Save Page
Lukas 1:5-20
Pemberitahuan tentang kelahiran Yohanes Pembaptis
1:5 Pada zaman Herodes, raja Yudea, adalah seorang imam yang bernama Zakharia dari rombongan Abia. Isterinya juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elisabet. 1:6 Keduanya adalah benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat. 1:7 Tetapi mereka tidak mempunyai anak, sebab Elisabet mandul dan keduanya telah lanjut umurnya. 1:8 Pada suatu kali, waktu tiba giliran rombongannya, Zakharia melakukan tugas keimaman di hadapan Tuhan. 1:9 Sebab ketika diundi, sebagaimana lazimnya, untuk menentukan imam yang bertugas, dialah yang ditunjuk untuk masuk ke dalam Bait Suci dan membakar ukupan di situ. 1:10 Sementara itu seluruh umat berkumpul di luar dan sembahyang. Waktu itu adalah waktu pembakaran ukupan. 1:11 Maka tampaklah kepada Zakharia seorang malaikat Tuhan berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran ukupan. 1:12 Melihat hal itu ia terkejut dan menjadi takut. 1:13 Tetapi malaikat itu berkata kepadanya: "Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes. 1:14 Engkau akan bersukacita dan bergembira, bahkan banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya itu. 1:15 Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya; 1:16 ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka, 1:17 dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya." 1:18 Lalu kata Zakharia kepada malaikat itu: "Bagaimanakah aku tahu, bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan isteriku sudah lanjut umurnya." 1:19 Jawab malaikat itu kepadanya: "Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk berbicara dengan engkau dan untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu. 1:20 Sesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai kepada hari, di mana semuanya ini terjadi, karena engkau tidak percaya akan perkataanku yang akan nyata kebenarannya pada waktunya."


Penjelasan:

* Penampakan Malaikat kepada Zakharia; Pemberitahuan tentang Kelahiran Yohanes Pembaptis; Ketidakpercayaan Zakharia (1:5-20)
    Kedua penulis Injil sebelumnya sepakat untuk memulai Injil dengan mengisahkan baptisan Yohanes dan pelayanannya, yang dimulai sekitar enam bulan sebelum pelayanan Juruselamat kita di hadapan umum (kini, ketika segala sesuatu semakin mendekati waktunya, enam bulan terasa berarti, padahal sebelumnya dianggap singkat saja). Oleh sebab itu, penulis Injil Lukas ingin membuat catatan yang lebih rinci lagi mengenai kisah dikandungnya dan kelahiran Juruselamat kita, termasuk catatan lengkap tentang Yohanes Pembaptis yang merupakan pembuka jalan dan pendahulu-Nya, bintang timur sebelum terbitnya Surya Kebenaran. Penulis Injil ini berbuat demikian, bukan hanya karena biasanya orang akan merasa puas dan senang bila mengetahui asal usul dan kehidupan awal orang-orang yang di kemudian hari muncul sebagai orang besar, tetapi juga karena pada permulaan semua peristiwa ini, ada begitu banyak hal-hal yang ajaib dan menjadi pertanda bagi apa yang di kemudian hari terbukti benar. Di dalam ayat-ayat ini, sejarawan kita yang diilhami ini memulai penulisannya dari awal dikandungnya Yohanes Pembaptis.
    Sekarang perhatikanlah hal-hal berikut ini:

    I. Catatan yang dibuat tentang orangtua Yohanes Pembaptis (ay. 5): Mereka hidup pada zaman raja Herodes, seorang asing bukan-Yahudi, yang adalah wakil Kaisar Romawi, yang baru saja menjadikan Yudea sebagai sebuah provinsi wilayah kekaisaran Romawi. Hal ini dicatat untuk menunjukkan bahwa tongkat kerajaan telah sepenuhnya beranjak dari Yehuda, dan karena itu, sekarang tibalah saatnya bagi Silo untuk datang, sesuai dengan nubuat Yakub (Kej. 49:10). Keturunan Daud sudah tenggelam, tetapi sekarang sudah tiba saatnya untuk bangkit dan mekar kembali, melalui Sang Mesias. Perhatikanlah, janganlah seorang pun dari kita sampai berputus asa mengenai kebangunan dan pemekaran agama, sekalipun pada saat kebebasan hak-hak sipil kita hilang. Israel diperbudak, tetapi kemudian tibalah masa kemuliaan Israel.

    Ayah Yohanes Pembaptis adalah seorang imam, seorang keturunan Harun. Namanya Zakharia. Tidak ada keluarga di dunia ini yang begitu dimuliakan oleh Allah seperti keluarga Harun dan Daud. Yang satu memiliki kovenan imamat, sementara yang lain kovenan kerajaan. Keduanya telah kehilangan kemuliaan mereka, tetapi Injil mengembalikan kemuliaan mereka di kemudian hari. Kemuliaan Harun dikembalikan melalui Yohanes Pembaptis, dan kemuliaan Daud di dalam diri Kristus. Kemudian, kedua tokoh ini, Harun dan Daud, meredup dan akhirnya hilang. Kristus berasal dari keluarga Daud, sedangkan pendahulu-Nya (yaitu Yohanes Pembaptis) dari keluarga Harun, karena tugas imamat dan pengaruh sang pendahulu ini membuka jalan bagi kuasa dan kemuliaan kerajaan-Nya. Zakharia termasuk di dalam rombongan Abia. Pada zaman Daud, keluarga Harun bertambah banyak jumlahnya, karena itu Daud membagi mereka menjadi dua puluh empat rombongan, dengan tujuan mengatur pelaksanaan tugas-tugas mereka, agar tugas-tugas tersebut tidak diabaikan karena kurangnya orang yang melaksanakan atau dimonopoli hanya oleh beberapa orang tertentu. Rombongan kedelapan adalah rombongan Abia (1Taw. 24:10), yang adalah keturunan Eleazar, anak sulung Harun. Namun, Dr. Lightfoot, seorang gerejawan Inggris abad ke-17, menduga bahwa banyak dari keluarga imam ini meninggal selama masa pembuangan, jadi ketika mereka kembali, mereka mengambil orang-orang dari kalangan keluarga lain dan tetap menyandang nama kepala rombongan masing-masing. Istri Zakharia juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elisabet, nama yang sama dengan Eliseba, istri Harun (Kel. 6:22). Para imam ini (menurut Josephus, seorang sejarawan) sangat berhati-hati dalam hal pernikahan. Mereka hanya menikah dengan orang di dalam lingkungan keluarga mereka sendiri, sehingga mereka bisa tetap memelihara martabat jabatan imamat dan menjaganya tidak ternoda pernikahan campur.
    Sekarang, yang kita amati mengenai Zakharia dan Elisabet adalah:

