Save Page
Lukas 10:25-34
Orang Samaria yang murah hati
10:25 Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" 10:26 Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?" 10:27 Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." 10:28 Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup." 10:29 Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?" 10:30 Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. 10:31 Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. 10:32 Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. 10:33 Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. 10:34 Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.


Penjelasan:


* Luk 10:25 - Seorang ahli (hukum) Taurat // Mencobai // Hidup yang kekal
Seorang ahli (hukum) Taurat. Di kalangan masyarakat Yahudi. seorang ahli Taurat merupakan pakar di dalam ajaran religius tentang Hukum Musa dan bukan seorang pengacara di pengadilan. Mencobai. Ahli Taurat tersebut sedang menguji Yesus untuk melihat apa jawaban Yesus atas sebuah pertanyaan yang menjebak. Hidup yang kekal merupakan pokok perdebatan yang lagi hangat dalam agama (18:18).

* Luk 10:26 - Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? // Jawab orang itu // Jiwa // Kekuatan // Akal budi
Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Sang Juruselamat menerima otoritas Perjanjian Lama sebagai penyataan Allah. Pertanyaan ahli Taurat menunjukkan bahwa ia sebenarnya dapat menemukan jawaban atas pertanyaannya itu di dalam Alkitab apabila ia mencari dengan sungguh-sungguh. 27 Jawab orang itu. Jawaban si ahli Taurat merupakan perpaduan dari dua ayat - Ulangan 6:5 dan Imamat 19:18. Yang pertama merupakan bagian dari Sheena, atau kredo (pengakuan iman). Yahudi yang umumnya diucapkan pada saat kebaktian di sinagoge. Hati (Yunani: kardia) adalah kehidupan batiniah, tidak harus perasaan saja. Jiwa (Yunani: psychē) adalah kepribadian, bagian kesadaran seseorang. Kekuatan (Yunani: ischui) adalah kekuatan jasmaniah. Akal budi (Yunani: dianoia) ialah kemampuan untuk berpikir.

* Luk 10:29 - Untuk membenarkan dirinya
Untuk membenarkan dirinya. Sadar bahwa dirinya telah terjebak oleh kata-katanya sendiri, sebab dia tidak menaati Taurat, si ahli mulai berdalih tentang definisi. Orang Yahudi yang ketat tidak akan mengakui orang bukan Yahudi sebagai sesamanya.

* Luk 10:30 - Adalah seseorang // Turun dari Yerusalem ke Yerikho
Adalah seseorang. Sekalipun kisah Yesus disebut perumpamaan. mungkin saja kisah ini memang pernah terjadi. Turun dari Yerusalem ke Yerikho. Secara harfiah memang benar, sebab Yerusalem terletak 2.600 kaki di atas permukaan laut, dan Yerikho hampir 1.300 kaki di bawah permukaan laut. Jelasnya berbelok-belok dan sempit, melingkar turun sepanjang jalan berbatu yang banyak jurang, di mana para perampok dapat bersembunyi dengan mudah.

* Luk 10:32 - Seorang Lewi
Seorang Lewi. Orang Lewi melayani di Bait Suci. Baik imam maupun orang Lewi itu tidak berusaha untuk menolong orang tersebut. Mereka mungkin berpikir bahwa dia sudah mati, sehingga mereka tidak mau mengotori diri dengan menyentuh mayat.

* Luk 10:33 - Seorang Samaria
Seorang Samaria. Orang Samaria dihina oleh orang Yahudi sebab mereka merupakan keturunan dari orang bukan Yahudi dan karena cara beribadat mereka berbeda dengan Cara beribadat orang Yahudi ortodoks. Mereka beribadah di Gunung Gerizim dan bukan di Yerusalem, serta memiliki keimanan tersendiri. Sekelompok kecil dari mereka masih tetap ada di Desa Nablus, dekat lokasi Sikhem kuno.

* Luk 10:34 - Ia pergi kepadanya
Ia pergi kepadanya. Andaikata para perampok masih mengintai di dekat situ, maka orang Samaria ini mempertaruhkan nyawanya. Yesus menunjukkan bahwa orang Samaria itu memiliki sikap kasih yang diperintahkan oleh Taurat.

*   Adalah pantas bagi kita untuk mengetahui hal baik apa yang harus kita lakukan dalam kehidupan ini supaya kita memperoleh hidup yang kekal. Sebuah pertanyaan mengenai hal ini diajukan kepada Juruselamat kita oleh seorang ahli Taurat atau ahli hukum, hanya dengan tujuan untuk mencobai-Nya, dan bukan dengan keinginan untuk diberi pengajaran oleh-Nya (ay. 25). Ahli Taurat itu berdiri dan bertanya kepada-Nya, Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal? Jika memang benar Kristus mempunyai suatu petunjuk khusus untuk disampaikan, orang itu berharap mendapatkannya dari Dia melalui pertanyaannya ini, dan kemudian mungkin dia akan mengungkapkan hal buruk mengenai diri-Nya dengan petunjuk-Nya itu. Namun, jika Kristus tidak mempunyai suatu petunjuk khusus, maka dia akan menunjukkan bahwa ajaran-Nya tidak berguna, karena tidak mampu memberikan arahan lain untuk memperoleh kebahagiaan selain yang telah mereka terima selama ini. Atau, boleh jadi juga dia memang tidak mempunyai niat jahat terhadap Kristus seperti para ahli Taurat yang lain. Mungkin saja ia hanya ingin berbincang-bincang sedikit dengan-Nya, sebagaimana orang-orang pergi ke gereja untuk mendengarkan pesan yang hendak disampaikan oleh hamba Tuhan. Ini benar-benar pertanyaan yang bagus: Apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal? Namun pertanyaan ini telah kehilangan sisi baiknya saat diajukan dengan niat buruk, atau bahkan sangat jahat. Perhatikanlah, belumlah cukup untuk sekadar membicarakan dan mengajukan pertanyaan mengenai perkara-perkara tentang Allah. Kita juga harus melakukannya dengan perhatian yang semestinya. Jika kita membicarakan hidup yang kekal dan jalan untuk memperolehnya dengan cara yang ceroboh, semata-mata sebagai bahan percakapan biasa-biasa saja, apalagi sampai dijadikan bahan pertengkaran, maka kita hanya akan menggunakan nama Allah dengan sia-sia, sama seperti yang dilakukan si ahli Taurat ini.

