Save Page
Yohanes 12:27-36
12:27 Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini. 12:28 Bapa, muliakanlah nama-Mu!" Maka terdengarlah suara dari sorga: "Aku telah memuliakan-Nya, dan Aku akan memuliakan-Nya lagi!" 12:29 Orang banyak yang berdiri di situ dan mendengarkannya berkata, bahwa itu bunyi guntur. Ada pula yang berkata: "Seorang malaikat telah berbicara dengan Dia." 12:30 Jawab Yesus: "Suara itu telah terdengar bukan oleh karena Aku, melainkan oleh karena kamu. 12:31 Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini: sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar; 12:32 dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku." 12:33 Ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana caranya Ia akan mati. 12:34 Lalu jawab orang banyak itu: "Kami telah mendengar dari hukum Taurat, bahwa Mesias tetap hidup selama-lamanya; bagaimana mungkin Engkau mengatakan, bahwa Anak Manusia harus ditinggikan? Siapakah Anak Manusia itu?" 12:35 Kata Yesus kepada mereka: "Hanya sedikit waktu lagi terang ada di antara kamu. Selama terang itu ada padamu, percayalah kepadanya, supaya kegelapan jangan menguasai kamu; barangsiapa berjalan dalam kegelapan, ia tidak tahu ke mana ia pergi. 12:36 Percayalah kepada terang itu, selama terang itu ada padamu, supaya kamu menjadi anak-anak terang." Sesudah berkata demikian, Yesus pergi bersembunyi dari antara mereka.

Penjelasan:

* Yoh 12:27 - Selamatkanlah Aku // saat
Dengan berbicara tentang hal-hal ini. Yesus makin benar-benar menyadari akan harga yang sesaat lagi akan Ia bayar untuk mengisi jabatan-Nya sebagai Penebus. Selamatkanlah Aku. Ungkapan ini merupakan percikan dari kesedihan Getsemani. Yesus sesungguhnya cenderung ingin terhindari dari saat yang makin dekat itu. Doa semacam itu memberikan kesaksian yang mengesankan tentang betapa mengerikannya saat tersebut. Tetapi pengabdian Yesus demikian sempurna sehingga Dia tetap akan menghadapinya. Untuk itulah Dia datang. Karena itu doa tersebut tidak diperpanjang.

* Yoh 12:28 - Muliakanlah nama // Mu // Aku telah memuliakan-Nya // Bapa. Lagi,
Doa yang lain dipanjatkan sebagai gantinya. Muliakanlah nama-Mu. Bapa akan melakukan hal ini ketika Dia memberikan kemampuan kepada Anak untuk menghadapi saat-Nya dan menyelesaikan misi-Nya. Aku telah memuliakan-Nya. Kemuliaan Sang Anak, yang diwujudkan dalam hidup dam karya-Nya sampai sejauh ini, mencerminkan kemuliaan Sang Bapa. Lagi, yaitu di dalam Kesengsaraan tersebut, yang akan berakhir di dalam kebangkitan dan pemuliaan.

* Yoh 12:29 - Orang banyak,
Orang banyak, yang pemahamannya terbatas telah salah menafsirkan kesaksian Bapa.

* Yoh 12:31
Saat Yesus bukan hanya akan membawa penderitaan bagi Dia, tetapi juga penghakiman atas dunia penuh dosa yang akan membuat Dia harus disalibkan, dan kehancuran bagi Iblis yang mengatur sistem dunia ini. Kristus yang ditolak akan menolak orang yang mendorong orang banyak yang menolak diri-Nya (bdg. Kol. 2:15).

* Yoh 12:32 - Semua orang, // Kepada-Ku
Kristus sendiri, ketika tampaknya kalah, sesungguhnya bisa menarik orang kepada diri-Nya melalui kuasa pengorbanan-Nya. Kemuliaan akan menang atas kehinaan. Kemenangan akan memancar menerobos tragedi yang gelap. Semua orang, termasuk orang-orang Yunani, akan datang untuk mengalami tarikan dari kasih penebusan-Nya. Kepada-Ku. Keselamatan adalah kepada Kristus dan juga melalui Dia.

* Yoh 12:33 - Caranya Ia ... mati
Caranya Ia ... mati. Ditinggikan artinya sama dengan penyaliban. Yesus mengetahui bahwa Dia tidak akan mati karena dilempari batu.

* Yoh 12:34 - Mesias // tetap hidup selama-lamanya
Mesias sebagaimana dinantikan umat itu sesuai Taurat (Perjanjian Lama secara umum) tetap hidup selama-lamanya. Jadi bagaimana mungkin Yesus sebagai Anak Manusia dapat menggenapi harapan tersebut dengan ditinggikan untuk mati? Anak Manusia semacam itu tidak sesuai dengan Mesias yang mereka nantikan. Harapan yang mereka miliki ketika Kristus memasuki Yerusalem kini hancur.

* Yoh 12:35-36
Sebelum hubungan dengan orang-orang itu terputus, Kristus mengingatkan mereka bahwa terang hanya akan bersinar untuk waktu yang terbatas. Apabila mereka tidak menerima terang tersebut, kegelapan akan meliputi mereka.
Peringatan itu tampaknya tidak diperhatikan. Yohanes merangkum perlawanan terhadap terang yang berlanjut terus hingga akhir (ay. 37-43).

* Kesaksian Sorgawi tentang Kristus; Percakapan Kristus dengan Orang Banyak (12:27-36)
    Di sini, sebuah penghormatan diberikan kepada Kristus oleh Bapa-Nya, melalui sebuah suara dari sorga, yang terjadi akibat perkataan-Nya dan yang juga membuka percakapan lebih lanjut lagi dengan orang banyak. Dalam ayat-ayat ini diceritakan tentang,

    I. Perkataan Kristus kepada Bapa-Nya, di saat kegundahan melanda Roh-Nya saat itu: Sekarang jiwa-Ku terharu (ay. 27). Perkataan aneh keluar dari mulut Kristus, dan mengejutkan pada saat itu, sebab terlontar di tengah-tengah situasi yang menyenangkan. Orang mungkin berpikir bahwa Dia seharusnya berkata, Sekarang jiwa-Ku merasa senang. Perhatikanlah, keharuan jiwa terkadang timbul setelah roh mendapatkan penghiburan yang besar. Dalam dunia yang campur baur dan sering berubah-ubah ini, kita harus siap menghadapi hal-hal yang dapat menyurutkan sukacita kita. Penghiburan yang besar terkadang disusul oleh kesukaran yang hebat pula. Paulus sudah diangkat sampai tingkat ketiga dari sorga, tetapi ia juga didera oleh duri dalam daging.

    Perhatikanlah:
        . Kegentaran Kristus akan penderitaan-Nya yang kian mendekat: Sekarang jiwa-Ku terharu. Saat itulah adegan yang suram dan menyedihkan dimulai, dan kepedihan pun mulai menggerogoti jiwa-Nya. Penderitaan-Nya kini sudah dimulai, sehingga jiwa-Nya pun mulai merasa merana.

