Save Page
Yakobus 1:26-27
1:26
Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak
mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah
ibadahnya. 1:27 Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan
Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam
kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan
oleh dunia.


Penjelasan:

* Yak 1:26 - ibadah
Penulis kini beralih dari masalah "tidak hanya mendengar tetapi juga melakukan"
yang bersifat lebih umum kepada masalah "bukan sekadar ibadah melainkan
perbuatan" yang bersifat lebih khusus. Kata ibadah (threskos) berarti
"terbiasa melakukan kegiatan keagamaan." Di dalam konteks ini yang
dimaksudkan ialah kehadiran pada kebaktian dan acara rohani lainnya,
seperti doa, kegiatan beramal dan berpuasa. Orang yang sangat teliti
melakukan semua ini tetapi di dalam kehidupan sehari-harinya tidak dapat
mengendalikan ucapannya menipu dirinya sendiri dan agamanya semu
(Moffatt, sia-sia).

* Yak 1:27 - Dunia
"Ini bukan definisi
tentang agama, melainkan sebuah pernyataan. mengenai apa yang lebih baik
daripada ibadah lahiriah. Yakobus sama sekali tidak berpikir untuk
mengurangi agama menjadi kesucian perilaku secara negatif yang ditambah
dengan kunjungan dalam kegiatan amal" (James H. Ropes, The Epistle od
St. James, hlm. 182). Karena para janda dan anak yatim di dalam
masyarakat kuno diabaikan, mereka merupakan contoh khas yang mewakili
orang-orang yang mendambakan bantuan. Sebagai tambahan dari melakukan
kegiatan amal, memelihara kemurnian diri merupakan cara lain untuk
mengungkapkan agama yang sejati. Dunia di sini dan di 4:4 mengacu kepada
masyarakat duniawi yang menentang, atau setidak-tidaknya, asing bagi
Allah.

* Selanjutnya Rasul Yakobus memberi tahu kita bagaimana
kita dapat membedakan antara ibadah yang sia-sia dan apa yang murni dan
berkenan kepada Allah. Sungguh besar dan panas perdebatan-perdebatan
yang ada di dunia mengenai masalah ini: ibadah apa yang palsu dan
sia-sia, dan apa yang benar dan murni. Saya berharap orang mau
membiarkan Kitab Suci dalam hal ini menentukan masalahnya. Dan di sini
dengan jelas dan tegas dinyatakan,
    1. Apa itu ibadah yang
sia-sia: Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak
mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah
ibadahnya. Di sini ada tiga hal yang perlu diperhatikan:
        (1)
Dalam ibadah yang sia-sia ada banyak hal yang dipamerkan, dan orang
bertingkah sedemikian rupa supaya tampak saleh di mata orang lain. Hal
ini, menurut saya, disebutkan sedemikian rupa supaya kita memusatkan
perhatian pada kata tampak. Apabila orang lebih peduli untuk tampak
saleh daripada yang sebenarnya, itu pertanda bahwa ibadah mereka
hanyalah sia-sia. Bukan berarti bahwa ibadah dengan sendirinya merupakan
hal yang sia-sia (orang berbuat sangat tidak adil terhadap ibadah jika
mereka berkata, adalah sia-sia beribadah kepada Allah). Tetapi bisa saja
orang menjadikan ibadah itu sebagai hal yang sia-sia, jika mereka hanya
tampak saleh dari luar, tetapi tidak memiliki kuasanya.
        (2)
Dalam ibadah yang sia-sia ada banyak celaan, cercaan, dan perbuatan
mengecilkan orang lain. Yang terutama dimaksud dengan tidak mengekang
lidah di sini adalah tidak menahan diri dari kejahatan-kejahatan lidah
ini. Apabila kita mendengar orang mudah membicarakan kesalahan-kesalahan
orang lain, atau mengecam mereka sebagai terlibat dalam aib-aib
tertentu, atau merendahkan hikmat dan kesalehan orang-orang di sekitar
mereka, supaya mereka sendiri bisa tampak lebih bijak dan lebih baik,
ini pertanda bahwa ibadah mereka hanyalah sia-sia. Orang yang lidahnya
suka merendahkan pasti tidak memiliki kerendahan dan kemurahan hati.
Orang yang senang menyakiti sesamanya sia-sia saja mengaku mengasihi
Allah. Oleh sebab itu, lidah yang suka mencerca akan membuktikan bahwa
ia orang munafik. Mencela adalah dosa yang menyenangkan, suatu penyakit
yang sangat alami, dan karena itu menunjukkan orang dalam keadaannya
yang alami. Dosa-Dosa lidah ini adalah dosa besar di zaman ketika Rasul
Yakobus menulis suratnya ini (seperti yang ditunjukkan dalam
bagian-bagian lain dari surat ini), dan merupakan pertanda kuat dari
ibadah yang sia-sia (tegas Dr. Manton) jika ibadah itu bisa terbawa-bawa
oleh kejahatan zaman. Ini sudah menjadi dosa terkemuka dari orang-orang
munafik, bahwa semakin kuat keinginan mereka untuk menampakkan diri
sebagai orang baik, semakin leluasa mereka mencela dan mempergunjingkan
orang lain. Ada hubungan yang begitu cepat antara lidah dan hati
sehingga hati bisa diketahui dari lidah, dan begitu pula sebaliknya.
Atas dasar inilah Rasul Yakobus menjadikan perbuatan tidak mengekang
lidah sebagai bukti yang pasti dan tidak diragukan lagi dari ibadah yang
sia-sia. Tidak ada kekuatan atau kuasa di dalam ibadah yang tidak mampu
membuat orang mengekang lidahnya.
        (3) Dalam ibadah yang
sia-sia orang menipu hatinya sendiri. Ia terus saja mengecilkan orang
lain, dan menjadikan dirinya tampak seperti orang hebat, sehingga pada
akhirnya kesia-siaan ibadahnya mencapai puncak dengan tertipunya jiwanya
sendiri. Apabila ibadah sudah menjadi hal yang sia-sia, betapa besarnya
kesia-siaan itu!
    2. Di sini dengan jelas dan tegas dinyatakan
agama itu menyangkut hal-hal apa saja: Ibadah yang murni dan yang tak
bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah (ay. 27). Cermatilah,
       