    Nah, karena pertanyaan ini telah diajukan, maka amatilah:
Bagaimana Kristus mengarahkan si ahli Taurat itu kepada hukum ilahi dan menyuruhnya mengikuti arahnya. Walaupun Ia mengetahui jalan pikiran dan niat hatinya, Ia tidak menjawab pertanyaan itu menurut kebodohan hatinya, tetapi menurut hikmat dan kebaikan yang terkandung dalam pertanyaan yang diajukannya itu. Kristus menjawabnya dengan sebuah pertanyaan: Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana? (ay. 26). Ahli Taurat itu datang dengan maksud untuk memberikan pelajaran agama kepada Kristus dan untuk lebih mengenal-Nya. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, Kristuslah yang akan mengajari dia dan membuatnya mengenal dirinya sendiri. Kristus berbicara kepadanya seperti kepada seorang ahli hukum, seorang yang memang mengenal hukum dengan baik. Hal-hal yang telah dipelajarinya dalam bidang pekerjaannya itulah yang akan menjelaskan kepadanya. Biarlah ia berlaku sesuai dengan pengetahuannya, supaya dengan demikian dia tidak akan kekurangan hidup yang kekal. Perhatikanlah, dalam perjalanan kita menuju sorga, sungguh akan bermanfaat bagi kita untuk memikirkan apa yang tertulis dalam hukum dan apa yang kita baca di sana. Kita harus kembali kepada Alkitab kita, kepada hukum yang sekarang ada di tangan Kristus, dan mengikuti jalan yang ditunjukkan kepada kita di sana. Sungguh rahmat yang besar bahwa kita memiliki hukum yang tertulis, sehingga dengan demikian kita memilikinya dengan pasti dan juga dapat menyebarkannya lebih lanjut serta bertahan lebih lama. Karena sudah tertulis, maka sudah menjadi kewajiban kita untuk membacanya, membacanya dengan penuh pengertian, dan menyimpan apa yang kita baca itu, sehingga ketika datang kesempatan, kita mampu menceritakan apa yang tertulis dalam hukum itu dan apa yang kita baca darinya. Inilah yang harus kita kerjakan. Dengan cara inilah kita menguji pengajaran-pengajaran hukum itu dan mengakhiri percekcokan. Inilah yang harus menjadi jawaban kita, pegangan kita, peraturan dan pedoman kita. Apa yang tertulis dalam hukum? Apa yang kita baca di situ? Jika memang ada terang dalam diri kita, maka terang itu pasti berasal dari hukum itu.
        . Betapa bagusnya penggambaran yang diberikan si ahli Taurat tersebut tentang hukum itu, tentang perintah-perintah utama dari hukum itu, yang harus kita laksanakan jika ingin mewarisi hidup yang kekal. Dalam memberikan jawabannya, orang ini tidak mengacu pada adat kebiasaan tua-tua, seperti yang biasa dilakukan orang Farisi umumnya. Sebaliknya, seperti layaknya seorang ahli hukum yang baik, ia berpatokan pada kedua perintah pertama dan terutama dalam hukum, karena inilah perintah-perintah yang menurutnya harus ditaati penuh secara ketat untuk memperoleh hidup yang kekal; selain itu perintah-perintah tersebut mencakup semua perintah-perintah lainnya (ay. 27).
            (1) Kita harus mengasihi Allah dengan segenap hati, memandang-Nya sebagai yang terbaik dari antara semua yang ada, yang sangat ramah, dan luar biasa sempurna dan unggul. Terhadap-Nyalah kita memiliki kewajiban-kewajiban besar, baik dalam memberikan syukur maupun perhatian. Kita harus menjunjung tinggi Dia dan menghargai diri sendiri melalui sukacita kita terhadap-Nya. Kita harus bersukacita atas diri kita sendiri di dalam Dia, serta mengabdikan diri sepenuhnya kepada Dia. Kasih kita terhadap-Nya haruslah tulus, sepenuh hati, dan sungguh-sungguh. Kasih kita kepada-Nya harus melebihi kasih atas apa pun juga, cinta itu kuat seperti maut, tetapi harus dengan penuh pengetahuan, supaya kita dapat mempertanggungjawabkan dasar dan alasannya. Kasih kita kepada-Nya harus utuh. Dia harus memiliki segenap jiwa kita dan harus dilayani dengan segala sesuatu yang ada pada diri kita. Janganlah kita mencintai apa pun selain Dia. Apa yang kita kasihi, kita harus kasihi demi Dia dan dalam ketaatan kepada Dia.
            (2) Kita harus mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri, dan hal ini dapat kita lakukan dengan mudah, jika kita lebih mengasihi Allah daripada diri kita sendiri. Kita harus mengharapkan hal-hal yang baik bagi semua orang dan tidak mengharapkan yang jahat bagi siapa pun. Di dunia ini kita harus berbuat baik sedapat mungkin dan tidak menyakiti siapa pun, dan, dengan memegangnya sebagai suatu aturan, memperlakukan orang lain sama seperti kita ingin mereka memperlakukan kita. Inilah arti mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri.
 Pembenaran Kristus atas apa yang dikatakan orang itu (ay 28).

Walaupun dia datang untuk mencobai-Nya, Kristus tetap memuji perkataannya yang bagus itu: Jawabmu itu benar. Kristus sendiri memegang kedua perintah tersebut sebagai yang terutama di dalam hukum (Mat. 22:37). Jadi kedua belah pihak sama-sama setuju dalam hal ini. Orang-orang yang berbuat baik akan mendapatkan pujian yang sama, demikian pula orang-orang yang mengatakan hal yang baik. Sejauh ini semuanya berjalan dengan benar, namun masih ada bagian tersulit yang harus dikerjakan: "Perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup. Engkau akan mewarisi hidup yang kekal."

