Save Page
MALAM NATAL
SELASA, 25 DESEMBER 2018
JURUSELAMAT JADI TEMAN PADA JALAN KEHIDUPAN
Matius 1:18-25

Matius 1:18-25
elahiran Yesus Kristus
1:18 Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. 1:19 Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. 1:20 Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. 1:21 Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka." 1:22 Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: 1:23 "Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" -- yang berarti: Allah menyertai kita. 1:24 Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya, 1:25 tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.

Penjelasan:



* Kelahiran Kristus (1:18-25)

    Misteri inkarnasi Kristus adalah untuk dipuja, bukan untuk memuaskan rasa ingin tahu manusia. Jika kita tidak mengetahui cara Roh bekerja baik dalam penciptaan manusia umumnya maupun dalam jalan angin dan tulang-tulang dalam rahim dari setiap perempuan yang mengandung (Pkh. 11:5), maka kita jauh lebih tidak tahu bagaimana Yesus yang diberkati itu terbentuk di dalam rahim anak dara yang diberkati itu. Waktu Daud mengagumi bagaimana dirinya dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan direkam (Mzm. 139:13-16), boleh jadi ia sedang berbicara dalam roh mengenai inkarnasi Kristus. Dalam Injil Matius kita menemukan beberapa keadaan yang menyertai kelahiran Kristus yang tidak tercantum di dalam Injil Lukas, meskipun Lukas mencatat sebagian besarnya. Dalam Matius kita melihat:

    I. Pertunangan Maria dengan Yusuf. Maria, ibu Tuhan kita, bertunangan dengan Yusuf, belum menikah sepenuhnya, tetapi sudah terikat; tujuan perkawinan dengan khidmat tertuang dalam perkataan de futuro -- yang berkenaan dengan masa depan, dan dalam sebuah janji yang dibuat bila Allah mengizinkan. Kita membaca tentang seorang laki-laki yang bertunangan dengan seorang perempuan, tetapi belum mengawininya (Ul. 20:7). Kristus lahir dari seorang anak dara, tetapi anak dara yang sudah bertunangan:
        1. Untuk menghargai status pernikahan, dan untuk menyatakannya sebagai sesuatu yang patut dihormati di antara semua hal; untuk melawan ajaran Iblis yang melarang orang kawin dan menganggap sempurna status tidak menikah. Siapa yang lebih dikaruniai dalam pertunangannya daripada Maria?
        2. Untuk menyelamatkan nama baik anak dara yang diberkati itu, yang bila tidak demikian, akan dicemooh. Sangat layak kehamilan Maria dilindungi melalui pernikahan, sehingga dibenarkan di mata dunia. Salah seorang penulis kuno berkata, Lebih baik bila ditanyakan, Bukankah ini anak tukang kayu? daripada, Bukankah ini anak seorang perempuan sundal?
        3. Agar supaya anak dara yang diberkati itu mempunyai seseorang yang menjadi pembimbing di masa mudanya, pengiring dalam kesendirian dan perjalanannya, kawan yang menjaganya, dan penolong baginya. Ada yang berpikir bahwa Yusuf seorang duda, dan bahwa mereka yang disebut saudara-saudara-Nya (13:55), adalah anak-anak Yusuf dari istrinya yang terdahulu. Ini merupakan perkiraan banyak penulis kuno. Yusuf seorang yang tulus hati, dan Maria seorang perempuan baik-baik. Orang-orang percaya janganlah menjadi pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya: tetapi biarlah mereka yang beriman memilih menikah dengan mereka yang juga beriman, karena mereka dapat mengharapkan kebahagiaan dari hubungan itu dan berkat Allah atas mereka di dalamnya. Dari contoh ini, kita juga bisa belajar bahwa sangatlah baik untuk memasuki pernikahan dengan pertimbangan mendalam, dan bukan dengan tergesa-gesa, untuk mempersiapkan upacara pernikahan itu dalam sebuah ikatan perjanjian. Lebih baik mengambil waktu sebelumnya untuk mempertimbangkan daripada mencari waktu sesudahnya untuk menyesali diri.
    II. Kehamilannya akan benih yang dijanjikan; ternyata ia mengandung ... sebelum mereka hidup sebagai suami isteri, yang sungguh-sungguh terjadi dari Roh Kudus. Pernikahan itu berselang waktu begitu lama setelah ikatan pertunangan sehingga ia mengandung sebelum tiba saatnya melangsungkan upacara pernikahan, meskipun ia telah terikat dengan ikatan pertunangan sebelum mengandung. Barangkali, sekembalinya Maria dari rumah Elisabet, sepupunya, sesudah tinggal bersamanya selama tiga bulan (Luk. 1:56), barulah tampak oleh Yusuf bahwa Maria sudah mengandung, dan hal ini tidaklah disangkal olehnya. Perhatikanlah, barangsiapa memiliki Kristus di dalam dirinya, hal itu akan tampak; dan akan nyata bahwa sesuatu itu merupakan karya Allah yang akan diakui-Nya. Sekarang kita bisa membayangkan betapa membingungkannya kejadian ini bagi perawan yang diberkati itu. Dia sendiri tahu asal usul ilahi dari kehamilannya; tetapi bagaimana dia bisa membuktikannya? Dia bisa diperlakukan sebagai perempuan sundal. Ingatlah, setelah mencapai berbagai prestasi yang tinggi dan hebat, agar kita tidak menjadi sombong karenanya, kita harus mengharapkan sesuatu terjadi untuk merendahkan hati kita, seperti semacam teguran, sebagai duri dalam daging, atau bahkan, lebih dari itu, seperti tikaman maut ke dalam tulang. Belum pernah terjadi seorang putri Hawa begitu dipermuliakan seperti anak dara Maria, dan meski begitu, ia juga berada dalam bahaya jatuh ke dalam dakwaan telah melakukan salah satu kejahatan terbesar. Walaupun demikian, Maria terbukti tidak menyiksa diri dengan hal tersebut. Sebaliknya, sadar dirinya tidak bersalah, dia tetap tenang dan tidak cemas, serta menyerahkan perkaranya kepada Dia yang menghakimi dengan adil. Catatlah, mereka yang menjaga hati nuraninya tetap benar boleh mempercayai dengan segenap kutukan Allah bahwa Dia menjaga nama baik mereka, dan mereka punya alasan untuk berharap bahwa Dia akan menyinari, bukan saja keutuhan, ketulusan, dan kejujuran hati mereka, tetapi juga kehormatan mereka, bagaikan matahari di siang hari.
    III. Kegalauan Yusuf, dan kesulitannya untuk bertindak dalam kasus ini. Bisa kita bayangkan betapa kacau dan kecewanya Yusuf ketika mendapati orang yang sedemikian dipandang tinggi dan dihargainya itu ternyata dicurigai telah melakukan kejahatan yang begitu mengerikan. Benarkah ini Maria? Yusuf mulai berpikir, "Betapa kita bisa tertipu oleh mereka yang kita pikir sangat baik! Betapa kita bisa dikecewakan oleh hal yang paling kita harapkan!" Sulit baginya untuk mempercayai bahwa wanita yang dipercayainya sebagai orang yang sangat baik itu bisa melakukan kejahatan yang demikian hebat; namun apa mau dikata, masalah tersebut, sama seperti terlampau berat untuk dimaafkan, juga terlampau nyata untuk disangkali. Betapa berat pergumulan yang berkecamuk di dadanya, antara kecemburuan yang merupakan amarah seorang lelaki, dan yang juga bisa begitu dahsyat, di satu pihak, dan perasaan sayangnya kepada Maria di lain pihak!