        Perhatikan:

            (1) Dosa jiwa kita merupakan kepedihan bagi jiwa Kristus, saat Dia sedang menjalankan tugas-Nya dalam menebus dan menyelamatkan kita dengan menyerahkan jiwa-Nya sebagai korban penghapusan bagi dosa kita.
            (2) Kesukaran yang mendera jiwa-Nya dimaksudkan untuk mengurangi kesukaran dalam jiwa kita. Sebab, setelah mengatakan hal itu, Ia kemudian berkata kepada para murid-Nya (14:1), "Janganlah gelisah hatimu. Mengapa hatimu dan hatiku harus sama-sama gelisah?" Tuhan kita Yesus kemudian meneruskan pekerjaan-Nya dengan senang hati. Dengan melihat sukacita yang telah ditetapkan bagi-Nya kelak, Ia pun rela menanggung kesukaran jiwa-Nya. Kedukaan yang kudus selalu diiringi dengan sukacita rohani, dan menuju ke sukacita yang kekal. Sekarang Kristus memang sedang merasa terharu, sedih, gentar. Tetapi ini hanya sementara saja, tidak akan selalu begitu, tidak akan berlangsung lama. Ini juga menjadi penghiburan bagi orang Kristen yang sedang dilanda kesukaran. Kesukaran mereka hanya berlangsung sesaat saja dan akan diubahkan menjadi sukacita.
        . Kesesakan yang sepertinya sedang Dia hadapi ditunjukkan dalam perkataan ini, Dan apakah yang akan Kukatakan? Perkataan itu tidak menyiratkan bahwa Dia sedang meminta nasihat orang lain, seolah-olah Dia membutuhkannya, melainkan bertanya-tanya kepada diri-Nya sendiri mengenai apa yang layak untuk dikatakan pada saat itu. Saat jiwa kita mengalami kesukaran, kita harus berhati-hati supaya tidak asal bicara, melainkan harus benar-benar memikirkan apa yang harus kita katakan. Kristus berbicara seperti orang yang sedang bingung, seolah-olah tidak ingin memilih apa yang harus Ia lakukan. Di sana terjadi pergumulan di antara pekerjaan yang sedang Ia emban, yang menghendaki adanya penderitaan, melawan sifat manusiawi yang Ia miliki, yang membuat-Nya merasa gentar menghadapi penderitaan itu. Ketika kedua hal itu sedang Ia gumuli, Ia pun berhenti sejenak sambil berkata, Apakah yang akan Kukatakan? Dia melayangkan pandangan-Nya, tetapi tidak ada yang menolong, dan itu membuat-Nya tertegun. Calvin menganggap hal ini merupakan sebuah contoh nyata mengenai kerelaan Kristus untuk menanggung penghinaan, yaitu bahwa Dia harus berbicara seperti seorang yang sedang kebingungan. Quo se magis exinanivit gloriŠ Dominus, eo luculentius habemus erga nos amoris specimen -- Semakin dalam Tuhan dari segala kemuliaan mengosongkan diri-Nya, semakin nyata pula bukti kasih-Nya kepada kita. Demikianlah Ia telah dicobai sama dengan kita, untuk mendorong kita supaya mengarahkan pandangan kepada-Nya, saat kita tidak tahu apa yang harus kita perbuat.
        . Doa-Nya kepada Allah dalam kesesakan tersebut: Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini, ek tes oras tautes -- dari jam ini, bukan berarti supaya hal itu tidak terjadi, tetapi supaya Dia sanggup melaluinya. Selamatkanlah Aku dari saat ini merupakan kalimat yang wajar terlontar dari seorang manusia, dan segenap perasaan tercurah dalam doa itu. Perhatikanlah, jiwa-jiwa yang sedang merana berkewajiban untuk meminta tolong kepada Allah melalui doa yang tekun dan sungguh-sungguh, dengan memandang Dia sebagai seorang Bapa dalam doa mereka itu. Kristus memang rela mengalami penderitaan, tetapi Ia tetap berdoa supaya diselamatkan dari penderitaan tersebut. Perhatikan, doa yang dipanjatkan untuk melawan kesukaran bisa juga seiring dengan kesabaran untuk menanggung kesukaran tersebut dan dengan sikap berserah kepada kehendak Allah dalam kesukaran itu. Perhatikanlah, Dia menyebut penderitaan-Nya itu sebagai saat ini, yang berarti bahwa penderitaan itu kini sudah di ambang pintu. Dengan begitu, Dia menegaskan bahwa saat penderitaan-Nya adalah,
            (1) Saat yang telah ditetapkan, bahkan sampai dalam hitungan jamnya, dan Ia pun mengetahui itu. Sebelumnya, telah dikatakan dua kali bahwa saat-Nya belum tiba, tetapi kini saat itu sudah begitu mendekat sampai-sampai bisa dikatakan-Nya sudah tiba.
            (2) Sebentar saja. Satu jam berlalu dengan cepat, begitu pula penderitaan Kristus. Dia bahkan dapat melihat sukacita yang disediakan bagi Dia di balik penderitaan-Nya itu.
        . Sikap Kristus yang berserah kepada kehendak Bapa-Nya di dalam semuanya itu. Dengan segera Ia langsung memperbaiki ucapan-Nya, seakan-akan membatalkan apa yang tadi telah dikatakan-Nya: Sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini. Sifat manusiawi-Nya yang tidak berdosa mengeluarkan perkataan yang pertama, tetapi hikmat dan kasih ilahi mengeluarkan yang terakhir. Perhatikanlah, orang yang hendak bertindak dengan benar harus selalu berpikir dua kali. Yang mengeluh biasanya yang pertama kali berbicara, tetapi jika kita ingin menimbang-nimbang dengan adil, kita harus mendengarkan pihak lain juga. Dengan pikiran-Nya yang kedua, Kristus memperbaiki diri-Nya sendiri: Sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini. Dia tidak membungkam diri dengan berkata bahwa Dia tidak bisa menghindar lagi dari semuanya itu, bahwa tidak ada obatnya lagi. Sebaliknya, Dia meyakinkan diri dengan keputusan bahwa Dia tidak akan menghindar dari semua penderitaan itu, sebab itulah tujuan utama pekerjaan-Nya dan puncak dari tugas yang sedang diemban-Nya. Jika Dia undur diri sekarang, maka segala yang telah Ia lakukan sebelumnya akan menjadi sia-sia. Di sini, Kristus memusatkan perhatian-Nya kepada kebijaksanaan-kebijaksanaan ilahi di dalam penderitaan-Nya, yang menguatkan-Nya untuk berserah dan menderita. Perhatikanlah, inilah yang harus kita ingat untuk dapat melalui saat-saat tersulit dalam hidup kita, yaitu bahwa kita semua ditentukan untuk itu (1Tes. 3:3).
        . Perhatian-Nya terhadap kehormatan Bapa-Nya. Setelah menarik kembali permintaan pertama-Nya, Kristus mengajukan permintaan yang lain, yang tetap Ia pegang teguh: Bapa, muliakanlah nama-Mu, yang maksudnya sama dengan Bapa, jadilah kehendak-Mu, sebab kehendak Allah dimaksudkan bagi kemuliaan-Nya sendiri. Pernyataan itu lebih dari sekadar penyerahan diri terhadap kehendak Allah. Hal itu menggambarkan bagaimana Kristus mempersembahkan penderitaan-Nya bagi kemuliaan Allah. Kalimat tadi merupakan kalimat pengantaraan yang dilontarkan oleh-Nya, di dalam tugas-Nya sebagai penjamin kita yang telah bersedia campur tangan untuk memuaskan keadilan ilahi bagi dosa-dosa kita. Kesalahan dosa yang kita perbuat terhadap Allah merupakan penghinaan terhadap kemuliaan-Nya, kemuliaan yang mutlak milik-Nya, sebab selain daripada itu, tidak ada hal lain yang kita lakukan yang bisa melukai-Nya. Kita tidak akan sanggup menebus kesalahan yang telah kita lakukan terhadap-Nya, begitu pula hewan korban tidak mampu menebus kesalahan kita. Karena itu, satu-satunya kemungkinan yang ada kini adalah tindakan Allah dalam mendapatkan kembali kehormatan-Nya, yaitu melalui kebinasaan kita. Akan tetapi, Tuhan kita Yesus lalu turun tangan untuk memuaskan kehormatan Allah yang telah tercemar oleh dosa tadi, dan Ia melakukan itu melalui penghinaan yang harus Ia terima. Dia menyangkal dan mengosongkan diri-Nya dari kehormatan yang layak Ia terima sebagai Anak Allah yang menjelma menjadi manusia, dan berserah untuk menerima penghinaan yang paling buruk. Nah, untuk memuaskan kehormatan Allah yang telah dicemari dosa kita itu, Kristus di sini memohon: "Bapa, muliakanlah nama-Mu. Biarlah keadilan-Mu dimuliakan melalui korban persembahan dan bukan melalui para pendosa. Biarlah hutang dosa itu ditanggungkan kepada-Ku, Aku mampu membayarnya, si pelaku kejahatan tidak." Dengan demikian, Dia mengembalikan apa yang tidak diambil-Nya.
    II. Jawaban Bapa terhadap permintaan-Nya, sebab Dia selalu mendengar-Nya dan sekarang pun demikian.