Upaya orang itu untuk menghindari keyakinan yang sekarang akan diterapkan dalamnya. Ketika Kristus berkata, Perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup, orang ini mulai menyadari bahwa Kristus bermaksud memancing pengakuannya bahwa dia belum melakukan hal ini, dan itulah sebabnya mengapa ada pertanyaan tentang apa yang harus dilakukannya, jalan mana yang harus dicarinya, supaya dosa-dosanya diampuni. Dia juga perlu mengakui bahwa dia tidak mampu melakukan hal ini dengan sempurna dengan kekuatannya sendiri, dan oleh karena itu ada pertanyaan tentang cara bagaimana ia bisa memperoleh kekuatan untuk mampu melakukannya. Namun, ia menghindari pengakuan ini dan ingin membenarkan dirinya, dan oleh sebab itu tidak mau melanjutkan percakapan itu. Sama seperti yang pernah dikatakan orang lain, ia malah berkata (Mat. 19:20), Semuanya itu telah kuturuti. Perhatikanlah, banyak orang mengajukan pertanyaan bagus hanya dengan tujuan untuk membenarkan diri dan bukannya untuk mencari penjelasan bagi diri sendiri. Dengan pongahnya mereka hanya bermaksud untuk memamerkan kebaikan yang ada pada diri mereka, dan bukannya dengan rendah hati berkeinginan untuk mencari tahu apa yang buruk dalam diri mereka.

Kita perlu tahu siapa sebenarnya sesama kita itu, yang menurut perintah terutama yang kedua, wajib kita kasihi. Inilah pertanyaan lain yang diajukan ahli Taurat itu, hanya supaya ia bisa mengelakkan yang pertama. Ia khawatir kalau-kalau melalui pelaksanaan hukum itu Kristus memaksanya untuk menyalahkan diri sendiri, padahal ia justru bertekad membenarkan diri sendiri. Perihal mengasihi Allah, ia tidak mau membicarakannya lebih lanjut lagi. Namun, perihal mengasihi sesama manusia, ia yakin telah melaksanakan perintah ini, sebab ia selalu bersikap baik hati dan hormat terhadap semua orang di sekitarnya.

    Sekarang cermatilah:
        . Gagasan rusak yang dimiliki para guru Yahudi mengenai hal ini. Dr. Lightfoot mengartikan kata-kata mereka sendiri sebagai berikut: "Saat mereka berkata, Kasihilah sesamamu manusia, mereka mengecualikan semua orang bukan-Yahudi, sebab mereka bukanlah sesama kita. Yang disebut sesama kita hanyalah orang-orang yang sebangsa dan seagama dengan kita." Mereka tidak akan menghukum mati seorang Israel yang membunuh orang bukan-Yahudi, sebab dia bukanlah sesama manusia mereka. Mereka memang berkata bahwa mereka tidak boleh membunuh orang bukan-Yahudi yang tidak sedang berperang dengan mereka. Namun, apabila mereka melihat seorang bukan-Yahudi sedang sekarat, mereka tidak merasa berkewajiban untuk menyelamatkan nyawanya. Begitu jahatnya kesimpulan-kesimpulan yang mereka tarik dari perjanjian kudus yang melaluinya Allah mengkhususkan dan membedakan mereka dari bangsa-bangsa lain. Namun, dengan menyalahgunakannya seperti itu, mereka telah kehilangan hak atasnya. Allah menanggapi hal ini dengan adil dan mengalihkan anugerah-anugerah perjanjian (kovenan) ini kepada kaum bukan-Yahudi yang anugerah-anugerah umumnya telah disangkal dengan kejam oleh mereka.
        . Bagaimana Kristus meluruskan gagasan yang tidak manusiawi ini, dan menunjukkan melalui sebuah perumpamaan, bahwa orang yang darinya kita butuh perbuatan baik mereka dan yang siap membantu kita dengan perbuatan baiknya itu, tidak bisa tidak harus kita anggap sebagai sesama manusia kita. Dan sama halnya juga, kita harus memandang sebagai sesama kita, semua orang yang memerlukan perbuatan baik kita dan yang perlu kita bantu dengan kebaikan hati kita, meskipun mereka bukan sebangsa dan seagama dengan kita.

        Sekarang amatilah:
            (1) Perumpamaan itu sendiri, yang menggambarkan kepada kita perihal seorang Yahudi malang yang mengalami kesulitan, yang ditolong dan diringankan bebannya oleh seorang Samaria yang baik hati.