        . Bahwa mereka adalah pasangan yang sangat saleh (ay. 6): Keduanya adalah benar di hadapan Allah. Memang demikianlah keadaan mereka menurut Allah yang penghakiman-Nya, kita percaya, berlangsung secara jujur. Mereka memang tulus dan benar. Mereka memang benar di hadapan Allah, sama seperti Nuh di antara orang-orang pada zamannya (Kej. 7:1). Mereka menyenangkan hati-Nya, dan dengan senang hati Ia menerima mereka. Alangkah bahagianya bila mereka yang saling mengikat diri dalam pernikahan, keduanya juga mengikat diri kepada Tuhan. Hal ini khususnya merupakan persyaratan bagi para imam, yaitu para pelayan Tuhan, supaya mereka bersama pasangan satu kuk mereka hidup benar di hadapan Allah, sehingga mereka bisa menjadi teladan bagi jemaat, dan menyukakan hati mereka. Mereka hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat.
            (1) Keadaan mereka yang benar di hadapan Allah dibuktikan melalui rangkaian dan arah perilaku mereka. Mereka menunjukkannya bukan dengan kata-kata, tetapi dengan perbuatan, dengan cara hidup yang mereka jalani dan dengan hukum yang mereka patuhi.
            (2) Mereka mempunyai kualitas hati dan hidup yang sama, karena ibadah mereka sejalan dengan perilaku mereka. Mereka tidak hanya hidup sesuai dengan perintah Tuhan yang berhubungan dengan peraturan-peraturan ibadah saja, tetapi juga sesuai dengan ketetapan Tuhan yang berhubungan dengan segenap perilaku dan harus ditaati.
            (3) Kepatuhan mereka bersifat menyeluruh. Bukan berarti mereka tidak pernah gagal dalam melaksanakan tugas-tugas mereka, tetapi mereka tetap berusaha sebaik mungkin.
            (4) Dalam hal ini, meskipun mereka bukan tanpa dosa, namun mereka tidak bercacat. Tidak seorang pun bisa menuduh mereka dengan dosa memalukan yang diketahui umum. Mereka hidup dengan jujur dan damai, yaitu cara hidup yang sudah seharusnya dijalani para pelayan Tuhan dan keluarga mereka, supaya pelayanan mereka tidak dihina karena kesalahan mereka.
        . Sudah lama mereka tidak mempunyai anak (ay. 7). Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN, namun banyak di antara anak-anak Tuhan, yang adalah ahli waris-Nya, yang sudah menikah, tetapi tidak mendapatkan milik pusaka atau warisan ini. Anak-anak adalah berkat tak ternilai yang selalu dirindukan, namun banyak orang yang hidup benar di hadapan Allah tidak memperoleh berkat ini, walaupun seandainya mereka memiliki anak-anak, mereka akan membimbing anak-anak ini menjadi orang-orang yang takut akan Tuhan. Sebaliknya, orang-orang dari dunia ini mempunyai banyak anak (Mzm. 17:14), dan kanak-kanak mereka dibiarkan keluar seperti kambing domba (Ayb. 21:11). Demikianlah, Elisabet mandul, dan mereka mulai berputus asa dalam harapan mereka untuk mempunyai anak, karena keduanya telah lanjut umurnya, pada saat perempuan yang paling subur sekalipun tidak bisa melahirkan lagi. Banyak orang terkenal dilahirkan oleh ibu-ibu yang tidak mempunyai anak dalam jangka waktu yang lama, seperti Ishak, Yakub, Yusuf, Simson, Samuel, dan di sini Yohanes Pembaptis, sehingga kelahiran mereka menjadi lebih istimewa dan berkat-Nya lebih berharga bagi para orangtua mereka. Ini juga menunjukkan bahwa bila Allah membiarkan umatnya lama menunggu rahmat-Nya, adakalanya Ia berkenan membalas kesabaran mereka itu dengan menggandakan rahmat-Nya pada waktunya.
    II. Penampakan malaikat kepada ayah Yohanes, Zakharia, ketika ia sedang melayani di Bait Suci (ay. 8-11). Kalau nabi Zakharia adalah nabi terakhir Perjanjian Lama yang berjumpa dengan malaikat, maka Zakharia yang adalah seorang imam ini menjadi imam pertama dalam Perjanjian Baru yang berjumpa dengan malaikat.

    Perhatikanlah hal-hal berikut ini:
        . Bagaimana Zakharia ditugaskan melayani Allah (ay. 8): Waktu tiba giliran rombongannya, Zakharia melakukan tugas keimaman di hadapan Tuhan. Itu adalah minggu ketika ia melayani dan ia sedang bertugas. Kendati keluarganya tidak berkembang, dengan sadar ia melaksanakan tugas pada tempat dan waktu yang telah ditetapkan. Sekalipun kita belum mendapatkan rahmat Tuhan yang diharapkan, namun kita harus tetap cermat melaksanakan pelayanan-pelayanan yang ditetapkan; dan di dalam melaksanakan dengan rajin serta tekun semua pelayanan itu, kita bisa berharap bahwa rahmat dan penghiburan pada akhirnya akan datang. Sekarang, Zakharialah yang kena undi untuk masuk ke dalam Bait Suci untuk membakar ukupan pagi dan petang selama minggu pelayanan tersebut, sebagaimana tugas-tugas lain juga ditentukan untuk para iman lainnya dengan mengundi. Pelayanan-pelayanan tersebut ditetapkan melalui pengundian, sehingga beberapa orang tidak mengabaikan dan yang lain tidak memonopoli tugas-tugas tersebut. Selain itu, dikatakan juga bahwa keputusan pengundian itu berasal dari Tuhan, sehingga mereka merasa puas dengan panggilan ilahi atas pekerjaan tersebut. Ini bukanlah upacara pembakaran ukupan oleh imam besar pada hari pendamaian seperti yang gemar dibayangkan sebagian orang. Mereka mengira bahwa dengan demikian mereka bisa menemukan saat kelahiran Juruselamat kita. Jelas bahwa yang dimaksud di sini adalah pembakaran ukupan harian yang dilakukan di atas mezbah pembakaran ukupan (ay. 11), di dalam Bait Suci (ay. 9), bukan di dalam ruang mahakudus, yang hanya bisa dimasuki oleh imam besar. Orang-orang Yahudi mengatakan bahwa seorang imam yang sama hanya membakar ukupan satu kali saja selama hidupnya (karena ada banyak imam yang bertugas dalam rombongan yang sama), setidaknya tidak lebih dari satu minggu. Sangat mungkin bahwa giliran tugas Zakharia ini terjadi pada hari Sabat, karena seluruh umat berkumpul (ay. 10), yang tidak lazim terjadi pada hari-hari biasa. Demikianlah Allah biasanya menghormati hari-Nya sendiri. Dengan bantuan penanggalan Yahudi, Dr. Lightfoot menghitung bahwa giliran rombongan Abia jatuh pada hari ketujuh belas dari bulan ketiga, yaitu bulan Sivan, yang jatuh sebagian pada bulan Mei dan sebagian lagi pada bulan Juni. Layak diperhatikan bahwa bagian dari Kitab Taurat dan Kitab Para Nabi yang biasa dibaca di sinagoge di mana-mana pada hari tersebut sangat sesuai dengan apa yang sedang terjadi di dalam Bait Suci ketika itu, yaitu hukum mengenai orang nazir (Bil. 6) dan cerita mengenai dikandungnya Simson (Hak. 13).

        Sementara Zakharia sedang membakar ukupan di dalam Bait Suci, seluruh umat berkumpul di luar dan sembahyang (ay. 10). Dr. Lightfoot mengatakan bahwa pada saat jam sembahyang, di Bait Suci terus-menerus ada para imam dari rombongan yang sedang bertugas melayani. Bila saat itu adalah hari Sabat, selain rombongan imam-imam yang sedang melayani, juga hadir rombongan yang telah melayani seminggu sebelumnya, begitu pula orang-orang Lewi yang melayani di bawah para imam, serta orang-orang yang memegang jabatan. Begitulah para Rabi menyebut mereka, yaitu orang-orang yang mewakili umat untuk meletakkan tangan di atas kepala hewan yang dikorbankan. Di samping itu hadir juga banyak umat yang sengaja meninggalkan pekerjaan mereka untuk beribadah pada saat itu. Semua orang tersebut berkumpul dalam jumlah yang sangat banyak, terutama pada hari-hari Sabat dan hari-hari raya. Begitulah mereka semuanya memusatkan perhatian pada ibadah mereka (dengan berdoa di dalam hati, karena suara mereka tidak terdengar). Melalui dentingan lonceng, mereka tahu bahwa seorang imam sedang masuk ke dalam untuk membakar ukupan.
        Sekarang amatilah ini:

            (1) Bahwa umat Israel sejati milik Allah selalu terdiri dari orang-orang yang berdoa, dan doa adalah bagian ibadah yang paling agung dan utama, yang melaluinya kita memuliakan Allah, menerima perkenan-Nya, dan memelihara hubungan kita dengan-Nya.
            (2) Kemudian pada masa itu, ketika ketetapan-ketetapan ritual dan upacara dilaksanakan dengan begitu ketat, seperti pembakaran ukupan, kewajiban moral dan rohani tetap diperlukan mengiringi ritual dan upacara tersebut. Daud tahu dan percaya bahwa ketika ia sedang berada jauh dari mezbah, doanya tetap didengar, meskipun tanpa ukupan, karena doa tersebut dapat disampaikan kepada Allah sebagai persembahan ukupan (Mzm. 141:2). Tetapi ketika ia sedang berada di sekitar mezbah, ukupan tersebut tidak dapat diterima tanpa doa, sebagaimana kacang yang hanya berkulit namun tanpa biji tidak dapat diterima.
            (3) Bahwa tidak cukup bila kita hanya berada di tempat di mana Allah disembah, padahal hati kita tidak terpaut dengan ibadah tersebut dan tidak terus bersama dengan pelayan Tuhan di sepanjang ibadah tersebut. Bila imam membakar ukupan dengan begitu baik, di dalam doa yang paling sesuai, bijaksana, dan sepenuh hati, dan pada saat yang sama kita tidak berdoa dalam kesehatian dengannya, apa gunanya bagi kita?
            (4) Semua doa yang kita panjatkan di hadapan Allah akan diterima dan dikabulkan-Nya hanya melalui ukupan perantaraan Kristus yang dilakukan di Bait Allah sejati di sorga. Penggunaan ukupan dalam ibadah di Bait Allah merupakan gambaran dari apa yang dilaksanakan di sorga (Why. 8:1, 3-4), di mana kita bisa membaca, maka sunyi senyaplah di sorga, sama seperti di dalam Bait Allah, kira-kira setengah jam lamanya, sementara orang-orang dengan senyap mengangkat hati mereka kepada Allah di dalam doa. Di sana juga ada seorang malaikat, yaitu malaikat mezbah, yang mempersembahkan banyak kemenyan untuk dipersembahkannya bersama-sama dengan doa semua orang kudus di atas mezbah emas di hadapan takhta itu. Kita tidak bisa mengharapkan berkat melalui perantaraan Kristus bila kita tidak berdoa, yaitu berdoa dengan roh kita, di dalam doa yang terus-menerus dan berkesinambungan. Kita juga tidak bisa mengharapkan bahwa doa terbaik kita bisa diterima dan mendapat jawaban damai sejahtera bila tidak melalui perantaraan Kristus, yang hidup selamanya dan menjadi Pengantara bagi kita.
        . Bagaimana ketika sedang melaksanakan pelayanannya, Zakharia memperoleh kehormatan melalui kunjungan seorang utusan, utusan khusus yang datang dari sorga kepadanya (ay. 11): Tampaklah kepada Zakharia seorang malaikat Tuhan. Sebagian orang mengamati bahwa kita tidak pernah membaca tentang seorang malaikat yang menampakkan diri di dalam Bait Suci dengan membawa pesan dari Allah, kecuali hanya ada satu peristiwa saja, yaitu kunjungan kepada Zakharia ini. Alasannya, karena di sana (di Bait Suci), Allah memiliki cara-cara lain untuk menyatakan pikiran-Nya, seperti melalui Urim dan Tumim, dan melalui suara lembut dari antara para kerub. Namun, karena tabut perjanjian tidak ada di dalam ruang maha kudus Bait Allah yang kedua (pada masa Zakharia ini), maka diutuslah seorang malaikat bila ada pesan yang harus disampaikan kepada seorang imam yang sedang berada di Bait Suci. Dengan cara demikianlah mula-mula Injil banyak kali diperkenalkan, seperti halnya Hukum Taurat, yaitu melalui pelayanan malaikat-malaikat. Penampakan demikian sering kita baca di dalam Kitab-kitab Injil dan Kisah Para Rasul. Namun maksud sebenarnya dari cara ini, baik dalam Hukum Taurat maupun Injil adalah untuk menetapkan cara berhubungan yang lain, yang lebih bersifat rohani, antara Allah dan manusia. Malaikat berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran ukupan. Menurut Dr. Lightfoot, malaikat itu berdiri pada sisi sebelah utara dari mezbah, pada sisi kanan Zakharia. Bandingkan situasi ini dengan saat ketika Iblis berdiri di sebelah kanan imam besar Yosua untuk mendakwa dia (Za. 3:1). Namun, Zakharia memiliki seorang malaikat yang baik yang berdiri di sebelah kanannya, untuk menguatkan dirinya. Sebagian orang memperkirakan bahwa malaikat yang menampakkan diri ini muncul dari ruangan mahakudus, sehingga ia menuju ke sisi kanan mezbah.
        . Kesan apa yang terjadi pada Zakharia (ay. 12): Melihat hal itu, ia kaget, dan bahkan ketakutan, karena dikatakan ia terkejut dan menjadi takut (ay. 12). Meskipun ia benar di hadapan Allah dan tidak bercacat dalam perilaku dan cara hidupnya, namun ia tidak bebas dari rasa takut pada sesuatu yang penampilan dan cahaya sekitarnya menunjukkan dia melebihi manusia. Semenjak manusia jatuh di dalam dosa, pikirannya tidak mampu lagi menanggung keagungan penampakan-penampakan semacam itu dan hati nuraninya takut akan kabar-kabar buruk yang dibawa serta. Bahkan Daniel pun tidak sanggup menanggungnya dan hilang kekuatannya (Dan. 10:8). Karena alasan itulah Allah memilih untuk berbicara kepada kita melalui manusia seperti diri kita sendiri, yang kedahsyatannya tidak akan membuat kita takut.
    III. Pesan yang harus disampaikan malaikat tersebut kepadanya (ay. 13). Malaikat itu mengawali pesannya seperti yang umum dilakukan oleh malaikat, "Jangan takut." Mungkin sebelum itu Zakharia tidak pernah terkena undi untuk membakar ukupan, dan karena ia adalah sosok yang sangat serius dan cermat, maka kita bisa menduga ia berusaha melaksanakan tugas itu dengan sangat hati-hati dan dengan sebaik-baiknya. Saat melihat malaikat itu, ia mungkin takut kalau-kalau malaikat itu datang untuk menegurnya karena suatu kesalahan atau kelalaian dalam tugas. "Tidak," kata malaikat itu, "jangan takut, aku tidak membawa kabar buruk bagimu dari sorga. Jangan takut, tenangkan dirimu, supaya kamu bisa menerima berita yang harus kusampaikan kepadamu ini dengan baik dan tenang." Marilah kita lihat pesan apa ini.
        . Doa yang sering ia panjatkan, sekarang akan menerima jawaban yang penuh damai sejahtera, "Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan."
            (1) Bila yang dimaksudkan malaikat itu adalah doa khusus untuk memperoleh seorang anak guna membangun keluarganya, maka doa itu pastilah doa memohon rahmat yang dahulu dipanjatkannya ketika ia masih mungkin memperoleh anak. Namun kita bisa menduga bahwa sekarang karena ia dan istrinya telah lanjut usia, mereka sudah tidak mengharapkan lagi hal ini, jadi mereka sudah tidak mendoakan hal itu lagi. Sama seperti Musa, mereka merasa cukup, dan tidak lagi membicarakan perkara itu dengan Allah (Ul. 3:26). Namun, Allah sekarang ingin memberikan rahmat ini karena Ia ingat doa-doa yang pernah Zakharia panjatkan bersama istrinya di masa lampau, sama seperti Ishak berdoa untuk dan bersama istrinya (Kej. 25:21). Perhatikanlah bahwa doa-doa yang dinaikkan dengan iman tersimpan di dalam sorga, dan tidak dilupakan, meskipun hal yang didoakan sampai sekarang belum dikabulkan. Doa-doa yang dinaikkan ketika kita masih muda dan masih ada di dunia ini, mungkin baru akan dijawab ketika kita sudah menjadi tua dan akan meninggalkan dunia ini. Namun,