    Perhatikanlah:

        . Bagaimana jawaban tersebut diberikan. Melalui sebuah suara dari sorga. Orang-orang Yahudi sering kali membicarakan tentang Bath-kôl -- anak suara, sebagai salah satu dari beragam cara yang dipakai Allah untuk berbicara dengan para nabi pada zaman dahulu. Akan tetapi, di masa itu kita tidak mendapati satu contoh pun dari perbincangan Allah yang seperti itu dengan siapa pun, kecuali dengan Tuhan Yesus. Cara tersebut merupakan sebuah kehormatan yang khusus diperuntukkan bagi-Nya (Mat. 3:17; 17:5). Di sini, mungkin juga suara yang terdengar itu diawali dengan sebuah penampakan yang bisa terlihat, berupa cahaya atau kegelapan, sebab keduanya dipakai dari dulu sebagai alat untuk menunjukkan kemuliaan ilahi.
        . Isi jawaban tersebut, yang mengungkapkan balasan yang amat cepat dari permintaan-Nya itu, Bapa, muliakanlah nama-Mu: Aku telah memuliakan-Nya, dan Aku akan memuliakan-Nya lagi. Saat kita berdoa dengan cara yang telah diajarkan kepada kita, Bapa kami, dimuliakanlah nama-Mu, maka ingatlah akan peristiwa ini sebagai penghiburan bagi kita, bahwa doa tersebut merupakan doa yang telah dijawab, dijawab bagi Kristus di sini, dan juga di dalam Dia bagi segenap orang percaya sejati.
            (1) Nama Allah telah dimuliakan dalam kehidupan Kristus, dalam pengajaran dan mujizat-Nya, dan dalam segenap teladan-Nya mengenai kekudusan dan kebaikan.
            (2) Nama Allah lebih dipermuliakan lagi melalui kematian dan penderitaan Kristus. Hikmat dan kuasa Allah, keadilan dan kekudusan-Nya, kebenaran dan kebaikan-Nya, sangat dipermuliakan. Tuntutan hukum yang telah terlanggar kini telah terbayarkan. Pemberontakan terhadap pemerintahan Allah telah dibalaskan, dan Allah menerima semua itu dan menyatakan bahwa Dia sangat senang. Apa yang telah dilakukan Allah untuk memuliakan nama-Nya sendiri merupakan sebuah dorongan bagi kita untuk terus menanti-nantikan tindakan yang masih akan dilakukan-Nya nanti. Dia yang telah mengamankan kepentingan kemuliaan-Nya akan tetap mempertahankannya.
    III. Pendapat orang banyak yang berdiri di situ mengenai suara tersebut (ay. 29). Tentu saja kita berharap ada di antara mereka yang pikirannya telah siap menerima pewahyuan ilahi sehingga mereka dapat mengerti apa yang mereka dengar dan mencatatkannya. Akan tetapi, di sini dicatatkan pendapat yang miring dari orang banyak itu. Beberapa dari mereka berkata bahwa itu bunyi guntur. Yang lain, yang dapat mendengar bahwa bunyi tersebut merupakan perkataan yang dapat dimengerti, berkata, Seorang malaikat telah berbicara dengan Dia. Nah, hal ini menunjukkan,
        . Bahwa suara itu merupakan sesuatu yang nyata, bahkan menurut pendapat orang-orang yang sama sekali tidak mengasihi Dia.
        . Bahwa orang-orang itu begitu enggan mengakui bukti yang jelas-jelas benar adanya mengenai tugas ilahi yang diemban Kristus. Mereka lebih suka mengartikannya sebagai ini atau itu daripada mengakui bahwa Allah telah berbicara dengan-Nya sebagai jawaban atas doa-Nya. Lagi pula, jika suara itu merupakan bunyi guntur yang berisikan kata-kata yang dapat dimengerti (seperti dalam Wahyu 10:3-4), bukankah bunyi itu suara Allah? Atau, jika para malaikat berbicara kepada-Nya, bukankah mereka itu utusan Allah? Tetapi sekalipun Allah berfirman dengan satu dua cara, orang tidak memperhatikannya.
    IV. Penjelasan yang diberikan oleh Sang Juruselamat kita mengenai suara tersebut.
        . Mengapa suara itu dikirim (ay. 30): "Suara itu datang bukan demi Aku, bukan semata untuk menguatkan dan memuaskanku" (sebab jika begitu, pastilah suara itu hanya akan dibisikkan di telinganya secara pribadi), "melainkan demi kebaikanmu."
            (1) "Supaya kamu semua yang telah mendengarnya menjadi percaya bahwa Bapa telah mengutus Aku." Apa yang telah dikatakan dari sorga mengenai Tuhan kita Yesus, dan bagaimana Bapa dimuliakan di dalam diri-Nya, dikatakan demi kebaikan kita sendiri, supaya kita dapat dibawa untuk tunduk kepada Dia dan berserah kepada-Nya.
            (2) "Supaya dengan begitu, kalian, para murid-Ku, yang akan mengikuti-Ku di dalam penderitaan-Ku, dapat dihiburkan dengan penghiburan yang sama yang memampukan Aku untuk terus maju." Biarlah hal ini menguatkan mereka untuk bahkan rela menyerahkan nyawa demi Dia, jika perlu, supaya hal itu menambah kemuliaan Allah. Perhatikan, segala janji dan dukungan yang diberikan kepada Tuhan kita Yesus di dalam penderitaan-Nya dimaksudkan demi kebaikan kita. Demi kita, Ia telah menguduskan dan menghiburkan diri-Nya.
        . Arti dari suara itu. Dia yang ada di pangkuan Bapa pasti mengenal suara-Nya dan apa maksud dari suara-Nya itu. Ada dua hal yang Allah maksudkan sewaktu Ia berkata hendak memuliakan nama-Nya sendiri:
            (1) Bahwa melalui kematian Kristus, Iblis akan ditaklukkan (ay. 31): Sekarang berlangsung penghakiman. Ia mengatakan hal itu dengan penuh kemuliaan dan kemenangan ilahi. "Kini tahun penebusan telah tiba, dan telah datang saatnya untuk meremukkan kepala si ular dan menghancurleburkan kuasa-kuasa kegelapan. Sekaranglah tibalah saat yang penuh kemuliaan dan kemenangan itu: Sekarang, sekarang, pekerjaan agung itu dilakukan, yang telah begitu lama dirancangkan dalam kebijaksanaan-kebijaksanaan ilahi, begitu lama telah diperbincangkan di dalam firman yang tertulis, yang telah lama menjadi harapan besar para orang kudus dan menjadi kegentaran bagi setan-setan." Inti dari kemenangan ini adalah,
                [1] Bahwa sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini. Krisis, dalam istilah medis. "Sekaranglah saat yang genting bagi dunia ini." Dunia sakit-sakitan ini sekarang sedang berada pada titik balik. Ini saat kritis karena garis penunjuk denyut jantung akan memperlihatkan kehidupan atau justru kematian, bagi semua umat manusia. Semua orang yang tidak akan dipulihkan oleh kemenangan ini akan ditinggalkan dalam keadaan yang tidak berdaya dan tanpa pengharapan. Atau, lebih tepat lagi bila hal ini diungkapkan dalam istilah hukum, yang bunyinya akan menjadi seperti ini: "Sekarang, penghakiman telah datang untuk menghukum penguasa dunia ini." Perhatikan, kematian Kristus merupakan penghakiman atas dunia ini.
                    Pertama, ini merupakan penghakiman untuk menelanjangi dan memilah-milah manusia -- judicium discretionis, begitulah menurut Augustinus. Sekaranglah masa penghakiman atas dunia ini, sebab semua manusia akan dinilai berdasarkan pendapat mereka tentang salib Kristus. Bagi sebagian orang, salib Kristus merupakan kebodohan dan batu sandungan, tetapi bagi yang lainnya merupakan hikmat dan kuasa Allah, yang masing-masing dilambangkan oleh kedua penyamun yang disalibkan bersama-sama dengan Kristus itu. Dengan cara ini manusia akan dihakimi, yaitu berdasarkan apa yang mereka pikirkan mengenai kematian Kristus.
                    Kedua, ini merupakan penghakiman yang menunjukkan kebaikan dan pengampunan mutlak bagi orang-orang pilihan yang ada di dunia ini. Di atas kayu salib, Kristus menjadi penengah di antara Allah yang kudus dan dunia yang berdosa, sebagai korban pengampunan dosa dan sebagai jaminan bagi para pendosa, sehingga ketika Dia dihakimi dan semua pelanggaran ditimpakan ke atas-Nya, maka Dia pun dilukai oleh karena pelanggaran-pelanggaran kita. Ini terjadi seolah-olah sebagai penghakiman atas dunia ini. Melalui semua itu, kebenaran kekal diperoleh bukan hanya bagi orang-orang Yahudi, tetapi juga bagi seluruh dunia (1Yoh. 2:1-2; Dan. 9:24).
                    Ketiga, ini merupakan penghakiman untuk menghukum kuasa-kuasa kegelapan (16:11). Penghakiman dimaksudkan untuk membersihkan nama baik dan melepaskan, untuk memulihkan hak yang telah dilanggar. Dalam kematian Kristus, ada persaingan sengit antara Kristus dan Iblis, antara si ular dan keturunan yang telah dijanjikan. Persaingan itu terjadi untuk memperebutkan dunia dan kuasa atasnya. Iblis telah mempengaruhi anak-anak manusia sejak dahulu kala, dan kini ia menginginkan kekuasaannya dan mendasarkan tuntutan tersebut pada kemerosotan yang diakibatkan oleh dosa. Kita juga mendapati bahwa Iblis bersedia melakukan tawar-menawar (Luk. 4:6-7). Dia bersedia menyerahkan kerajaannya di dunia ini kepada Kristus, asalkan Kristus mau memegang kerajaan itu melalui, dari dan di bawah dia. Tetapi Kristus hendak membebaskan dunia dari tangan Iblis. Melalui kematian-Nya, Dia membawa hak-hak yang telah disita itu ke pengadilan ilahi, memenangkannya dan memulihkannya di pelataran sorgawi. Kekuasaan Iblis dinyatakan sebagai pemberontakan, dan dunia diberikan kepada Tuhan Yesus sebagai hak-Nya (Mzm. 2:6, 8). Penghakiman atas dunia telah memutuskan bahwa dunia ini milik Kristus dan bukan milik Iblis. Karena itu, marilah kita memandang diri kita sebagai penyewa dari Dia sebagai pemilik.
