Save Page
Minggu, 15 Sept 2019
XIII DOB TRINITATIS
Khotbah: Lukas 14:7-11
Epistel: Yesaya 57:14-21
MANGGOLUH IBAGAS TORUH NI UHUR

Khotbah: Lukas 14:7-11
Tempat yang paling utama dan yang paling rendah
14:7 Karena Yesus melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: 14:8 "Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu, 14:9 supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah. 14:10 Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain. 14:11 Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."


Penjelasan:


* Kerendahan Hati Dipuji (14:7-11)
    Yesus Tuhan kita di sini memberikan contoh bagaimana kita dapat bercakap-cakap tentang hal yang bermanfaat dan membangun pada saat kita sedang makan bersama teman-teman kita. Ketika Ia hanya makan bersama para murid-Nya, yang merupakan keluarga-Nya sendiri, percakapan-Nya dengan mereka terlihat sangat baik dan berguna untuk membangun. Namun bukan hanya itu saja, ketika Ia bersama orang-orang asing, malah bersama musuh-musuh yang sedang mengamat-amati-Nya, Ia memanfaatkan kesempatan itu untuk menegur kesalahan mereka yang dilihat-Nya, dan memberikan pengajaran kepada mereka. Meskipun orang fasik ada di hadapan-Nya, Ia tidak menahan diri untuk berbuat baik (seperti Daud, Mzm. 39:2-3), sebab kendati dipancing-pancing, hati-Nya tidak menjadi panas dan jiwa-Nya tidak terhasut. Kita bukan saja harus melarang percakapan yang tidak baik pada waktu makan, seperti orang fasik yang suka mengolok-olok dalam perjamuan makan, tetapi juga harus berbuat lebih daripada sekadar memperbincangkan hal-hal yang biasa-biasa saja. Kita harus memakai kebaikan Allah dalam menyediakan makanan kepada kita sebagai kesempatan untuk mengatakan hal-hal yang baik tentang-Nya. Kita harus belajar untuk memberi arti rohani pada kejadian-kejadian biasa yang kita alami. Dengan demikian, bibir orang benar memberi makan banyak orang. Sekalipun Yesus Tuhan kita Yesus Tuhan kita sedang berada di antara orang-orang terhormat, tanpa pandang bulu:

    I. Ia memanfaatkan kesempatan ini untuk menegur para tamu yang berusaha duduk di tempat-tempat kehormatan, dan dengan ini Ia pun mengajar kita tentang kerendahan hati.
        . Ia mengamati bagaimana para ahli Taurat dan orang Farisi ini berusaha mendapat tempat-tempat yang paling utama, di bagian kepala meja (ay. 7). Sebelumnya Ia menegur orang-orang seperti ini secara umum (11:43). Namun di sini Ia mengarahkan teguran-Nya kepada orang-orang tertentu, sebab Kristus akan memberi setiap orang sesuai dengan bagiannya. Ia melihat bagaimana mereka berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan. Setiap orang, pada waktu memasuki ruangan, berusaha sedapat mungkin untuk duduk di dekat tempat kehormatan. Perhatikanlah, bahkan dalam perbuatan-perbuatan biasa Kristus mengamati kita, dan Dia menilai apa yang kita lakukan, bukan hanya dalam pertemuan-pertemuan ibadah, melainkan juga pada waktu di meja makan, dan Ia memberikan penilaian-Nya tentang itu semua.
        . Ia mengamati bagaimana orang-orang yang berlaku seperti itu sering kali memamer-mamerkan diri mereka sendiri, namun kemudian mereka justru mendapat malu. Sementara orang-orang yang rendah hati, yang duduk di tempat-tempat paling rendah, sering kali pada akhirnya malah mendapat kehormatan karenanya.
            (1) Orang-orang yang pada waktu datang langsung duduk di tempat yang paling utama mungkin saja nanti direndahkan, dan dipaksa untuk turun dan memberikan tempatnya kepada orang yang lebih terhormat (ay. 8-9). Perhatikanlah, dengan melihat betapa banyaknya orang yang lebih terhormat daripada kita, bukan hanya dalam kedudukan duniawi, melainkan juga dalam kebaikan dan keberhasilan pribadi, maka ini haruslah menjadi teguran bagi kita untuk tidak memandang diri kita terlalu tinggi. Jadi, bukannya merasa sombong melihat betapa banyak orang yang memberikan tempat duduk mereka kepada kita, kita seharusnya merasa rendah hati melihat betapa banyak orang yang harus kita beri tempat duduk. Tuan rumah yang mengadakan perjamuan akan mengatur tamu-tamunya, dan ia tidak akan membiarkan orang-orang yang lebih terhormat tidak duduk di tempat yang layak, dan karena itu ia tidak akan segan-segan menyuruh orang yang merampas tempat itu untuk duduk di tempat yang lebih rendah. Berilah tempat ini kepada orang itu, dan dengan demikian orang yang menganggap dirinya lebih penting daripada yang sebenarnya akan mendapat malu di hadapan semua orang. Perhatikanlah, kesombongan membawa aib, dan pada akhirnya mendatangkan kejatuhan.
            (2) Orang-orang yang pada waktu datang langsung duduk di tempat yang paling rendah, dan merasa puas dengannya, kemungkinan akan diberi tempat yang lebih baik (ay. 10): "Pergilah, dan duduklah di tempat yang paling rendah, anggap saja bahwa temanmu yang mengundangmu mempunyai tamu-tamu yang berkedudukan lebih tinggi daripadamu. Tetapi mungkin saja tidak demikian, maka setelah itu temanmu akan berkata kepadamu, Sahabat, silakan duduk di depan. Tuan rumah akan berbuat adil kepadamu dengan tidak membiarkanmu duduk di tempat yang paling rendah, sebab kamu sudah begitu rendah hati dengan mau duduk di sana." Perhatikanlah, untuk naik ke tempat yang lebih tinggi, kita harus memulai dari tempat yang paling rendah, dan ini membuat kita dipandang baik oleh orang-orang di sekitar kita: "Engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain. Mereka akan melihatmu sebagai orang terhormat, melebihi apa yang mereka pikirkan pada awalnya, dan kehormatan akan tampak lebih terang bila bersinar dari dalam kegelapan. Mereka juga akan melihatmu sebagai orang yang rendah hati, dan ini merupakan kehormatan terbesar. Juruselamat kita di sini merujuk pada amsal Salomo (Ams. 25:6-7), Jangan berdiri di tempat para pembesar. Karena lebih baik orang berkata kepadamu: Naiklah ke mari, dari pada engkau direndahkan di hadapan orang mulia." Dr. Lightfoot mengutip salah satu perumpamaan para rabi, yang bunyinya kira-kira seperti ini. "Ada tiga orang," katanya, "diundang ke suatu pesta. Yang pertama duduk di tempat paling terhormat, sebab, katanya, aku adalah penguasa. Yang kedua duduk di tempat terhormat lainnya, sebab, katanya, aku orang bijak. Yang terakhir duduk di tempat paling rendah, sebab, katanya, aku orang yang rendah hati. Kemudian sang raja menempatkan orang yang rendah hati itu di tempat paling utama, sedangkan si penguasa ditempatkannya di tempat yang paling rendah."
        . Ia menerapkan perumpamaan ini secara umum, dan mengajak kita untuk belajar tidak memikirkan hal yang muluk-muluk, tetapi harus puas dengan hal yang biasa-biasa saja, karena untuk alasan apa pun juga, kesombongan dan hasrat yang menggebu adalah hal yang tercela bagi semua orang. Sebab, barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan, sedangkan kerendahan hati dan penyangkalan diri adalah suatu hal yang sungguh mulia: Barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan (ay. 11). Kita juga melihat dalam contoh-contoh lain bahwa keangkuhan merendahkan orang, tetapi orang yang rendah hati menerima pujian, dan kerendahan hati mendahului kehormatan.