            (2) Bila yang malaikat maksudkan adalah doa-doa yang sekarang ia naikkan, yang disampaikan bersama-sama dengan ukupannya, kita bisa menduga bahwa doa itu sesuai dengan tugas yang sedang dilaksanakannya, yaitu demi umat Israel kepunyaan Allah dan kesejahteraan mereka, serta demi penggenapan janji-janji tentang Mesias dan datangnya kerajaan-Nya, "Doamu telah dikabulkan, istrimu segera akan mengandung dia yang akan membuka jalan bagi Mesias." Beberapa penulis Yahudi mengatakan bahwa biasanya ketika seorang imam membakar ukupan, ia berdoa untuk keselamatan seluruh isi dunia ini. Dan sekarang doa tersebut akan dikabulkan. Atau,
            (3) Secara umum bisa dikatakan, "Doa-doa yang sekarang engkau naikkan dan semua doa-doamu, semuanya diterima oleh Allah, dan telah diingatkan di hadapan-Nya." (Seperti yang dikatakan oleh malaikat kepada Kornelius, ketika ia mengunjunginya sementara ia sedang berdoa, Kis. 10:30-31.) "Dan inilah tandanya bahwa Allah berkenan kepadamu, Elisabet, istrimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu." Perhatikanlah, sangat menyenangkan bagi orang-orang yang berdoa ketika mengetahui bahwa doa-doa mereka sedang didengar, dan rahmat yang diberikan sebagai jawaban doa tersebut terasa dua kali manisnya.
        . Ia akan mempunyai seorang anak laki-laki di dalam usianya yang telah lanjut, melalui Elisabet istrinya, yang telah lama mandul. Dalam keadaan demikian, melalui kelahiran anak laki-laki itu, yang boleh dikatakan suatu mujizat, orang bisa dipersiapkan untuk menerima dan mempercayai bahwa seorang gadis yang masih perawan bisa melahirkan seorang anak laki-laki, yang benar-benar merupakan suatu mujizat yang sempurna. Ia juga diarahkan tentang nama apa yang harus diberikan kepada anak laki-lakinya, "Haruslah engkau menamai dia Yohanes," yang dalam bahasa Ibrani disebut Johanan, sebuah nama yang kerap kita jumpai di dalam Perjanjian Lama, yang berarti penuh belas kasihan atau kebaikan hati. Para imam harus mencoba melunakkan hati Allah, supaya Ia mengasihani kita (Mal. 1:9), dan memberi engkau kasih karunia (Bil. 6:25). Zakharia sekarang sedang berdoa seperti itu, dan malaikat berkata kepadanya bahwa doanya didengar, dan ia akan memiliki seorang anak laki-laki, dan sebagai tanda akan jawaban atas doanya, anak itu akan dinamai Yang Berbelas Kasihan, atau, Tuhan akan mengasihani (Yes. 30:18-19).
        . Anak ini akan memberikan sukacita bagi keluarga dan handai taulannya (ay. 14). Ia akan menjadi Ishak yang lain, menjadi gelak tawamu. Sebagian orang beranggapan inilah sebagian dari alasan mengapa ia dinamakan Yohanes. Ia akan menjadi seorang anak yang disambut dan disayangi. Engkau akan bersukacita dan bergembira. Perhatikanlah, rahmat yang sudah begitu lama dinanti-nantikan, ketika pada akhirnya datang juga, akan lebih disambut. "Ia akan menjadi seorang anak yang membuatmu mempunyai alasan untuk bersukacita. Banyak orangtua, seandainya mereka bisa mengetahui sebelumnya akan menjadi apa kelak anak mereka, tidak akan bersukacita atas saat kelahiran anaknya itu, malahan akan berharap kalau anak mereka itu sebaiknya tidak pernah dilahirkan. Namun, aku akan mengatakan apa yang akan terjadi pada anak laki-lakimu itu, dan janganlah bersukacita dengan gemetar atas kelahirannya, seperti yang seharusnya diperbuat oleh orang-orang besar, tetapi bersukacitalah dengan penuh kemenangan atas kelahirannya itu." Bukan hanya itu, bahkan banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya itu. Semua tetangga dan sanak saudara akan bersukacita dan mengucapkan selamat, karena hal itu membawa kehormatan dan penghiburan bagi keluarga itu (ay. 58). Semua orang yang baik akan bersukacita bahwa pasangan yang saleh seperti Zakharia dan Elisabet memiliki seorang anak laki-laki, karena mereka tahu bahwa pasangan ini akan mendidiknya dengan benar, sehingga bisa diharapkan anak ini akan menjadi berkat bagi generasinya. Ya, dan mungkin masih banyak orang lagi yang akan bersukacita dengan sebab yang tak terkatakan, sebagai sebuah pertanda akan hari-hari sukacita di mana Injil akan diperkenalkan.
        . Anak ini akan menjadi kesukaan Sorga yang terkemuka, dan berkat yang luar biasa bagi bumi. Kehormatan memiliki seorang anak laki-laki tidak ada artinya dibandingkan dengan kehormatan memiliki seorang anak laki-laki seperti ini.
            (1) Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan. Yang benar-benar besar di hadapan Allah bukanlah yang besar menurut pandangan dunia yang sia-sia dan fana ini. Allah akan senantiasa membuat dia tegak di hadapan-Nya, akan memakainya di dalam pekerjaan-Nya dan mengutusnya sebagai utusan-Nya, dan semuanya itu akan membuat dia benar-benar besar dan terhormat. Ia akan menjadi seorang nabi, ya, lebih dari seorang nabi, dan oleh sebab itu di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis (Mat. 11:11). Ia akan mengasingkan diri dari dunia ini, jauh dari pandangan manusia, dan ketika tampil di depan umum, ia akan tampak sangat sederhana. Tetapi, ia akan menjadi luar biasa dan besar di hadapan Tuhan.
            (2) Ia akan menjadi seorang nazir, dipisahkan bagi Allah dari semua hal yang dapat mencemarkan. Ciri-ciri seorang nazir menurut hukum kenaziran adalah, ia tidak akan minum anggur atau minuman keras -- atau lebih tepatnya, anggur yang lama maupun yang baru, karena sebagian besar orang berpendapat bahwa yang dimaksudkan dengan minuman keras adalah sejenis anggur, barangkali seperti yang sekarang kita sebut anggur olahan, atau segala minuman yang bersifat memabukkan. Ia akan menjadi nazir seumur hidupnya, sama seperti Simson yang menjadi seorang nazir melalui perintah ilahi (Hak. 13:7) dan Samuel yang melalui nazar ibunya (1Sam. 1:11). Kehidupan kenaziran dan kenabian Yohanes ini menggambarkan kepada kita sebuah contoh besar bagaimana Allah menunjukkan belas kasihan-Nya kepada umat-Nya, yaitu dengan membangkitkan sebagian dari anak-anak mereka menjadi nabi dan sebagian dari teruna-teruna mereka menjadi nazir (Am. 2:11). Contoh ini seakan menunjukkan bahwa mereka yang dicanangkan untuk menjadi nabi akan dilatih untuk hidup berdisiplin sebagai seorang nazir, seperti yang terjadi pada Samuel dan Yohanes Pembaptis. Ini artinya bahwa mereka yang mau menjadi pelayan-pelayan Allah yang unggul, dan mau digunakan dalam tugas-tugas pelayanan yang mulia, harus belajar menjalani kehidupan yang menyangkal diri dan menahan nafsu, harus mati terhadap kesenangan jasmani, dan menjaga pikiran mereka terhadap hal-hal yang dapat menggelapkan hati dan mengganggu mereka.
            (3) Ia akan benar-benar pantas dan memenuhi syarat bagi semua tugas pelayanan agung dan mulia yang akan diperuntukkan baginya nanti: Ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya, dan pada saatnya kelak ia akan tampil demikian.

