aib itu. Tetapi pada kedatangan-Nya yang kedua, Ia akan ada di dalam kemuliaan Bapa-Nya. Pada kedatangan-Nya yang pertama, Ia diiringi oleh murid-murid-Nya yang miskin, pada kedatangan-Nya yang kedua, Ia akan diiringi oleh malaikat-malaikat mulia. Dan jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia (2Tim. 2:12).
                [2] Kepedulian kita; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.           

Perhatikanlah:
                    Pertama, Yesus Kristus akan datang sebagai Hakim, untuk memberi upah dan menjatuhkan hukuman, jauh melebihi apa yang pernah diberikan oleh penguasa mana pun di bumi ini. Kengerian menghadapi pengadilan manusia (10.18) akan digantikan oleh keyakinan harapan akan kemuliaan pengadilan Kristus.
                    Kedua, manusia akan diberi upah, bukan berdasarkan apa yang mereka peroleh di dunia ini, namun berdasarkan perbuatan mereka, siapa mereka dan apa yang mereka lakukan semasa hidup. Pada hari itu, ketidaksetiaan orang-orang murtad akan dihukum dengan kebinasaan kekal, dan kepada jiwa-jiwa yang tetap berada dalam kesetiaan sampai mati akan dikaruniakan mahkota kehidupan.
                    Ketiga, persiapan terbaik untuk menyongsong hari itu adalah menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Kristus. Dengan demikian kita akan menjadikan Hakim itu Sahabat kita, dan semua akan berjalan lancar pada hari perhitungan itu.
                    Keempat, pemberian upah kepada umat manusia ditangguhkan sampai pada hari itu. Saat ini, kebaikan dan kejahatan tampaknya diperlakukan sama saja, tidak dibeda-bedakan. Kita tidak melihat kemurtadan dihukum dengan segera, atau kesetiaan diberi imbalan dengan senyuman langsung dari sorga. Namun, pada hari itu semuanya
akan diatur sesuai bagiannya. Oleh karena itu, jangan menghakimi sebelum waktunya (2Tim. 4:6-8).
            (2) Kedatangan Kerajaan-Nya yang semakin dekat di dunia ini (ay. 28). Kedatangan-Nya sungguh sangat dekat, sehingga ada beberapa orang yang hadir pada saat itu bersama-Nya tidak akan mati sebelum mereka melihat hal itu. Seperti Simeon yang dijamin bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat Kristus Tuhan datang sebagai manusia,

begitu juga beberapa orang yang hadir saat itu dijamin bahwa mereka tidak akan mencicipi kematian (kematian adalah sesuatu yang dapat dirasakan dengan indra kita, kengeriannya dapat dilihat, kepahitannya dapat dirasakan) sampai mereka melihat Kristus Tuhan datang dalam Kerajaan-Nya. Pada akhir zaman, Ia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya, tetapi sekarang, dalam menantikan penggenapan waktunya, Ia datang ke dalam Kerajaan-Nya sendiri, Kerajaan pengantaraan-Nya. Beberapa contoh kecil tentang kemuliaan-Nya diberikan dalam waktu beberapa hari kemudian setelah percakapan ini, ketika Ia berubah rupa di depan mata mereka (17:1); kemudian pakaian-Nya menjadi putih bersinar. Namun yang dimaksud dengan kedatangan-Nya di sini menunjuk kepada kedatangan Kristus melalui pencurahan Roh-Nya, penanaman jemaat Injil, kehancuran Yerusalem, serta dirampasnya negeri dan tersingkirnya bangsa Yahudi, yang menjadi musuh bebuyutan Kekristenan. Di sini Anak Manusia datang di dalam Kerajaan-Nya.