Epistel: Yesaya 57:14-21
Kata-kata penghiburan
57:14 Ada yang berkata: "Bukalah, bukalah, persiapkanlah jalan, angkatlah batu sandungan dari jalan umat-Ku!" 57:15 Sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya: "Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk. 57:16 Sebab bukan untuk selama-lamanya Aku hendak berbantah, dan bukan untuk seterusnya Aku hendak murka, supaya semangat mereka jangan lemah lesu di hadapan-Ku, padahal Akulah yang membuat nafas kehidupan. 57:17 Aku murka karena kesalahan kelobaannya, Aku menghajar dia, menyembunyikan wajah-Ku dan murka, tetapi dengan murtad ia menempuh jalan yang dipilih hatinya. 57:18 Aku telah melihat segala jalannya itu, tetapi Aku akan menyembuhkan dan akan menuntun dia dan akan memulihkan dia dengan penghiburan; juga pada bibir orang-orangnya yang berkabung 57:19 Aku akan menciptakan puji-pujian. Damai, damai sejahtera bagi mereka yang jauh dan bagi mereka yang dekat -- firman TUHAN -- Aku akan menyembuhkan dia! 57:20 Tetapi orang-orang fasik adalah seperti laut yang berombak-ombak sebab tidak dapat tetap tenang, dan arusnya menimbulkan sampah dan lumpur. 57:21 Tiada damai bagi orang-orang fasik itu," firman Allahku.


Penjelasan:


* Kesia-siaan Berhala, Keagungan Ilahi, dan Kerendahan Hati (57:14-16)
 (1) Orang-orang tawanan yang percaya kepada Allah akan dibebaskan (ay. 14): Mereka akan berkata (yakni utusan-utusan yang menyampaikan tindakan penyelenggaraan-Nya akan berkata seperti itu pada peristiwa yang agung itu), Bukalah, bukalah, persiapkanlah jalan. Ketika waktu Allah telah tiba untuk membebaskan mereka, maka jalan untuk membebaskan mereka akan menjadi mulus dan mudah, semua rintangan akan disingkirkan, kesukaran-kesukaran yang tampak tidak dapat diatasi akan dapat diatasi dengan cepat, dan semua hal akan terjadi bersamaan sehingga mempercepat dan memudahkan kepulangan mereka (lih. 40:3-4). Hal ini menunjuk kepada persiapan yang disediakan oleh Injil dan kasih karunia dari Injil yang telah meyiapkan jalan bagi kita untuk menempuh perjalanan melalui dunia ini menuju dunia yang lebih baik. Jalan hidup keagamaan sekarang sedang dibukakan. Pekerjaan hamba-hamba Allah adalah mengarahkan manusia ke dalam jalan itu, dan membantu mereka melalui segala keputusasaan yang mereka hadapi, supaya tidak ada yang bisa mengganggu mereka.

(2) Orang-orang patah hati dan remuk redam yang percaya kepada Allah akan dihidupkan kembali (ay. 15). Mereka yang percaya kepada berhala-berhala dan makhluk-makhluk ciptaan untuk meminta pertolongan pergi dengan membawa minyak dan banyak-banyak wangi-wangian mereka (ay. 9), tetapi di sini Allah menunjukkan bahwa orang-orang yang mengharapkan pertolongan dari Dia adalah mereka yang miskin dari kegembiraan dunia dan kesenangan jasmani dan memisahkan diri jauh-jauh dari hal-hal tersebut. Kemuliaan Allah tampak sangat jelas di sini,

 [1] Dalam kebesaran dan keagungan-Nya, Ia adalah Yang Mahatinggi dan Mahamulia yang bersemayam untuk selamanya. Biarlah hal ini mengilhami kita dengan pikiran-pikiran yang luhur dan mulia tentang Allah,

Pertama, bahwa keberadaan dan kesempurnaan-Nya dimuliakan jauh lebih tinggi di atas setiap makhluk ciptaan, tidak saja di atas apa yang mereka miliki, tetapi juga di atas apa yang dapat mereka bayangkan tentang Dia, ditinggikan jauh mengatasi semua puji dan hormat mereka (Neh. 9:5). Ia adalah Yang Mahatinggi dan Mahamulia, dan tidak ada makhluk yang seperti Dia, juga tidak ada yang dapat dibandingkan dengan Dia. Bahasa yang digunakan ini menunjukkan juga kedaulatan kekuasaan-Nya di atas segalanya dan hak-Nya yang tidak tertandingi untuk memberi hukum dan penghakiman kepada semua ciptaan. Ia lebih tinggi dari pada yang paling tinggi (Pkh. 5:7), lebih tinggi mengatasi langit (Mzm. 113:4).