            Perhatikanlah:

                [1] Mereka yang mau dipenuhi dengan Roh Kudus harus bersikap sederhana dan menguasai diri dan sangat mengekang diri untuk minum anggur dan minuman keras, karena begitulah yang tepat bagi mereka untuk dipenuhi dengan Roh. Janganlah mabuk oleh anggur, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh (Ef. 5:18).
                [2] Sangatlah mungkin bagi bayi untuk digerakkan oleh Roh Kudus, bahkan sejak mereka masih berada di dalam rahim ibu mereka. Sebab, Yohanes Pembaptis pun telah dipenuhi dengan Roh Kudus sejak masih dalam rahim ibunya, dan Roh menguasai hatinya sejak itu. Ada tanda awal yang menunjukkan hal ini, yaitu ketika ia melonjak kegirangan di dalam rahim ibunya, saat Sang Juruselamat datang mendekat. Dan setelah itu, ia dikuduskan sangat awal pada masa hidupnya. Allah telah berjanji akan mencurahkan Roh-Nya ke atas keturunan orang percaya (Yes. 44:3), dan ini tampak dari pengabdian diri mereka kepada Allah sejak masa awal hidup mereka, yang merupakan hasil pencurahan Roh Allah itu sendiri (ay. 4-5Yes 44:4-5). Jadi, siapa yang bisa mencegah orang-orang demikian untuk dibaptis dengan air, orang yang setahu kita (apalagi halnya dengan orang dewasa, seperti Simon si mantan penyihir itu), telah menerima Roh Kudus, dan telah memiliki benih kasih karunia yang ditaburkan di dalam hati mereka? (Kis. 10:47).
            (4) Ia akan berperan penting dalam membuat banyak jiwa berbalik kepada Allah, dan menyiapkan mereka untuk menerima dan menyambut Injil Kristus (ay. 16-17)
                [1] Ia akan diutus kepada keturunan Israel, kepada bangsa Yahudi, kepada merekalah Mesias juga diutus untuk pertama kalinya, dan bukan kepada orang-orang bukan-Yahudi. Ia diutus kepada seluruh bangsa Yahudi, bukan hanya kepada keluarga imam-imam saja. Kita tidak melihat Yohanes memiliki hubungan dekat atau pengaruh khusus dengan keluarga imam, walaupun dia sendiri tergolong sebagai keluarga imam.
                [2] Ia akan berjalan mendahului Tuhan, Allah mereka, yaitu mendahului Mesias yang mereka harap-harapkan. Tetapi Mesias ini bukanlah raja mereka dalam pengertian yang umumnya mereka pikirkan, yaitu sebagai seorang pangeran yang fana untuk memimpin bangsa mereka. Sebaliknya, Ia adalah Tuhan mereka dan Allah mereka, untuk memerintah dan membela, serta melayani mereka secara rohani melalui pengaruh-Nya atas hati mereka. Tomas mengetahui hal ini ketika ia berkata kepada Kristus, "Tuhanku dan Allahku," lebih baik daripada Natanael, yang berkata, "Rabi, Engkau Raja orang Israel." Yohanes Pembaptis akan berjalan mendahului Dia, sedikit di depan-Nya, untuk memberitakan kedatangan-Nya dan menyiapkan orang untuk menerima Dia.
                [3] Ia akan berjalan dalam roh dan kuasa Elia. Yaitu,
                    pertama, ia akan menjadi seseorang seperti Elia dan melakukan pelayanan seperti yang dilakukan oleh Elia. Seperti Elia, dia akan berkhotbah tentang perlunya pertobatan dan pembaruan bagi zaman yang sangat rusak dan buruk akhlaknya ini. Seperti Elia, dia akan berani dan giat dalam mencela dosa, serta bersaksi melawan dosa bahkan secara dahsyat, meskipun untuk itu ia akan dibenci dan dianiaya oleh Herodes dan Herodias, seperti Elisa dibenci oleh Ahab dan Izebel. Ia akan terus melanjutkan tugasnya, seperti Elia, dalam roh dan kuasa ilahi, yang akan memahkotai pelayanannya dengan keberhasilan yang gemilang. Sama seperti Elia yang berjalan mendahului nabi-nabi yang menulis Perjanjian Lama dan menulis sendiri sebuah surat singkat untuk mengawali periode yang penting dari dispensasi Perjanjian Lama itu (2Taw. 21:12), demikian pula Yohanes Pembaptis berjalan mendahului Kristus dan para rasul-Nya dan memperkenalkan dispensasi Injil dengan memberitakan kabar dari ajaran dan kewajiban Injil, "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat."
                    Kedua, dialah orang yang dinubuatkan oleh Maleakhi dengan menggunakan nama Elia (Mal. 4:5), yang akan diutus kepadamu menjelang datangnya hari Tuhan. Sesungguhnya Aku akan mengutus kepadamu seorang nabi, seperti Elia, bukan Elia orang Tisbe (seperti yang salah dimengerti dalam terjemahan Septuaginta, untuk mendukung tradisi Yahudi), tetapi seorang nabi di dalam roh dan kuasa Elia, seperti yang dijelaskan oleh malaikat di sini.
                [4] Ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka, dan akan mencondongkan hati mereka untuk menerima Mesias serta menyambut-Nya, dengan membangkitkan dalam diri mereka rasa berdosa dan hasrat yang kuat terhadap kebenaran. Apa pun yang memiliki kecenderungan membalikkan kita dari kesalahan, seperti yang telah ditimbulkan oleh khotbah dan baptisan Yohanes Pembaptis, akan membalikkan kita kepada Kristus sebagai Tuhan kita dan Allah kita. Sebab, siapa yang melalui kuasa anugerah melepaskan kuk dosa, yakni kebiasaan duniawi dan kedagingan, akan dikenakan kuk Tuhan Yesus sebagai gantinya.
                [5] Dengan ini ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya, yaitu, hati orang Yahudi kepada orang bukan-Yahudi. Dia akan membantu mereka melepaskan berbagai prasangka yang sudah mengakar terhadap bangsa-bangsa lain, seperti yang dilakukan oleh Injil, di mana pun Injil itu berkuasa. Dan hal inilah yang mulai dilakukan oleh Yohanes Pembaptis, yang datang untuk memberi kesaksian supaya oleh dia semua orang menjadi percaya, yang membaptis dan mengajar serdadu-serdadu Romawi maupun orang Farisi Yahudi, yang mengoreksi keangkuhan dan keyakinan orang Yahudi yang mengagungkan diri karena Abraham adalah bapa mereka, dengan mengatakan bahwa Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu (Mat. 3:9). Kata-kata ini diucapkan dengan maksud menyembuhkan kebencian mereka yang mendalam terhadap orang bukan-Yahudi. Dr. Lightfoot mengamati bahwa para nabi terus berbicara tentang umat bukan-Yahudi sebagai anak-anak bagi umat Yahudi (Yes. 54:5-6, 13; 60:4, 9; 62:5; 66:12). Ketika orang-orang Yahudi yang sudah memeluk iman pada Kristus mulai bergabung dalam persekutuan dengan bangsa-bangsa lain yang juga seiman, maka saat itulah hati bapa-bapa pun berbalik kepada anak-anaknya. Ia juga akan mengubah hati yang durhaka kepada pikiran orang-orang benar. Artinya, ia akan memperkenalkan Injil kepada bangsa-bangsa bukan-Yahudi yang sekarang menurut Injil adalah orang durhaka, sehingga mereka akan berbalik, bukan kepada kepercayaan orang Yahudi yang merupakan bapa mereka, tetapi kepada iman Kristus yang di sini disebut pikiran orang-orang benar, dan masuk dalam persekutuan bersama orang Yahudi yang percaya. Ia akan membuat hati bapa-bapa dan hati anak-anak berbalik, yakni, hati orang tua dan orang muda akan menjadi sarana untuk membawa setiap generasi menjadi orang yang saleh, untuk melakukan pembaruan besar-besaran dalam bangsa Yahudi, untuk membawa mereka keluar dari kepercayaan tradisional yang sarat dengan ritual yang telah mendarah daging, serta untuk membawa mereka pada kesalehan yang sungguh-sungguh dan sebenar-benarnya. Pengaruh dari semuanya ini adalah bahwa kebencian yang ada selama ini akan dibuang jauh-jauh dan perselisihan akan berhenti. Juga, meskipun berbeda, mereka akan dipersatukan dalam baptisan-Nya sehingga saling bisa menerima dengan lebih baik. Semua yang ditulis mengenai Yohanes di atas sesuai dengan catatan sejarawan Josephus tentang dia (Antiq. 18:117-118) "Bahwa ia adalah seorang laki-laki yang baik, mengajar orang Yahudi mempraktikkan kebajikan, hidup dalam kesalehan di hadapan Allah, hidup benar di hadapan sesama, dan harus berhimpun dan bersekutu bersama di dalam baptisan." Selanjutnya Josephus mencatat, "Orang-orang berduyun-duyun mengikuti dia dan sangat menyukai ajarannya." Jadi, Yohanes membuat hati bapa-bapa dan hati anak-anak berbalik kepada Allah dan sesama, dengan membalikkan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar.

