Save Page
Kejadian 11:1-9
Menara Babel
11:1
Adapun seluruh bumi, satu bahasanya dan satu logatnya. 11:2 Maka
berangkatlah mereka ke sebelah timur dan menjumpai tanah datar di tanah
Sinear, lalu menetaplah mereka di sana. 11:3 Mereka berkata seorang
kepada yang lain: "Marilah kita membuat batu bata dan membakarnya
baik-baik." Lalu bata itulah dipakai mereka sebagai batu dan ter
gala-gala sebagai tanah liat. 11:4 Juga kata mereka: "Marilah kita
dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai
ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke
seluruh bumi." 11:5 Lalu turunlah TUHAN untuk melihat kota dan menara
yang didirikan oleh anak-anak manusia itu, 11:6 dan Ia berfirman:
"Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah
permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apapun juga yang mereka
rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana. 11:7 Baiklah
Kita turun dan mengacaubalaukan di sana bahasa mereka, sehingga mereka
tidak mengerti lagi bahasa masing-masing." 11:8 Demikianlah mereka
diserakkan TUHAN dari situ ke seluruh bumi, dan mereka berhenti
mendirikan kota itu. 11:9 Itulah sebabnya sampai sekarang nama kota itu
disebut Babel, karena di situlah dikacaubalaukan TUHAN bahasa seluruh
bumi dan dari situlah mereka diserakkan TUHAN ke seluruh bumi.


Penjelasan:


* Kej 11:1-2 - Seluruh bumi satu bahasanya // Sinear
Seluruh bumi satu bahasanya. Kitab Kejadian melukiskan bahwa Nuh dan
keluarganya turun dari bahtera dengan memiliki satu bahasa dan satu
perangkat istilah. Ketika keturunan Nuh bertambah, dengan sendirinya
mereka melanjutkan bahasa yang sama karena bahasa itu sudah memadai.
Mereka hidup di lembah Efrat dan sekitarnya, wilayah yang umumnya
dipandang sebagai cikal bakal peradaban. Sinear. Orang Ibrani memakai
nama Sinear, yang pada mulanya merupakan sebuah wilayah di Mesopotamia
utara, untuk mengacu kepada seluruh wilayah Mesopotamia. Suku-suku yang
mengembara bergerak dari wilayah pegunungan Ararat menuju ke tanah datar
Babel yang subur.

* Kej 11:3-4 - Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota ... sebuah menara .. // kita cari nama // supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi // marilah kita cari nama
Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota ... sebuah menara ... dan ... kita cari
nama. Ketika keturunan Nuh yang bergerak ke timur telah menemukan sebuah
tempat untuk dijadikan tempat tinggal, mereka mengambil keputusan untuk
mendirikan sebuah kota. Mereka akan mendirikan sebuah menara yang
demikian tingginya sehingga puncaknya diharapkan dapat menyentuh "busur
langit" di atas mereka. Bangunan raksasa ini akan memberikan keuntungan
bagi mereka dengan mana mereka bisa memperoleh kedudukan terhormat di
mata manusia dan mungkin juga di mata Allah.

Tujuan dari proyek tersebut ada dua. Pertama, mereka ingin memastikan tentang kekuatan yang bisa timbul dari kesatuan. Kota dan menara itu akan mengikat mereka
menjadi kelompok yang kokoh --- bahkan tanpa pertolongan Allah
sekalipun. Mereka mengatakan: supaya kita jangan terserak ke seluruh
bumi. Di sisi yang lain, mereka berniat untuk menjadikan diri mereka
terkenal --- marilah kita cari nama. Dosa karena menganggap diri mampu
berdiri sendiri dan karena angkuh menguasai pikiran mereka. Mereka ingin
memastikan bahwa mereka tidak akan dilupakan orang. Menara itu akan
mempersatukan mereka dan memastikan bahwa nama mereka diabadikan.
Bangunan yang menjulang itu akan merupakan monumen tentang tenaga,
keberanian, kepandaian dan kekayaan mereka. Banyak kota yang megah
seperti Babel, Sodom, Gomora, Sidon, Tirus dan Roma terbukti hanyalah
bangunan-bangunan yang suci. Pada saat manusia menolak hukum dan kasih
karunia Allah serta meninggikan diri, malapetaka pasti menimpa mereka.