(1) Merupakan kemuliaan dari ibadah bahwa ia murni dan tidak bercacat,
tidak bercampur baur dengan temuan-temuan manusia atau kebobrokan dunia.
Ibadah-ibadah palsu dapat diketahui dari ketidakmurniannya dan
perbuatannya yang tanpa kasih. Menurut pengertian Rasul Yohanes, setiap
orang yang tidak berbuat kebenaran, tidak berasal dari Allah, demikian
juga barangsiapa yang tidak mengasihi saudaranya (1Yoh. 3:10).
Sebaliknya, hidup yang kudus dan hati yang penuh kasih menunjukkan
ibadah yang benar. Ibadah kita (tegas Dr. Manton) tidak dihiasi dengan
upacara-upacara, melainkan kemurnian dan kasih. Dan beliau memberikan
pengamatan yang baik bahwa ibadah yang murni harus tetap dijaga supaya
tidak tercemar.
        (2) Ibadah itu murni dan tidak bercacat
apabila memang demikian di hadapan Allah Bapa. Apa yang benar adalah
yang benar di mata Allah, dan yang terutama mencari perkenanan-Nya.
Agama yang benar mengajar kita untuk melakukan segala sesuatu seperti
kita melakukannya di hadapan Allah, dan untuk mencari perkenanan-Nya,
serta berusaha menyenangkan-Nya dalam segala tindakan kita.
       
(3) Belas kasihan dan amal kepada orang miskin dan orang susah membentuk
satu bagian yang amat besar dan penting dari ibadah yang benar:
Mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka.
Mengunjungi di sini berarti segala macam bantuan yang dapat kita berikan
kepada orang lain. Yatim piatu dan janda-janda disebutkan secara khusus
di sini, karena pada umumnya mereka sangat mudah diabaikan atau
ditindas. Tetapi yang harus kita pahami dengan mereka ini adalah semua
orang yang pantas diberi amal, semua orang yang sedang kesusahan.
Sungguh menakjubkan bahwa jika ibadah secara keseluruhan bisa dirangkum
dalam dua butir, maka inilah jadinya: mengasihi dan melegakan orang yang
menderita. Perhatikanlah,
        (4) Hidup yang tidak tercemar
pasti mendampingi kasih dan amal yang tulus: Menjaga supaya dirinya
sendiri tidak dicemarkan oleh dunia. Dunia mudah mencemarkan dan menodai
jiwa, dan sulit untuk hidup di dalamnya, berurusan dengannya, dan tetap
tidak bercela. Namun ini harus senantiasa kita usahakan. Dalam hal
inilah terdapat ibadah yang murni dan tak bercacat. Perkara-perkara
duniawi yang terlalu berlebihan akan menodai roh kita, jika kita banyak
terlibat dengannya. Tetapi terlebih lagi dosa-dosa dan nafsu dunia akan
mengotori dan menajiskan roh kita dengan sangat terkutuk. Rasul Yohanes
merangkum semua yang ada di dalam dunia, yang tidak boleh kita cintai,
dalam tiga hal berikut ini: keinginan daging, keinginan mata, dan
keangkuhan hidup. Menjaga supaya tidak tercemar oleh kesemuanya ini
berarti menjaga diri untuk tidak tercemar oleh dunia. Semoga Allah
dengan anugerah-Nya menjaga baik hati maupun hidup kita supaya tetap
bersih dari cinta terhadap dunia, dan dari godaan-godaan manusia duniawi
dan fasik.