Kemudian banyak orang yang masih hidup menyaksikan hal itu, khususnya Yohanes, yang tetap hidup setelah penghancuran Yerusalem, dan menyaksikan Kekristenan didirikan di dunia ini. Hendaknya hal ini membesarkan hati para pengikut Kristus untuk menderita bagi Dia:
                [1] Bahwa pekerjaan mereka akan berhasil. Para rasul ditugaskan mendirikan Kerajaan Kristus. Untuk penghiburan mereka, hendaknya mereka mengetahui bahwa apa pun perlawanan yang harus mereka hadapi, mereka harus tetap berjuang, karena mereka akan melihat hasil jerih payah jiwa mereka. Perhatikanlah, sungguh sangat membesarkan hati orang-orang kudus yang menderita, bahwa mereka boleh merasa yakin bukan saja akan soal keselamatan mereka, tetapi juga mengenai kemajuan Kerajaan Kristus di antara manusia, sekalipun mereka harus menderita, sekalipun ada rupa-rupa penderitaan. Harapan yang penuh keyakinan akan keberhasilan Kerajaan anugerah itu, dan juga bagian kita di dalam Kerajaan kemuliaan, akan membawa kita melewati segala penderitaan kita dengan penuh sukacita.
                [2] Bahwa perkara mereka akan dibela. Kematian mereka akan dibalaskan, dan para penganiaya mereka akan dimintai pertanggungjawaban.
                [3] Bahwa semua ini akan dilaksanakan dengan segera, pada zaman ini juga. Perhatikanlah, ketika hari pembebasan jemaat semakin dekat, seharusnyalah kita semakin bersukacita di dalam penderitaan kita bagi Kristus.
Sesungguhnya Sang Hakim telah berdiri di ambang pintu. Hal ini dikatakan sebagai pertolongan bagi orang-orang yang harus bertahan pada masa-masa yang gelap ini, bahwa mereka akan melihat hari-hari yang lebih baik. Perhatikanlah, sangat diinginkan dari kita untuk turut mengambil bagian dalam sukacita jemaat (Dan. 12:12). Camkan apa yang dikatakan Kristus, sebagian di antara orang yang hadir di sini akan tetap hidup untuk menyaksikan hari-hari yang mulia itu. Namun, tidak semuanya. Beberapa akan masuk ke dalam tanah perjanjian, yang lain akan mati di padang gurun. Ia tidak memberi tahu mereka siapa saja yang tidak akan mati untuk menyaksikan Kerajaan ini, karena jangan sampai bila mereka telah mengetahuinya, mereka akan menanggalkan pemikiran tentang kematian. Namun demikian, beberapa dari mereka akan menyaksikannya. Sesungguhnya, Tuhan sudah dekat. Sang Hakim telah berdiri di ambang pintu, karena itu, saudara-saudara bersabarlah.



SBU

MINGGU VI SES. PENTAKOSTA
KAMIS, 12 JULI 2018
Renungan Pagi
GB.158 : 1 -Berdoa
KONFLIK DALAM PELAYANAN

Matius 16:21-23
Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan hagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah. melainkan apa yang dipikirkan manusia." {ay.23)

Mari kiia jujur mengakui, bahwa konflik clalam jemaat sering muncul, Karena perbedaan pendapat di kalangan presbiter. Banyak perselisihan dan perseteruan yang terjadi, dikarenakan tiap presbiter sallng menonjolkan gagasan pelayanan, tanpa mendengar pendapat yang lain. Keadaan ini telah terjadi pada masa murid-murid.

Yesus memlliki gagasan sendiri tentang pelayanan yang sedang dilakukan-Nya. Buah pikirannya berbeda dari yang dipikirkan mereka. Petrus berpiklr, bahwa Yesus memillki kekuatan kuasa yang dahsyat. Ia adalah Mesiah, utusan Allah, yang akan menjadi Raja Israel; sebab itu, Yesus tldak  boleh menderita. Tuhan, Allah Israel, akan membuat Yesus
menjadi penguasa umat-Nya. Pada saat itu, sebagai pengikut Yesus, Petrus berharap akan menduduki posisi cukup strategis. Petrus tidak memahami pikiran Gurunya.

Sama seperti Yudas dan orang Israel umumnya, rnereka berpikir tentang Mesiah sebagai penguasa politis. Sementara Yesus tidak demikian. Ia menyadari akan ancaman yang membahayakan hidup-Nya, karena melakukan kehandak Bapa-Nya. Itulah alasan Yesus membentak Petrus, karena reaksinya terhadap pandangan pribadi Yesus.

Kasus ini sering muncul dalam kebersamaan presbiter ketika membahas masalah pelayanan. Masing-masing menonjolkan pendapatnya, dan tidak mau mangalah. Ujung-ujungnya timbul kericuhan, bukan saja dikalangan pelayan melainkan juga rnerambat sampai seluruh warga jemaat. Akibatnya terciptalah kerusuhan yang rneretakkan kehidupan berjemaat. Dalam kasus ini kita perlu menyorotl latar belakang pemahaman Yesus tentang pelayanan-Nya.
Bagi Yesus, Ia akan membangun persekutuan baru.