    Perhatikanlah:

        1. Tindakan berlebihan (ekstrem) yang benar-benar ingin Yusuf hindari. Dia tidak mau mencemarkan nama (Maria) di muka umum. Ia bisa saja melakukan hal ini; sebab menurut hukum, seorang gadis yang sudah bertunangan, jika dia berbuat sundal, harus dilempari dengan batu sampai mati (Ul. 22:23-24). Namun Yusuf tidak mau memanfaatkan hukum itu untuk menindak Maria; jika memang Maria bersalah, hal ini belum diketahui orang, dan Yusuf tidak akan memberitahukannya. Betapa berbedanya sikap yang Yusuf perlihatkan dengan sikap Yehuda, yang dalam kasus serupa langsung menjatuhkan hukuman berat itu, Bawalah perempuan itu, supaya dibakar! (Kej. 38:24). Betapa baiknya untuk memikirkan berbagai hal seperti yang dilakukan Yusuf di sini! Seandainya ada lebih banyak pertimbangan dalam dakwaan dan penghakiman yang kita lakukan, maka akan terdapat lebih banyak belas kasihan dan pertimbangan yang tepat di dalamnya. Di sini, membawa perempuan itu untuk dihukum biasanya disebut dengan menjadikan dia sebagai contoh di depan umum; yang menunjukkan apa yang menjadi tujuan akhir dalam penghukuman, yaitu memberikan contoh sebagai peringatan kepada orang lain: in terrorem -- agar semua orang mendengar dan takut. Pukullah si pencemooh, kaupukul, maka orang yang tak berpengalaman akan menjadi bijak (Ams. 19:25).

        Sebagian orang yang berwatak keras dan kaku mungkin akan mempersalahkan Yusuf atas "kelembekannya": namun justru untuk hal inilah dia dipuji; sebab dia seorang yang tulus hati, karena itu dia tidak mau mencemarkan nama Maria. Ia seorang yang saleh dan baik hati, dan oleh sebab itu cenderung penuh belas kasihan seperti Allah, dan mengampuni sebagai orang yang telah diampuni. Jika seorang perawan yang telah bertunangan diperkosa di padang, maka hukum bermurah hati dengan menganggap bahwa ia telah berteriak-teriak (Ul. 22:26-27), dan ia tidak perlu dihukum. Yusuf dengan murah hati menafsirkan demikianlah duduk perkaranya, atau yang sejenisnya; dan dalam hal ini ia seorang yang berhati tulus, ia berhati-hati terhadap nama baik orang yang sebelum itu tidak pernah melakukan apa pun untuk menodainya. Perhatikanlah, sungguh pantas bila kita, dalam banyak hal, bersikap lemah lembut terhadap mereka yang dicurigai telah melakukan kesalahan, untuk mengharapkan yang terbaik mengenai diri mereka dan melakukan yang terbaik untuk hal yang tadinya tampak buruk itu, dengan harapan supaya bisa menjadi lebih baik. Summum just summa injuria -- Kakunya hukum (adakalanya) sama dengan puncak ketidakadilan. Pengadilan hati nurani sedemikian itu, yang mengurangi kekakuan hukum, kita sebut sebagai sebuah court of equity, yaitu pengadilan untuk mencari keadilan di luar sistem peradilan formal yang berlaku [di Inggris]. Oleh karena itu, mereka yang kedapatan melakukan suatu pelanggaran perlu dipimpin ke jalan yang benar dalam roh kelemahlembutan; sedangkan ancaman, meskipun adil, haruslah diutarakan dengan sewajarnya.