SBU

MINGGU XVII SES. PENTAKOSTA
SELASA, 25 SEPTEMBER 2018
Renungan Pagi
GB.70 : 1 -Berdoa
HUKUM YANG MEMERDEKAKAN

Yakobus 1:22-25
Tetapi barang siapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang
memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya
mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya (ay.25)

Menyambut Firman Tuhan dengan hati dan tangan yang terbuka,
melaksanakan dan mengimplementasi Hukum Tuhan, akan mem-
persempit ruang gerak kehidupan. Banyak sekali kesempatan-
kesempatan untuk maju dan berkembang dikekang atau dibendung.
Banyak kenikmatan-kenikmatan hidup dan kemudahan yang harus
dikorbankan. Banyak fasilitas yang harus disingkirkan. Lebih
banyak rugi ketimbang untung. Hukum Tuhan penuh dengan kata
jangan... dan jangan....|tuIah kesan umum banyak orang sehingga
mereka menjauhi kehidupan yang bernafaskan iman kristiani.
Apakah benar Hukum dan kemerdekaan bertentangan atau ber-
tolak belakang sehingga tidak bisa kompromi? Hukum mengekang
dan membatasi sementara kemerdekaan membuka semua pintu
yang terkunci, melepaskan semua yang terkurung. Kemerdekaan
memberikan tiket kepada manusia untuk melakukan semua yang
disenangi. Tetapi yang perlu diperhatikan ialah ketika manusia
bebas dan mampu melaksanakan apa saja yang ia kehendaki,
maka di saat seperti itu, ia telah mengundang dan membuka pintu
bagi persoalan di dalam hidupnya.

Kemerdekaan tidak menegasikan Hukum Tuhan dan Hukum
Tuhan tidak menegaskan kemerdekaan sebab Hukum Tuhan
adalah Hukum yang memerdekakan. Hukum tidak membatasi dan
mengekang kehidupan tetapi mengarahkan kehidupan ketika ke-
merdekaan telah dicapai. Seringkali kebebasan Iepas kendali tidak
tahu ke mana ia harus pergi, kemerdekaan yang kehilangan arah.
Di saat seperti itulah Hukum Tuhan dibutuhkan. Orang yang me-
Iakukan Hukum Tuhan bukan orang yang dikendalikan dan diatur
oleh hukum, tetapi orang yang menemukan kebenaran bahwa di
dalam ketaatan dan pelayanan terhadap hukum Tuhan, ia menemu-
kan kemerdekaan yang sebenarnya. Melaksanakan hukum Tuhan
tidak dirasakan sebagai beban, tetapi dilakukan dengan sukacita,
bukan dengan terpaksa tetapi dengan rela.

GB.70:2,3
Doa : (Tolong kami Bapa, agar Hukum-hukum-Mu tidak kami
rasakan sebagai beban, tetapi mendatangkan sukacita dan
memandu kami dalam perjalanan kehidupan)





MINGGU XVII SES. PENTAKOSTA
SELASA, 25 SEPTEMBER 2018
Renungan Malam
GB.189 : 1 -Berdoa
IBADAH YANG MURNI

Yakobus 1:26-27
ibadah
yang murni dan yang tidak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah
mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka...(ay.27)

Pemahaman manusia tentang ibadah yang diterima Tuhan atau
ibadah yang murni ternyata beragam, sehingga tidak jarang mem~
bingungkan. Ada yang menekankan kebenaran ritual misalnya:
membasuh tangan sebelum makan atau mencuci cawan, kendi
dan perabot rumah tangga (Mark 7:3-4). Di kalangan Kristen misal-
nya baptisan percik atau selam sangat menentukan murni atau
palsunya sebuah ibadah. Tata ibadah, rumusan doa yang dijadikan
seperti mantra. Tidak jarang ritus membawa perpecahan dan ke-
kerasan, orang-orang yang dianggap sekte atau bidat dipaksa atau
disiksa untuk berjalan di jalan atau ritual yang benar.