            Mari kita lihat di sini:
                [1] Bagaimana ia dianiaya oleh para musuhnya. Laki-laki yang tulus itu sedang melakukan perjalanan dengan tenang untuk melakukan kegiatan yang sah. Ia melewati jalan raya yang terbentang dari Yerusalem ke Yerikho (ay. 30). Disebutkannya kedua kota itu menyiratkan bahwa ini adalah kejadian yang nyata, bukan sebuah perumpamaan. Boleh jadi peristiwa itu belum lama terjadi, tepat seperti yang diceritakan di sini. Kejadian-kejadian tentang pemeliharaan ilahi akan memberi kita banyak pelajaran, asalkan kita mengamatinya dengan saksama dan memanfaatkannya. Kejadian-kejadian seperti ini bisa dirancang menyerupai perumpamaan untuk diberikan sebagai pelajaran, dan akan lebih menyentuh. Laki-laki malang ini jatuh ke tangan penyamun-penyamun. Tidak jelas apakah ini orang-orang Arab yang hidup dari barang rampasan atau penjahat keji yang sebangsa dengannya, atau serdadu Romawi yang meskipun terikat dengan peraturan tentara yang keras bisa saja telah melakukan kejahatan ini. Yang jelas, mereka ini sangat biadab. Mereka bukan saja merampas uang orang itu, tetapi juga pakaiannya, dan supaya ia tidak dapat mengejar mereka, atau sekadar untuk memuaskan nafsu jahat (karena apakah untungnya kalau darahnya tertumpah?), mereka pun memukulnya dan pergi meninggalkannya setengah mati, sekarat karena luka-lukanya. Di sini kita boleh saja merasa marah terhadap para penyamun yang sudah tidak memiliki perikemanusiaan sama sekali, berperilaku seperti binatang buas, binatang-binatang pemangsa, yang hanya dilahirkan untuk ditangkap dan dimusnahkan. Namun, pada saat yang sama kita tidak bisa tidak juga patut berbelas kasihan terhadap orang-orang yang jatuh dalam tangan orang-orang yang begitu jahat dan tidak berakal seperti ini. Rasanya kalau kita punya kekuatan, kita pasti akan menolong mereka. Kita patut bersyukur kepada Allah bila kita telah dipelihara-Nya dari kejahatan para perampok!
                [2] Bagaimana ia diabaikan oleh orang-orang yang seharusnya menjadi sahabat-sahabatnya, yang bukan saja sebangsa dan seagama, tetapi juga seorang imam dan yang satu lagi seorang Lewi, tokoh-tokoh masyarakat dengan kedudukan penting. Mereka bahkan dianggap suci oleh orang. Tugas mereka mewajibkan mereka harus bersikap lemah-lembut dan penuh belas kasihan (Ibr. 5:2). Mereka mengajar orang lain untuk membebaskan mereka yang diangkut untuk dibunuh, tetapi mereka sendiri tidak melakukannya. Dr. Lightfoot mengatakan kepada kita bahwa banyak kelompok imam bertempat tinggal di Yerikho, dan dari sana mereka pergi ke Yerusalem ketika tiba giliran mereka untuk bertugas di situ, kemudian pulang kembali. Ini artinya bahwa ada banyak imam yang pulang pergi melalui jalan itu, beserta orang-orang Lewi para pembantu mereka. Mereka melewati jalan itu, dan melihat orang malang yang terluka itu. Mungkin mereka mendengar rintihannya dan tidak bisa tidak pasti tahu bahwa jika tidak segera ditolong, ia pasti akan tewas. Orang Lewi itu bukan saja menoleh kepadanya, tetapi datang ke tempat itu dan melihat orang itu (ay. 32). Namun, keduanya melewatinya dari seberang jalan. Ketika melihat kejadian yang menimpa orang itu, mereka menjaga jaraknya sejauh mungkin, seakan-akan mau berdalih, "Sungguh, kami tidak tahu hal itu." Sungguh menyedihkan bila orang-orang yang seharusnya menjadi teladan kemurahan hati justru berperilaku sangat jahat. Mereka yang seharusnya menunjukkan rahmat Allah dan menyatakan belas kasihan terhadap orang lain, malah menahan diri.
                [3] Bagaimana ia ditolong dan dirawat oleh seorang asing, seorang Samaria, dari suku bangsa yang paling dianggap hina dan dibenci oleh orang-orang Yahudi yang tidak mau berurusan dengan mereka. Orang ini masih memiliki perikemanusiaan dalam dirinya (ay. 33). Imam itu mengeraskan hatinya terhadap salah seorang dari bangsanya sendiri, tetapi orang Samaria itu membuka hati terhadap salah seorang dari bangsa lain. Ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan dan sama sekali tidak mempermasalahkan kebangsaannya. Walaupun korbannya seorang Yahudi, dia tetap saja seorang manusia, manusia yang berada dalam penderitaan, dan orang Samaria itu telah diajar untuk menghormati semua orang. Dia tidak tahu kapan kejadian yang menimpa orang malang tersebut akan menimpa dirinya sendiri. Oleh sebab itu ia menaruh iba terhadapnya, sama seperti dia ingin dikasihani seandainya mengalami kejadian seperti ini. Bahwa kasih sebesar ini bisa ditemukan dalam diri seorang Samaria, boleh juga dianggap sama indahnya dengan iman orang Romawi dan perempuan Kanaan yang dikagumi oleh Kristus itu. Namun, sebenarnya bukan demikianlah halnya, sebab rasa iba adalah pekerjaan manusia, sedangkan iman adalah pekerjaan anugerah ilahi. Belas kasihan yang ada pada diri orang Samaria ini bukanlah belas kasihan yang berpangku tangan. Baginya, belumlah cukup untuk sekadar berkata, "Semoga cepat sembuh, semoga ada yang menolongmu" (Yak. 2:16), tetapi saat hatinya tergerak, ia mengulurkan tangannya kepada orang malang yang miskin ini (Yes. 58:7,10; Ams. 31:20). Lihatlah betapa baik hatinya orang Samaria ini.
                    Pertama, ia pergi kepada orang yang malang itu, yang dihindari oleh imam dan orang Lewi itu. Tidak diragukan lagi bahwa orang Samaria itu menanyakan bagaimana ia sampai berada dalam keadaan yang menyedihkan itu, dan turut merasa prihatin terhadapnya.
                    Kedua, ia melakukan tugas seorang tabib, karena tidak ada lagi siapa-siapa di situ. Ia membalut luka-lukanya, mungkin memakai kain lenannya sendiri, lalu menyiraminya dengan minyak dan anggur, yang mungkin dibawa olehnya. Anggur untuk membersihkan luka-luka, dan minyak untuk meredakan rasa sakit, dan setelah itu ia membalutnya. Dia berbuat sebisa-bisanya untuk meredakan rasa sakit dan mencegah bahaya yang disebabkan oleh luka-luka itu, sebagai seseorang yang turut merasakan kepedihan.
                    Ketiga, Ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri, sementara ia sendiri berjalan kaki, dan membawanya ke tempat penginapan. Sungguh merupakan rahmat bila terdapat tempat penginapan di jalan, sehingga kita bisa memperoleh makanan dan istirahat dengan uang kita. Mungkin malam itu orang Samaria ini bisa mengakhiri perjalanannya seandainya tidak menjumpai rintangan ini. Namun, karena belas kasihannya terhadap orang malang itu, ia turut bermalam di penginapan. Ada yang berpendapat bahwa imam dan orang Lewi itu beralasan tidak dapat tinggal sejenak untuk menolong orang malang itu karena mereka sedang bergegas untuk menghadiri ibadah di Yerusalem. Namun, kita juga bisa menduga bahwa orang Samaria itu pergi untuk suatu urusan. Tetapi, meskipun demikian, ia mengerti bahwa baik urusan sendiri maupun memberikan korban kepada Allah pun harus mengalah terhadap tindakan belas kasihan semacam ini.
                    Keempat, Ia merawat orang itu di penginapan, membaringkannya di tempat tidur, memberikan makanan yang layak baginya, menemaninya, dan mungkin juga berdoa dengannya. Dan bukan itu saja.
                    Kelima, Seolah-olah orang ini adalah anaknya sendiri atau orang yang ada di bawah pemeliharaannya, saat berangkat keesokan paginya, ia menyerahkan uang kepada pemilik penginapan untuk dipergunakan bagi semua keperluan si sakit, serta menjanjikan pengembalian kelebihan uang yang akan dibelanjakan. Dua dinar pada masa itu dapat dipergunakan untuk berbagai-bagai keperluan. Namun, di sini uang sebanyak itu pun diperhitungkannya saja seolah-seolah bisa mencukupi semua keperluan orang itu. Semuanya ini sungguh-sungguh merupakan kebaikan dan kemurahan hati yang hanya bisa diharapkan bisa diperoleh dari seorang sahabat atau saudara, padahal ini dilakukan oleh seorang asing yang tidak dikenal.