        2. Cara bijak yang ditemukan Yusuf untuk menghindari tindakan ekstrem ini. Ia bermaksud menceraikan Maria dengan diam-diam, yakni, memberikan surat cerai kepadanya di hadapan dua orang saksi, dan dengan begitu menyimpan persoalan itu di antara mereka saja. Sebagai seorang yang tulus hati, yakni seorang yang taat kepada hukum, ia tidak akan melanjutkan untuk menikahi Maria, tetapi memutuskan untuk menceraikannya. Akan tetapi, walaupun telah memutuskan demikian, dengan kelembutan hati terhadapnya, ia bertekad untuk sedapat-dapatnya melakukannya dengan diam-diam. Perhatikanlah, bila mengecam orang yang telah melakukan kesalahan, selayaknyalah kalau dilakukan tanpa gembar-gembor. Perkataan orang berhikmat ... didengar dengan tenang. Kristus sendiri tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak. Kasih dan kebijaksanaan Kristiani akan menutupi banyak dosa, termasuk dosa-dosa besar, sejauh yang bisa dilakukan tanpa bersekutu dengan dosa itu.
    IV. Dilepaskannya Yusuf dari pergumulan ini melalui malaikat yang diutus dari sorga (ay. 20-21). Ketika dia mempertimbangkan maksud itu dan tidak tahu apa yang harus diputuskannya, Allah dengan penuh rahmat mengarahkan dia pada apa yang harus dia lakukan, dan memberinya kelegaan. Perhatikanlah, mereka yang ingin memperoleh petunjuk dari Allah harus mempertimbangkan sendiri berbagai hal, dan bertanya-tanya pada diri mereka sendiri. Hanya mereka yang penuh pertimbangan, dan bukan yang sembrono, yang akan dibimbing Allah. Waktu Yusuf kebingungan dan telah mencoba mempertimbangkan penyelesaian bagi masalah itu sebisa-bisanya, barulah Allah datang memberikan nasihat. Perhatikanlah, saat Allah untuk datang membawa petunjuk bagi umat-Nya adalah ketika mereka kehabisan akal dan tidak mampu lagi berbuat apa pun. Penghiburan Allah sangatlah menyenangkan jiwa pada saat bertambah banyak pikiran dalam batin (Mzm. 94:19). Pesan itu disampaikan kepada Yusuf oleh malaikat Tuhan, mungkin malaikat yang sama yang menyampaikan berita tentang kehamilan kepada Maria, yaitu malaikat Gabriel. Sekarang, hubungan dengan sorga, melalui malaikat, mulai dihidupkan kembali, suatu hubungan yang melaluinya dulu bapak-bapak leluhur ditinggikan, tetapi sudah lama berselang tidak digunakan. Hubungan dengan sorga kini dibuka kembali, sebab, ketika Ia (Allah Bapa) membawa pula Anak-Nya yang sulung ke dunia ini, para malaikat diperintahkan untuk menyertai kedatangan-Nya. Kita tidak tahu seberapa jauh Allah sekarang ini, melalui cara yang tidak kelihatan, mempergunakan pelayanan malaikat-malaikat untuk melepaskan umat-Nya dari kesukaran mereka. Namun kita yakin bahwa para malaikat semua adalah roh-roh yang melayani untuk kebaikan.

    Malaikat tadi menampakkan diri kepada Yusuf melalui mimpi sementara dia tidur, seperti yang adakalanya dilakukan Allah saat berbicara kepada para bapak leluhur. Saat kita sepenuhnya berdiam diri dan tenang, kita berada dalam keadaan terbaik untuk menerima maklumat kehendak ilahi. Roh Tuhan bergerak di atas air yang tenang. Tidak diragukan lagi, mimpi ini membawa serta buktinya sendiri bahwa itu berasal dari Allah, dan bukan hasil khayalan manusia yang sia-sia. Sekarang:

        1. Di sini Yusuf diarahkan untuk meneruskan rencana pernikahannya. Malaikat itu memanggilnya Yusuf, anak Daud; ia mengingatkan Yusuf tentang hubungannya dengan Daud, agar dia siap menerima kabar yang mengejutkan ini, tentang hubungannya dengan Sang Mesias, yang sebagaimana diketahui semua orang, akan lahir sebagai keturunan Daud. Adakalanya, bila orang kecil mendapat kehormatan besar, mereka ini tidak peduli untuk menerimanya, malah bersedia menolaknya. Itulah sebabnya mengapa perlu sekali untuk mengingatkan tukang kayu miskin ini perihal silsilahnya yang agung: "Hargailah dirimu, Yusuf, engkau adalah anak Daud yang melaluinyalah silsilah Sang Mesias akan ditarik." Demikian juga kita boleh berkata kepada setiap orang percaya yang sungguh-sungguh, "Jangan takut, engkau anak Abraham, engkau anak Allah; jangan lupakan martabat kelahiranmu, kelahiranmu yang baru." Janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu; begitulah kata-kata itu bisa dibaca. Yusuf, yang menyangka Maria hamil karena berbuat sundal, takut mengambilnya, kalau-kalau hal itu mendatangkan kesalahan atau celaan atas dirinya sendiri. Tidak, kata Tuhan, Janganlah engkau takut, karena bukan demikian duduk perkaranya. Boleh jadi Maria telah menyampaikan kepada Yusuf bahwa ia mengandung dari Roh Kudus, dan mungkin Yusuf juga telah mendengar apa yang dikatakan Elisabet kepada Maria (Luk. 1:43), ketika ia menyebut Maria ibu Tuhanku; dan bila memang demikian, ia takut dianggap menikahi orang dengan kedudukan yang begitu jauh lebih tinggi daripadanya. Namun, apa pun yang membuatnya takut, semuanya ditenangkan dengan perkataan ini, Janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu. Perhatikanlah, adalah rahmat yang luar biasa ketika kita dibebaskan dari ketakutan, dan dilepaskan dari kebimbangan, sehingga kita bisa maju terus dengan masalah kita dengan ringan hati.
        2. Di sini ia diberitahukan mengenai hal yang kudus itu yang sedang dikandung calon istrinya. Bahwa yang ada di dalam kandungan Maria itu berasal dari Tuhan. Yusuf begitu jauh dari bahaya turut berbagi kenajisan dengan menikahi Maria, sebaliknya dengan berbuat demikian, ia justru akan turut berbagi martabat tertinggi yang bisa diraihnya. Ada dua hal yang diberitahukan kepadanya,
            (1) Bahwa Maria mengandung dari [kuasa] Roh Kudus; bukan dari kuasa alam. Roh Kudus, yang menciptakan dunia, sekarang berkarya dalam inkarnasi Juruselamat dunia dengan menyediakan tubuh bagi-Nya, seperti yang dijanjikan kepada-Nya ketika Ia berkata, Sungguh, Aku datang (Ibr. 10:5, 7). Itulah sebabnya mengapa Ia dikatakan lahir dari seorang perempuan (Gal. 4:4), namun juga menjadi Adam kedua yang adalah berasal dari sorga (1Kor. 15:47). Dia adalah Anak Allah, namun juga turut mengambil substansi kejasmanian dari ibu-Nya sehingga disebut buah rahimnya (Luk. 1:42). Sangatlah penting bahwa pengandungan-Nya harus berbeda dari cara yang biasa, sehingga sekalipun Ia turut mengambil bagian dalam natur manusia, Ia dapat menghindari kerusakan dan pencemarannya, dan tidak dikandung serta dibentuk dalam pelanggaran. Sejarah menceritakan kepada kita tentang beberapa orang yang berpura-pura mengandung oleh kuasa ilahi, seperti misalnya ibu Aleksander; namun tidak pernah ada yang benar-benar mengalaminya, kecuali ibu Tuhan kita. Nama-Nya dalam hal ini, sebagaimana dalam hal-hal lainnya, adalah Ajaib. Kita tidak membaca bahwa anak dara Maria mengumumkan sendiri kehormatan yang diberikan kepadanya; tetapi dia menyimpannya di dalam hati, dan oleh sebab itu Allah mengirimkan malaikat untuk menegaskan kebenarannya. Mereka yang tidak mencari kemuliaan diri sendiri akan mendapatkan kehormatan yang berasal dari Allah; hal ini disediakan bagi mereka yang rendah hati.
            (2) Bahwa Maria akan melahirkan Juruselamat dunia (ay. 21). Ia akan melahirkan anak laki-laki; apa yang akan terjadi dengan-Nya ditunjukkan sebagai berikut:
                [1] Dalam nama yang akan diberikan kepada Putranya: Engkau akan menamai Dia Yesus, Sang Juruselamat. Nama Yesus sama dengan Yosua, hanya akhirannya saja yang diganti, guna menyesuaikannya dengan bahasa Yunani. Yosua disebut Yesus (Kis. 7:45; Ibr. 4:8), bersumber dari Septuaginta. Di dalam Perjanjian Lama, terdapat dua orang dengan nama itu, keduanya merupakan gambaran dari Kristus, Yosua yang menjadi pemimpin orang Israel saat mereka mulai menetap di Kanaan, dan Yosua yang merupakan imam besar ketika mereka menetap kedua kalinya setelah terbebas dari pembuangan (Za. 6:11-12). Kristus adalah Yosua kita; baik sebagai Pemimpin kita kepada keselamatan (Ibr. 2:10), maupun Imam Besar dari iman yang kita akui (Ibr. 3:1), dan dalam kedua hal ini, Juruselamat kita adalah seorang Yosua yang menggantikan Musa, dan Dia mengerjakan bagi kita apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging (Rm. 8:3). Dulunya, Yosua bernama Hosea, tetapi Musa menambahkan suku kata pertama dari nama Yehovah pada awal nama itu, sehingga menjadi Yehoshua (= Yosua, Bil. 13:16), untuk mengisyaratkan bahwa Sang Mesias, yang akan menyandang nama itu, adalah Yehovah. Oleh sebab itu Ia sanggup menyelamatkan dengan sempurna), dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga .
                [2] Dalam alasan pemberian nama tersebut: karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka; bukan saja bangsa Yahudi (Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi mereka tidak menerima-Nya), tetapi juga semua orang yang diberikan kepada-Nya atas pilihan Bapa, dan semua orang yang memberikan diri mereka kepada-Nya atas kehendak sendiri. Dia adalah raja yang melindungi rakyatnya, dan, seperti para hakim Israel pada zaman dahulu, melakukan penyelamatan bagi mereka. Perhatikanlah, mereka yang diselamatkan Kristus diselamatkan-Nya dari dosa mereka; dari kesalahan karena dosa melalui karya kematian-Nya, dari kuasa dosa melalui Roh kasih karunia-Nya. Dengan menyelamatkan mereka dari dosa, Ia menyelamatkan mereka dari murka dan kutuk, serta dari semua kesengsaraan di dunia ini maupun di alam baka. Kristus datang untuk menyelamatkan umat-Nya, bukan di dalam dosa mereka, melainkan dari dosa mereka; untuk membayar lunas bagi mereka, suatu kebebasan bukan untuk berdosa, melainkan kebebasan dari dosa, untuk membebaskan mereka dari segala kejahatan (Tit. 2:14); dan dengan demikian menebus mereka dari antara manusia (Why. 14:4) bagi diri-Nya, yang terpisah dari orang-orang berdosa. Sehingga mereka yang meninggalkan dosa-dosa mereka dan menyerahkan diri kepada Kristus sebagai umat-Nya, turut mengambil bagian dalam Sang Juruselamat dan keselamatan yang telah dikerjakan-Nya (Rm. 11:26).
    V. Penggenapan Kitab Suci dalam semua peristiwa ini. Pemberita Injil ini, yang menulis di antara orang Yahudi, lebih sering mengamati hal ini dibandingkan para penulis Kitab Injil lainnya. Di sini nubuat-nubuat dalam Perjanjian Lama mendapatkan penggenapannya dalam diri Yesus Tuhan kita, yang menunjukkan bahwa memang Dia itulah yang seharusnya datang, bahwa kita tidak perlu mencari-cari yang lain. Sebab, tentang Dialah semua nabi bersaksi. Sekarang, firman Tuhan yang digenapi melalui kelahiran Kristus adalah tanda yang dijanjikan Allah kepada raja Ahas (Yes. 7:14), Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung, di mana sang nabi, yang mendorong umat Allah agar mengharapkan pembebasan yang dijanjikan dari invasi Sanherib, mengarahkan mereka untuk menanti-nantikan Mesias, yang akan muncul dari bangsa Yahudi, dan rumah Daud. Dari hal ini mudah ditarik kesimpulan bahwa meskipun baik bangsa maupun rumah itu ditimpa kemalangan, tidak ada satu pun dari keduanya yang akan dibiarkan runtuh, selama Allah mempunyai kehormatan yang sedemikian tinggi, berkat yang begitu besar, tersedia bagi mereka. Karya-karya pembebasan yang dikerjakan Allah bagi umat Perjanjian Lama merupakan perlambangan dan bayang-bayang dari keselamatan agung melalui Kristus; dan bila Allah akan melakukan perkara yang lebih besar, Ia tidak akan gagal melakukan yang lebih kecil.