Kedua, bahwa bersama-Nya tidak ada permulaan hari-hari, juga tidak ada akhir kehidupan, dan juga tidak ada perubahan waktu. Ia abadi, tidak dapat mati dan tidak berubah. Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut (1Tim. 6:16). Dia mendapatkannya dari diri-Nya sendiri, dan Dia terus-menerus memilikinya. Ia hidup dengan keadaan itu dan tidak dapat dilepas darinya. Tidak lama lagi kita harus dipindahkan ke dalam kekekalan, tetapi Allah selalu mendiami kekekalan itu.

Ketiga, bahwa ada kebenaran tak terbatas di dalam kodrat-Nya, dan suatu keselarasan yang tepat dengan diri-Nya sendiri dan sebuah rancangan yang tetap dari kemuliaan-Nya di dalam segala sesuatu yang Ia kerjakan, dan hal ini tampak di dalam setiap hal yang Ia gunakan untuk menyatakan diri-Nya, sebab nama-Nya adalah Kudus, dan semua yang ingin dikenal-Nya harus mengenal-Nya sebagai Allah yang kudus.

Keempat, bahwa kediaman yang khusus dan perwujudan kemuliaan-Nya ada di dalam rumah-rumah besar dan indah yang penuh dengan cahaya dan kebahagiaan di atas sana: "Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus, dan akan membuat seluruh dunia mengetahuinya." Siapa saja yang berurusan dengan Allah harus datang kepada-Nya sebagai Bapa mereka yang ada di dalam sorga, sebab di sanalah Ia bersemayam. Hal-hal yang agung tentang Allah ini dikatakan di sini untuk mengilhami kita dengan rasa hormat yang kudus mengenai Dia, untuk mendorong kita menaruh percaya kepada-Nya, serta untuk mengagungkan rasa belas kasihan dan kerendahan hati-Nya bagi kita, bahwa meskipun Ia sedemikian tinggi, Ia menaruh rasa hormat kepada orang-orang yang hina. Ia yang berkendaraan melintasi awan-awan, yang nama-Nya adalah TUHAN merendahkan diri-Nya untuk memperhatikan para janda miskin dan anak-anak yatim (Mzm. 68:5-6).

[2] Di dalam kasih karunia dan belas kasihan-Nya. Ia sangat mengasihani orang-orang yang rendah hati dan remuk redam, orang-orang sungguh merasa seperti itu karena keadaannya. Jika mereka adalah umat-Nya, Ia tidak akan mengabaikan mereka meskipun mereka miskin dan rendah di dunia ini, meskipun mereka dipandang hina dan diinjak-injak orang. Namun di sini Ia lebih melihat kepada perangai pikiran mereka. Ia sungguh peduli kepada orang-orang yang, dalam penderitaan, mau berdamai dengan penderitaan mereka dan merenungkan keadaan mereka itu, tak peduli betapapun rendah, menyedihkan dan menyakitkannya keadaan itu. Yaitu, orang-orang yang sungguh-sungguh menyesali dosa mereka, yang dengan diam-diam meratapinya, dan merasa ngeri akan murka Allah, karena mereka sendiri yang membuat-Nya marah, dan mau tunduk di bawah semua teguran-Nya. Nah,

Pertama, dengan orang-orang seperti inilah Allah akan tinggal. Ia akan melawat mereka dengan penuh belas kasihan, akan bergaul dengan mereka melalui Firman dan Roh-Nya, seperti seorang manusia dengan anggota keluarganya sendiri. Ia akan senantiasa berada dekat dengan mereka dan hadir bersama mereka. Ia yang bersemayam di tempat yang mahatinggi tinggal di dalam lubuk hati yang paling rendah dan mendiami ketulusan dan kelurusan hati seperti halnya Ia mendiami kekekalan. Di dalam orang-orang inilah Ia bersukacita.

Kedua, Ia akan menghidupkan kembali hati dan roh mereka, akan menyatakan hal itu kepada mereka, dan mengerjakan hal itu di dalam mereka melalui firman dan Roh kasih karunia-Nya, yang akan menghidupkan mereka kembali, seperti kehangatan dan keramahan diberikan kepada orang yang hampir kehilangan kesadaran. Ia akan memberikan sukacita yang menghidupkan dan pengharapan yang cukup untuk mengimbangi semua kesedihan dan ketakutan yang meremukkan semangat mereka. Ia bersemayam bersama mereka, dan kehadiran-Nya menghidupkan.

Orang-orang yang dengannya Ia berbantah, jika mereka percaya kepada-Nya, mereka akan dibebaskan dan diterima dengan senang hati (ay. 16). Ia akan menghidupkan hati orang-orang yang remuk, sebab tidak selama-lamanya Ia berbantah. Tidak ada yang dapat membuat jiwa menjadi begitu remuk seperti ketika Allah berbantah dengannya, dan oleh karena itu pula tidak ada yang dapat menghidupkan kembali seperti ketika Ia menghentikan perbantahan-Nya. Inilah,
            [1] Sebuah janji yang penuh belas kasihan. Tidak dijanjikan bahwa Ia tidak akan pernah murka terhadap umat-Nya, sebab dosa-dosa mereka tidak menyenangkan hati-Nya, atau bahwa Ia tidak akan pernah berbantah-bantah dengan mereka, sebab mereka akan dihajar. Sebaliknya, Ia tidak hendak berbantah untuk selama-lamanya, atau untuk seterusnya murka. Seperti halnya Ia tidak cepat murka, begitu jugalah Ia tidak berlama-lama murka. Ia tidak selalu menghardik. Meskipun Ia berbantah-bantah dengan murka dengan menyatakan kesalahan dosa, Ia tidak hendak berbantah selama-lamanya. Sebaliknya, sebagai ganti roh perbudakan, mereka akan menerima Roh yang menjadikan mereka anak Allah. Dialah yang telah menerkam, tetapi Dialah yang akan menyembuhkan. Meskipun Ia berbantah-bantah dengan mereka dengan menghardik melalui tindakan-tindakan penyelenggaraan, namun hajaran-Nya itu tidak berlangsung lama, tidak berlangsung lebih lama dari pada yang diperlukan (1Ptr. 1:6), tidak lebih lama dari pada yang dapat mereka tanggung, tidak akan lebih lama dari saat ketika tujuannya telah tercapai. Meskipun seluruh kehidupan mereka penuh dengan bencana, namun akhir hidup mereka penuh damai sejahtera, dan begitu jugalah jadinya dengan kekekalan mereka.
            [2] Sebuah pertimbangan yang penuh dengan belas kasihan, yang di atasnya janji ini didasarkan: "Jika Aku harus berbantah-bantah untuk selama-lamanya, semangat mereka akan lemah lesu di hadapan-Ku, padahal Akulah yang membuat nafas kehidupan." Perhatikanlah,
            Pertama, Allah adalah Bapa segala roh (Ibr. 12:9). Orang-orang dengannya Ia tidak ingin berbantah terusmenerus adalah roh-roh yang telah diciptakan-Nya, yang telah diberikan-Nya keberadaan melalui penciptaan dan telah diberikan-Nya keberadaan baru melalui kelahiran kembali.
            Kedua, walaupun Tuhan adalah bagi tubuh jasmani, namun Ia terlebih peduli terutama dengan jiwa-jiwa umat-Nya, supaya roh mereka jangan menjadi lemah lesu, begitu juga kasih karunia dan penghiburan-penghiburan baginya.
            Ketiga, ketika kesusahan berlangsung lama, roh manusia yang baik sekalipun cenderung menjadi lemah. Mereka tergoda memikirkan yang buruk-buruk tentang Allah, bahwa sia-sia saja beribadah kepada-Nya. Mereka menolak penghiburan Allah, berputus asa tidak mendapat pertolongan, dan kemudian roh mereka pun runtuh.
            Keempat, berdasarkan pertimbangan inilah Allah tidak ingin berbantah-bantah untuk selama-lamanya, sebab Dia tidak mau meninggalkan pekerjaan tangan-Nya sendiri, atau menggagalkan penebusan oleh darah Anak-Nya. Alasannya tidak dibuat oleh karena jasa kita, melainkan karena kelemahan dan kerapuhan kita, sebab Ia ingat bahwa kita itu daging adanya (Mzm. 78:39), dan bahwa daging itu lemah.