                [2] Bahwa sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan keluar.
                    Pertama, yang dimaksud dengan penguasa dunia ini adalah Iblis, sebab dia menguasai manusia di dalam dunia ini dengan hal-hal dari dunia ini. Dia adalah penguasa kegelapan dunia ini, artinya, penguasa atas dunia yang gelap ini, dan juga atas orang-orang yang berjalan dalam kegelapan (2Kor. 4:4; Ef. 4:12).
                    Kedua, dikatakan bahwa ia akan dilemparkan ke luar, dilemparkan keluar sekarang juga, sebab apa pun yang telah dilakukan untuk memperlemah kerajaan Iblis sampai saat itu dapat diperbuat berkat kedatangan Kristus, sehingga boleh dikatakan bahwa hal tersebut telah terjadi sekarang. Dengan mendamaikan dunia dan Allah melalui kematian-Nya, Kristus menghancurkan kuasa maut dan melemparkan Iblis si pembinasa keluar. Dengan menarik dunia kepada Allah melalui ajaran mengenai salib-Nya, Kristus menghancurkan kuasa dosa dan melemparkan Iblis si penipu keluar. Diremukkannya tumit-Nya berarti diremukkannya kepala si ular (Kej. 3:15). Saat antek-anteknya dibungkam, kuil-kuil pemujaannya ditinggalkan, berhala-berhalanya ditelantarkan dan kerajaan dunia ini menjadi kerajaan Kristus. Pada saat itulah penguasa dunia ini dilemparkan keluar, seperti yang tampak melalui penglihatan Yohanes (Why. 12:8-11), yang mengatakan bahwa hal itu dilakukan dengan darah Anak Domba. Pengusiran roh-roh jahat dari tubuh orang-orang oleh Kristus merupakan tanda dari rancangan agung yang terkandung dalam seluruh tugas-Nya. Perhatikanlah, dengan keyakinan sedalam apa Kristus membicarakan kemenangan-Nya atas Iblis itu. Ia menyatakan kemenangan-Nya itu seperti telah terjadi. Bahkan, saat Ia sepertinya telah menyerahkan diri kepada maut, Dia justru sedang menaklukkannya.
            (2) Bahwa melalui kematian Kristus, jiwa-jiwa akan dipertobatkan, dan ini artinya Iblis dilemparkan ke luar (ay. 32): Apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku. Ada dua hal yang harus diperhatikan di sini:
                [1] Rancangan utama Tuhan kita Yesus, yaitu untuk menarik semua orang datang kepada-Nya, bukan hanya orang-orang Yahudi saja, yang sudah sejak lama merupakan umat yang dekat dengan Allah, tetapi juga orang-orang bukan-Yahudi, yang selama ini berada jauh dari Allah. Sebab, kepada-Nyalah barang yang indah-indah kepunyaan segala bangsa datang mengalir (Hag. 2:8), dan kepada-Nya akan takluk bangsa-bangsa. Itulah yang ditakutkan para musuh-Nya, yaitu bahwa dunia akan mendatangi-Nya. Dan Ia memang akan menarik semua orang kepada-Nya, meskipun mendapat perlawanan dari orang-orang itu. Perhatikanlah di sini betapa Kristus benar-benar melibatkan diri untuk membawa kembali jiwa manusia.
                    Pertama, Kristus sendirilah yang menarik jiwa itu: Aku akan menarik. Kadang kala pekerjaan ini digambarkan sebagai tugas dari Bapa (6:44), tetapi di sini, juga dari Sang Anak, yang merupakan tangan kekuasaan Tuhan. Dia tidak menghalau mereka dengan kekerasan, melainkan menarik dengan tali kesetiaan (Ho. 11:4; Yer. 31:3), menarik sekuat magnet. Jiwa dibuat menjadi rela, tetapi hal itu hanya terjadi di hari yang penuh dengan kekuatan.
                    Kedua, kepada Kristus-lah kita semua ditarik: "Aku akan menarik mereka kepada-Ku sebagai pusat dari kesatuan mereka." Jiwa yang jauh dari Kristus dibawa mendekat untuk mengenal-Nya. Orang yang pemalu dan tidak mudah percaya dibawa supaya mengasihi dan mempercayai-Nya. Semuanya ditarik kepada-Nya, ke dalam pelukan tangan-Nya. Kini Kristus hendak pergi ke sorga, dan Dia akan menarik hati manusia ke sana bersama-Nya.
                [2] Cara tidak lazim yang Ia pakai untuk mencapai rencana-Nya, yaitu dengan diangkat dari bumi. Supaya kita tidak keliru, maka terdapat penjelasan mengenai maksud-Nya itu (ay. 33): Ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana caranya Ia akan mati, yaitu mati di kayu salib, meskipun mereka sudah berencana dan berusaha untuk merajam-Nya. Dia yang tersalib itu pertama-tama dipakukan ke salib, lalu diangkat ke atas. Dia ditinggikan sebagai tontonan bagi dunia, diangkat di antara sorga dan bumi sebagai seorang yang sepertinya tidak layak berada di kedua tempat itu. Akan tetapi, perkataan itu dimaksudkan di sini untuk menyatakan suatu pencapaian yang mulia, ean hypsōthō -- Apabila Aku ditinggikan. Kristus menganggap penderitaan-Nya sebagai kehormatan-Nya. Dengan cara apa pun kita mati, apabila kita mati di dalam Kristus, maka kita akan ditinggikan dari penjara ini, dari gua singa ini, ke tempat yang terang dan penuh kasih. Kita harus belajar dari Guru kita, untuk berbicara mengenai kematian dengan kesenangan yang kudus, dan berkata, "Saat itu, kita pasti akan ditinggikan." Nah, penarikan seluruh umat manusia kepada Kristus terjadi setelah Dia ditinggikan dari bumi.
                    Pertama, hal itu terjadi pada waktu yang tepat. Gereja berkembang pesat setelah kematian Kristus. Sewaktu Kristus masih hidup, kita bisa membaca mengenai ribuan orang yang diberi makan ketika Dia berkhotbah, tetapi setelah kematian-Nya, kita bisa membaca tentang ribuan orang yang bergabung ke dalam gereja-Nya ketika ada khotbah. Bangsa Israel mulai bertambah banyak di Mesir setelah kematian Yusuf.
                    Kedua, ditariknya seluruh umat manusia kepada Kristus merupakan akibat mulia dari kematian-Nya. Perhatikan, kematian Kristus mengandung kuasa yang dahsyat dan ampuh dalam menarik jiwa-jiwa kepada-Nya. Meskipun bagi sebagian orang salib Kristus itu merupakan batu sandungan, tetapi bagi sebagian lainnya, salib itu bagaikan batu yang mengandung magnet. Beberapa orang menghubung-hubungkan hal tersebut dengan penangkapan banyak ikan melalui sebuah pukat. Terangkatnya Kristus bagaikan ditebarkannya pukat itu (Mat. 13:47-48). Atau, kematian-Nya itu juga seperti pemasangan tiang bendera yang menarik para serdadu untuk berkumpul bersama. Atau bahkan, hal itu bisa diibaratkan dengan pengangkatan tiang ular tembaga di padang gurun, yang menarik semua orang yang telah dipagut ular tedung, segera setelah mereka mengetahui bahwa ular tembaga itu telah diangkat dan ada kuasa penyembuhan di dalamnya. Oh, betapa banyaknya orang-orang yang ditarik ke sana! Begitu pulalah banyak orang ditarik mendekat kepada Kristus saat keselamatan di dalam Dia diberitakan kepada seluruh bangsa (lihat 3:14-15). Mungkin, posisi Kristus saat disalibkan juga menunjukkan hal tersebut, sebab tangan-Nya terbentang, seakan-akan mengundang semua orang kepada-Nya, dan tangan itu akan memeluk mereka yang datang menghampiri-Nya. Orang-orang yang menyebabkan Kristus mati dengan cara hina seperti itu mengira bahwa dengan begitu mereka telah menjauhkan seluruh umat manusia dari-Nya, tetapi Iblis rupanya telah tertembak oleh anak panahnya sendiri. Dari yang makan keluar makanan.
    V. Keberatan dan gerutuan orang-orang terhadap apa yang Ia katakan itu (ay. 34). Meskipun mereka telah mendengar suara dari sorga dan kata-kata penuh kemuliaan yang keluar dari mulut Kristus, mereka tetap saja berkeberatan dan mencari gara-gara untuk bertengkar dengan-Nya. Kristus telah menyebut diri-Nya sebagai Anak Manusia (ay. 23), yang telah mereka pahami sebagai salah satu julukan bagi Mesias (Dan. 7:13). Dia juga mengatakan bahwa Anak Manusia harus ditinggikan, yang dapat mereka pahami sebagai penanda kematian-Nya, dan barangkali Kristus sendiri pun telah menerangkannya demikian. Beberapa orang menduga bahwa Ia mengulangi apa yang telah Ia katakan itu kepada Nikodemus (3:14): demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan. Nah, untuk menentang perkataan-Nya itu,