    Nubuat yang dikutip di sini pantas didahului dengan ucapan Lihatlah, yang menuntut perhatian maupun kekaguman; karena di sini kita melihat misteri keilahian itu, yang tidak dapat disangkal lagi, benar-benar luar biasa, bahwa Allah telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia.

        1. Pertanda yang diberikan adalah bahwa Mesias itu akan lahir dari seorang anak dara. Seorang perempuan muda akan mengandung, dan melaluinya, Ia akan dinyatakan dalam rupa manusia. Istilah Almah menunjukkan arti seorang anak dara dalam pengertiannya yang seketat-ketatnya, seperti yang diakui Maria perihal dirinya (Luk. 1:34), aku belum bersuami. Dan seandainya tidak demikian, pertanda tersebut tidak akan menjadi pertanda yang sungguh luar biasa sebagaimana yang dimaksudkan. Sejak semula telah diisyaratkan bahwa Mesias akan lahir dari seorang anak dara, ketika dikatakan bahwa Ia akan menjadi keturunan dari perempuan itu; jadi, keturunan dari perempuan itu dan bukan keturunan dari laki-laki mana pun. Kristus lahir dari seorang anak dara, bukan saja karena kelahirannya harus bersifat supernatural, sekaligus sangat luar biasa, tetapi juga karena peristiwa itu harus terjadi tanpa cacat, suci, dan tanpa setitik noda pun karena dosa. Kristus akan lahir bukan dari seorang kaisar perempuan atau ratu, sebab Ia muncul bukan dalam kemegahan atau semarak lahiriah, melainkan dari seorang anak dara, untuk mengajarkan kepada kita kemurnian rohani, untuk mati terhadap semua kesenangan indrawi, sehingga dengan demikian menjaga supaya diri kita tidak dicemarkan oleh dunia ini, keinginan daging, agar kita boleh dipersembahkan sebagai perawan-perawan suci kepada Kristus.
        2. Kebenaran yang dibuktikan melalui pertanda ini adalah, bahwa Dia Anak Allah, dan Pengantara antara Allah dan manusia: sebab mereka akan menamakan Dia Imanuel, artinya, Ia akan menjadi Imanuel. Dan ketika dikatakan, Dia akan dinamakan, itu artinya Dia akan menjadi, menjadi TUHAN keadilan kita. Imanuel berarti Allah menyertai kita; sebuah nama yang penuh misteri, namun sangat berharga; Allah berinkarnasi di antara kita, sehingga Allah dapat diperdamaikan dengan kita, menjadi rukun dengan kita, dan membawa kita ke dalam kovenan dan persekutuan dengan-Nya. Umat Yahudi memiliki Allah beserta mereka, dalam bentuk perlambangan dan bayang-bayang, yang bertakhta di atas kerubim, namun tidak pernah mereka memilikinya sebagaimana ketika Firman itu telah menjadi manusia -- yang adalah Shekinah yang diberkati. Alangkah indahnya langkah yang ditempuh dalam mewujudkan perdamaian dan hubungan antara Allah dan manusia ini, begitu indahnya sampai kedua natur ini, yaitu natur Allah dan manusia, disatukan dalam diri Sang Pengantara! Dengan demikian Ia menjadi Juru Penengah, Wasit yang tidak bercacat, yang layak untuk menumpangkan tangan-Nya di atas kedua pihak, karena Ia mengambil bagian dalam natur kedua belah pihak. Lihatlah, di dalam hal ini terdapat misteri yang paling dalam dan rahmat yang paling kaya yang pernah ada. Melalui terang alam, kita melihat Allah sebagai Allah yang berada di atas kita; melalui terang hukum Taurat, kita melihat-Nya sebagai Allah yang melawan kita; tetapi, dalam terang Injil, kita melihat-Nya sebagai Imanuel, Allah menyertai kita, dalam natur kita, dan (terlebih lagi) demi kepentingan kita. Dengan cara demikian Sang Penebus menunjukkan kasih-Nya. Nama Kristus itu, Imanuel, dapat dibandingkan dengan nama yang diberikan kepada gereja Injil (Yeh. 48:35), Jehovah Shammah -- Tuhan hadir di situ; Tuhan semesta alam beserta kita.