                Perhatikanlah:

                    Pertama, agama yang sejati adalah pikiran orang-orang benar, yang berbeda dengan hikmat dunia ini. Sudah merupakan keharusan dan kewajiban bagi kita untuk hidup saleh dan benar. Di dalamnya ada keadilan dan kebijaksanaan.
                    Kedua, bukanlah suatu hal yang mustahil bahwa orang kafir dan durhaka bisa berbalik kepada pikiran orang-orang benar, karena anugerah ilahi dapat mengalahkan hati yang acuh tak acuh dan penuh prasangka.
                    Ketiga, rancangan besar Injil adalah membawa orang kembali kepada Allah serta membawa mereka lebih dekat satu sama lain. Untuk maksud itulah Yohanes Pembaptis diutus. Dalam Injil Lukas, dua kali Yohanes disebutkan membuat orang berbalik. Penyebutan ini tampaknya merupakan sebuah kiasan terhadap sebutan Orang Tisbe, gelar yang diberikan kepada Elia, yang menurut sebagian orang bukan menunjukkan nama daerah atau kota tempat ia berasal, melainkan sebagai sebuah julukan pengenal, dan karena itu julukan itu berarti Elia Sang Pengubah, orang yang banyak terlibat dan sangat berhasil dalam karya mengubah hati orang. Oleh karena itu, sang Elia dari Perjanjian Baru dikatakan membalikkan atau mengubah hati banyak orang kepada Tuhan, Allah mereka.
                [6] Dengan demikian ia akan menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya. Ia akan mencondongkan pikiran orang untuk menerima ajaran Kristus sehingga mereka bisa dipersiapkan untuk menyambut kedatangan-Nya yang membawa penghiburan itu.

                Perhatikanlah:
                    Pertama, semua orang yang ingin mengabdikan diri kepada Tuhan dan bersukacita di dalam Dia terlebih dahulu harus dipersiapkan supaya layak bagi Dia. Kita harus dipersiapkan melalui anugerah di dunia ini bagi kemuliaan di dunia lain, melalui kedahsyatan-kedahsyatan Hukum Taurat bagi penghiburan-penghiburan Injil, melalui roh perbudakan bagi Roh yang mengangkat kita menjadi anak-anak Allah.
                    Kedua, tidak ada hal yang mempunyai pengaruh lebih langsung dalam menyiapkan hati orang bagi Kristus selain ajaran pertobatan, dan orang harus menerima dan tunduk pada ajaran ini. Ketika dosa ditunjukkan sedemikian menyedihkan, Kristus akan menjadi teramat berharga.
    IV. Ketidakpercayaan Zakharia atas pemberitahuan malaikat, serta hukuman yang ditimpakan kepadanya akibat ketidakpercayaannya itu. Ia mendengar semua yang disampaikan oleh malaikat itu, dan seharusnya ia menundukkan kepala dan menyembah Allah seraya berkata, "Jadilah pada hambamu ini menurut perkataanmu itu." Tetapi Zakharia tidak berkata demikian.

    Inilah yang kita baca:

        . Bagaimana ia mengungkapkan ketidakpercayaannya itu (ay. 18). Kata Zakharia kepada malaikat itu, "Bagaimanakah aku tahu, bahwa hal ini akan terjadi?" Ini bukanlah permohonan yang rendah hati untuk menegaskan imannya, melainkan suatu keberatan yang disertai kekerasan hati terhadap apa yang dikatakan kepadanya sebagai suatu hal yang tidak masuk akal. Seolah-olah ia berkata, "Aku tidak akan pernah bisa memercayai hal ini." Dia pasti memahami bahwa yang berbicara kepadanya adalah seorang malaikat; dan pesan yang disampaikan itu memiliki bukti kuat, dengan merujuk kepada nubuat-nubuat Perjanjian Lama. Ada banyak contoh dalam Perjanjian Lama tentang orang-orang yang mendapatkan anak ketika mereka sudah lanjut usia, namun Zakharia tidak juga bisa percaya bahwa ia akan memiliki anak perjanjian ini, "Sebab aku sudah tua dan istriku bukan saja mandul, malahan sudah lanjut umurnya sehingga tidak akan mungkin bisa memiliki anak." Oleh karena itu, ia meminta tanda, atau ia akan tetap tidak percaya. Penampakan malaikat, yang sudah lama tidak pernah terjadi lagi di dalam jemaat, sebenarnya sudah cukup menjadi tanda jelas baginya. Apalagi pemberitahuan ini disampaikan di dalam Bait Allah, tempat mahakudus Allah, sehingga ia memiliki alasan untuk berpikir bahwa tidak akan ada malaikat jahat yang diizinkan masuk. Tambahan pula pesan itu disampaikan ketika ia sedang berdoa dan membakar ukupan. Ajaran iman kepercayaannya sendiri sebenarnya cukup untuk meredam keberatannya untuk percaya, yaitu bahwa Allah mahakuasa dan bagi Dia tidak ada yang mustahil, keyakinan yang bukan hanya harus kita ketahui, tetapi juga harus kita ajarkan kepada yang lain). Meskipun semua alasan ini tersedia bagi dia, namun, karena terlampau memikirkan kenyataan tentang kondisi tubuhnya sendiri dan juga istrinya, ia tidak berlaku seperti yang seharusnya dilakukan seorang anak Abraham. Sebaliknya, ia merasa bimbang akan janji Allah tersebut (Rm. 4:19-20).
        . Bagaimana ketidakpercayaannya dibungkam, dan ia pun bungkam karena ketidakpercayaannya itu.
            (1) Malaikat itu membungkam mulut Zakharia dengan menegaskan otoritasnya. Kalau ia bertanya kepadaku, "Bagaimanakah aku tahu, bahwa hal ini akan terjadi?" biarlah ia mengetahuinya melalui perkataanku ini, "Akulah Gabriel" (ay. 19). Malaikat itu menambahkan namanya pada nubuat ini seolah-olah sedang membubuhkan tanda tangan dengan tangannya sendiri: teste meipso -- camkan perkataanku tentang janji ini. Kadang-kadang malaikat-malaikat menolak menyebutkan nama mereka, seperti yang dialami oleh Manoah dan istrinya. Namun malaikat Zakharia ini berkenan menyebut namanya, "Akulah Gabriel," yang berarti Kuasa Allah, atau yang penuh kuasa dari Allah, untuk menunjukkan bahwa Allah yang memerintahkannya menyampaikan semua hal ini mampu mewujudkan semua janji itu. Ia juga memberitahukan namanya untuk mengingatkan Zakharia bahwa pemberitahuan tentang kedatangan Mesias juga diberitahukan kepada Daniel oleh orang yang bernama Gabriel (Dan. 8:16; 9:21). "Aku adalah malaikat yang sama seperti yang diutus kepada Daniel dahulu, dan sekarang aku juga diutus untuk maksud yang sama." Ia adalah Gabriel yang berdiri di hadapan Allah (KJV), yang langsung melayani takhta Allah. Para pembesar atau perdana menteri dalam istana Kerajaan Persia digambarkan demikian, bahwa mereka yang boleh memandang wajah raja (Est. 1:14). "Meskipun aku sekarang sedang berbicara dengan engkau di sini, namun aku tetap berdiri di hadapan Allah. Aku tahu mata-Nya mengawasi aku dan aku tidak berani mengatakan lebih daripada apa yang harus aku sampaikan. Dengan sungguh-sungguh kukatakan kepadamu, bahwa aku telah diutus untuk berbicara kepada engkau, diutus dengan sengaja untuk menyampaikan kabar kesukaan ini kepadamu, yang karena teramat layak untuk mendapatkan bukan saja luar biasa mulia segenap sambutan, engkau seharusnya menerimanya dengan girang hati."
            (2) Malaikat itu benar-benar membungkam mulut Zakharia dengan memperlihatkan kuasanya, "Agar engkau tidak membantah lagi, sesungguhnya engkau akan menjadi bisu" (ay. 20). Bila engkau menuntut tanda untuk mendukung imanmu, inilah tandanya dan sekaligus juga merupakan hukuman bagi ketidakpercayaanmu. Engkau tidak dapat berkata-kata sampai kepada hari, di mana semuanya ini terjadi" (ay. 20). Engkau akan menjadi bisu dan tuli. Kata yang digunakan ini mempunyai makna yang sama, yakni ia kehilangan baik pendengaran maupun kemampuan bicaranya, karena untuk berkomunikasi, teman-temannya harus memberi isyarat kepadanya (ay. 62) dan sebaliknya ia pun harus memberi isyarat kepada mereka (ay. 22). Nah, dengan membuat dia menjadi bisu, berarti
                [1] Allah telah berlaku adil kepadanya, karena ia meragukan dan menentang firman Allah. Karena itu, kita perlu mengambil waktu untuk mengagumi betapa panjangnya kesabaran Allah, betapa kita sering mengucapkan perkataan yang tidak memuliakan Allah, namun kita tidak sampai dihukum menjadi bisu seperti Zakharia walaupun Dia berhak berbuat demikian terhadap kita sesuai dengan dosa-dosa kita.
                [2] Allah memperlakukan Zakharia dengan baik, sangat lembut dan penuh belas kasih.