* Kej 11:7-9 - Mengacaubalaukan di sana bahasa mereka // Babel,
Mengacaubalaukan di sana bahasa mereka. Yehovah memahami keinginan, motivasi dan rencana mementingkan diri dari orang-orang yang memberontak tersebut. Segera
Dia bertindak untuk mengacaukan rencana mereka yang bodoh itu. Justin
hal yang sangat ingin mereka hindari itulah yang menimpa mereka. Allah
telah turun tangan langsung untuk memastikan bahwa mereka tidak lagi
saling mengerti. Kemudian Dia menyebarkan mereka. Kata Ibrani balal,
"mengacaukan", menunjukkan adanya gangguan khusus yang membuat
orang-orang itu sangat kebingungan. Kata Babel, menurut ahli perkamusan
Ibrani yang paling baik, tidak mungkin berasal dari kata balal,
"membingungkan," "mencampurkan" tetapi menurut mereka artinya adalah
"pintu gerbang Allah." Melalui sebuah permainan kata, istilah tersebut
bisa berarti "kekacauan." Kata Aram balbel berarti "kekacauan." Alan
Richardson mengingatkan kita bahwa pemberian karunia berbahasa lidah
pada hari Pentakosta (Kis. 2:5-11) dapat dianggap sebagai pembalikan
dari pengacauan bahasa di Babel ini. Richardson mengatakan, "Ketika
manusia di dalam keangkuhannya bermegah atas prestasi yang mereka capai,
yang dihasilkan tidak lebih daripada perpecahan, kekacauan dan
kebingungan; tetapi ketika karya ajaib Allah diberitakan, setiap orang
dapat mendengar Injil rasuli dalam bahasanya sendiri" (Genesis 1-11,
hlm. 126).


SGDK
HARI MINGGU XVI SESUDAH PENTAKOSTA
MINGGU, 16 SEPTEMBER 2018
SOMBONG TERHADAP ALLAH BERAKHIR BENCANA
Kejadian 11:1-9

PENGANTAR
Kitab Kejadian dapat dibagi atas dua muatan tema sebagai
berikut :
a. Kejadian 1-11:26 memuat oerita tentang awai mula. Pa-
da bagian ini dipaparkan tentang awal mula dunia (kisah
penoiptaan), manusia dan dosa.
b. Kejadian 11:2?-50:26 memuat oerita tentang pemilihan
satu umat melalui Abraham, lshak clan Yakub.

Cerita Menara Babei termasuk dalam muaian yang penama; di
daiamnya terdapat cerita tentang awaf mula kepelbagaian bahasa
di dunia.

Centa tentang pembangunan menara yang tinggi menjulang ke
fangit dapat dijumpai di beberapa daerah, termasuk juga di Meso-
potamia (Sumeria). Pada umumnya cerita tersebut dihubungkan
dengan keinginan manusia untuk mencapai langit yang menjadi
tempat bersemayam Yang Mahatinggi. Inf berarti bangunan yang
tinggi, seperti halnya menara, dapat dipahami sebagai jalur hilir
mudik makhluk-makhluk ilahi (bdk. tangga yang difihat Yakub di
Kej 28: 12). Di Mesopotamia kuno terdapat beberapa zigurat. Zigurat
adalah bangunan besar yang dimaksudkan sebagai jalur peng-
hubung dunia yang ilahi (langit) dengan dunia realita (bumi). Bagian
atas zigurat dipahami sebagai gerbang memasuki negeri para dewa.
Mitos tentang awal mula sesuatu (origin myths) dapat dijum-
pai di semua tempat di dunia dan memiliki kaitan yang kuat de-
ngan tempat dan tradisi budaya setempat. Cerita-cerita tersebut
berfungsi sebagai bahan pengajaran, karena kandungan nilai-nilai
kehidupan yang ada di daiamnya. Beberapa ilmuwan eenderung
memahami mitos (myth) itu sendiri sebagai oara menceritakan
keadaan yang berada di Iuarjangkauan nalar dan pemahaman
manusia. Yang penting dari mitos bukan pada fakta ilmiah atau
fakta sejarahnya, tetapi lebih pada makna simbolik di balik cerita
itu.

Cerita Menara Babel seringkali dipandang sebagai mitos
tentang asal mula. Umat lsrael memahami oerita Menara Babe! ini
dalam kaitannya sebagai pengakuan iman bangsa Israel pada
kekuasaan Tuhan untuk mengatur dan mengarahkan dunia.