* Kesabaran dan Belas Kasihan Ilahi (57:17-21)
    Tubuh bangsa Israel, yang dengannya Allah berurusan di sini, dibicarakan seperti seorang manusia (ay. 17-18). Tubuh bangsa itu dibagi menjadi dua jenis kelompok yang diperlakukan secara berbeda, yakni sebagian disebut anak-anak perdamaian, yang kepadanya damai diperkatakan (ay. 19), dan sebagian lainnya adalah anak-anak bukan perdamaian, yaitu yang tidak ada hubungan sama sekali dengan perdamaian (ay. 20-21). Amatilah di sini,
            I. Hardikan yang pantas bagi bangsa itu karena dosa mereka: Aku murka karena kesalahan kelobaan mereka, dan Aku menghajar dia. Kelobaan merupakan dosa yang sangat berlimpah di antara bangsa itu. Sesungguhnya, dari yang kecil sampai yang besar di antara mereka, semuanya mengejar untung (Yer. 6:13). Orang-orang yang tidak menyembah patung-patung berhala juga hanyut oleh penyembahan berhala rohani ini. Sebab, memang seperti itulah keserakahan, ia menjadikan uang sebagai berhala (Kol. 3:5). Tidak heran jika orang-orang menjadi tamak ketika pemimpin-pemimpin mereka sendiri terkenal seperti itu (56:11). Namun demikian, meskipun mereka begitu tamak, dalam hal penyembahan berhala, mereka tidak kikir menghambur-hamburkan uang (ay. 6). Dan sangat sulit untuk mengatakan mana yang lebih menjengkelkan, apakah tindakan mereka yang menghambur-hamburkan uang itu, ataukah keserakahan mereka akan segala sesuatu. Namun, untuk kejahatan keserakahan inilah, di antaranya, Allah murka kepada mereka, dan mendatangkan satu hukuman demi satu hukuman atas mereka, dan akhirnya penghancuran mereka oleh orang Kasdim.
                1. Allah murka. Ia membenci hal itu, menganggapnya sebagai sangat jahat bahwa sebuah bangsa yang beribadah kepada-Nya, dan mendapat bagian di dalam Dia, malah sepenuhnya berserah kepada dunia dan memilihnya sebagai bagian mereka. Perhatikanlah, keserakahan merupakan kejahatan yang sangat tidak menyenangkan hati Allah sorgawi. Hal itu merupakan dosa di dalam hati, tetapi Dia melihatnya, dan oleh karena itu membencinya, dan memandangnya dengan kecemburuan, karena dosa itu menimbulkan persaingan terhadap-Nya di dalam jiwa. Itu adalah dosa yang di dalamnya orang berbuat baik terhadap dirinya sendiri (Mzm. 49:19), dan di mana tetangga-tetangga mereka memuji-muji mereka. Namun Allah membenci dosa itu.
                2. Allah menghajar bangsa itu, menegurnya dengan keras karena hal itu melalui nabi-nabi-Nya, memperbaiki dia melalui penyelenggaraan-Nya, menghukumnya dengan hal yang sangat ia sukai dan yang membuatnya menjadi tamak. Perhatikanlah, orang-orang berdosa akan dibuat merasakan murka Allah. Orang-orang yang Ia murkai dihajar oleh-Nya, dan secara khusus ketamakan membuat orang mengalami kemarahan-Nya. Orang-orang yang menempatkan hati mereka pada kekayaan dunia ini akan dikecewakan oleh kekayaan itu, atau dibuat pahit olehnya. Kekayaan itu akan dihalangi oleh salib atau berubah menjadi kutukan.
                3. Allah menyembunyikan wajah-Nya dari dia ketika ia berada di bawah teguran-teguran ini, dan terus-menerus murka dengannya. Ketika kita berada di bawah hajaran dan jika Allah menyatakan diri-Nya kepada kita, maka kita dapat menanggungnya dengan lebih baik. Akan tetapi, jika Ia menghajar kita dan menyembunyikan wajah-Nya dari kita, tidak lagi mengutus nabi-nabi-Nya, tidak berfirman kepada kita dengan kata-kata yang menghibur, tidak menunjukkan tanda yang baik kepada kita, jika Dia menerkam, lalu pergi (Hos. 5:14), maka keadaan kita sungguh sangat menyengsarakan.
            II. Ketegaran hati dan kebebalan mereka sekalipun mengalami semua teguran ini: Tetapi dengan murtad ia menempuh jalan yang dipilih hatinya, jalan yang jahat. Ia tidak peka bahwa Allah sedang menunjukkan rasa tidak senang-Nya. Ia merasakan kepedihan cambuk itu, tetapi sama sekali tidak peduli dengan tangan yang mencambuk. Semakin ia dihalangi di dalam pengejaran duniawinya, semakin ia menjadi lebih bersemangat di dalamnya. Dia juga tidak mau melihat kesalahannya, atau jika pun melihat, ia tidak akan mengubahnya. Ketamakan adalah jalan yang dipilih hatinya. Itulah yang menjadi kecenderungan dan niat hatinya, dan ia tidak mau diperbaiki darinya, tetapi di dalam kesesakannya, ia semakin berubah setia (2Taw. 28:22). Lihatlah kekuatan kebobrokan hati manusia, dan kebejatan dosa, yang akan terus bekerja walaupun Allah sendiri yang murka dengan disertai semua kobaran api murka-Nya. Lihatlah juga betapa tidak cukupnya kesengsaraan itu sendiri untuk memperbaiki manusia, kecuali kasih karunia Allah turur bekerja di dalam semua kesengsaraan itu.
            III. Keindahan kembalinya Allah dalam belas kasihan kepada mereka, terlepas dari sikap keras kepala sebagian besar dari mereka.
                1. Sebagian besar mereka pergi menempuh jalan yang mereka pilih sendiri, namun masih ada beberapa orang yang meratapi sikap keras kepala orang-orang selebihnya itu. Dan karena memandang sedikit orang yang meratap inilah, atau lebih tepatnya demi nama-Nya sendiri, Allah memutuskan untuk tidak berbantah-bantah dengan mereka semua untuk selama-lamanya. Terhadap orang yang bengkok secara adil Allah berlaku belat-belit (Mzm. 18:27), dan akan melawan mereka yang menentang-Nya (Im. 26:24). Ketika di sini orang berdosa ini menempuh jalan pilihan hatinya sendiri, orang tentu mengira bahwa inilah yang akan terjadi, "Aku telah melihat jalan-jalannya dan akan menghancurkannya, akan meninggalkan dia, tidak akan pernah mau berurusan lagi dengan dia." Akan tetapi, begitu kayanya belas kasihan dan kasih karunia ilahi, sehingga ia bersukacita menentang penghakiman, dan inilah yang malah terjadi, Aku telah melihat segala jalannya itu, tetapi Aku akan menyembuhkan dia. Lihatlah bagaimana kebaikan Allah mengambil kesempatan dari kejahatan manusia untuk muncul dengan begitu agung. Dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah. Alasan-alasan Allah menunjukkan belas kasihan berasal dari dalam diri-Nya sendiri, sebab di dalam diri kita tidak ada apa-apa yang tampak selain hal-hal yang membangkitkan amarah: "Aku telah melihat segala jalannya itu, tetapi Aku akan menyembuhkannya, demi nama-Ku sendiri." Allah mengetahui betapa jahatnya orang-orang itu, namun tidak mau membuang mereka. Tetapi amatilah cara Allah bertindak. Pertama-tama Allah akan memberi kasih karunia kepadanya, baru kemudian, dan hanya ketika itu terjadi, barulah Ia memberikan damai kepadanya: "Aku telah melihat segala jalannya itu, bahwa ia sendiri tidak akan pernah mau berbalik kepadaku, dan oleh karena itu Aku yang akan berbalik kepadanya." Orang-orang yang kepadanya Allah telah menyimpan belas kasihan-Nya, Ia telah menyiapkan kasih karunia kepadanya, untuk mempersiapkan dan melayakkannya menerima belas kasihan-Nya itu, yang mereka tinggalkan dengan berlari darinya secepat yang mereka bisa.