        Selain itu, sesuailah untuk mengatakan bahwa nubuat yang meramalkan bahwa Ia harus dinamai Imanuel digenapi sesuai rancangan dan tujuannya, pada waktu Ia dinamai Yesus; sebab seandainya Dia bukan Imanuel -- Allah menyertai kita, Ia juga bukan Yesus -- sang Juruselamat. Di sini tersirat keselamatan yang dikerjakan-Nya, yaitu mempertemukan Allah dan manusia. Inilah yang telah dirancang-Nya, untuk membawa Allah menyertai kita, yang merupakan sukacita besar bagi kita, dan untuk membawa kita agar berada bersama Allah, yang merupakan kewajiban besar kita.

    VI. Ketaatan Yusuf pada titah ilahi (ay. 24). Sesudah bangun dari tidurnya karena kesan yang ditimbulkan mimpi itu, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya, meskipun ini bertentangan dengan perasaan dan maksudnya yang semula; ia mengambil Maria sebagai isterinya; ia melakukannya dengan segera tanpa menunda-nunda, dan dengan riang gembira, tanpa berbantah; ia tidak menentang penglihatan sorgawi itu. Di zaman sekarang, kita memang tidak bisa mengharapkan arahan luar biasa seperti ini; namun Allah masih mempunyai cara-cara lain untuk menyatakan pikiran-Nya dalam kasus-kasus yang menimbulkan rasa ragu, melalui isyarat-isyarat providensi, perdebatan hati nurani, dan nasihat sahabat-sahabat beriman; karena itu, melalui setiap cara ini, disertai dengan penerapan petunjuk-petunjuk umum yang tertulis dalam firman Tuhan, seharusnyalah kita mengikuti petunjuk yang berasal dari Allah dalam seluruh langkah hidup kita, terutama yang menyangkut perubahan-perubahan yang sangat besar, seperti misalnya yang dihadapi Yusuf. Dengan begitu, kita akan mendapati bahwa sungguh aman dan nyaman untuk berbuat seperti yang diperintahkan-Nya kepada kita.
    VII. Penggenapan janji ilahi (ay. 25). Ia melahirkan anaknya laki-laki. Keadaan yang menyertai peristiwa kelahiran ini diceritakan lebih banyak dalam Lukas 2:1, dan selanjutnya. Perhatikanlah, apa yang dikandung dari Roh Kudus terbukti tidak pernah gagal, melainkan pasti akan diwujudkan pada waktunya. Apa yang berasal dari keinginan daging dan keinginan seorang laki-laki, sering kali tidak kesampaian; namun, jika Kristus terbentuk dalam jiwa, Allah sendirilah yang telah memulai pekerjaan baik itu yang akan dilaksanakan-Nya; apa yang dikandung dalam anugerah tidak diragukan lagi akan dilahirkan dalam kemuliaan. Selanjutnya kita perhatikan:
        1. Bahwa Yusuf, meskipun melangsungkan pernikahan dengan Maria tunangannya, tetap menjaga jarak dengan Maria sementara dia mengandung anak yang Kudus itu; ia tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki. Sudah banyak yang dikatakan perihal keperawanan abadi menyangkut ibu Tuhan kita. Jerome sangat marah kepada Helvidius karena menyangkali hal ini. Pastilah bahwa hal ini tidak dapat dibuktikan melalui Kitab Suci. Dr. Whitby cenderung berpendapat bahwa ketika dikatakan Yusuf tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki, ini mengisyaratkan bahwa setelah itu, karena alasannya tidak berlaku lagi, Yusuf hidup bersama Maria sesuai dengan Hukum Taurat (Kel. 21:10).
        2. Bahwa Kristus adalah anak sulung (Dari KJV: first born); dan Ia boleh disebut demikian meskipun seandainya ibu-Nya tidak melahirkan anak lagi setelah Dia, sesuai dengan bahasa yang digunakan dalam Kitab Suci. Bukan berarti tidak ada misteri bahwa Kristus disebut anak sulung Maria, sebab Ia merupakan yang sulung dari segala yang diciptakan, yaitu Ahli Waris segala sesuatu. Dia juga yang sulung di antara banyak saudara, sehingga dalam segala hal Dialah yang terutama.
        3. Bahwa Yusuf menamakan Dia Yesus, sesuai petunjuk yang diberikan kepadanya. Karena Allah telah menetapkan Dia sebagai Juruselamat, yang ditunjukkan melalui pemberian nama Yesus oleh Yusuf, maka kita harus menerima Dia sebagai Juruselamat kita, dan, sejalan dengan ketetapan itu, kita harus memanggil-Nya Yesus, Juruselamat kita.


SBU
HARI NATAL
SELASA, 25 DESEMBER 2018
Renungan Pagi
GB.149 : 1  -Berdoa
JURUSELAMAT JADI TEMAN PADA JALAN KEHIDUPAN

Matius 1:18-25
la akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka." (ay.21)

Dua nama disebutkan dalarn perikop bacaan kita. Nama yang
pertarna adalah Yesus, dan yang kedua adalah lmanuel. Kata
Yesus artinya Allah adalah pehyelamat atau Allah menyelamatkan.
Kata lmanuel berarti Allah beserta kita. Kedua kata ini dalam
maknanya menyatu pada diri Bayii Natal yang lahir di kandlang
Betlehem. Kedua nama ini ‘diorder' oleh malaikat sendiri, sebagai
‘pesanan' dari sorga. Ini menjelaskan bahwa inti sukacita perayaan
Natal adalah karena Allah, Sang Penyelarnat bersedia turun dari
sorga untuk menyertai kita dalam penempuh perjalanan hidup.
lnilah isl sukacita dalam nyanyian para malaikat saat peristiwa
Natal.