PENDALAMAN TEKS
1. Manusia sebagai pemeran utama (11:1-4)
Manusia di muka bumi memiliki satu kesaTuan bahasa dan logat.
berkaitan dengan hukuman air bah yang menyisakan satu
marga, Nuh. Air bah setinggi "Lima belaa hasta lebih tinggi dari
ujung tinggi di kolong langit" itu telah menutupi seluruh daratan
menghabiskan setiap makhluk hidup di luar bahtera Nuh. Selanjutnya,
keturunan Nuh -melalui anaknya, Ham menyebar sampai
dataran di Sinear.

Manusia ingin membuat menara. Alasannya adalah untuk
mencari nama dan tidak terserak. Ada tiga hal yang perlu diperhatikan.
Perlu dipertimbangkan bahwa pembuatan menara yang
tingginya sampai ka langit ini merupakan respon atas
peristiwa air bah yang parnah terjadi. Kata lbrani syama-
yim yang diterjemahkan sebagai Iangit, dalam Alkitab King
James Version diterjemahkan dengan heaven. Dalam
pengertian kata tersebut, garnbaran yang didapat bahwa
menara ini menjadi simbol pencapaian manusia melalui
usahanya sendiri di hadapan Tuhan.

Kata lbrani syem, yang diterjemahkan sebagai nama, ju-
ga menun}uk pada kemashyuran dan rerkena.-'. Nama yang
dikenal dan masyhur dapat dipahami sebagai karunia Allah
(bdk.Kej.12:2). Namun cari bama dalam mega proyek
pembangunan menara tersebut lebih cenderung dipahami
sebagai kehendak meninggikan diri mencapai pering-
kat Tuhan. lni seperti ular yang rnenggoda,  .. dan kamu
akan menjadf seperti Allah" (bdk.Kej.3:5).

Dalam perikop selanjutnya dijumpai bahwa berkat nama
yang terkenal itu akan jatuh pada keturunan dari anak Nuh
yang bernama Sem (Kej.11 :10; daiam penulisan lbrani
menggunakan kata yang sama dengan syem), bukan pada
Ham.

Keinginan rnenjadi satu atas daaar persahabatan, keber-
sarnaan atau persekutuan adalah hai yang baik. Perso-
alan daiam ay.4 adalah kesatuan yang dibuat canderung
disebabkan keinginan menyamai Tuhan; perhatikan fraaa
 supaya kita jangan terserak." Kemauan untuk menyebar yang teiah dilakukan sebelumnya (Kej.10:32 bdk. Kej.10:25) berubah menjadi semangat persatuan.


 
Manusia satu bahasa
diseluruh bumi(1)

Tuhan mengacaukan
bahasa di Babel (9)

(Garnbar tabel paralisme terbalik dari Kejadian11:1-9)

Panerapan
dalam Kehidupan Sehari-hari Beberapa pokok pikiran yang dihasilkan dari
pengenalan teks diatas aclalah sebagai berikut.

Pengakuan yang sungguh-sungguh umat daiam kehi-
dupan sehari-hari atas tindakan Tuhan dalam seluruh hi-
dup ini. Tindakan Tuhan sering kali tidak dapat dipahami
oleh akal pikiran manusia, sehingga umat sepatutnya
menunjukkan sikap penyerahan pada tindakan Tuhan.
Keyakinan dan pengandalan yang kuat pada sumber da-
ya yang dimiliki dalam mencapai suatu tujuan dapat mang-
giring pada sikap sombong (arogan). Teknologi yang ciimiliki
clan kebersamaan yang ditunjukkan daiarn perikop Kejadian
11 :1-9 ternyaia membuat manusia menunjukkan kesom-
bongan di hadapan Tuhan. Tidak sedikit orang yang bemikir
bahwa dengan kemampuan dan hubungan yang dirnmkifiya
dia mampu menclapatkan apa saja, lalu mengecilkan peran
Tuhan.

Tuhan berkuasa menunjukkan kemahakuasaan-Nya.
Cerita Menara Babel rnangajarkan bahwa Tuhan akan
menyatakan tindakan-Nya yang keras pada setiap ke-
som bongan yang ditunjukkan manusia. Manusia adalah
makhluk yang kecil, Tidak ada apa-apanya di hadapan
Tuhan semesta aiam. Dalam kekuasaan-Nya yang sung-
guh tidak terjangkau nalar rnanusfa, Tuhan dapat mem-
berikan satu ‘tindakan kecil‘ yang justru membawa ben-
cana kehancuran bagi manusia yang penuh kes0mb0ng-
an.