                    (1) Allah akan menyembuhkan dia dari kecenderungan hatinya yang bobrok dan jahat, akan mengobatinya dari ketamakan, meskipun hal itu sudah berakar begitu dalam pada dirinya, dan hatinya sudah begitu lama melakukan perbuatan-perbuatan ketamakan. Tidak ada penyakit rohani yang begitu berurat akar, tetapi kasih karunia Yang Mahakuasa dapat menaklukkannya.
                    (2) Allah akan menuntun dia juga, tidak saja memperbaiki apa yang salah di dalam dirinya, supaya ia dapat berhenti berbuat jahat, tetapi memimpinnya kepada jalan kewajiban, supaya ia dapat belajar berbuat baik. Ia menempuh jalan murtad, seperti Saul, namun pada saat yang sama ia mengembuskan ancaman-ancaman dan pembantaian, namun Allah akan menuntunnya kepada pikiran yang lebih baik, kepada jalan yang lebih baik. Dan kemudian,
                    (3) Allah akan memulihkan penghiburan-penghiburan yang telah dirampas dan hilang darinya, dan untuk mendapatkannya kembali, Ia mempersiapkannya. Terjadi pembaruan yang indah atas orang-orang tawanan di Babel, dan kemudian penebusan yang indah dikerjakan bagi mereka, yang mendatangkan penghiburan bagi mereka, bagi orang-orangnya yang berkabung, bagi orang-orang di antara mereka yang meratapi dosa-dosa mereka sendiri, dosa-dosa bangsa mereka, dan hancurnya tempat kudus mereka. Bagi orang-orang yang meratap itu, belas kasihan akan menjadi hal yang paling menghibur hati, dan dengan mata yang tertuju kepada mereka inilah Allah mengerjakan penebusan itu. Berbahagialah orang yang berdukacita, sebab bagi merekalah penghiburan itu, dan mereka akan mendapatkannya.
                2. Nah, ketika orang-orang itu ditawan dan dibawa ke tempat pengasingan, beberapa di antara mereka sama seperti buah ara yang baik, sangat baik, tetapi ada sebagian lain sama seperti buah ara yang jelek, sangat jelek, dan sesuai dengan itu penawanan mereka adalah untuk kebaikan mereka atau menjadi kengerian bagi mereka (Yer. 24:8-9), jadi, ketika mereka keluar dari penawanan, tetap saja ada beberapa di antara mereka yang baik, dan yang lainnya jelek, dan penyelamatan itu akan menjadi bagi mereka sesuai dengan keadaan masing-masing.
                    (1) Bagi orang-orang yang baik di antara mereka, kembali dari pembuangan adalah damai sejahtera, sungguh besar damai sejahtera itu sehingga menjadi perlambang dan pertanda bagi damai sejahtera yang nantinya disampaikan oleh Yesus Kristus (ay. 19): Aku akan menciptakan puji-pujian, damai.
                        [1] Allah berencana menganugerahkan kepada mereka hal-hal yang mendatangkan pujian dan ucapan syukur, sebab hal-hal itu adalah buah-buah ucapan bibir (Ibr. 13:15), persembahan pengakuan dari bibir (Hos. 14:2, KJV). Aku menciptakan hal ini. Ciptaan berasal dari ketiadaan, dan pujian dan ucapan syukur ini pastilah berasal dari sesuatu yang lebih buruk dari pada ketiadaan, ketika Allah menciptakan puji-pujian bagi orang-orang yang dengan murtad menempuh jalan yang dipilih hati mereka.
                        [2] Supaya ada puji-pujian dan ucapan syukur ini, maka damai harus dimaklumkan: Damai, damai (damai yang sempurna, segala macam damai) bagi orang yang jauh dari tempat pertemuan umum atau tempat-tempat penting, dan juga bagi orang yang dekat. Damai dengan Allah. Meskipun Dia telah berbantah-bantah dengan mereka, Ia akan berdamai dan menghentingkan pertentangan-Nya. Damai hati nurani, rasa aman dan tenteram yang kudus dari pikiran, sesudah begitu banyak celaan dari hati nurani dan pergolakan jiwa yang mereka alami selama penawanan mereka. Demikianlah Allah menciptakan buah-buah ucapan bibir, hal-hal segar untuk mengucap syukur, sebab ketika Dia berfirman damai kepada kita, kita harus mengucapkan puji-pujian kepada-Nya. Damai ini sendiri adalah ciptaan Allah. Dia, dan hanya Dia yang sanggup melakukan hal itu. Damai itu adalah buah ucapan bibir, dari bibir-Nya. Ia memerintahkan buah ucapan itu, dari bibir-bibir para pelayan Tuhan. Ia mengucapkannya melalui mereka (40:1). Itu adalah buah dari bibir-bibir yang menyampaikan firman-Nya dan bibir-bibir yang berdoa. Itu adalah buah dari bibir Kristus, yang ucapan bibir-Nya menetes seperti sarang madu, sebab demikianlah yang dikatakan mengenai Dia (Ef. 2:17): Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang jauh, bagimu bangsa-bangsa lain dan juga bagi orang-orang Yahudi, yang dekat menurut waktu, bagi mereka yang jauh dalam hal waktu, serta juga bagi mereka yang ada pada masa sekarang.
                    (2) Bagi orang-orang jahat di antara mereka, meskipun mereka juga kembali bersama orang-orang yang lain, kepulangan mereka tidak memiliki damai (ay. 20). Orang-orang fasik, di mana pun mereka berada, di Babel atau di Yerusalem, membawa-bawa bersama mereka kegelisahan mereka sendiri. Mereka itu sama seperti laut yang bergelora. Allah menyembuhkan orang yang kepadanya Ia mengucapkan damai (ay. 19): Aku akan menyembuhkan mereka. Segala sesuatu akan menjadi baik-baik kembali dan dibetulkan. Tetapi, orang fasik tidak akan disembuhkan oleh kasih karunia Allah dan oleh karena itu tidak akan disembuhkan oleh penghiburan-penghiburan-Nya. Mereka selalu seperti lautan di dalam badai, sebab mereka selalu membawa bersama mereka,
                        [1] Kebobrokan yang tidak dimatikan. Mereka tidak disembuhkan dan ditaklukkan, hawa nafsu dan gairah mereka yang tidak terkendalikan membuat mereka menjadi seperti lautan yang bergelora, tidak dapat tetap tenang. Mereka menjengkelkan semua orang yang ada di sekitar mereka dan oleh karena itu merasa tidak nyaman dengan diri sendiri, selalu ribut dan berbahaya. Ketika kegusaran jiwa yang tak terkendali meledak dalam kata-kata yang keji dan kasar, maka laut yang bergelora pun memuncratkan segala lumpur dan kotoran.
                        [2] Hati nurani yang tidak dapat teduh. Mereka selalu diliputi rasa takut yang mengerikan akibat rasa bersalah dan kemurkaan, sehingga mereka tidak dapat merasa tenang tenteram. Ketika mereka tampak tenang, sebenarnya mereka sedang gelisah, ketika mereka tampak gembira, sebenarnya mereka sedang berbeban berat. Mereka sama seperti Kain, yang senantiasa tinggal di tanah penuh goncangan. Ancaman-ancaman dari hati nurani mengganggu semua kesenangan mereka, dan mengeluarkan lumpur dan kotoran begitu rupa hingga menjadi beban bagi mereka. Meskipun semua ini tidak tampak (tetapi mungkin saja) pada saat sekarang ini, namun itu sungguh benar, seperti dikatakan oleh sang nabi ini sebelumnya (48:22), dan di sini diulanginya lagi (ay. 21), Tidak ada damai sejahtera bagi orang-orang fasik, tidak ada perdamaian dengan Allah (tidak akan terjadi sekalipun dengan syarat-syarat yang baik apa saja, selama mereka tetap melakukan pelanggaran), tidak ada ketenangan atau kepuasan di dalam pikiran mereka, tidak ada kebaikan nyata, tidak ada kedamaian di dalam kematian, karena tidak ada pengharapan. Allahku telah menyatakannya, dan seluruh dunia tidak dapat menariknya kembali, bahwa tidak ada damai sejahtera bagi orang-orang yang membiarkan mereka ada di dalam dosa apa saja. Ada urusan apa mereka itu dengan damai sejahtera?