                Karena:
                    Pertama, dengan peristiwa tersebut Allah mencegah dia untuk mengucapkan lagi kata-kata yang penuh dengan ketidakpercayaan. Bila ia mempunyai pikiran jahat, dan tidak mau membungkam mulut dengan tangannya sendiri, atau tidak mau mengenakan kekang pada mulutnya, maka Allah sendirilah yang akan melakukannya. Lebih baik tidak berbicara sama sekali daripada berbicara jahat.
                    Kedua, begitulah Allah meneguhkan imannya, dan karena tidak bisa berbicara lagi, ia mampu berpikir dengan lebih baik. Bila kita mendapat teguran keras karena dosa-dosa kita, dan hal itu membuat kita lebih menghargai firman Allah, maka kita tidak memiliki alasan untuk berkeluh kesah atas teguran tersebut.
                    Ketiga, dengan dibuat bisu dan tuli, ia dijauhkan dari perbuatan untuk membuka rahasia mengenai penglihatannya itu dan menyombongkan diri karenanya, yang mungkin cenderung akan dilakukannya, padahal peristiwa itu telah dirancang untuk dirahasiakan sementara ini.
                    Keempat, sungguh merupakan rahmat besar bahwa firman Allah akan digenapkan pada waktunya, meskipun ia telah berbuat dosa dengan ketidakpercayaannya. Ketidakpercayaan manusia tidak akan membatalkan janji Allah, janji Allah akan digenapi pada waktunya. Zakharia pun tidak akan bisu selamanya, melainkan hanya sampai kepada hari di mana semuanya ini terjadi, dan setelah itu, "Bibirmu akan terbuka, sehingga mulutmu memuji-muji Allah." Jadi, meskipun Allah menghukum umat-Nya yang bersalah dengan rotan, namun kasih setia-Nya tidak akan hilang.


SBU

HARI MING-GU ADVEH IV
MINGGU, 23 DESEMBER 2018
Renungan Pagi
KJ.82 :1,3 -Berdoa
TUHAN, SUMBER DAMAl SEJAHTERAKU

Lukas 1:5-20
"Keduanya adalah benar di hadapari Allah dan hidup menurut segala perintah
dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat." (ay.6)

Sebagian orang sering memahami bahwa yang disebut darnai
sejahtera adalah keadaan yang baik dan terjamin dari segi lahiriah
maupun batiniah/ rohaniah.

Bukankah Imam Zakharia dan istrinya adalah keluarga yang saleh
dan taat, lebih lagi keluarga yang spesial karena Zakharia termasuk
keturunan Harun. Namun injil Lukas mencentakan bahwa hidup
keluarga Zakharia dan Elisabet tidak lengkap; mereka tidak
dikaruniai anak. Apakah mereka memberontak kepada Allah dengan
keadaan mereka? Tidak! Mereka tetap memelihara kesetiaan dan
ketaatan serta kedekatan dengan Allah. Lalu, Malaikat Gabriel
rnenyampaikan berlta sukacita, berita tentang kelahiran anak bagi
Zakharia dan Elisabet; apakah kemudian mereka meluap-luap
kegernbiraan mereka karena akan mendapat anak‘? Juga tidak!
Zakharia clan Elisabet bukanlah pribadi yang baru mengenal Allah
atau bukan juga pribadi yang sekedarnya membangun hubungan
dengan Allah. Zakharia dan Elisabet adalah pribadi-pribadi, juga
suarni-istri, yang membangun dan memelihara hubungan dengan
Allah dalam kerendahan hati, kesetiaan dan ketaatan.

Zakharia dan Elisabet menerima darnai sejahtera dari Allah melalui per-
jalanan hidup mereka dari detik ke menit, menit ke jam, jam ke
hari, nari ke rninggu, minggu ke bulan, bulan ke tahun; Zakharia
dan Elisabet menerima damai sejahtera dari Allah melalui ke-
dekatan dan keeratan hubungan mereka dengan Allah. Mereka
hidup bersama dengan Sumber Damai Sejahtera itu.

Memasuki Minggu Adven IV, mestinya suasana damai sejah-
tera bukan hanya karena sltuasi dan kondisl merayakan Natal,
melainkan karena kita terus mernelihara dan hidup bersama Allah,
Sumber Damai Sejahtera klta.

KJ.82 : 4,5
Doa : (Ya Kristus Yesus Sumber damai sejahtera, mampukan kami
untuk memelihara damai sejahtera-Mu dan membagikannya
kepada sesama kami)


HARI MING-GU ADVEH IV
MINGGU, 23 DESEMBER 2018
Renungan Malam
KJ.81:1 -Berdoa
HIDUP MENJADI BERBEDA KETIKA MENGENAL ALLAH

Lukas 1:21-25
"Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, .... .." (ay.25)

Meyakini dan rnempercayakan hiclup ini kepada Tuhan bukanlah
hal yang mudah. Dibutuhkan penganalan akan Allah yang sungguh-
sungguh dalam keseharian lni. Menjalani--kehiclupan tanpa pe-
ngenalan akan Allah dengan benar, berakhir dengan kesla-siaan.
Karena yang kltajum pal clan hasllkan aclalah sesuatu yang biasa
tanpa melihat dengan seksama sebagai keputusan Allah yang
benar.

Sebagai seorang lmam seharusnya lman Zakharia kepada
Tuhan tidak usah diragukan lagi. Sebagai yang benar hidupnya
dihadapan Allah dan tidak bercacat (ayat 6). Tetapi dalam perikop
lni adalah dampak dari meremehkan perkataan Tuhan. Lamanya
ia di Bait Suci bukan karena tugasnya tetapi karena Allah men-
jadikannya bisu (ayat 21). Ayat 22-23 menunjukkan betapa beratnya
kehidupan aosial Zakharia ketika ia bisu. Mengurung di rumah
selama Iima bulan clan meninggalkan tugasnya sabagai Imam (ayat
24). Akhlrnya dia sadar keputusan Allah tidak pernah salah untuk
mengangkat harkat clan martabatnya (ayat 25). Sekelas Zakharia
saja masih meragukan dan meremehkan perkataan Allah, apalagi
kita yang menjumpai Tuhan kalau ada perlunya saja. Terlihat
Zakharia belum rnengenal Allah dengan benar, ia terjebak dengan
pengertiannya sendirl.

Bagaimana dengan kita yang tarjabak dalam pemahaman bahwa
kehldupan ini hal yang biasa saja dan apa yang klta kerjakan se-
bagai rutinitas. Tanpa rnellhat bahwa Allah selalu berkarya dengan
caranya, kita akan terjebak dalarn kayakinan yang palsu kapada
Tuhan.