Kebesaran dan kemuliaan yang diperoleh manusia bukan
karena usahanya sendiri, rnelainkan karena anugerah
Tuhan. Oleh karena itu, umat harus memandang bahwa
ha!-hai istimewa yang dimiliki oleh masing-masing pribadi
merupakan anugerah Tuhan.

PESAN
Ada beberapa gagasan utama yang perlu menjacli pesan.
Manusia yang penuh keterbatasan tidak akan pernah
menyamai Tuhan, sehingga kesombongan yang ditun-
jukkan oleh seseorang pada orang lain, terutama kepada
Tuhan adaiah iindakan merendahkan Tuhan.
b. Kerendahan hati adalah syarat mutlak yang harus dimi-
liki oleh setiap orang beriman. Kerendahan hati akan
mernbangun seseorang pada pengenalan yang semakin
dekat dengan Tuhan dan sesarna.

CONTOH KHOTBAH
Pada bulan April 1914, ketika kapal Titanic yang sedang ber-
layar di Laut Atlantik mendapat rnasalah, pimpinan perusahaan
White Star Line, Phillip Franklin mengaiakan, "Kami rnenempat-
kan kepercayaan mutlak pada Titanic. Kami yakin perahu itu ti-
dak bisa tengge|am." Bagaimana mungkin kapal yang dibangun
dengan semangat kemajuan teknologi di awal abad 20 itu ber-
masalah? Tuhan sendiri pun tidak dapar menenggelamkan kapal
itu; kata mereka. Oh, ya?

Perkembangan teknologi pada masa kini sangat mengagum-
kan. Bayangan perkembangan teknologi daiam waktu mendatang
pun semakin membuat penasaran.Perkernbangan teknologi me-
nunjukkan pemikiran manusia yang semakin berkembang.
Pada masa lampau penggunaan batu bata dan aspal untuk
rnernbuat bangunan rumah dan menara dianggap sebuah kema-
juan yang mengagumkan. Lalu muncul pemikiran beberapa orang,
kenapa tidak sekalian saja mernbuat menara yang ringgi; puncak-
nya menembus Iangit?Jika mereka mampu membuat menara itu,
maka mereka dapat menyelamatkan diri dari ancaman-ancaman
dunia luar, bahkan dari air bah. Mereka tidak akan dipandang
remeh, malah dianggap hebat. Lagipula dengan kehadiran rnenara
itu, mereka bisa tetap berkumpul dan menikrnati rasanya disegani
dan ditakuti orang lain. Orang-orang di sekitar mereka akan saling
berbisik iri; "lihatiah rnereka, orang-orang yang telah mendatangi
rumah Tuhan di langit."

Sayangnya, ketika menara masih dalam pembuatan, Tuhan
malah merendahkan hati, turun melihat pekerjaan rnereka. Mana
menaranya? Tuhan mengacaukan pekerjaan mereka. Bukan ha-
nya pekerjaan pembangunan menara, bahasa dan kemampuan
berkomunikasi orang-orang itu pun dikacaukan. Pembangunan
menara terhenti. Orang-orang di sekitar mereka saiing berbisik
sinis; "lihatlah mereka, orang-orang yang katanya akan menda-
tangi rumah Tuhan di langit."

Perkembangan tekhnologi memang hebat dan mengagumkan,
demikian juga kemampuan berpikir manusia yang kreatif menemu-
kan hal-hal baru. Namun tetap saja kehebatan yang mengagumkan
itu tidak bisa dibandingkan dengan kekuasaan Tuhan yang telah
menciptakan langit dan bumi ini. Ketika kita mengandalkan se-
penuhnya kemampuan kita dan menyombongkannya kepada
semua orang, bahkan kepada Tuhan, bisajadi Tuhan malah akan
merendahkan diri-Nya, rnenjumpai kita. Selanjutnya, dengan se-
gera dan cara-Nya yang tidak dapat kita pikirkan, kita sudah
dipermalukan.