* Yes 57:14-21 - Bukalah-bukalah, // Batu sandungan
14-21. Nabi memberitahukan tentang belas kasihan Tuhan terhadap orang-orang yang sungguh bertobat. Bukalah-bukalah, menunjuk pada pembangunan jalan raya yang melintasi desa-desa dengan membuat tumpukan tanah dan batu-batu. Batu sandungan di sini adalah hati orang yang tidak bertobat dan yang menyembah berhala. Ayat 15 menyajikan pernyataan klasik dalam Alkitab mengenai dua tempat kediaman Allah. Menghidupkan, yakni memulihkan kehidupan yang mati rohani.

Label:   Lukas 14:7-11 




German Christian Songs
HEALING WORSHIP SONGS
Latest Christian Song


NEXT:
Minggu, 22 Sept 2019 - XIV DOB TRINITATIS - Khotbah: Yosua 24:13-25 - Epistel: Wahyu 20:11-15

PREV:
Minggu, 08 Sept 2019 - XII DOB TRINITATIS - Khotbah: Amsal 8:12-21 - Epistel: Roma 13:1-7

Garis Besar Lukas





BACAAN ALKITAB SETAHUN:


Hari ini, 24 September - Ezra 3:1-7; Mazmur 107,111

Hari ini, 24 September - Maz 107:13-19, Yes 34-35, Gal 1, Ams 25:5-6


Arsip Khotbah Gereja Gereja Anggota UEM 2019..