Untuk itu berpengharapan kepada Tuhan tanpa batas, disertai
perenungan yang dalam tentang Firman Tuhan akan menghantar
kita kepada kehidupan yang berbeda. Sambut dan songsong Dla
dalam pengharapan yang sungguh. Allah tidak akan pernah me-
nlnggalkan anak-Nya menaruh harapan sepenuhnya kepadaNya.
Harkat dan martabat akan ditambahkan oleh-Nya.

KJ.81:3
Doa : (Bapa, Engkaulah harapan dan pembaharuan hidupku)


Label:   Lukas 1:5-20 





NEXT:
Khotbah Ibadah GPIB - MALAM MENJELANG NATAL - SENIN, 24 DESEMBER 2018 - TUHANLAH SUMBER DAMAI SEJAHTERA - Lukas 1:26-38

PREV:
Khotbah Ibadah GPIB Sabtu, 22 Desember 2018 - Hari Ibu - Yesaya 65:16-24 - Minggu Adven III

Garis Besar Lukas

Sinergypro adalah Perusahaan yang bergerak di bidang Replikasi, Duplikasi Cd, Vcd, Dvd dan juga menangani desain Grafis, Percetakan Offset Printing seperti Cover, buku, Katalog, X-Banner, Spanduk, Umbul-umbul, Kaos dll.

Kami sudah puluhan tahun di bidang ini dan sangat berpengalaman sehingga dengan keahlian yang kami punya berharap dapat memuaskan para pelanggan di dalam kerjasama dengan kami. Kami terus meningkatkan kinerja yang lebih optimal melalui ketepatan waktu, ketelitian dan hasil yang memuaskan





  • Bacaan Alkitab Setahun di FGCC (Gereja di Malaysia)
  • Bacaan Alkitab Setahun - ProSesama (GKI, GKPS dll)
  • Bacaan Alkitab Setahun GBI
  • Pembacaan Alkitab GMIM 2019
  • Pembacaan Alkitab Gereja GKPS Tahun 2019
  • Kalender Liturgi Katolik 2019
  • Kalender GKJ 2019
  • Arsip Khotbah Ibadah GPIB 2018..


    rss lagu-gereja.com  Register   Login  

    Lagu Kotbah




    songbatak.com-karaoke



    Nyanyian Ibadah Gereja
    English Hymns, COUPLES FOR CHRIST SONGS (CFC SONGS)*, AG (Aradhana Geethamulu), YSMS, YJ, ADV (Himnario Adventista)*, HC*,
    JB (Jiwaku Bersukacita: Pujian Sekolah Minggu), KMM, KJ, PKJ, GB, NR, NKB, KC, Nafiri Kemenangan, Lagu GMS, PPK, PPPR, KPPK, NKI, NRM, KPRI, Buku Ende, BN (Buku Nyanyian HKBP), Buku Lagu Perkantas, KPKL, KPKA, KPJ, KLIK, DSL, LS, PKJ TORAJA, NJNE, Doding Haleluya, LKEE, Suara Gembira, Puji Syukur, Madah Bakti,
    Lagu Rohani Bahasa Iban di Malaysia
    Thai Christian Song
    Hebrew Christian Song
    Arab Christian Song
    Christian Songs In Dutch
    German Christian Songs
    Hindi Worship Song
    Japanese Christian Song
    Italian Christian Song
    Lagu Rohani Batak
    Lagu Rohani Ambon
    Lagu Gereja Tiberias Indonesia GTI



    KAMIS, 31 JANUARI 2019
    Khotbah Ibadah GPIB KAMIS, 31 JANUARI 2019 - LAKUKAN DENGAN BENAR! - Yakobus 5:4-6 - MINGGU III SESUDAH EPIFANIA
    Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)
    Tuhan semesta alam, hari penyembelihan, OBSESI AKAN KEKAYAAN
    RABU, 30 JANUARI 2019
    Khotbah Ibadah GPIB RABU, 30 JANUARI 2019 - JIKA TUHAN MENGHENDAKI - Yakobus 4:13-17 - MINGGU III SESUDAH EPIFANIA
    Yakobus 4:13-17 Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)
    Jangan melupakan Tuhan dalam perencanaan, kamu tidak tahu apa yang akan terjadi esok, Jika Tuhan menghendakinya, Kita di
    SELASA, 29 JANUARI 2019
    Khot bah Ibadah GPIBSELASA, 29 JANUARI 2019 - HIKMAT DAN BUAHNYA - Yakobus 3:17-18 - MINGGU III SESUDAH EPIFANIA
    Yakobus 3:17-18 Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)

    SENIN, 28 JANUARI 2019
    Khotbah Ibadah GPIB SENIN, 28 JANUARI 2019 - HIKMAT DARI - 1 Korintus 3:18-23 - MINGGU III SESUDAH EPIFANIA
    Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)

    MINGGU, 27 JANUARI 2019
    MINGGU, 27 JANUARI 2019 - 1 Korintus1:26-31
    Sabda Bina Umat (SBU)






    Gereja GPIB di Jakarta (Map)
    Gereja GPIB di Surabaya (Map)
    Gereja GPIB di Makassar (Map)
    Gereja GPIB di Medan (Map)
    Gereja GPIB di Bandung (Map)
    Gereja GPIB di Manado (Map)
    Gereja GPIB di Bekasi (Map)
    Gereja GPIB di Tangerang (Map)
    Gereja GPIB di Denpasar (Map)
    Gereja GPIB di Bogor (Map)

    KAMIS, 31 JANUARI 2019
    Khotbah Ibadah GPIB KAMIS, 31 JANUARI 2019 - LAKUKAN DENGAN BENAR! - Yakobus 5:4-6 - MINGGU III SESUDAH EPIFANIA
    Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)
    Tuhan semesta alam, hari penyembelihan, OBSESI AKAN KEKAYAAN
    RABU, 30 JANUARI 2019
    Khotbah Ibadah GPIB RABU, 30 JANUARI 2019 - JIKA TUHAN MENGHENDAKI - Yakobus 4:13-17 - MINGGU III SESUDAH EPIFANIA
    Yakobus 4:13-17 Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)
    Jangan melupakan Tuhan dalam perencanaan, kamu tidak tahu apa yang akan terjadi esok, Jika Tuhan menghendakinya, Kita di
    SELASA, 29 JANUARI 2019
    Khot bah Ibadah GPIBSELASA, 29 JANUARI 2019 - HIKMAT DAN BUAHNYA - Yakobus 3:17-18 - MINGGU III SESUDAH EPIFANIA
    Yakobus 3:17-18 Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)

    SENIN, 28 JANUARI 2019
    Khotbah Ibadah GPIB SENIN, 28 JANUARI 2019 - HIKMAT DARI - 1 Korintus 3:18-23 - MINGGU III SESUDAH EPIFANIA
    Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)

    MINGGU, 27 JANUARI 2019
    MINGGU, 27 JANUARI 2019 - 1 Korintus1:26-31
    Sabda Bina Umat (SBU)


    lagu gereja tiberias indonesi, lagu gereja pikul salib, lagu gereja kemurahan tuhan, lagu gereja semua di mata tuhan, lagu gerejawi, lagu gereja mp3, lagu gereja gki, lagu lagu gereja, lagu gereja nikko, lagu gereja talita doodoh, lagu gereja lama, lagu gereja ntt, lagu gereja, lagu gereja kasih nama yesus, lagu gereja terbaru, lagu gereja suka cita, lagu gereja anak, , lagu gereja ya bapa, anugrahmu, lagu gereja tua, lagu gereja katolik, lagu gereja advent, lagu gereja hkbp, lagu gereja nikita, lagu gereja biak, lagu gereja batak, lagu gereja manado, agu gereja katolik cintamu, lagu gereja indonesia, lagu gereja yang mudah, lagu gereja katolik anak anak, lagu gereja terbaik dan terpopuler, lagu gereja nainggolan sisters, lagu gereja kidung jemaat, lagu gereja katolik bagai rajawali, lagu gereja anak kristen,