Tidak sama dengan penguasa duniawi. Ia punya keinginan untuk membangun persekutuan darnai sejahtera berbasis kasih sayang. Dan, tugas itu akan membuat hidupnya terancam kematian. Ia sadar, bahwa pasti dirinya dikorbankan; akan tetapi Yesus tabah menerlma keadaan itu, jika dikehendaki Allah Bapa-Nya. Ia ticlak memberontak, tetapi setia mengasihi sesama dan taat rnemberlakukan tugas ilahi. Cerita ini perlu dikaji secara mendalam untuk mengevaluasi sikap arogansl dalam pelayanan bersama, agar pelayanan Kristen dapat rnenghadirkan damai sejahtera bagi semua orang.

GB.158:3
Doa : (Bapa, kiranya pelayanan kami dapat menghadirkan damai sejahtera-Mu)


MINGGU VI SES. PENTAKOSTA
KAMIS, 12 JULI 2018
Renungan Malam
GB.69 : 1 -Berdoa
PERSEMBAHAN YANG HIDUP

Matius 16:24-28
Karena barangsiapa mau rnenyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa kehilanan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya (ay.25).

Seiring pekerjaan pelayanan, kita sering menghubungkan 'korban‘ dengan pemberian berupa uang atau materi' lainnya. Untuk itu kita mengutip Roma 12:1 ‘persernbahan yang kudus, yang hidup dan berkenan kepada Allah‘. Padahal uang yang diberikan itu benda mati, bukan benda hidup. Jadi apakah yang dirnaksud dengan "persembahan yang hidup‘? Bacaan ini mengajak kita menyusuri pemaharnan tentang karya pelayanan dan aktivitas kehidupan pnbadi orang banyak berpendapat melayani sangat berhubungan dengan aktivitas program gerejawi. Pemahaman ini sempit.Tidak membuka wawasan orang Kristen, bahwa semua pekerjaan yang sesuai dengan kehendak Altah, jika diiakukan dengan sepenuh hati merupakan karya layan yang konkrit.

Yesus berkata : "Pikullah salibmu dan ikuilah Aku". Dengan kata lain Yasus rnenganjurkan, lakukanlah pekerjaan yang dipercayakan, sambil meneladani sikap Yesus. Apakah sikap Yesus yang perlu dicontohi? Mengorbankan miliknya yang terbaik demi keselamatan sesama, sebagaimana Yasus telah memperlihatkannya. Korban adalah milik pribadi yang amat berharga. Hidup, tubuh -jiwa- roh, merupakan milik yang termahal yang kita punya. Pelayanan meminta korban yang tidak sediklt jum!ahnya.

Kita sering meninggalkan urusan rumah tangga, pendidikan anak, berkorban waktu dan sebagainya, agar dapat menolong dan membebaskan sesarna dari masalah pelik. Korban itu jauh lebih besar jumlahnya dibandingkan dengan nilai rupiah. Allah memperhitungkan pengorbanan kita; sebab itu, Yesus berkata: "Siapa yang mempertahankan nyawanya akan kahilangan nyawa; tetapt orang yang kehilangan nyawanya karena Aku akan memperolehnya berlipat ganda." Marilah kita melayani dengan tidak memperhitungkan untung rugl. Allah pasti memberikan rachmat kepada tiap orang yang rela melayani dengan sukacita.

GB.69 : 2
Doa : (Kristus, kami serahkan seluruh hidup kami hanya bagi kemuliaan-Mu)


Label:   Matius 16:24-28 



Khotbah Ibadah GPIB 2018

Khotbah Ibadah GPIB KAMIS, 12 JULI 2018 - PERSEMBAHAN YANG HIDUP - Matius 16:24-28 - MINGGU VI SES. PENTAKOSTA





[isi halaman tidak ditampilkan]

Halaman Khusus Member Pemberi Donasi.
Silakan Login Terlebih Dahulu!

Belum menjadi member? Silakan Register







Halaman Bebas Akses untuk Member Donasi:



NEXT:
Khotbah Ibadah GPIB JUMAT, 13 JULI 2018 - YESUS KRISTUS PEMBELA AGUNG - Roma 8:26-35 - MINGGU VI SES. PENTAKOSTA

PREV:
Khotbah Ibadah GPIB RABU, 11 JULI 2018 - UCAPAN SYUKUR BAGI ALLAH - 2 Korintus 4:13-15 - MINGGU VI SES. PENTAKOSTA

Baca Garis Besar Matius

Sinergypro adalah Perusahaan yang bergerak di bidang Replikasi, Duplikasi Cd, Vcd, Dvd dan juga menangani desain Grafis, Percetakan Offset Printing seperti Cover, buku, Katalog, X-Banner, Spanduk, Umbul-umbul, Kaos dll.