Ketika Adam dan Hawa jatuh kedalam dosa, maka manusia
‘tidak bisa tidak 'pasti binasa. Dengan terjadinya peristiwa Natal
maka manusia ‘bisa tidak' binasa, kalau mampercayakan diri pada
Bayi Natal itu. Dia hadlir untuk menemani dan menyelarnatkan
kita dalam menjalani kehidupan.

Pengalaman menunjukkan bahwa hidup ini sering tidak ramah;
apalagi terhadap anak-anak Tuhan. Kita tidak memungkiri kenyala-
an bahwa disamping begitu banyak keluhan clan pergumulan, ada
banyak berkal dan sukacita yang kita alarni clalam kehidupan.
Tapi nyatanya masa depan tetap saja merupakan misterl bagi setiap
orang. Hari kemarin adalah pengalaman, hari ini adalah kenyataan,
tetapi hari asok panuh dengan tancla tanya karena kita ticlak tahu
apa yang akan terjacli. Nam un jelas sekali perbeclaan anak-anak
Tuhan clari anak-anak dunia ini dalam menjalani kehiclupan. Sebagai
anak-anak Tuhan kita tidak berjalan sendiri. Juruselamat yang
menemani kita menjalani kehiclupan. Untuk rnengangkat ketika
kita tergelincir, untuk menapang katika kita patah. lnilah landasan
darnai sejahtera kita. Damai sejahtera Natal menyerlaimu saudara-
ku!

GB.149 : 2
Doa : (Ya Kristus Bayi Natal yang kudus, berjalanlah bersama kami
anak anak-Mu supaya hidup kami tetap menapak pada jalan damai
sejahtera)


HARI NATAL
SELASA, 25 DESEMBER 2018
Renungan Malam
KJ.123:1,4  -Berdoa
DATANG MENYEMBAH YESUS

Matius 2:1-12
 ... lalu sujud menyembah Dia... (ay.11b)

Orang-orang Majus datang mencari dan menyembah Yesus di
Betlehem.
1. Mereka adalah orang-orang kafir. Kaldea, daerah Mesopo-
tamia Babilonia tempat asal mereka, adalah daerah pe-
nyembahan berhala. Allah mencari mereka.
Mereka adaiah orang-orang pandai, ahli-ahli perbintangan
pada zamannya. Mereka juga menjadi penasihat raja di
negerinya. Tuhan telah memakai kepandaian dan ilmu
pengetahuan yang mereka miliki untuk dapat berjumpa
dengan Tuhan Yesus.

Mereka adalah orang-orang kaya Untuk suatu penelitian
perbintangan yang dibutuhkan dana yang tidak sedikit.
Kemudian harus menempuh perjalanan panjang untuk dapat
berjumpa dengan Yesus. Mereka rela mempersembahkan
kekayaannya.

Mereka datang dan tempat yang jauh. Jarak antara Babel
dan Betlehem amat jauh. Belum ada transportasi seperti
sekarang ini. Namun ada sasuatu yang mendorong mereka
untuk datang ke Betlehem. Dalam mengikut Yesus, hams
ada kerelaan untuk berkorban: waktu, tenaga, pikiran dan
harta.

Mereka datang sujud menyembah dan memberi persem-
bahan berharga: emas, kemenyan dan mur. Tiga jenis per
sembahan yang menggambarkan tiga jabatan Kristus :
Raja, Imam, dan Nabi.

Orang-orang Majus telah mempersembahkan segala hal ter-
baik yang mereka mmki bagi Tuhan. Bagaimana clengan kita? Apa
yang kita persembahkan di Natal tahun ini?

KJ.127: 1,4
Doa : (Tolong kami agar mampu mempersembahkan hidup kami
kepada-Mu)


Label:   Matius 1:18-25 





NEXT:
Khotbah Ibadah GPIB - HARI NATAL II - RABU, 26 DESEMBER 2018 - LANGIT TERBUKA - Matius 3:16-17 (SGK) - BAPTISAN KUDUS

PREV:
Khotbah Ibadah GPIB - MALAM MENJELANG NATAL - SENIN, 24 DESEMBER 2018 - TUHANLAH SUMBER DAMAI SEJAHTERA - Lukas 1:26-38

Garis Besar Matius

Sinergypro adalah Perusahaan yang bergerak di bidang Replikasi, Duplikasi Cd, Vcd, Dvd dan juga menangani desain Grafis, Percetakan Offset Printing seperti Cover, buku, Katalog, X-Banner, Spanduk, Umbul-umbul, Kaos dll.

Kami sudah puluhan tahun di bidang ini dan sangat berpengalaman sehingga dengan keahlian yang kami punya berharap dapat memuaskan para pelanggan di dalam kerjasama dengan kami. Kami terus meningkatkan kinerja yang lebih optimal melalui ketepatan waktu, ketelitian dan hasil yang memuaskan





  • Bacaan Alkitab Setahun di FGCC (Gereja di Malaysia)
  • Bacaan Alkitab Setahun - ProSesama (GKI, GKPS dll)
  • Bacaan Alkitab Setahun GBI
  • Pembacaan Alkitab GMIM 2019
  • Pembacaan Alkitab Gereja GKPS Tahun 2019
  • Kalender Liturgi Katolik 2019
  • Kalender GKJ 2019
  • Arsip Khotbah Ibadah GPIB 2018..