        . Mereka mengemukakan ayat-ayat dalam Perjanjian Lama yang berbicara tentang kekekalan Mesias, bahwa Ia tidak mungkin disingkirkan begitu saja di tengah-tengah masa hidup-Nya, sebab Dia seharusnya menjadi seorang imam untuk selama-lamanya (Mzm. 110:4), dan seorang raja untuk selama-lamanya (Mzm. 89:30, dsb.), dan bahwa Ia seharusnya memiliki umur panjang untuk seterusnya dan selama-lamanya dan tahun-tahun hidupnya kiranya sampai turun-temurun (Mzm. 21:5; 61:7). Berdasarkan semuanya ini mereka menyimpulkan bahwa Mesias tidak akan mati. Begitulah, pengetahuan hebat yang ada dalam firman Allah, bila hati tidak dikuduskan, bisa diselewengkan untuk dijadikan dalih atas ketidakpercayaan, dan dipakai untuk menentang Kekristenan dengan perlengkapan Kekristenan itu sendiri. Penyelewengan mereka akan Kitab Suci, untuk menentang apa yang telah dikatakan oleh Kristus itu akan terlihat jelas bila kita mempertimbangkan,
            (1) Bahwa, saat mereka memakai firman Allah untuk membuktikan bahwa Mesias akan tetap hidup selama-lamanya, mereka tidak mengindahkan bagian lain dari firman Allah yang menyatakan tentang kematian dan penderitaan Mesias. Jika mereka telah mendengar dari hukum Taurat bahwa Mesias tetap hidup selama-lamanya, masakan mereka tidak pernah mendengar juga dari hukum Taurat bahwa Mesias akan disingkirkan (Dan. 9:26) dan bahwa Ia akan menyerahkan nyawanya ke dalam maut (Yes. 53:12), bahkan lebih khusus lagi, bahwa tangan dan kaki-Nya akan ditusuk? Lalu mengapa kini mereka menganggap ditinggikannya Anak Manusia sebagai sebuah hal yang tidak masuk akal? Perhatikan, kita sering kali membuat kesalahan yang besar dan berusaha membenarkan kekeliruan itu dengan dalih yang diambil dari firman Allah, dengan memecah-mecahkan hal-hal yang sudah Allah rangkai menjadi satu di dalam firman-Nya, dan menentang sebuah kebenaran dengan berpura-pura membela kebenaran yang lainnya. Kita telah mendengar bagian Injil yang menerangkan tentang anugerah yang cuma-cuma, dan kita juga sudah mendengar bagian lain yang mengemukakan tentang kewajiban, dan kita harus menerima kedua hal tersebut serta tidak boleh mencerai-beraikannya, atau membuat keduanya saling bertentangan.
            (2) Bahwa, saat mereka menentang apa yang Kristus katakan mengenai penderitaan Anak Manusia, mereka mengabaikan apa yang dikatakan-Nya tentang kemuliaan dan kehormatan-Nya. Jika mereka telah mendengar dari hukum Taurat bahwa Kristus tetap hidup selama-lamanya, masakan mereka tidak pernah mendengar Tuhan Yesus berkata bahwa Ia akan dimuliakan, dan bahwa Dia akan menghasilkan banyak buah dan menarik semua manusia kepada-Nya? Bukankah Dia baru saja menjanjikan kehormatan abadi bagi para pengikut-Nya, yang berarti bahwa Ia akan hidup untuk selama-lamanya? Tetapi mereka mengabaikan hal itu. Begitulah para penentang yang tidak jujur biasanya hanya menentang suatu bagian dari pendapat lawan mereka, padahal jika mereka memahami pendapat itu seutuh-utuhnya, pastilah mereka tidak dapat lagi menyanggahnya. Di dalam pengajaran Kristus memang terdapat beberapa pernyataan yang kelihatannya bertentangan tetapi sesungguhnya bersetujuan, dan ini menjadi batu sandungan bagi orang-orang yang berpikiran sesat -- misalnya, Kristus disalibkan, tetapi pada saat yang bersamaan, dimuliakan; ditinggikan dari bumi, tetapi dengan begitu justru menarik semua orang datang kepada-Nya.
        . Lalu mereka bertanya, Siapakah Anak Manusia itu? Mereka menanyakan ini bukan karena mereka ingin diajar, tetapi dengan nada mengejek dan melecehkan, seakan-akan kini mereka telah berhasil memojokkan Kristus dan mengalahkan-Nya. "Engkau berkata, Anak Manusia harus mati, dan kami telah membuktikan bahwa Mesias tidak mati, jadi kalau begitu, di mana letak sifat Mesias-Mu itu? Anak Manusia macam begini, yang Kaupakai untuk menyebut diri-Mu sendiri, tidaklah mungkin Mesias. Jadi lebih baik Kau mulai cari kebohongan yang lain saja." Nah, hal yang membuat mereka berprasangka buruk terhadap Kristus adalah keadaan-Nya yang sederhana dan miskin. Mereka lebih suka tidak mempunyai seorang Kristus sama sekali daripada memiliki seorang Kristus yang menderita.
    VI. Jawaban yang Kristus berikan terhadap keberatan mereka itu, atau lebih tepatnya, apa yang Ia katakan mengenai keberatan mereka itu. Keberatan yang mereka ajukan itu tidak lain adalah sebuah gerutuan, yang jika mereka mau, bisa mereka jawab sendiri saja dengan mudahnya: manusia mati, tetapi jiwanya kekal dan hidup selama-lamanya, begitu juga Anak Manusia. Karena itulah, daripada meladeni kebodohan mereka, Kristus lebih memilih untuk melayangkan peringatan keras bagi mereka agar waspada supaya tidak menyia-nyiakan kesempatan yang mereka punya dengan melontarkan gerutuan remeh yang tidak berguna seperti itu (ay. 35-36): "Hanya sedikit waktu lagi, sedikit saja, terang ada di antara kamu. Karena itu, jadilah bijak demi kebaikan dirimu sendiri, selama terang itu ada padamu, percayalah kepadanya."
        . Secara garis besar, di sini kita dapat mengamati
            (1) Kepedulian Kristus terhadap jiwa-jiwa manusia, dan hasrat-Nya akan kesejahteraan jiwa mereka itu. Lihatlah di sini, betapa lembutnya Ia memperingatkan orang-orang yang begitu bernafsu untuk menentang-Nya! Bahkan saat Ia menghadapi para pendosa yang menentang-Nya, Dia tetap mengusahakan keselamatan mereka (Ams. 29:10).
            (2) Cara yang Ia pakai untuk menghadapi mereka, dengan lemah lembut menuntun orang yang suka melawan (2Tim. 2:25). Seandainya hati nurani manusia menjadi waspada karena kepedulian mereka terhadap keadaan kekekalan mereka, dan seandainya mereka menyadari betapa sedikitnya waktu yang mereka miliki sehingga mereka tidak boleh menyia-nyiakannya, pastilah mereka tidak akan membuang waktu dan pikiran mereka yang mulia itu dengan hanya menggerutu saja.
        . Secara khusus, di sini bisa kita dapati,
            (1) Keuntungan yang mereka miliki dengan keberadaan Kristus dan Injil-Nya di tengah-tengah mereka, yang hanya akan mereka nikmati dalam waktu yang singkat dan tidak pasti: Hanya sedikit waktu lagi terang ada di antara kamu. Kristus adalah terang itu. Beberapa penulis kuno menduga bahwa dengan menyebut diri-Nya sebagai terang, Dia sebenarnya telah diam-diam menjawab keberatan mereka itu. Kematian-Nya di atas kayu salib tetap sejalan dengan kehidupan yang harus Ia miliki untuk selama-lamanya itu, sebagaimana kelangsungan matahari, sekalipun harus terbenam setiap kali malam menjelang. Keberlangsungan kerajaan Kristus diperbandingkan dengan kelangsungan matahari dan bulan (Mzm. 72:17; 89:37-38). Pengaturan tata surya oleh Allah tidak akan berubah-ubah, tetapi matahari dan bulan tetap terbenam dan terhalang sinarnya setiap kali terjadi gerhana. Begitu pula Kristus, sang Mentari Kebenaran itu hidup untuk selama-lamanya, tetapi tetap harus diselimuti penderitaan, dan tinggal sedikit lagi waktu yang tersisa bagi-Nya untuk tetap berada di bawah cakrawala ini. Nah,
                [1] Terang itu ada di antara orang-orang Yahudi saat itu, sebab secara jasmaniah, Kristus ada di antara mereka. Mereka dapat mendengar khotbah-Nya dan melihat mujizat-mujizat yang Ia lakukan. Bagi kita, firman Allah bagaikan terang yang bersinar di tempat yang gelap.
                [2] Hanya sebentar lagi saja terang itu ada di antara mereka. Tidak lama lagi Kristus akan meninggalkan mereka. Gereja jasmaniah mereka itu akan hancur lebur dan kerajaan Allah akan direnggut dari mereka, lalu Israel akan dilanda kebutaan dan kesukaran. Perhatikan, kita sebaiknya menyadari bahwa hanya sebentar saja terang itu ada bersama-sama kita. Waktu kita sedikit dan mungkin tidak akan ada banyak kesempatan lagi. Kaki dian akan segera disingkirkan. Setidaknya, kita pasti akan segera tersingkir. Memang hanya sedikit waktu lagi terang kehidupan ada di antara kita, hanya sedikit waktu lagi terang Injil ada di antara kita, hari anugerah, sarana-sarana anugerah dan Roh anugerah, hanya sedikit waktu lagi.
            (2) Peringatan yang diberikan kepada mereka supaya memanfaatkan sebaik-baiknya hak istimewa yang sedang mereka nikmati itu, sebab ada bahaya mereka akan kehilangan semuanya itu: Selama terang itu ada padamu, percayalah kepadanya, sebagaimana para pelancong yang bergegas-gegas menempuh perjalanan mereka supaya tidak kemalaman di perjalanan, sebab bepergian di malam hari tidaklah menyenangkan dan juga tidak aman. "Ayolah," kata mereka, "marilah kita bergegas-gegas dan terus maju selagi hari masih terang." Demikianlah kita harus sebijaksana itu demi jiwa kita yang sedang berjalan menuju kekekalan.