Kami sudah puluhan tahun di bidang ini dan sangat berpengalaman sehingga dengan keahlian yang kami punya berharap dapat memuaskan para pelanggan di dalam kerjasama dengan kami. Kami terus meningkatkan kinerja yang lebih optimal melalui ketepatan waktu, ketelitian dan hasil yang memuaskan


Nyanyian Ibadah Gereja
English Hymns*, COUPLES FOR CHRIST SONGS (CFC SONGS)*, AG (Aradhana Geethamulu), YSMS, YJ, ADV (Himnario Adventista)*,
JB (Jiwaku Bersukacita: Pujian Sekolah Minggu), KMM, KJ, PKJ, GB, NKB, KC, Nafiri Kemenangan, Lagu GMS, PPK, PPPR, KPPK, NKI, NRM, KPRI, Buku Ende, BN (Buku Nyanyian HKBP), Buku Lagu Perkantas, KPKL, KPKA, KPJ, KLIK, DSL, LS, PKJ TORAJA, NJNE, Doding Haleluya, LKEE, Suara Gembira, Puji Syukur, Madah Bakti,
Thai Christian Song
Hebrew Christian Song
Arab Christian Song
Christian Songs In Dutch
German Christian Songs
Hindi Worship Song
Japanese Christian Song
Italian Christian Song
Lagu Rohani Batak
Lagu Rohani Ambon
Lagu Gereja Tiberias Indonesia GTI