                    Sekarang, perumpamaan ini bisa juga diterapkan untuk tujuan yang lain daripada tujuannya yang semula. Tepatlah kalau perumpamaan ini dikemukakan untuk menggambarkan kebaikan dan kasih Allah Juruselamat kita kepada manusia berdosa yang malang. Dahulu kita bagaikan orang malang yang melakukan perjalanan ini. Iblis, musuh kita, telah merampok kita habis-habisan, dan menyakiti kita. Seperti itulah celaka yang diakibatkan dosa terhadap kita. Pada dasarnya kita lebih daripada sekadar setengah mati, bahkan mati dua kali, karena melakukan pelanggaran dan dosa. Kita sama sekali tidak mampu menolong diri sendiri, karena tidak berdaya. Hukum Musa, seperti imam dan orang Lewi itu, para pelayan hukum, hanya bisa memandang kita, namun tidak berbelas kasihan kepada kita, tidak memberi kita kelepasan, dan hanya melewati kita dari seberang jalan, seakan-akan tidak memiliki rasa iba ataupun kuasa untuk menolong kita. Namun, kemudian datanglah Yesus, si orang Samaria yang baik hati itu (dan dengan nada mencela mereka mengatai Dia: Engkau orang Samaria). Dia menaruh belas kasihan terhadap kita dan membalut luka-luka kita (Mzm. 147:3; Yes. 61:1), dan menuangkan, bukannya minyak dan anggur, tetapi yang tak terkirakan lebih berharga lagi daripada itu, yakni darah-Nya sendiri. Ia merawat kita, dan meminta kita memasukkan semua pengeluaran bagi kesembuhan kita atas nama-Nya. Dan Ia melakukan semua ini meskipun Ia bukan termasuk salah satu di antara kita, bahkan Ia bersedia merendahkan diri dengan rela, padahal kedudukan-Nya sebenarnya jauh di atas kita. Hal ini semakin menunjukkan kedalaman kasih-Nya dan membuat kita semua wajib berkata, "Betapa kita ini semua sangat berutang. Apakah yang bisa kita berikan?"


SGDK
HARI MINGGU V SESLIDAH EPIFANIA
MINGGU, 10 FEBRUARI 2019
BERBUAT BAIKLAH KEPADA SESAMA, SUPAYA HIDUPMU KEKAL
Lukas 10 2 25 - 37

I. PENGANTAR
Mengapa ada orang yang enggan menolong sesamanya sekalipun sesama yang ia jurnpai kondisinya sangat kritis dan memprihatinkan. Mungkin alasannya karena dirinya belum marnpu "saya aja masih butuh ditolong". Alasan yang lain yang juga lazim disampaikan adalah karena orang itu bukan sesuku atau seagama denganku. Maka benarlah kata pepatah yang mengatakan, "enggan seribu daya ' artinya kalau sudah tidak suka, maka selalu saja ada alasan.

Tolong-menolong adalah perbuatan yang baik dan terpuji. la juga berdam pak untuk memperpanjang kehidupan. Orang yang sedang sakit kritis, misalnya, mungkin dia masih bisa hidup lebih lama, asal I-zepadanya diberi pertolong an yang tepat. Tetapi jika tidak ada yang menolongnya, maka takkan panjang riwayatnya. Karena itu, gerakanlah hati untuk mengulurkan tangan bagi sesama yang membutuhkan. Dengan begitu saudara mencintai kehidupan. Memang, menolong sesama itu harus bersedia berkorban. lstilah ini mengandung makna kebaktian atau berbuat bakti - pada Tuhan. Dengan dernikian, ketika kita menolong sesa ma. maka saat itu juga kita sedang menunaikan bakti kepada Tuhan. Bukankah
beribadah secara ritual, harus sejalan dengan yang aktual?

Yesus pemah memberikan pelajaran berharga kepada saorang ahli Taural. Pelajaran itu berkaitan dengan hidup yang kekal, serta hubungannya dengan perbuatan baik kepada sesama. Untuk itu mari kita kaji lebih jauh dan dalam perikop kita minggu ini, sebab
pelajaran yang diberikan kepada si ahli Taurat pasti berharga juga untuk kita.

ll. TAFSIR DAN PEMAHAMAN LUKAS 10:25-37
Seorang ahli Taurat berdiri mencobai Yesus, katanya "Guru apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekai? (ay.25). Sekalipun alasan mengajukan pertanyaannya negatif (mencobai), namun Yesus marnpu mengubahnya, hingga menjadi

Pelajaran yang postif dan berguna, baik untuk si ahli Taurat, para murid waktu itu dan para pernbaca era kini. Kata "barbuat" berada didepan kalimat untuk memperoleh hidup yang kekal", dan muncul 3 kali dalam perikop ini (ay. 25, 28 dan 37). Karena itu dapat kita tegaskan disini, bahwa hidup yang kekal tidak mungkin diperolehhanya dengan berteori atau karena mengetahui seluk-beluk hukum agama saja. Hidup yang kekal baru akan dialaml jika seorang berperilaku terhadap sesama berdasarkan hukum kasih. Karena itu ketika si ahli Taurat selesai menyampaikan hukum kasih, Yesus Ialu berkata perbuatlah demikian (ay.28). Juga ketika si ahli Taurat menjawab, "orang yang telah menunjukan be-las kasihan kepadanya, maka Yesus rnerespon dengan kata yang sama, "pergilah dan berbuatlah demikian" (ay.37).

Sekarang kita akan membahas pertanyaan pokoknya, yaitu apakah hidup yang kekal itu?. lstilah ini diambil dan‘ bahasa Yunani aidvic: (of aionia 20:‘). Perjanjian Baru biasa menggunakarl istilah ini untuk pengertian "hidup cliera yang akan datang". Namun demi-
kian era itu sudah barlaku sejak Yesus datang kebumi dan akan digenapi-Nya saat la datang pada kali yang kedua. Peristlwa kedatangan Yesus ke bumi pada Kali pertarna sejak
kelahiran hingga kebangkitan dan kenaikan-Nya kesorga - merupakan anugerah bag] manusia clan dunla. Sebab melalui dlan didalam peristiwa itu Allah menyatakan pengarnpunan sekaligus kesediaan merangkul manusia kedalam kasih-Nya. Meski untuk mewujudkan maksud-Nya, Allah Bapa merelakan Putera tunggal-Nya mati senara nista; namun kematian-Nya itu telah menjadikan manusia beroleh pengampunan dan hidup didalam kasih-Nya. Pe-
ngampunan dan kasih Allah itulah yang membuat manusia hidup.