            Perhatikan:

                [1] Berjalan terus menuju sorga, dan semakin mendekatinya, dengan menjadi lebih layak untuk masuk ke dalamnya haruslah menjadi tujuan utama kita dalam hidup ini. Hidup kita hanya satu hari siang saja panjangnya, dan kita punya waktu satu hari siang saja untuk melakukan perjalanan kita.
                [2] Waktu yang paling baik untuk bepergian adalah selagi hari masih terang. Siang hari adalah saat yang tepat untuk bekerja, sedangkan malam hari adalah waktu untuk beristirahat. Waktu yang tepat untuk memperoleh anugerah adalah selagi firman yang penuh dengan anugerah itu sedang diberitakan kepada kita, dan selagi Roh anugerah sedang bergumul dengan kita. Maka dari itu, sekaranglah waktu yang tepat untuk bergiat.
                [3] Dengan demikian kita harus berusaha untuk memanfaatkan kesempatan yang kita miliki, jangan sampai hari siang itu berakhir sebelum kita bisa menuntaskan semua pekerjaan dan perjalanan kita: "Supaya kegelapan jangan menguasai kamu, supaya kamu tidak sampai kehilangan kesempatanmu dan tidak lagi dapat memperolehnya kembali, dan karenanya tidak dapat lagi menunaikan tugasmu." Lalu kegelapan pun datang, yaitu ketidakmampuan untuk menyelamatkan diri karena keadaan para pendosa yang begitu terpuruk di bawah kutukan. Jika pekerjaan tidak dapat diselesaikan pada saat itu, maka pekerjaan itu tidak akan pernah selesai untuk selama-lamanya.
            (3) Keadaan menyedihkan dari orang-orang yang telah menolak Injil dan kehilangan masa anugerahnya. Mereka berjalan dalam kegelapan, dan tidak tahu ke mana mereka pergi, atau tempat macam apa yang mereka tuju. Mereka tidak mengenali jalan yang mereka sedang tempuh itu, dan tidak bisa tahu akhir dari perjalanan itu. Orang yang tidak memiliki terang Injil dan tidak mengenal arahan dan bimbingannya biasanya berkelana tanpa arah, terombang-ambing dalam kesalahan, kekeliruan, dan ribuan jalan yang bengkok, tanpa menyadari semuanya itu. Coba saja kesampingkan bimbingan pengajaran Kristen, maka kita tidak akan lagi mengetahui perbedaan antara hal yang baik dan buruk. Orang yang sedang berjalan menuju kebinasaan tidak menyadari bahaya itu, sebab ia seperti sedang tertidur atau menari-nari di tepi jurang.
            (4) Kewajiban dan kepentingan besar yang kita semua harus simpulkan dari semuanya itu (ay. 36): Percayalah kepada terang itu, selama terang itu ada padamu. Orang-orang Yahudi memiliki kehadiran Kristus di antara mereka pada saat itu, jadi biarlah mereka memanfaatkan kesempatan yang ada itu. Kemudian mereka juga mendapatkan kesempatan pertama dari tawaran Injil yang disodorkan kepada mereka oleh para rasul ke mana pun para rasul itu pergi. Kini, pernyataan Kristus itu merupakan sebuah peringatan bagi mereka supaya tidak menolak kesempatan itu, melainkan menerimanya selagi tawaran itu masih berlaku bagi mereka. Hal yang sama pun dikatakan Kristus kepada semua orang yang menikmati Injil.