Sebelum bencana terjadi, kapal-kapal kecil di sekitarnya se-
benarnya sudah rnengingatkan melalui radio, bahwa ada behe-
rapa gunung es di tempat itu. Namun pesan rnereka diabaikan
oieh Titanic. "Inf Titanic, bukan kapal kecil; kapa! yang tidak bisa
tenggelam. "Akhirnya Titanic, Sang Raksasa itu, menabrak gu-
nung es dan tenggelam daiam waktu 2 jam 40 menit bersama
1.500 orang di dalamnya pada malam hari di tengah laut yang
dingin. Kesombongan mereka pada Tuhan Allah membawa ben-
cana bagi mereka sendiri.



SBU

HARI MINGGU XVI SES. PENTAKOSTA
MINGGU, 16 SEPTEMBER 2018
Renungan Pagi
GB.229:1 -Berdoa
SOMBONG TERHADAP ALLAH BERAKHIR BENCANA

Kejadian 11:1-9
"Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi" (ay.4)

Sebuah pepatah Yahudi, "Kesombongan adalah topeng dari kesalahan." Pepatah ini ada benarnya! Tidak sedikit orang berlaku sombong untuk menutupi keburukan, pelanggaran, bahkan dosa pribadinya. Peristiwa di tanah Sinear - Babel di masa purbakala menunjukkan hal tersebut. Pertama, sikap manusia yang tidak mengindahkan perintah Allah agar berpencar dan memenuhi seluruh muka bumi serta memeliharanya pasca peristiwa air bah merupakan salah satu bentuk kesombongan terhadap Allah. Sikap tersebut juga menandakan keinginan manusia untuk hidup dalam keamanan dan kenyamanan, hingga lalai meyaklni kuasa dan
pemeliharaan Allah atas kehidupan mereka dl mana pun mereka menetap dan bekerja di dunia.

Kedua, sikap manusia yang mencari nama (ay.4) hingga menghalalkan berbagai cara telah menyebabkan kesia-siaan belaka dalam hidup dan karya mereka. Mereka lupa bahwa sebuah menara yang kuat tidak cukup dibangun hanya dengan tanah liat, melainkan terutama dengan bebatuan! Demikian pula ‘menara‘ kehidupan kita hanya kuat jika didasarkan pada sikap
taat dan kasih kepada Allah, bukan karena kuasa, jabatan, kekayaan, kegagahan, serta hikmat manusiawi yang terbatas adanya.

Ketiga, Allah tidak menghendaki manusia bersatu untuk menyombongkan diri di hadapan-Nya. Allah akan melakukan segala tindakan yang dipandang-Nya perlu untuk menggagalkan semua niat dan pekerjaan jahat manusia, supaya mereka kembali melaksanakan tugasnya sebagai ciptaan-Nya sekaligus rekan sekerja Allah di dunia. Keempat, Allah selalu memiliki cara yang tepat untuk mengakhiri kesombongan manusia. Di masa lalu, la telah menciptakan berbagai bahasa manusia supaya mereka tidak saling bersepakat untuk melakukan yang jahat. Namun, melalui keragaman tersebut, Allah juga mendidlk manusia agar belajar rendah hati dan saling memahami seorang terhadap yang lain.

Belajar dari perlstiwa tersebut, mari kita hentikan segala bentuk kesombongan sebab kesombongan hanya mendatangkan hukuman Allah. Sebaliknya, taatlah kepada Allah dan muliakanlah Dia melalui segenap karya dan pelayanan kita. Hanya dengan demikian kita dapat menjadi berkahdl mana pun kita berada dan bekerja.

KJ.411 : 1, 2
Doa : (Ya Tuhan, cegahlah hati dan lidahku dari segala kesombongan, serta mampukanlah aku untuk melayani-Mu dengan taat)




HARI MINGGU XVI SES. PENTAKOSTA
MlNGGU,16 SEPTEMBER 2013 ,
Renugan Malam
GB.48 : 1, 2 -Berdoa
ARAH YANG TIDAK TEPAT

Amsal 21 : 4
"Mata yang congkak dan hati yang sombong, yang menjadi pelita orang fasik, adalah dosa" (ay. 4)

Pada tahun 2003 jalan dari Sosok ke Entikong yang diberikan penerangan adalah bagian jalan yang melintasi pemukiman. Tidak ada penerangan di bagian jalan yang melintasi hutan. Dernikian juga pada bagian antara desa Kasromego dan desa Kenaman. Bagian kiri dan kanannya adalah hutan dengan pohon-pohon besar. Bila hendak mengendarai motor di bagian jalan itu di malam hari, sebaiknya dipastikan bahwa lampu dalam keadaan baik. Jika tidak
mau salah arah di perjalanan, kita harus mengandalkan penerangan yang baik. Jika lampu mendadak mati dan harus mendorong motor, berharaplah ada cahaya purnama dan tidak ada ular sepanjang 5 meter sedang menyeberangi jalan.