    rss lagu-gereja.com  Register   Login  

    Lagu Kotbah




    songbatak.com-karaoke



    Nyanyian Ibadah Gereja
    English Hymns, COUPLES FOR CHRIST SONGS (CFC SONGS)*, AG (Aradhana Geethamulu), YSMS, YJ, ADV (Himnario Adventista)*, HC*,
    JB (Jiwaku Bersukacita: Pujian Sekolah Minggu), KMM, KJ, PKJ, GB, NR, NKB, KC, Nafiri Kemenangan, Lagu GMS, PPK, PPPR, KPPK, NKI, NRM, KPRI, Buku Ende, BN (Buku Nyanyian HKBP), Buku Lagu Perkantas, KPKL, KPKA, KPJ, KLIK, DSL, LS, PKJ TORAJA, NJNE, Doding Haleluya, LKEE, Suara Gembira, Puji Syukur, Madah Bakti,
    Lagu Rohani Bahasa Iban di Malaysia
    Thai Christian Song
    Hebrew Christian Song
    Arab Christian Song
    Christian Songs In Dutch
    German Christian Songs
    Hindi Worship Song
    Japanese Christian Song
    Italian Christian Song
    Lagu Rohani Batak
    Lagu Rohani Ambon
    Lagu Gereja Tiberias Indonesia GTI



    KAMIS, 31 JANUARI 2019
    Khotbah Ibadah GPIB KAMIS, 31 JANUARI 2019 - LAKUKAN DENGAN BENAR! - Yakobus 5:4-6 - MINGGU III SESUDAH EPIFANIA
    Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)
    Tuhan semesta alam, hari penyembelihan, OBSESI AKAN KEKAYAAN
    RABU, 30 JANUARI 2019
    Khotbah Ibadah GPIB RABU, 30 JANUARI 2019 - JIKA TUHAN MENGHENDAKI - Yakobus 4:13-17 - MINGGU III SESUDAH EPIFANIA
    Yakobus 4:13-17 Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)
    Jangan melupakan Tuhan dalam perencanaan, kamu tidak tahu apa yang akan terjadi esok, Jika Tuhan menghendakinya, Kita di
    SELASA, 29 JANUARI 2019
    Khot bah Ibadah GPIBSELASA, 29 JANUARI 2019 - HIKMAT DAN BUAHNYA - Yakobus 3:17-18 - MINGGU III SESUDAH EPIFANIA
    Yakobus 3:17-18 Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)

    SENIN, 28 JANUARI 2019
    Khotbah Ibadah GPIB SENIN, 28 JANUARI 2019 - HIKMAT DARI - 1 Korintus 3:18-23 - MINGGU III SESUDAH EPIFANIA
    Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)

    MINGGU, 27 JANUARI 2019
    MINGGU, 27 JANUARI 2019 - 1 Korintus1:26-31
    Sabda Bina Umat (SBU)






    Gereja GPIB di Jakarta (Map)
    Gereja GPIB di Surabaya (Map)
    Gereja GPIB di Makassar (Map)
    Gereja GPIB di Medan (Map)
    Gereja GPIB di Bandung (Map)
    Gereja GPIB di Manado (Map)
    Gereja GPIB di Bekasi (Map)
    Gereja GPIB di Tangerang (Map)
    Gereja GPIB di Denpasar (Map)
    Gereja GPIB di Bogor (Map)

    KAMIS, 31 JANUARI 2019
    Khotbah Ibadah GPIB KAMIS, 31 JANUARI 2019 - LAKUKAN DENGAN BENAR! - Yakobus 5:4-6 - MINGGU III SESUDAH EPIFANIA
    Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)
    Tuhan semesta alam, hari penyembelihan, OBSESI AKAN KEKAYAAN
    RABU, 30 JANUARI 2019
    Khotbah Ibadah GPIB RABU, 30 JANUARI 2019 - JIKA TUHAN MENGHENDAKI - Yakobus 4:13-17 - MINGGU III SESUDAH EPIFANIA
    Yakobus 4:13-17 Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)
    Jangan melupakan Tuhan dalam perencanaan, kamu tidak tahu apa yang akan terjadi esok, Jika Tuhan menghendakinya, Kita di
    SELASA, 29 JANUARI 2019
    Khot bah Ibadah GPIBSELASA, 29 JANUARI 2019 - HIKMAT DAN BUAHNYA - Yakobus 3:17-18 - MINGGU III SESUDAH EPIFANIA
    Yakobus 3:17-18 Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)

    SENIN, 28 JANUARI 2019
    Khotbah Ibadah GPIB SENIN, 28 JANUARI 2019 - HIKMAT DARI - 1 Korintus 3:18-23 - MINGGU III SESUDAH EPIFANIA
    Penjelasan Ayat Sabda Bina Umat (SBU)

    MINGGU, 27 JANUARI 2019
    MINGGU, 27 JANUARI 2019 - 1 Korintus1:26-31
    Sabda Bina Umat (SBU)


    lagu gereja tiberias indonesi, lagu gereja pikul salib, lagu gereja kemurahan tuhan, lagu gereja semua di mata tuhan, lagu gerejawi, lagu gereja mp3, lagu gereja gki, lagu lagu gereja, lagu gereja nikko, lagu gereja talita doodoh, lagu gereja lama, lagu gereja ntt, lagu gereja, lagu gereja kasih nama yesus, lagu gereja terbaru, lagu gereja suka cita, lagu gereja anak, , lagu gereja ya bapa, anugrahmu, lagu gereja tua, lagu gereja katolik, lagu gereja advent, lagu gereja hkbp, lagu gereja nikita, lagu gereja biak, lagu gereja batak, lagu gereja manado, agu gereja katolik cintamu, lagu gereja indonesia, lagu gereja yang mudah, lagu gereja katolik anak anak, lagu gereja terbaik dan terpopuler, lagu gereja nainggolan sisters, lagu gereja kidung jemaat, lagu gereja katolik bagai rajawali, lagu gereja anak kristen,