Register   Login  

contoh kj 392 bukan kj.392



Latest Christian Song





Nyanyian Ibadah Gereja
English Hymns, CFC SONGS *, AG (Aradhana Geethamulu), YSMS (Тебе пою оМй Спаситель), YJ (Юность-Иисусу), ADV (Himnario Adventista), HC (Держись Христа), SS (ДУХовни Песни), SR, SP, SPSS (Spiewajmy Panu wyd. dziesiate), RRZ (Runyankole Rukiga, Zaburi),
Lagu Koor - Paduan Suara Gereja, JB (Jiwaku Bersukacita: Pujian Sekolah Minggu), KMM, KJ, PKJ, GB, Nyanyian Rohani, Nafiri Rohani, NKB, KC, MNR1, MNR2, MAZMUR MP3 GKI, NP (Nyanyian Pujian), Lagu Tiberias, Nafiri Kemenangan, Lagu GMS, PPK, PPPR, KPPK, NKI, NRM, Buku Ende, BN (Buku Nyanyian HKBP), Buku Lagu Perkantas, KPKL, KPKA, KPJ, KRI, KPRI, KLIK, NNBT, DSL, LS, PKJ TORAJA, NJNE, Doding Haleluya, LKEE, Suara Gembira, , Kidung Kabungahan GKP, Puji Syukur, Madah Bakti,
Tagalog Worship Song
Kenya Worship Songs
Ghana Worship Songs
Urgandan Christian Song
Russian Worship Songs
Chinese Praise and Worship Song
Lagu Rohani Bahasa Iban di Malaysia
Thai Christian Song
Hebrew Christian Song
Arab Christian Song
Christian Songs In Dutch
German Christian Songs
Hindi Worship Song
Japanese Christian Song
Italian Christian Song
Lagu Rohani Batak
Lagu Rohani Ambon
Greek Worship Songs
French Worship Songs
Spanish Worship Songs

Jacqlien Celosse, Franky Sihombing, Sari Simorangkir, Maria Shandi, Nikita, Jonathan Prawira, Sidney Mohede, Edward Chen,



Gereja GPIB di Jakarta (Map)
Gereja GPIB di Surabaya (Map)
Gereja GPIB di Makassar (Map)
Gereja GPIB di Medan (Map)
Gereja GPIB di Bandung (Map)
Gereja GPIB di Manado (Map)
Gereja GPIB di Bekasi (Map)
Gereja GPIB di Tangerang (Map)
Gereja GPIB di Denpasar (Map)
Gereja GPIB di Bogor (Map)


New Submit
Sabtu, 07 April 2018
He Who Would Valiant Be Hymn

Selasa, 16 Februari 2016
26 Old Timeless Gospel Hymns Classics

Rabu, 20 Maret 2019
Sing - Ellie Holcomb

Minggu, 22 September 2019
Great Jehovah - Travis Greene

Minggu, 22 September 2019
On My Own - Ashes Remain

Minggu, 22 September 2019
God's Not Dead - Newsboys

Minggu, 22 September 2019
Gone - Elevation Worship

Sabtu, 21 September 2019
Burdens - Jamie Kimmett

Jumat, 20 September 2019
We're A Winner - Phillip Bailey

Jumat, 20 September 2019
Vaya (Go With Love) - Phillip Bailey

Jumat, 20 September 2019
Truimph - Phillip Bailey

Kamis, 19 September 2019
Oh Jesus! - Mercy Chinwo

Kamis, 19 September 2019
Quiet Time (2): 1 Hour Soaking Worship Songs (Kim Walker, Hillsong, Israel Houghton)

Kamis, 19 September 2019
Free - Hillsong

Kamis, 19 September 2019
Hear My Song, Lord - Gaither Vocal Band

Kamis, 19 September 2019
Give God the Glory - Marcus Jordan

Kamis, 19 September 2019
Beautiful - Jonas Rayme

Kamis, 19 September 2019
Yes, I Know - Gaither Vocal Band

Minggu, 15 September 2019
Forever Faithful (Love Song for Jesus) - Lifebreakthrough

Minggu, 15 September 2019
Glory To The King - Hillsong

christian music charts, new contemporary christian songs, top christian radio songs, top 20 christian songs this week, top 10 christian songs, download lagu kristen mp3, lagu terbaru rohani kristen, mp3 rohani kristen, lagu2 rohani terbaru, lagu rohani yang enak, mp3 lagu rohani kristen terbaru,