Yakobus mempunyai kriteria yang lain. ibadah yang murni tifilak
acla hubungannya clengan ritus, tetapi ibadah yang murni berhubung-
an erat dengan belarasa atau kepedulian terhadap sesama. ibadah
yang murni clidemonstrasikan dalam kepekaan dan uluran tangan
terhadap anak-anak yatim piatu dan para janda. ibadah yang murni
berpihak dan memberi perhatian kepada yang marginal. ibadah
yang murni terlihat simpel dan tidak kompleks, yaitu: menolong
orang susah. Tetapi ternyata melakukan yang simpel itu jauh lebih
sulit dibandingkan dengan melakukan ritus-ritus atau seremoni
ibadah yang sangat detail, panjang dan berbelit-belit.

Seremoni dan ritus atau korban yang dipersembahkan manusia
untuk memuliakan Allah, tidak akan terganggu apabila belarasa
clan kepeclulian hadir dalam seremoni itu. Tetapi ritus tanpa bela
rasa atau keprihatian terhadap sesama, akan membuat ibadah
menjadi hambar seperti makanan tanpa garam atau makanan tanpa
rasa. Dengan perkataan lain itulah ibadah yang tidak murni. Me-
melihara ritus dengan teliti tetapi mengabaikan orang yang men-
derita, diilustrasikan Yesus dengan sangat jelas dalam perumpama-
an orang Samaria yang murah hati. ibadah yang benar bukan meng-
hindar dari yang sekarat menjelang ajal demi menjaga ritus atau
me-njaga diri agar tidak najis seperti imam besar dan orang Lewi.
Tetapi ibadah yang benar didemonstrasikan oleh orang Samaria
yang dianggap kafir.

GB.189:2,3
Doa : (Tuhan tolong kami agar kami mampu beribadah dengan
benar. Kami lebih menghargai manusia ketimbang ritus atau
seremoni)

Label:   Yakobus 1:26-27 



Khotbah Ibadah GPIB 2018

Khotbah Ibadah GPIB SELASA, 25 SEPTEMBER 2018 - IBADAH YANG MURNI - Yakobus 1:26-27 - MINGGU XVII SES. PENTAKOSTA





[isi halaman tidak ditampilkan]

Halaman Khusus Member Pemberi Donasi.
Silakan Login Terlebih Dahulu!

Belum menjadi member? Silakan Register







Halaman Bebas Akses untuk Member Donasi:



NEXT:
Khotbah Ibadah GPIB RABU, 26 SEPTEMBER 2018 - IMAN TANPA PERBUATAN ADALAH MATI - Yakobus 2:21-26 (SGDK) - MINGGU XVII SESUDAH PENTAKOSTA

PREV:
SENIN, 24 SEPTEMBER 2018 - MENOBATKAN ORANG MENJADI PENGHUNI - Matius 23:13-16 - MINGGU XVII SES. PENTAKOSTA
Sinergypro adalah Perusahaan yang bergerak di bidang Replikasi, Duplikasi Cd, Vcd, Dvd dan juga menangani desain Grafis, Percetakan Offset Printing seperti Cover, buku, Katalog, X-Banner, Spanduk, Umbul-umbul, Kaos dll.

Kami sudah puluhan tahun di bidang ini dan sangat berpengalaman sehingga dengan keahlian yang kami punya berharap dapat memuaskan para pelanggan di dalam kerjasama dengan kami. Kami terus meningkatkan kinerja yang lebih optimal melalui ketepatan waktu, ketelitian dan hasil yang memuaskan



rss lagu-gereja.com  Register   Login  

Lagu Kotbah


songbatak.com-karaoke



JUMAT, 30 NOVEMBER 2018
Khotbah Ibadah GPIB JUMAT, 30 NOVEMBER 2018 - BELAJAR BUAK DARI KEHIDUPAN - 2 Timotius 2:1-7 - MINGGU XXVI SES. PENTAKOSTA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)
Hari ketujuh, Demikianlah riwayat langit dan bumi // TUHAN Allah, Ada kabut naik ke atas ... dan membasahi // kabut, Tuhan Allah membentuk // manusia itu dari debu tanah // membentuk // manusia itu dari debu tanah ... menghembuskan // napas hidup ke
RABU, 28 NOVEMBER 2018
RABU, 28 NOVEMBER 2018 - MENDERITA DALAM KEBENARAN, BERBAHAGIALAH - 1 Petrus 2:18-25 (SGDK) - MlNGGU XXVI SESUDAH PENTAKOSTA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU) Sabda Guna Dharma Krida (SGDK)