            Perhatikan:

                [1] Sudah menjadi kewajiban setiap dari kita untuk percaya kepada terang Injil, untuk menerimanya sebagai terang ilahi, untuk menerima kebenaran-kebenaran yang terkandung di dalamnya, sebab Injil adalah terang bagi mata kita. Kita juga harus mengikuti bimbingannya, sebab Injil adalah pelita bagi kaki kita. Kristus adalah Terang itu, dan kita harus percaya kepada-Nya sebagaimana Ia telah dinyatakan kepada kita, yaitu sebagai Terang sejati yang tidak akan menipu kita, Terang yang pasti yang tidak akan menyesatkan kita.
                [2] Kita berkewajiban untuk menunaikan kewajiban itu selagi terang itu masih ada bersama-sama dengan kita, untuk berpegang teguh pada Kristus selagi kita memiliki Injil untuk menunjukkan jalan kepada-Nya dan mengarahkan kita ke jalan itu.
                [3] Orang-orang yang mempercayai Terang itu akan disebut anak-anak terang. Mereka akan diakui sebagai orang-orang Kristen, yang disebut anak-anak terang (Luk. 16:8; Ef. 5:8) dan anak-anak siang (1Tes. 5:5). Orang-orang yang memiliki Allah sebagai Bapa mereka merupakan anak-anak terang, sebab Allah adalah terang. Mereka diperanakkan dari atas dan merupakan pewaris sorga, juga merupakan anak-anak terang, sebab sorga itu terang.
    VII. Pengunduran diri Kristus dari hadapan mereka, segera setelah itu: Sesudah berkata demikian, Yesus tidak mengatakan apa-apa lagi pada waktu itu, tetapi membiarkan mereka menimbang-nimbang perkataan-Nya, lalu Ia pun pergi bersembunyi dari antara mereka. Dia melakukan itu semua,
        . Untuk menyakinkan dan membangunkan mereka. Jika mereka tidak menghiraukan apa yang telah Ia katakan, Dia tidak mau lagi mengatakan hal-hal lain kepada mereka. Mereka terikat dengan ketidakpercayaan mereka sendiri, seperti bani Efraim dengan berhala-berhala mereka. Biarkan mereka saja. Perhatikan, Kristus memang layak menarik sarana anugerah-Nya dari orang-orang yang menentang-Nya dan menyembunyikan wajah-Nya dari angkatan yang bengkok (Ul. 32:20).
        . Demi keselamatan-Nya sendiri. Dia menyembunyikan diri terhadap angkara murka mereka, dengan mengundurkan diri, kemungkinannya ke Betania, tempat Ia menginap. Dari semua ini bisa disimpulkan bahwa apa yang Ia katakan tampaknya telah membuat orang-orang itu menjadi gusar dan marah. Mereka menjadi lebih buruk oleh sesuatu yang seharusnya justru bisa membuat mereka lebih baik.



SBU

MINGGU I PRAPASKAH
SENIN, 15 APRIL 2019
Renungan Pagi
GB.262 : 1 -Berdoa
PERNAHKAH KANGEN YESUS?

Yohanes 12 : 20 - 26
" ..... ..Tuan, kami ingin berjumpa dengan Yesus" (ay 21)

Rasa kangen biasanya kita miliki terhadap orang orang yang dekat dengan kita atau yang kita anggap penting dalam hidup kita.  Biasanya, untuk mengatasi rasa kangen tersebut kita menghubungi orang tersebut denhan cara telepon untuk mencari tahu keadaannya. Atau bisa juga, kita datang menemui orang tersebut dari melihat keadaannya. Keinginan orang-orang Yunani bertenu Yesus bukan tidak ada alasannya. Mereka kangen bertemu dengan Yesus karena mereka sudah mendengar dan melihat tentang pelayanan Yesus. Yohanes dengan jelas menceritakan bahwa untuk memenuhi keinginan mereka bertemu Yesus, mereka mendekati Filipus dan menyampaikan maksud mereka. Orang yang dekat dengan Yesus menjadi penghubung perjumpaan tersebut: Yudaisme VS Non Yahudi.

Keinginan bertemu ini merupakan simbol bahwa pertama, bangsa lainpun menerima Kristus di dalam kehidupan mereka dan kedua, memperlihatkan pengaruh Yesus ada dimana-mana, meluas serta melampaui batas-batas tradisi Yudaisme. Jawaban Yesus atas keinginan tersebut disambut sikap positif berkaitan dengan keinginan menjadi murid dan pengikut Yesus. Yesus mengatakan bahwa untuk mengikutinya dibutuhkan kesediaan berkorban dan menyerahkan diri secara total kepada Tuhan sebagai wujud menempatkan diri sebagai pelayanNya.

Apakah kita telah memiliki keinginan yang sama seperti orang-orang Yunani tersebut? Bertemu Yesus secara pribadi karena telah melihat keajaian-keajaiban yang dilakukan
atas kehidupan kita. Ataukah kita pada posisi kaum Farisi yang masih tetap mengeraskan hati kita meskipun sudah melihat mujizat Yesus atas kehidupan kita? Kesediaan untuk mengikut Yesus diwujudkan dalam bentuk penyerahan diri yang total kepada Kristus dan kesediaan menderita bagi Kristus.

GB 262:2
Doa : (Tuhan, berilah kepada kami rasa rindu yang terus-menerus kepadaMu agar kami
mampu menjadi pelayan-pelayanMu yang setia).



MINGGU I PRAPASKAH
SENIN, 15 APRIL 2019
Renungan Malam
GB.252 : 1 -Berdoa
BENCI HIDUP DALAM GELAP!

Yohanes 12: 27 - 36
"dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepadaKu" (ay.32)

Apakah yang akan kita lakukan jika kita mengetahui bahwa ada orang-orang yang membenci kita? Mereka suka mencari-cari kesalahan kita bahkan berusaha menjatuhkan kita. Kita tidak tahu alasan mereka membenci kita. Hal yang sama juga dialami oleh Yesus.