Setiap orang membutuhkan arahan dalam mengambil keputusan. Arahan itu bisa datang melalui keluarga, teman, rekan kerja, bahkan orang asing sekalipun. Jika Tuhan berkenan, arahan dari mereka akan mengantar pada hal-hal yang jauh lebih baik. Namun, tidak jarang seseorang lebih suka diarahkan oleh pikirannya sendiri.

Pengambilan keputusan juga didasarkan pada kemauan sendiri. Merasa pandangannya lebih baik dari orang lain, ditambah percaya diri sendiri dan tidak menyerahkan pada kehendak Tuhan adalah awal dari arah tujuan yang tidak sesuai sasaran. Tujuan yang tidak tepat dengan sasaran bukan saja memengaruhi masa depan, tapi juga orang lain. Iya, kalau jadi lebih baik, tapi kalau tidak? Benih kesombongan ada dalam pikiran setiap orang yang terlalu percaya diri dan hanya melihat bahwa dirinya yang paling baik dari yang lain. Juga ada di hati setiap orang yang memandang rendah orang lain. Ketika kesombongan telah menguasai pikiran dan hati seseorang, maka dia tidak lagi dalam arah tujuan yang tepat.

GB.48:3,4
Doa : (Tuhan, jangan biarkan kami hanya mengandalkan pikiran dan perasaan kami. Ingatkan kami untuk selalu menyerahkan keputusan kami dalam tuntunan-Mu)


Label:   Kejadian 11:1-9 



Khotbah Ibadah GPIB 2018

Khotbah Ibadah GPIB MINGGU, 16 SEPTEMBER 2018 - SOMBONG TERHADAP ALLAH BERAKHIR BENCANA - Kejadian 11:1-9 - HARI MINGGU XVI SESUDAH PENTAKOSTA





[isi halaman tidak ditampilkan]

Halaman Khusus Member Pemberi Donasi.
Silakan Login Terlebih Dahulu!

Belum menjadi member? Silakan Register







Halaman Bebas Akses untuk Member Donasi:



NEXT:
Khotbah Ibadah GPIB Senin, 17 SEPTEMBER 2018 - SESUMBAR ITU BIKIN MALU - Amsal 11:1-2 - MINGGU XVI SES. PENTAKOSTA

PREV:
Khotbah Ibadah GPIB SABTU, 15 SEPTEMBER 2018 - SEGALA KEMULIAAN HANYA BAGI TUHAN - Roma 16:25-27
Sinergypro adalah Perusahaan yang bergerak di bidang Replikasi, Duplikasi Cd, Vcd, Dvd dan juga menangani desain Grafis, Percetakan Offset Printing seperti Cover, buku, Katalog, X-Banner, Spanduk, Umbul-umbul, Kaos dll.

Kami sudah puluhan tahun di bidang ini dan sangat berpengalaman sehingga dengan keahlian yang kami punya berharap dapat memuaskan para pelanggan di dalam kerjasama dengan kami. Kami terus meningkatkan kinerja yang lebih optimal melalui ketepatan waktu, ketelitian dan hasil yang memuaskan



rss lagu-gereja.com  Register   Login  

Lagu Kotbah


songbatak.com-karaoke



JUMAT, 30 NOVEMBER 2018
Khotbah Ibadah GPIB JUMAT, 30 NOVEMBER 2018 - BELAJAR BUAK DARI KEHIDUPAN - 2 Timotius 2:1-7 - MINGGU XXVI SES. PENTAKOSTA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)
Hari ketujuh, Demikianlah riwayat langit dan bumi // TUHAN Allah, Ada kabut naik ke atas ... dan membasahi // kabut, Tuhan Allah membentuk // manusia itu dari debu tanah // membentuk // manusia itu dari debu tanah ... menghembuskan // napas hidup ke
RABU, 28 NOVEMBER 2018
RABU, 28 NOVEMBER 2018 - MENDERITA DALAM KEBENARAN, BERBAHAGIALAH - 1 Petrus 2:18-25 (SGDK) - MlNGGU XXVI SESUDAH PENTAKOSTA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU) Sabda Guna Dharma Krida (SGDK)