1 Korintus 15:10-11 (1)
1 Petrus 3:18-22 (1)
1 Petrus 3:8-12 (1)
1 Petrus 4:12-19 (1)
1 Petrus 5:5-11 (1)
1 Raja-Raja 19:9-12 (1)
1 Samuel 1:19-28 (1)
1 Samuel 20:18-23 (1)
1 Samuel 20:35-42 (1)
1 Samuel 24:17-23 (1)
1 Tawarikh 22:1-13 (1)
1 Yohanes 1:8-10 (1)
1 Yohanes 2:3-6 (1)
1 Yohanes 3:16-18 (1)
1 Yohanes 4:7-21 (1)
1 Yohanes 5:3-5 (1)
2 Korintus 10:12-18 (1)
2 Korintus 3:7-11 (1)
2 Korintus 4:1-6 (1)
2 Korintus 4:13-15 (1)
2 Raja-Raja 19:4-7 (1)
2 Raja-Raja 22:12-20 (1)
2 Raja-Raja 23:15-23 (1)
2 Raja-Raja 4:25-37 (1)
2 Raja-Raja 4:44 (1)
2 Raja-Raja 4:8-24 (1)
2 Raja-Raja 5:8-14 (1)
2 Samuel 12:18-23 (1)
2 Tawarikh 30:10-27 (1)
2 Tesalonika 3:6-15 (1)
Amos 1:11-12 (1)
Amsal 17:8 (1)
Amsal 3:5-8 (1)
Ayub 21:1-15 (1)
Ayub 21:27-34 (1)
Ayub 22:27-30 (1)
Ayub 2:9-13 (1)
Ayub 40:1-9 (1)
Ayub 7:11-21 (1)
Bilangan 14:11-19 (1)
Bilangan 6:24-26 (1)
Daniel 3:28-30 (1)
Efesus 1:19-23 (1)
Efesus 4:25-32 (1)
Efesus 5:15-21 (1)
Efesus 5:32-33 (1)
Ester 5:1-8 (1)
Ester 6:12-13 (1)
Ezra 9:10-15 (1)
Filipi 1:12-26 (1)
Filipi 3:12-16 (1)
Filipi 4:2-9 (1)
Hakim-Hakim 4:11-24 (1)
Hakim-Hakim 5:24-31 (1)
Ibrani 10:23-25 (1)
Imamat 23:9-14 (1)
Kejadian 12:7-9 (1)
Kejadian 16:7-16 (1)
Kejadian 1:14-19 (1)
Kejadian 1:26-31 (1)
Kejadian 1:29-31 (1)
Kejadian 21:4-7 (1)
Kejadian 28:20-22 (1)
Kejadian 2:15-17 (1)
Kejadian 2:21-25 (1)
Kejadian 2:4b-7 (1)
Keluaran 13:11-16 (1)
Keluaran 13:17-22 (1)
Keluaran 14: 15 - 25 (1)
Keluaran 20:18-21 (1)
Keluaran 3:15-22 (1)
Kisah Para Rasul 17:16-21 (1)
Kisah Para Rasul 17:29-34 (1)
Kisah Para Rasul 18:9-17 (1)
Kisah Para Rasul 1:12-14 (1)
Kisah Para Rasul 9:25-31 (1)
Kolose 1:15-23 (1)
Kolose 2:1-5 (1)
Kolose 2:15-17 (1)
Lukas 23:44-49 (1)
Lukas 23:55-56a (1)
Lukas 7:41-50 (1)
Lukas 9:51-56 (1)
Markaus 1:9-11 (1)
Markus 14:10-11 (1)
Markus 14:47-51 (1)
Markus 2:13-17 (1)
Markus 5: 25-34 (1)
Markus 6:51-52 (1)
Matius 14:22-26 (1)
Matius 14:30-31 (1)
Matius 15:25-28 (1)
Matius 16:24-28 (1)
Matius 19:23-26 (1)
Matius 25:1-13 (1)
Matius 25:19-30 (1)
Matius 7:24-27 (1)
Mazmur 107:25-27 (1)
Mazmur 11 (1)
Mazmur 122:6-9 (1)
Mazmur 136:23-26 (1)
Mazmur 136:7-13 (1)
Mazmur 40:12-18 (1)
Mazmur 42:7-12 (1)
Mazmur 51:1-15 (1)
Mazmur 63:7-12 (2)
Mazmur 66:1-7 (1)
Mazmur 66:13-15 (1)
Mazmur 74:18-23 (1)
Mazmur 77:17-21 (1)
Mazmur 78:17-31 (1)
Mazmur 78:39-43 (1)
Mazmur 85:5-8 (1)
Nehemia 12:44-47 (1)
Nehemia 1:1-11 (1)
Nehemia 2:6-10 (1)
Nehemia 3:1-15 (1)
Nehemia 4:1-14 (1)
Nehemia 5:1-13 (1)
Nehemia 6:1-10 (1)
Nehemia 9:26-31 (1)
Pengkhotbah 9:7-12 (1)
Ratapan 1:10-14 (1)
Ratapan 1:18-22 (1)
Roma 12:19-21 (1)
Roma 14:13-23 (1)
Roma 1:18-32 (1)
Roma 2:12-16 (1)
Roma 5:1-5 (1)
Roma 8:26-35 (1)
Rut 2:1-7 (1)
Rut 4:1-6 (1)
Rut 4:13-17 (1)
Ruth 1:15-22 (1)
Titus 1:1-4 (1)
Titus 1:13-16 (1)
Titus 2:9-10 (1)
Titus 3:12-14 (1)
Titus 3:4-7 (1)
Wahyu 20:7-15 (1)
Yeremia 17:9-10 (1)
Yeremia 31:31-34 (1)
Yesaya 29:1-8 (1)
Yesaya 2:1-5 (1)
Yesaya 45:18-19 (1)
Yesaya 45:22-25 (1)
Yesaya 45:9-13 (1)
Yesaya 48:14-19 (1)
Yesaya 50:10-11 (1)
Yesaya 51:9-16 (1)
Yesaya 52:13-15 (1)
Yesaya 53:8-12 (1)
Yesaya 55:6-13 (1)
Yesaya 58:6-12 (1)
Yohanes 10:1-21 (1)
Yohanes 12:29-36 (1)
Yohanes 13:36-38 (1)
Yohanes 14:15-31 (1)
Yohanes 15:15-17 (1)
Yohanes 1:1-13 (1)
Yohanes 20:26-29 (1)
Yohanes 21:20-23 (1)
Yohanes 21:9-14 (1)
Yohanes 2:9-11 (1)
Yohanes 3:31-36 (1)
Yohanes 4:19-30 (1)
Yohanes 5:9b-18 (1)
Yohanes 8:33-36 (1)
Yohanes 9:8-11 (1)
Yosua 14:6-15 (1)
Yosua 18:8-10 (1)
Yosua 24:16-28 (1)
Yosua 4:14-24 (1)
Yosua 4:8-10 (1)
Yosua 5:7-12 (1)
Yunus 4:1-11 (1)


Arsip Khotbah Ibadah GPIB 2018..


rss lagu-gereja.com  Register   Login  

Lagu Kotbah


songbatak.com-karaoke








Gereja GPIB di Jakarta (Map)
Gereja GPIB di Surabaya (Map)
Gereja GPIB di Makassar (Map)
Gereja GPIB di Medan (Map)
Gereja GPIB di Bandung (Map)
Gereja GPIB di Manado (Map)
Gereja GPIB di Bekasi (Map)
Gereja GPIB di Tangerang (Map)
Gereja GPIB di Denpasar (Map)
Gereja GPIB di Bogor (Map)