Istilah Kekal itu bukan berati manusia tidak bisa mati, tetapi kematlanlah yang tidak dapat mem batasi kakekalan manusia. Jadi hidup kekal bukanlah hidup tanpa akhir, melain hidup yang terakhir, yang dim ulai dari kedatangan Yesus hingga selamanya - itulah hidup terakhir. Penentunya adalah (peristiwa) Yesus Kristus. Selaab itu Yesus menanggapi pertanyaan sl ahli Taurat dengan mengajukan dua pertanyaan. Pertama, apa yang teflulis didalam hukum Taurat, dan kedua, apa yang kau baca didalamnya?" (ay. 26). Yesus mangajukan dua pertanyaan ini bukan untuk menguji kemampuan dia mengingat ayat-ayat hukum Taurat- bukan itu. Tetapi Yesus ingin mengingatkan, si ahli Taurat supaya tidak hanya berteori, jika ingin memperoleh hidup yang kakal. Tetapi harus mam praktekan atau berbuat seperti yang tarsurat clalam Taurat.

Karena itu, ketika si ahli Taurat menjawab pertanyaan Yesus dengan menyebutkan hukurn kasih, dan Yesus mem benarkanjawabannya. Sebab ia menyebutkan kedua hukum yang sama panting itu secara fasih, serta tidak mernisahkan keduanya, yaitu antara kasih kepada Tuhan Allah dan kasih kepada sesama man usia. Tetapi Yesus rnelanjutkan perkataan-Nya: "perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup" (ay. 28). Jadi sekali Iagi perlu ditegaskan,
bahwa untuk memperoleh hidup yang kekal, menurut Yesus harus berbuat atau melakukan segala sesuatu dengan men-dasari pada hukum kasih - kepada Allah dan sesama secara baik dan benar. Kemudian si ahli Taurat mengajukan pertanyaan Iagi: "siapakah sesamaku manusia" (ay. 29). Secara substansial pertanyaan ini sudah bergeser dari pertanyaan awal. dan diajukan dengan niat yang tidak tulus, negatif ("untuk membenarkan dirinya"). Tetapi
Yesus, menanggapinya secara positif dan ingin menunjukan hubungan antara hidup yang kekal dengan berbuat kasih kepada sesama. Untuk itu Yesus memberi jawab dengan menuturkan kisah tentang orang Samaria yang baik hati. (ay. 30-35). Alkisah ada seorang yang sedang berjalan di jalan antara kota Yerusalam ke Yeriko. Ditengah jaian ia dirampok oleh penyamun. Setelah barangnya dijarah habis dan dipukuli sampai setengah mati, penyamunpun meninggalkannya. Pada saat itu secara berturut-turut lewat dua orang yang melintas disitu; yang seorang adalah imam dan yang lainnya seorang Lewi. Tetapi keduanya menghindari orang itu, dengan berjalan dari seberang jalan. Kemudian orang Samariapun Iewat dijalan yang sama, ia melihat orang yang tergeletak tak berdaya maka tergerak hatinya
oleh belas kasihan. Lalu ia menolong orang itu dengan sepenuh hati.

Kemudian Yesus mengakhiri kisah-Nya dan mengajukan tanya kepada si ahli Taurat: "siapakah diantara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ketangan penyamun‘?"[36). Mungkin si ahli Taurat terdiam sejenak, karena tersudut oleh pertanyaan itu. Pertanyaan tentang siapakah sesamaku manusia, biasanya
dijawab dengan mudah; "dia adalah setiap orang; khususnya orang yang membutuhkan pertolongan". Jawaban seperti ini terlalu umum dan belum mendorong orang tergerak hati untuk bertindak rnenolong.

Karena itu pertanyaan Yesus lebih dipertegas dengan mengatakan, "siapakah diantara ketiga orang ini yang dapat disebut sesama dari orang yang jatuh?". Melalui pertanyaan ini Yesus hendak memenempatkan si ahli Taurat dam seluruh pembaca untuk mengidentifikasikan dirinya dengan orang yang terluka menderita karena dirampok seolah-olah si ahli Taurat yang sedang tergeletak berlumuran darah dan tak berdaya, Karena itu ketika Yesus bertanya
seperti itu, maka si ahli Taurat (tidak bisa tidak) harus menjawab, "orang yang telah menunjukkan belas kasihan". Jadi sesama manusia adalah orang yang bersedia datang menghampiri dan memberi diri bagi yag tak berdaya - meski harus mengorbankan apa yang
dimilikinya.


APLIKASI PENERAPAN
Kehldupan bukan hanya milik diri sendiri, tetapi milik - dan akan dijalani oleh - banyak orang. Karen itu kehadiran orang Iain menjadi kenyataan yang mutlak dibutuhkan untuk bisa hadir
dan rnengembangkan diri. Setiap orang tidak bisa menghadirkan dan melestarikan hidupnya sendirian. Dalam kenyataannya, tidak selalu begitu. Orang lain seringkali tidak hadir untuk mau peduli, bahkan justru menjadi ancaman bagi sesamanya. Ada orang tua yang rnenelantarkan anaknya; atau sebaliknya, ada anak yang tega membunuh orang tuanya. Ada orang yang bersikap sinis terhadap tetangga depan rumahnya; lalu dibalas dengan sikap
garang oleh tetangganya. Ada majikan yang kasar, sebaliknya ada asisten rumah tangga yang tega menghabiskan nyawa majikannya,

Naluri dan nurani manusia menjadi tak berfungsi, jika ia hanya melihatdirinya sebagai pusat segalanya. Apapun yang diupayakan, pertimbangannya hanya untuk dirinya sendiri puas dan senang. Bahkan tak segan-segan menjadikan orang lain sebagai kesempatanlobjek bagi pem uasan diri dan berbagai kepentingan lainnya -meski mesti mencelakakan.