khotbah pslmn 40:7-11,   TAFSIRAN 1 KORINTUS 3:18-23,   tata ibadah penutupan peti GBI,   kotbah 1petrus 3:17-22,   kotbah maleakhi 1: 6-14,   jamita Pesalmen 40; 7-11,   mazmur 40:7-11 memberitakan kasih tuhan,   nama komunitas rohani,   jaamita epistel pesalmen 40:7-11. topik paturetureon angka nabadia,   minggu 29 september 2019 epistel,   kumpulan lagu rohani mawar sharon mp3 download,   slide ibadah minggu gereja hkbp,   sgdk gpib september 2019,   epistel minggu 29-09-2019,   sermon evangelium epistel mazmur 40:7-11,   sermon evangelium epistel mazmur 40:7-11,   mazmur 146 ayat 5,   kothbah mazmur 40:7-11,   sgdk gpib september 2019,   lagu penutup ibadah kristen,   renungan 1 tesalonika 3 12,   Rngn maz 113:1-9,   Khotbah 1tesalonika3,   nats pembimbing persembahan,   Rngn maz 113:1-8,   Masmur 145:8,   Jamita efesus4;7-16,   khotbah minggu Efesus 4: 7-16,   khotbah minggu Efesus 4: 7-16,   yang idlkukan oleh sadrakh, mesakh dan abednego utnuk menjaga kesucian ibadah,   renungan roma 1 18-32,   tafsiran Roma pasal 1 ayat 18,   kotbah dari lukas 8:19-21,   renungan Filemon 1:15 Sebab mungkin karena itulah dia dipisahkan sejenak dari padamu, supaya engkau,   Maksud renungan di Mazmur 33:4,   lagu rohani anak sekolah minggu donload,   LAGU PENGAKUAN DOSA POP ROHANI KRISTEN,   lagu nyanyian rohani,   lagu nyanyian rohani,   khotbah bilangan 28 16 31,   chord dan lirik lagu pkj 14,   chord dan lirik lagu pkj 14,   chord dan lirik lagu pkj 14,   khotbah minggu 29 september 2019,   2 korintus 9:7-8,   Bacaan sbu oktober 2019,   Tata Ibadah HUT Organisasi Wanita (Kristen),   apa beda diaken dan penatua,   renungan amos 8 : 4-8,   jamita psalmen 40 7-11,   lagu rohani saat malam hari,   tafsiran Yesaya 65:17-25,   nama group gereja,   lagu gereja katolik penutup,   lirik lagu gereja mari bersyukur,   lirik lagu Tuhanku berkatmu limpah bagai hujan yang deras,   khotbah kristen jaminan hidup yang sesungguhnya lukas 16:19-31,   khotbah kristen jaminan hidup yang sesungguhnya lukas 16:19-31,   khotbah kristen jaminan hidup yang sesungguhnya lukas 16:19-31,   khotbah kristen jaminan hidup yang sesungguhnya lukas 16:19-31,   rohani barat,   gpib zebulon batam september 2019,   lagu rohani mp3 free download,   nyaniyan rohani 132,   kotbah hari minggu ke 25 september 22, 2019,   Misa hari minggu biasa ke 25, september 22, 2019,   nyanyian suara gembira 21,   Doa sebelum ngambil khobat,    maz 40:7-11 renungan harian menanggapi karya pnenyelamatan Allah,   kidung muda mudi 87,   khotbah pelita hidup,   Khotbah Mazmur 40:7-11,   Khotbah Psalm 40:7-11,   ringkasan khotbah mazmur 40 7 11,   ringkasan kotbah mazmur 40 7 11,   KHOTBAH MENGADAKAN PENDAMAIAN,   sgdk oktober 2019,   renungan amos 8 ayat 4 - 8,   nyanyian suara gembira 21,   not angka gita bakti no 45 Dan lyrik,   not angka gita bakti no 45,   mars gerakan pemuda,   nyaniyan rohani 132,   tema mazmur 40:7-11,   sabda bina umat 22 september 2019 ,   jamita partangiangan 29 september 2019 mazmur 40:7-11,   kmm 33,   bahan kotbah mazmur 40:7-11 sabda.com,   Jamita psalmen 40:7-11,   khotbah yosua 24 13-25,   khotbah mazmur 111:1-10,   lagu rohani Yesus berkata jadilah terang,   lagu rohani Yesus berkata jadilah terang,   khotbah mazmur 111:1-10,   lagu rohani Yesus berkata jadilah terang,   lagu rohani Yesus berkata jadilah terang,   renungan harian katolik tanggal 22 september 2019,   kotbah 1 tesalonoka 3:6-8,   tafsiran mazmur 40:7-11,   Renungan harian bacaan dan mazmur minggu 22 September 2019,   Lagu kidung jemaat kristen protestan,   jamita minggu efesus 4:7-16,   Lagu kidung jemaat kristen protestan,   ayat Alkitab persembahan untuk anak anak,   renungan harian katolik 22 september 2019,   renungan harian katolik 22 september 2019,   lagu rohani easy worship,   lagu penutup ibadah,   lagu rohani pdt erastus sabdono,   Kesimpulan dari dosa , anugerah , pertobatan , pengampunan dan hidup baru,   lagu rohani untuk persembahan,   kidung ceria bilasangkakala,   not lagu nyanyian kidung baru 201,   tafsiran Yosua 24:13-25,   Bahan khotbah Josua 24:13-25,   sabda bina teruna septembr 2019,   inti korbah JOSUA 24:13-25,   jamita josua 24:13-25,   download MP3 lagu lagu di lagu sion acapella,   yosua 23 13-25,   renungan yesaya 27:1-5,   Khotbah 1tesalonika3,   kotbah lukas 14:1 +7-14,   khotbah yosua 24:13-25,   kotbah lukas 14:1 +7-14,   chord dipintumu ku datang dan,   kotbah lukas 14:1 +7-14,   Ilustrasi kotbah josua,   renungan harian hkbp 2019 mazmur 40:7-11,   amos 8 ayat 4 penjelasan,   Ilustrasi kotbah josua,   kotbah lukas 14:1 +7-14,   renungan matius 5:21-26,   amos 8 ayat 4 penjelasan,   khotbah lukas 16:10-18,   nyanyian rohani 136,   kmm 1 notasi,   jamita na marhata batak Josua 24:13-25,   lagu persembahan pastekosta lama,   1 petrus 3 : 8-12,   Injil Renungan Minggu 22 September 2019,   khotbah yosua 24:13-25,   1 petrus 3 : 8-12,   bina anak gmim bln september,   renungan gpib hari ini september,   khotbah yosua 24:13-25,   bahan renungan alkitab 1 yohanes pasal 1 ayat 1 sampai 6,   khotbah yeremia 8:18-22 mendua hati,   khotbah yeremia 8:18-22 mendua hati,   ilustrasi untuk bacaan ulangan 30 : 15-20 untuk sekolah minggu,   khotbah dari gal 4:18÷20,   nyanyian masmur minggu 22 september 2019,   kidung muda mudi 87,   Khotbah amos 8:4-8,   Khotbah amos 8:4-8,   Khotbah amos 8:4-8,   tafsiran amos 8:4-6,   download kidung keesaan gratis,   bahan khotbah ester 4:1-17,   kidung kaesaan,   khotbah yosua 24:13-25,   khotbah yosua 24:13-25,   kidubg kaesaan 6,   khotbah minggu 22 september.2019,   khotbah minggu 22 september.2019,   khotbah minggu 22 september.2019,   khotbah ibadah syukur setahun kepergian ibu yang terkasih,   khotbah ibadah syukur setahun kepergian ibu yang terkasih,   lagu sesudah pembacaan alkitab,   download lg soraklah alleluya katolik,   khotbah lukas 16: 10-18,