SELASA, 27 NOVEMBER 2018
Khotbah Ibadah GPIB SELASA, 27 NOVEMBER 2018 - MEMBERLAKUKAN APA YANG DIBERLAKUKAN TUHAN - 1 Petrus 2:7-10 - MINGGU XXVI SES. PENTAKOSTA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)

SENIN, 26 NOVEMBER 2018
Khotbah Ibadah GPIB SENIN, 26 NOVEMBER 2018 - HIDUP ADALAH UCAPAN SYUKUR - 1 Petrus 1:17-25 - MINGGU XXVI SES. PENTAKOSTA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)
Jika kamu menyebut-Nya Bapa // Hidup dalam ketakutan, Kamu telah ditebus ... bukan dengan barang yang fana // Dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus // yang mahal, Rasul Petrus menasihati mereka supaya menjalin kasih persaudaraan, Sia-sianya Ma
MINGGU, 25 NOVEMBER 2018
Khotbah Ibadah GPIB MINGGU, 25 NOVEMBER 2018 - BERHIKMAT DALAM HIDUP - 1 Korintus 10:12-13 - HARI MINGGU XXVI SES. PENTAKOSTA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)



Minggu, 04 November 2018
Tata Ibadah Hari Minggu Syukur HUT ke-8 PKLU GPIB - Minggu, 04 November 2018

JUKLAK HUT KE-8 PKLU GPIB, PESAN MS GPIB HUT ke-8 PKLU, surat pengantar hut 8 pklu, TATA IBADAH PKLU GPIB HUT Ke-8 PKLU
7 OKTOBER 2018
KOREKSI LAGU DALAM TATA IBADAH 7 OKTOBER 2018 DAN PETUNJUK PELAKSANAAN IBADAH MINGGU SELAMA BULAN OKTOBER 2018


Minggu, 07 Oktober 2018
Tata Ibadah HARI PERJAMUAN KUDUS se-DUNIA dan HARI PEKABARAN INJIL INDONESIA (HPKD/HPII) Minggu, 07 Oktober 2018

Menggunakan Tata Ibadah GEREJA KRISTEN JAWA (GKJ)



Gereja GPIB di Jakarta (Map)
Gereja GPIB di Surabaya (Map)
Gereja GPIB di Makassar (Map)
Gereja GPIB di Medan (Map)
Gereja GPIB di Bandung (Map)
Gereja GPIB di Manado (Map)
Gereja GPIB di Bekasi (Map)
Gereja GPIB di Tangerang (Map)
Gereja GPIB di Denpasar (Map)
Gereja GPIB di Bogor (Map)

SABTU, 12 JANUARI 2019
Khotbah Ibadah GPIB SABTU, 12 JANUARI 2019 - PERGANTIAN NAMA - Yesaya 65:15-16 - MINGGU EPIFANIA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)
KESALEHAN DAN KESALAHAN, Dalam hal kehormatan dan nama baik
JUMAT, 11 JANUARI 2019
Khotbah Ibadah GPIB JUMAT, 11 JANUARI 2019 - BERPALING DARI DOSA DAN KEMBALI KEPADANYA - Yesaya 65:1-7 - MINGGU EPIFANIA
Sabda Bina Umat (SBU)
Pertobatan Bangsa-bangsa Bukan Yahudi; Kefasikan Orang-orang Yahudi; Penolakan terhadap Orang-orang, BERKAT TUHAN UNTUK MEREKA YANG SETIA
KAMIS, 10 JANUARI 2019
Khotbah Ibadah GPIB KAMIS, 10 JANUARI 2019 - ANGKAT HATI PADA ALLAH - Yesaya 64:7-12 - HARI EPIFANIA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)
ALLAH TIDAK TURUN TANGAN ,
RABU, 9 JANUARI 2019
Khotbah Ibadah GPIB RABU, 9 JANUARI 2019 - KONEKSI DAN KOREKSI - Yesaya 63:15-19 (SGDK) - MINGGU EPIFANIA
Penjelasan Ayat Sabda Guna Dharma Krida (SGDK)
Permohonan Sepenuh Hati,
RABU, 9 JANUARI 2019
Khotbah Ibadah GPIB RABU, 9 JANUARI 2019 - KONEKSI DAN KOREKSI - Yesaya 63:15-19 - MINGGU EPIFANIA
Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)
Permohonan Sepenuh Hati, ALLAH PENYELAMAT TUNGGAL