GPIB ditempatkan Tuhan dinegeri ini untuk secara khusus  melihat dengan kritis dan hadir menolong menangani masalah-masalah kemanusiaan yang ada disini. Untuk itu GPIB tidak dapat dan tidak mungkin melakukannya sendiri. Ia harus melibatkan dan atau terlibat dlam gerakan-gerakan yang dilakukan oleh komponen masyarakat peduli kemanusiaan. Selain itu, GPIB perlu mengimbau seluruh warganya yang ada di 26 propinsi untuk ikut serta dalam gerakan peduli sesama manusia. Keikutsertaan setiap warga GPIB, tentunya menjadi cara yang efektif dan efisien. Sebab kekerasan dan kejahatan terhadap sesama manusia, acap kali
terjadi secara tersembunyi - seperti situasi di jalan Yeriko-Yerusalem yang lengang. Karena itu kehadiran warga GPIB disuatu tempat tinggal tertentu, mesti peka untuk mengetahui keadaan
disekitar. Setelah mengetahui dengan benar kejadlannya, maka dapat menyebarluaskan. Maksudnya agar tidak menye|esaikannya sendiri atau hanya dengan kelompok atau jemaatnya.

Tentu ini bukan pekerjaan yang mudah , namun kita percaya GPIB dan warganya terpanggil untuk itu. ingat bahwa penderitaan akibat keganasan sesama manusia bisa terjadi kepada siapapun, dirnanapun dan kapanpun. Karena itu panggllafl untuk menolong orang yang rnenderita akibat perilakujahat sesamanya: mesti diikuti dengan hidup mawas diri. Artinya jangan sampai kejahatan kepada sesama justru dilakukan oleh dan didalam warga
GPIB sendiri. Ditahun yang baru ini kita diingatkan sekali lagi, bahwa Yesus_ terlahir ditempat terhina (kandang hewan), namun damikian Ia rela menolong sesamanya rnanusia, meski harus mengorbankan nyawa-Nya. Pengorbanan Yesus untuk hidup Rita. kiranya memotivasi kita untuk mau peduli dan berkorban bagi sesama yang layak ditolong. Berbuat baiklah, supaya hidupmu kekal. Amin (semoga dapat dikem bangkan).


SBU


HARI MINGGU V SESUDAH EPIFANIA
MINGGU, 10 FEBRUARI 2019
GB 309:1 -Berdoa
Lukas 10:25-34
Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.  (ay 34)

Menolong orang yang sedang mengalami kemalangan merupakan perbuatan baik yang layak dipuji. Tetapi masih banyak orang yang tidak mau peduli. Alasannya klasik, toko dia bukan siapasiapa aku. Padahal orang yang tak berdaya itu sebenarnya adalah sesamaku.

Seorang ahli taurat mencobai Yesus dengan bertanya: "Bgaimana cara memperoleh hidup kekal?" Yesus menjawab dengan balik bertanya  "Apa yang tertulis dan engkau baca didalam kitab Taurat?" (ay 25,26). Ahli Taurat itu menjawab: "Kasihilah ..." (27).
Yesus membenarkan jwabannya. Tetapi Iapun tahu, bahwa pandangan tentang sesama yang dimaksud ahli Taurat adalah orang yang sama suku dan agamanya atau seidentitas. Yesus
ingin memperbaiki pandangan yang salah itu. Lalu memberikan pengajaran melalui perumpamaan. Kata-Nya, ada seorang yang tergeletak tak berdaya setelah dipukuli dan dirampok ditengah perjalanan dari Yerusalem ke Yeriko (ay.30). Kemudian dua orang
rohaniawan melewati jalan itu. Tetapi mereka tidak menolongnya, karena mungkin takut mendatangkan kenajisan atau takut terkena resiko yang sama.

Selain mereka, lewat pula seorang Samaria. Ia menghampiri orang itu dn menolongnya dengan sepenuh hati. Risiko dan kerugian tidak lagi menjadi alasan untuk dia mendekati dan berbagi belas kasih.

Penderitaan manusia sebagai akibat kejahatan dan ketamakan sesamanya, bisa terjadi kepada siapapun, dimanapun dan kapanpun GPIB yang Tuhan tempatkan ditengah masyarakat Indonesia yang multi etnik dan agama, terpanggil untuk peduli dan
mau memberi hati dan materi kepada sesama yang menderita, tanpa harus mempertimbangkan perbedaan yang ada. Tuhan menolong setiap orang tanpa membatasi, siapa orang itu. Kitapun diminta melakukan hal yang sama.

GB 369:2
Doa: (Ya Tuhan, celikkanlah mata kami, supaya dapat melihat dan menjadi penolong-Mu melalui kehadiran sesama kami yang tengah menderita)


HARI MINGGU V SESUDAH EPIFANIA
MINGGU, 10 FEBRUARI 2019
Renungan Malam
KJ 367: 1,4  -Berdoa
MENOLONG SESAMA PERLU PENGORBANAN

Lukas 10:35-37
Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!" (ay.37b)

Mamberikan pertolongan kepada sesama harus mau berkorban. Pengorbanan itu bisa barsifat material. seperti uang atau harta benda, tatapi bisa juga barsifat non-material, seperti tenaga. pikiran dan parasaan. Baik pengorbanan materlal maupun non-material. dimata Tuhan nilainya sama; asal memberikannya dengan ketulusan dan kejujuran. Sabab Tuhan mengetahui hati dan kemampuan setlap orang.

Perikop kita ini merupakan kelanjutan parcakapan Yesus kepada saorang ahli Taurat. Yesus menyampaikan pengajaran Nya melalui parumpamaan. Dikisahkan. bahwa keesokan harinya
orang Samaria itu memberikan kepada sipemilik penginapan uang dua dinar untuk biaya parawatan orang yang dirampok. la berjanji, setelah kembali dari parjalanan, akan menggantikan uang kelebihan yang digunakan sipemilik penginapan (ay. 35). Kemudian Yesus
bertanya kepada ahli Taural: "menurut pandapatmu. siapakah dari antara ketiga orang itu yang dapat disebut sebagai sesama manusia dari orang yang jatuh ketangan penyarnun ltu?" Jawab ahli Taurat, "orang yang telah menunjukkan belas kasthan" (ay.36-3?.a). Pasti
ia menjawab dangan parasaan malu. Sebab dikisahkan bahwa orang yang telah manunjukan belas kasihan lerhadap sesama adalah orang Samaria, yang oleh orang Yahudi dianggap sebagai kafir. Sementara Imam darl orang Lewi yang mengetahui pengajaran agama, justru tidak mau menolongnya. Kamudian kata Yesus. "...pergiIah dan buatlah demikianl".