SELASA, 27 NOVEMBER 2018
Khotbah Ibadah GPIB SELASA, 27 NOVEMBER 2018 - MEMBERLAKUKAN APA YANG DIBERLAKUKAN TUHAN - 1 Petrus 2:7-10 - MINGGU XXVI SES. PENTAKOSTA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)

SENIN, 26 NOVEMBER 2018
Khotbah Ibadah GPIB SENIN, 26 NOVEMBER 2018 - HIDUP ADALAH UCAPAN SYUKUR - 1 Petrus 1:17-25 - MINGGU XXVI SES. PENTAKOSTA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)
Jika kamu menyebut-Nya Bapa // Hidup dalam ketakutan, Kamu telah ditebus ... bukan dengan barang yang fana // Dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus // yang mahal, Rasul Petrus menasihati mereka supaya menjalin kasih persaudaraan, Sia-sianya Ma
MINGGU, 25 NOVEMBER 2018
Khotbah Ibadah GPIB MINGGU, 25 NOVEMBER 2018 - BERHIKMAT DALAM HIDUP - 1 Korintus 10:12-13 - HARI MINGGU XXVI SES. PENTAKOSTA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)



Minggu, 04 November 2018
Tata Ibadah Hari Minggu Syukur HUT ke-8 PKLU GPIB - Minggu, 04 November 2018

JUKLAK HUT KE-8 PKLU GPIB, PESAN MS GPIB HUT ke-8 PKLU, surat pengantar hut 8 pklu, TATA IBADAH PKLU GPIB HUT Ke-8 PKLU
7 OKTOBER 2018
KOREKSI LAGU DALAM TATA IBADAH 7 OKTOBER 2018 DAN PETUNJUK PELAKSANAAN IBADAH MINGGU SELAMA BULAN OKTOBER 2018


Minggu, 07 Oktober 2018
Tata Ibadah HARI PERJAMUAN KUDUS se-DUNIA dan HARI PEKABARAN INJIL INDONESIA (HPKD/HPII) Minggu, 07 Oktober 2018

Menggunakan Tata Ibadah GEREJA KRISTEN JAWA (GKJ)



Gereja GPIB di Jakarta (Map)
Gereja GPIB di Surabaya (Map)
Gereja GPIB di Makassar (Map)
Gereja GPIB di Medan (Map)
Gereja GPIB di Bandung (Map)
Gereja GPIB di Manado (Map)
Gereja GPIB di Bekasi (Map)
Gereja GPIB di Tangerang (Map)
Gereja GPIB di Denpasar (Map)
Gereja GPIB di Bogor (Map)

SABTU, 12 JANUARI 2019
Khotbah Ibadah GPIB SABTU, 12 JANUARI 2019 - PERGANTIAN NAMA - Yesaya 65:15-16 - MINGGU EPIFANIA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)
KESALEHAN DAN KESALAHAN, Dalam hal kehormatan dan nama baik
JUMAT, 11 JANUARI 2019
Khotbah Ibadah GPIB JUMAT, 11 JANUARI 2019 - BERPALING DARI DOSA DAN KEMBALI KEPADANYA - Yesaya 65:1-7 - MINGGU EPIFANIA
Sabda Bina Umat (SBU)
Pertobatan Bangsa-bangsa Bukan Yahudi; Kefasikan Orang-orang Yahudi; Penolakan terhadap Orang-orang, BERKAT TUHAN UNTUK MEREKA YANG SETIA
KAMIS, 10 JANUARI 2019
Khotbah Ibadah GPIB KAMIS, 10 JANUARI 2019 - ANGKAT HATI PADA ALLAH - Yesaya 64:7-12 - HARI EPIFANIA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)
ALLAH TIDAK TURUN TANGAN ,
RABU, 9 JANUARI 2019
Khotbah Ibadah GPIB RABU, 9 JANUARI 2019 - KONEKSI DAN KOREKSI - Yesaya 63:15-19 (SGDK) - MINGGU EPIFANIA
Penjelasan Ayat Sabda Guna Dharma Krida (SGDK)
Permohonan Sepenuh Hati,
RABU, 9 JANUARI 2019
Khotbah Ibadah GPIB RABU, 9 JANUARI 2019 - KONEKSI DAN KOREKSI - Yesaya 63:15-19 - MINGGU EPIFANIA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)
Permohonan Sepenuh Hati, ALLAH PENYELAMAT TUNGGAL