Yesus terus diintal oleh pembenci-pembenclnya yang selalu mencari cara untuk menjatuhkan-Nya. Mereka membiarkan diri mereka berada dalam kegelapan kebencian dengan mencari-cari
kesalahan Yesus. Apakah ada alasan bagi mereka membenci Yesus? Ya, sebab popularitas mereka mulai memudar. Kedudukan mereka sebagai tokoh masyarakat terancam. Orang sudah tidak lagi tertarik dengan ajaran-ajaran tentang Taurat. Orang mengalihkan pandangannya kepada Yesus. Wajar jika mereka membenci Yesus. Alasannya bukan karena Yesus melakukan kejahatan terhadap mereka melainkan karena orientasi diri mereka lebih kuat. Yesus mem persiapkan murid-murid-Nya sebelum kematian-Nya. Yesus sadar bahwa la akan menjalani kematian-Nya agar hidup diberikan kepada orang-orang yang tetap mengikut Dia dan yang tetap tinggal di dalam Dia. Kematian-Nya menyerap perhatian dunia. Kematian-Nya menyingkapkan tentang janji Allah akan masa depan dan kemuliaan bagi orang-orang yang bersedia menderita bagi Kristus. Kematian Yesus menghasilkan pendamaian dengan
Allah. Orang yang mengambil keputusan untuk percaya pada Kristus akan memperoleh kehidupan kekal dan melihat terang, yaitu Yesus.

Fokus kehidupan orang beriman yang dewasa adalah kemuliaan Kristus dan bukan pada kemuliaan diri. Kehidupan orang percaya mencermlnkan kehidupan yang selalu meneladani perbuatan Kristus, mendatangkan damai sejahtera dan tidak hidup berorientasi diri sendiri. Mari saudara kita hidup di dalam terang Kristus dan menjauhkan diri dari kegelapan.

GB. 252 : 2
Doa : (Ya Kristus, ubahlah diriku sesuai dengan kehendak-Mu)


Label:   Yohanes 12:27-36 


HEALING WORSHIP SONGS
Latest Christian Song
Jesus Is Risen Song


NEXT:
Khotbah Ibadah GPIB Selasa, 16 April 2019 - JAWABAN BIJAK MENGHINDARI PERBANTAHAN - Matius 22:34-40 - MINGGU I PRAPASKAH

PREV:
Khotbah Ibadah GPIB Minggu, 14 April 2019 - KERJA BUKAN SEKEDAR OMDO - Yohanes 12:1-8 (SGD) - HARI MINGGU I PRAPASKAH

Garis Besar Yohanes

Garis Besar 1 Yohanes

Garis Besar 2 Yohanes

Garis Besar 3 Yohanes




BACAAN ALKITAB SETAHUN:
  • Bacaan Alkitab Setahun di FGCC (Gereja di Malaysia)
  • Bacaan Alkitab Setahun - ProSesama (GKI, GKPS dll)
  • Bacaan Alkitab Setahun GBI
  • Pembacaan Alkitab Gereja GKPS Tahun 2019
  • Kalender Liturgi Katolik 2019
  • Kalender GKJ 2019
  • Bacaan Alkitab GMIT 2019
  • Pembacaan Alkitab GMIM 2019
  • Arsip Khotbah Ibadah GPIB 2019..


    rss lagu-gereja.com  Register   Login  

    contoh kj 392 bukan kj.392





    Beli Kaos C59. Klik Disni

    Nyanyian Ibadah Gereja
    English Hymns, CFC SONGS *, AG (Aradhana Geethamulu), YSMS (Тебе пою оМй Спаситель), YJ (Юность-Иисусу), ADV (Himnario Adventista), HC (Держись Христа), SS (ДУХовни Песни), SR, SP, SPSS (Spiewajmy Panu wyd. dziesiate) *,
    JB (Jiwaku Bersukacita: Pujian Sekolah Minggu), KMM, KJ, PKJ, GB, NR, NKB, KC, MNR1 *, MNR2 *, MAZMUR MP3 GKI, Nyanyian Pujian, Lagu Tiberias, Nafiri Kemenangan, Lagu GMS, PPK, PPPR, KPPK, NKI, NRM, Buku Ende, BN (Buku Nyanyian HKBP), Buku Lagu Perkantas, KPKL, KPKA, KPJ, KRI, KPRI, KLIK, DSL, LS, PKJ TORAJA, NJNE, Doding Haleluya, LKEE, Suara Gembira, Puji Syukur, Madah Bakti,
    Kenya Worship Songs
    Ghana Worship Songs
    Russian Worship Songs
    Chinese Praise and Worship Song
    Lagu Rohani Bahasa Iban di Malaysia
    Thai Christian Song
    Hebrew Christian Song
    Arab Christian Song
    Christian Songs In Dutch
    German Christian Songs
    Hindi Worship Song
    Japanese Christian Song
    Italian Christian Song
    Lagu Rohani Batak
    Lagu Rohani Ambon
    Greek Worship Songs
    French Worship Songs
    Spanish Worship Songs





    Tata Ibadah Perjamuan Kudus Jumat Agung 19 April 2019 dan Tata Ibadah Paskah 21 April 2019 GPIB
    Terlampir disampaikan : 1. Tata Ibadah Perjamuan Kudus Jumat Agung 19 April 2019 2. Tata Ibadah Paskah 21 April 2019



    Gereja GPIB di Jakarta (Map)
    Gereja GPIB di Surabaya (Map)
    Gereja GPIB di Makassar (Map)
    Gereja GPIB di Medan (Map)
    Gereja GPIB di Bandung (Map)
    Gereja GPIB di Manado (Map)
    Gereja GPIB di Bekasi (Map)
    Gereja GPIB di Tangerang (Map)
    Gereja GPIB di Denpasar (Map)
    Gereja GPIB di Bogor (Map)


    New Submit
    Minggu, 21 April 2019
    Come Back Home - Manafest feat. Trevor McNevan

    Sabtu, 20 April 2019
    How He Loves - Peter Mattis | Bethel Music

    Sabtu, 20 April 2019
    Still - Amanda Lindsey Cook

    Jumat, 19 April 2019
    With You On My Mind - Kenny Smith

    Jumat, 19 April 2019
    Lord, What's Happening To Your People - Kenny Smith

    Jumat, 19 April 2019
    Wings of a Dove - Ferlin Husky

    Jumat, 19 April 2019
    How Great Thou Art - Carrie Underwood featuring Vince Gill

    Jumat, 19 April 2019
    Peace in the Valley - Elvis Presley

    Jumat, 19 April 2019
    Will the Circle be Unbroken - Johnny Cash and Family

    Jumat, 19 April 2019
    Precious Memories - Alan Jackson

    Jumat, 19 April 2019
    I Saw the Light - Hank Williams

    Jumat, 19 April 2019
    Amazing Grace - Dolly Parton

    Jumat, 19 April 2019
    Looking Up - Citizens (U.S.)

    Rabu, 17 April 2019
    Glory - Building 429

    Rabu, 17 April 2019
    Glory Defined - Building 429

    Rabu, 17 April 2019
    Lord I Need You - Conrad Johnson

    Rabu, 17 April 2019
    Blessed Assurance - Conrad Johnson

    Selasa, 16 April 2019
    Just Like You - Anthony Evans

    Selasa, 16 April 2019
    Love You With My Life - Anthony Evans

    Selasa, 16 April 2019
    How He Loves - Anthony Evans

    Pemilihan Presiden
    Quick Count    |    Real Count

    lagu gereja tiberias indonesi, lagu gereja pikul salib, lagu gereja kemurahan tuhan, lagu gereja semua di mata tuhan, lagu gerejawi, lagu gereja mp3, lagu gereja gki, lagu lagu gereja, lagu gereja nikko, lagu gereja talita doodoh, lagu gereja lama, lagu gereja ntt, lagu gereja, lagu gereja kasih nama yesus, lagu gereja terbaru, lagu gereja suka cita, lagu gereja anak, , lagu gereja ya bapa, anugrahmu, lagu gereja tua, lagu gereja katolik, lagu gereja advent, lagu gereja hkbp, lagu gereja nikita, lagu gereja biak, lagu gereja batak, lagu gereja manado, agu gereja katolik cintamu, lagu gereja indonesia, lagu gereja yang mudah, lagu gereja katolik anak anak, lagu gereja terbaik dan terpopuler, lagu gereja nainggolan sisters, lagu gereja kidung jemaat, lagu gereja katolik bagai rajawali, lagu gereja anak kristen,