Banyak cara yang dapat kila lakukan untuk menolong sesama yang sedang manderita. Namun apapun yang alkan kita lakukan sellu menuntut pengorbanan. Tanpa pengorbanan tidak mungkin terwujud pertolongan yang sejati. Yesus telah berkorban untuk kita. Apakah pengorbanan-Nya masih memberikan pancerahan dan dorongan bagi kita untuk mau berkorban kepada yang mambutuhkan? Roh Kudus menolong kita untuk menjawab pertanyaan ini serla rnenguatkan kita untuk melakukannya dangan sukacita.

KJ 367:6
Doa: : (Tuhan tolong kami untuk mau membagl berkat yang talah Engkau berl kepada sesamaku yang membutuhkan)


Label:   Lukas 10:25-34 


HEALING WORSHIP SONGS
Latest Christian Song
Jesus Is Risen Song


NEXT:
Khotbah Ibadah GPIB - Senin, 11 Februari 2019 - MEMBERI KEPADA TUHAN DENGAN KERELAAN MENDATANGKAN KELEGAAN - Lukas 21:3-4 - MINGGU V SESUDAH EPIFANIA

PREV:
Khotbah Ibadah GPIB - Sabtu, 9 Februari 2019 - BERJIWA BESAR - Yosua 9:26-27 - MINGGU V SESUDAH EPIFANIA

Garis Besar Lukas




BACAAN ALKITAB SETAHUN:
  • Bacaan Alkitab Setahun di FGCC (Gereja di Malaysia)
  • Bacaan Alkitab Setahun - ProSesama (GKI, GKPS dll)
  • Bacaan Alkitab Setahun GBI
  • Pembacaan Alkitab Gereja GKPS Tahun 2019
  • Kalender Liturgi Katolik 2019
  • Kalender GKJ 2019
  • Bacaan Alkitab GMIT 2019
  • Pembacaan Alkitab GMIM 2019
  • Arsip Khotbah Ibadah GPIB 2019..


    rss lagu-gereja.com  Register   Login  

    contoh kj 392 bukan kj.392





    Beli Kaos C59. Klik Disni

    Nyanyian Ibadah Gereja
    English Hymns, CFC SONGS *, AG (Aradhana Geethamulu), YSMS (Тебе пою оМй Спаситель), YJ (Юность-Иисусу), ADV (Himnario Adventista), HC (Держись Христа), SS (ДУХовни Песни), SR, SP, SPSS (Spiewajmy Panu wyd. dziesiate) *,
    JB (Jiwaku Bersukacita: Pujian Sekolah Minggu), KMM, KJ, PKJ, GB, NR, NKB, KC, MNR1, MNR2, MAZMUR MP3 GKI, Nyanyian Pujian, Lagu Tiberias, Nafiri Kemenangan, Lagu GMS, PPK, PPPR, KPPK, NKI, NRM, Buku Ende, BN (Buku Nyanyian HKBP), Buku Lagu Perkantas, KPKL, KPKA, KPJ, KRI, KPRI, KLIK, DSL, LS, PKJ TORAJA, NJNE, Doding Haleluya, LKEE, Suara Gembira, Puji Syukur, Madah Bakti,
    Kenya Worship Songs
    Ghana Worship Songs
    Russian Worship Songs
    Chinese Praise and Worship Song
    Lagu Rohani Bahasa Iban di Malaysia
    Thai Christian Song
    Hebrew Christian Song
    Arab Christian Song
    Christian Songs In Dutch
    German Christian Songs
    Hindi Worship Song
    Japanese Christian Song
    Italian Christian Song
    Lagu Rohani Batak
    Lagu Rohani Ambon
    Greek Worship Songs
    French Worship Songs
    Spanish Worship Songs





    Tata Ibadah Perjamuan Kudus Jumat Agung 19 April 2019 dan Tata Ibadah Paskah 21 April 2019 GPIB
    Terlampir disampaikan : 1. Tata Ibadah Perjamuan Kudus Jumat Agung 19 April 2019 2. Tata Ibadah Paskah 21 April 2019



    Gereja GPIB di Jakarta (Map)
    Gereja GPIB di Surabaya (Map)
    Gereja GPIB di Makassar (Map)
    Gereja GPIB di Medan (Map)
    Gereja GPIB di Bandung (Map)
    Gereja GPIB di Manado (Map)
    Gereja GPIB di Bekasi (Map)
    Gereja GPIB di Tangerang (Map)
    Gereja GPIB di Denpasar (Map)
    Gereja GPIB di Bogor (Map)


    New Submit
    Jumat, 26 April 2019
    Were You There - Kate Smith

    Jumat, 26 April 2019
    It Is No Secret (What God Can Do) - Kate Smith

    Jumat, 26 April 2019
    Nearer My God To Thee - Kate Smith

    Jumat, 26 April 2019
    God Bless America - Kate Smith

    Jumat, 26 April 2019
    Wholy Holy - Aretha Franklin

    Jumat, 26 April 2019
    Respect - Aretha Franklin

    Kamis, 25 April 2019
    When I Get Where I'm Going - Brad Paisley Feat. Dolly Parton

    Kamis, 25 April 2019
    Holes in the Floor of Heaven - Steve Wariner

    Kamis, 25 April 2019
    You're Not My God - Keith Urban

    Kamis, 25 April 2019
    The Old Rugged Cross - Johnny Cash

    Kamis, 25 April 2019
    The Little Girl - John Michael Montgomery

    Rabu, 24 April 2019
    Overcome - Sarah Kroger

    Rabu, 24 April 2019
    This Is My Story (My Song) - Sarah Kroger

    Rabu, 24 April 2019
    When I See You - Sarah Kroger

    Rabu, 24 April 2019
    Freedom In The Spirit - Sarah Kroger

    Rabu, 24 April 2019
    For Us - Sarah Kroger

    Minggu, 21 April 2019
    Come Back Home - Manafest feat. Trevor McNevan

    Sabtu, 20 April 2019
    How He Loves - Peter Mattis | Bethel Music

    Sabtu, 20 April 2019
    Still - Amanda Lindsey Cook

    Jumat, 19 April 2019
    With You On My Mind - Kenny Smith

    Pemilihan Presiden
    Quick Count    |    Real Count

    christian music charts, new contemporary christian songs, top christian radio songs, top 20 christian songs this week, top 10 christian songs, download lagu kristen mp3, lagu terbaru rohani kristen, mp3 rohani kristen, lagu2 rohani terbaru, lagu rohani yang enak, mp3 lagu rohani kristen terbaru,